"Dia anakku bukan anak orang lain, dan tubuhmu serta dirimu adalah milikku"
~ Rendra~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fafacho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 35
Adiba masuk ke kamar Rendra begitu saja, dia langsung membuka pintu kamar itu tanpa mengetuknya lebih dulu. karena dia buru-buru ingin membawa anaknya pergi dari rumah ini, menurutnya mereka sengaja menggunakan anaknya untuk agar dia mau menikah dnegan Rendra. Jujur dia belum bisa menikah dnegan Rendra hatinya masih sakit soal masa lalu tampa pertanggung jawaban meskipun keluarga Rendra telah menolongnya selama ini tapi dia masih belum bisa memaafkan apa yang rendra lakukan padanya yang membuat dia di buang oleh keluarganya sendiri dan yang menjadikan dirinya sebagai pembunuh ibunya.
Ibunya tiada gara-gara ulah Rendra yang memperkosanya dan membuat dia diusir sanga yah dan Ibunya itu jatuh sakit dan meninggal tanpa dia bisa melihat snag ibu terlebih dahulu.
Saat membuka kamar itu dia terkejut karena Rafka tidur di tempat tidur Rendra dan Mama dari Rendra melihat bingung kearahnya saat ini.
“Ada apa Adiba?” tanya Citra mendapat perempuan muda itu.
“Aku mau membawa Rafka pulang tan,” ucap Adiba terus terang.
Mendengar itu Citra langsung berdiri, mendengar hal tersebut membuatnya tidak rela jika sang cucu harus di bawa pergi. Dia ingin sellau melihat cucunya.
“kenapa buru-buru pulang, Rafka baru saja tidur Diba, Mama mohon jangan bangunkan dia ya, biarkan dia tidur disini. Kamu juga menginap disini saja ya, Mama masih ingin bersama dengan rafka” ucap Citra seperti memohon pada Adiba.
“Maaf tan, aku harus bawa Rafka pulang. Ayah sama bunda pasti nunggu di rumah” ucap Adiba dan akan menghampiri Rafka yang tengah tidur di ranjang.
“Adiba tante mohon” pungkas Citra yang sekaan tidak bisa berkutik saat Adiba akan menghampiri Rafka yang tengah tidur.
Belum sempat Adiba membangunkan Rafka tangannya sudah di tahan lebih dulu oleh Rendra.
“kenapa kau bangunkan anak yang sedang tidur. Biarkan dia disini” ucap Rendra menahan tangan Adiba.
“lepaskan, terserah diriku. Dia anakku” ucap Adiba mencoba melepaskan tangan Rendra dari lengannya.
“kau lupa dia anakku juga” ucap Rendra semakin mengeratkan cengkeramannya di lengan Adiba.
“Ayo ikut aku” ucap rendra dan menarik Adiba pergi.
“lepaskan, aku mau bangunkan anakku,” ucap Adiba memaksa untuk dilepaskan.
“ma, aku titip Rafka sebentar” ucap Rendra menarik Adiba keluar dari kamar setelah dia mengatakan hal itu pada mamanya.
......................................
“Kenapa kau membawaku kesini,?” ucap Adiba dan akan keluar dari ruangan yang bercat coklat tersebut. Itu bukan ruangan baisa tetapi kamar ber interior mewah didalamnya.
Rendra sendiri menghalau Adiba agar tidak keluar dengan mngunci pintu kamar saat ini.
“kau mau apa? kenapa kau menguncinya?” tanya Adiba pada Rendra, dia menjadi takut saat ini.
“kau bilang aku mau apa?” tanya Rendra sambil berjalan mendekati Adiba saat ini yang perlahan mundur. Adiba terus mundur saat Rendra makin mendekat padanya.
Hingga Adiba terpentok di ranjang tempat tidur, seketika membuat rendra mendorong Adiba hingga terjatuh di tempat tidur tersebut.
“Kau mau apa? mau memperkosaku lagi seperti dulu. dasar pria brengsek” maki Adiba pada Rendi yang kian mendekat dan bahkan saat ini mengungkung tubuhnya.
“Bisa saja aku melakukan itu padamu seperti dulu, tapi aku bukan pria brengsek seperti dulu mengerti. Aku hanya ingin bicara empat mata denganmu.”
“Ciih, empat mata. Empat mata tidak begini” sinis Adiba.
“kalau tidak begini, kau pasti akan pergi dari sini kan. dengarkan aku ayo menikah denganku saat ini juga. demi Rafka, menikahlah denganku” ucap Rendra pada Adiba.
“Aku kan sudah bilang butuh waktu untuk menerimanya, kenapa kau memaksa diriku seperti ini” ucap Adiba.
“karena kau perempuan keras kepala, kalau aku tidak begini tidak akan kau mau kan”
“Minggir dari tubuhku, aku mau pulang” ucap Adiba dan berusaha mendorong rendra.
“Aku tidak akan minggir sebelum kau mau menikah denganku sekarang” ucap Rendra.
“Kau pilih menikah denganku atau orang tua angkat mu kehilangan pekerjaan, ayah angkat mu bekerja di perusahaan Papaku di Surabaya, kau ingin dia dipecat dan sepupumu yang lain putus kuliah” ancam Rendra, sebenarnya dia tidka ingin menggunakan cara kotor ini tetapi mau bagaimana lagi. Dengan memanfaatkan anaknya saja Adiba masih bersikeras menolak padahal ini semua demi Rafka agar bocah itu mendapatkan statusnya.
“kau pria licik ternyata, teganya kau mengancam ku begitu.”
“terserah kau mau bilang apa, bagaimana mau menikah denganku saat ini atau tidak.” Pungkas Rendra.
“Tidak akan sudi aku menikah denganmu yang membuat diriku dibuang oleh orang tuaku sendiri” ucap Adiba yang bersikeras menolak.
“Oke kalau kau tidak mau, jangan salahkan aku Om mu kehilangan pekerjaan dan sepupumu tidak bisa kuliah lagi” ucap rendra dan langsung bangkit dari tubuh Adiba dia mengambil ponsel di saku celananya.
Adiba melihat penasaran pada Rendra yang tiba-tiba saja mengambil ponsel di saku celananya.
“Halo, saya perintahkan pecat tuan Alif sekarang juga gantikan posisinya dengan yang lain” perintah Rendra di telpon.
Seketika mata Adiba melebar mendengar itu, dia langsung menyahut ponsel Rendra tetapi tidak bisa karena Rendra menghalaunya.
Adiba tidak habis pikir Rendra benar-benar akan melakukannya, dia memecat ayah angkatnya.
“kau gila, tega sekali kau melakukannya pada ayahku” ucap Adiba menatap rendra tak percaya.
Kenapa aku tdiak tega melakukannya, kau saja tega dnegan anakku yang tidak memiliki ayah. Kau tega kan menutupi siapa ayahnya”
“Itu beda,”
“Tidak ada yang beda bagiku, tega dibalas tega mengerti. Sekarang keputusan ada di tanganmu, kau mau menikah denganku sekarang” tukas Rendra.
“Terserah kau, tapi aku harus janji denganku. Jangan pernah pecat ayahku mengerti” ucap Adiba berkaca-kaca, rasanya dia sakit menerima hal ini.
“Oke, kau disini saja. Ada orang yang akan mendandani mu sebentar lagi” ucap rendra dan langsung keluar begitu saja meninggalkan Adiba yang luruh ke lantai, kakinya terasa lemas karena keputusannya sendiri.
Rendra menutup pintu kamar itu, sebenarnya dia tidak tega mengancam Adiba seperti ini tapi mau bagiamana lagi. Dia ingin segera menikahi perempuan itu. dan perlu diketahui tadi dia tdiak menelpon siapa-siapa. Itu hanya telpon sandiwara saja agar perempuan itu takut dan mau menikah dengannya.
“Maafkan aku Diba, terpaksa aku melakukan ini padamu” ucap Rendra sekilas melihat kebelakang dimana pintu yang tertutup itu.
“Papa..” ucap Rafka yang berlari pada Rendra saat ini.
Rendra langsung menaruh jarinya kelingkingnya di depan mulutnya menyuruh anaknya untuk diam agar Adiba tidak mendengarnya.
Bocah itu langsung membungkam mulutnya sendiri, membuat rendra langsung tersenyum. Ya dia memang merancang rencana dengan putranya itu. Rafka tadi hanay pura-pura tidur saja karena dia yang menyuruh mamanya agar bicara dnegan bocah itu.
“Ayo sayang, ikut papa.” Ucap rendra perlahan dan langsung menggendong Rafka.
“Rafka nggak marah kan sama Papa?” tanya Rendra pada anaknya.
“Nggak, kan Papa bilang tadi kalau mau papa sama kita harus bohongi Mama” ucap polos bocah itu.
“good, anak Papa memang pintar.” Ucap rendra mencium anaknya, mereka berdua langsung pergi dari situ karena takut kalau Adiba mendengarnya.
°°°
T.B.C