"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"
Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.
"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"
baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
Pagi itu, Citra berdiri di depan cermin besar di kamar apartemennya, nyaris tak mengenali dirinya sendiri. Rambut hitamnya kini digelung elegan, menyisakan beberapa helai yang menjuntai lembut di sisi pipi. Gaun pastel dengan potongan sederhana namun anggun membalut tubuhnya dengan sempurna. Sentuhan make up dari Bu Lilis membuat wajahnya tampak lebih lembut—manis tapi berwibawa.
“Masya Allah…” bisik Bu Lilis dari belakang sambil tersenyum puas. “Kamu cantik sekali, Nak. Pantas saja Rama sampai bengong tadi.”
Citra tersipu, menunduk pelan. “Ah, Mama…”
Rama, yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, hanya terdiam. Tatapannya sempat terpaku cukup lama sebelum akhirnya ia berdeham dan memalingkan wajah.
“Sudah siap? Kita berangkat sekarang,” katanya datar, tapi nada suaranya sedikit serak.
Citra mengangguk pelan. “Iya, Pak.”
Mobil hitam berkilau itu meluncur meninggalkan halaman apartemen. Di jok belakang, beberapa bingkisan besar sudah tertata rapi: buah, kue, dan beberapa parcel berisi bahan makanan impor—oleh-oleh dari Bu Lilis dan Pak Bram untuk keluarga Haris.
Suasana di dalam mobil sempat hening, hanya terdengar musik lembut dari radio.
“Pak Rama…” panggil Citra pelan.
Rama menoleh singkat. “Hm?”
“Terima kasih… buat semuanya. Untuk kiriman kemarin juga.”
Rama tersenyum tipis, matanya tetap fokus ke jalan. “Anggap saja sebagai tanggung jawab suami. Aku tahu… waktu itu aku salah dalam soal mahar.”
Citra menatapnya. “Tapi Pak Rama... Sebenarnya.. Ini agak berlebihan."
"Biar aja, buat panas orang," Rama terkekeh.
citra ikut tertawa pelan. "Kami.... enggak pernah mempermasalahkan itu.”
Rama diam sejenak. Lalu dengan nada lembut, ia berkata, “Aku tahu. Tapi aku tetap ingin memperbaikinya dengan cara yang pantas. Orang tuamu layak dihormati.”
Di kursi depan, sopir hanya menatap lurus, pura-pura tak mendengar. Tapi ia tahu, kata-kata Rama barusan membuat udara di mobil terasa hangat.
*****
Sementara itu, di rumah keluarga Haris, suasana justru berbanding terbalik. Sejak pagi, ibu-ibu tetangga sudah sibuk mondar-mandir di depan pagar, menebak-nebak seperti apa rupa besan baru keluarga itu.
Di dapur, Bu Maya sibuk menata piring dan gelas. “Kamu ngapain di sini ? Kalau mau bantu, angkat kursi ke teras, dong. Nanti kalau besan datang, biar bisa duduk santai di luar dulu.”
Tapi Yani, yang sedang berdiri di depan kulkas dua pintu kiriman Rama, justru manyun.
“Wah, kulkasnya bagus banget, May. Ini aja deh aku bawa pulang satu. Rumah aku kan kulkasnya udah rusak, sayang banget kalau di sini nganggur.”
Maya langsung menoleh tajam. “Ngapain kamu bawa-bawa? Itu bukan buat kamu.”
“Ya Allah, pelit amat! Lagian rumah ini juga kecil, mana muat dua kulkas segede itu?”
"enggak ada! Enggak boleh!"
Yani berdecak, lalu menunjuk televisi layar datar di ruang tamu. “TV-nya juga gede banget, mending aku aja yang simpen, biar enggak makan tempat.”
“Yani!” bentak Maya, membuat spatula di tangannya bergetar. “Jangan kebanyakan ngatur! Itu pemberian buat rumah ini, bukan buat kamu bawa pulang!”
“Peliiiit!” sahut Yani, mendengus kesal. “Dasar rumah kecil, barang mewah aja nggak pantas ditaruh di sini. Ntar juga lecet.”
“Mulutmu itu, Yan! Kalau enggak bantu, ya udah, jangan malah bikin emosi!”
Alih-alih menolong, Yani justru mengambil beberapa potong pastel dan kue basah dari meja saji. “Udah ah, aku pulang aja. Capek ngeliat orang pelit!”
“Yan!” seru Maya, tapi terlambat—iparnya itu sudah melenggang keluar sambil mengunyah pastel, diikuti dengan tawa nyinyir yang membuat darah Maya naik ke kepala.
Pak Haris keluar dari kamar sambil mengancingkan kemejanya. “Udahlah, Buk, jangan dimasukin ke hati. Biarin aja dia ngomong. Kita fokus nyambut besan, ya?”
Maya menghela napas panjang. “Iya, Pak. Tapi kalau orang kayak dia, cuma bikin emosi aja.”
"sabaaarrr.…."
*****
Menjelang siang, mobil hitam elegan berhenti di depan rumah sederhana keluarga Haris. Warga sekitar yang tadinya hanya melongok dari pagar, kini benar-benar berhamburan keluar.
“Ya ampun, itu mobilnya mahal banget, ya?”
“Itu Citra yang turun tuh! Cantik banget, kayak artis!”
Bu Maya sampai tertegun melihat anak gadisnya turun dari mobil dengan senyum tenang, mengenakan gaun pastel yang memancarkan wibawa. Rama turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Citra dengan gerakan sopan dan penuh hormat.
“Assalamualaikum,” ucap Citra lembut.
“Waalaikumussalam…” jawab Maya tergagap, matanya berbinar. “Aduh, Nak, kamu cantik banget!”
Rama menunduk sopan. “Assalamualaikum, Bapak, Ibu.”
Pak Haris tersenyum ramah. “Waalaikumussalam, Nak Rama. Silakan masuk.”
Tak lama, sebuah mobil lain berhenti. Dari dalamnya keluar sepasang suami istri paruh baya dengan senyum hangat—Bu Lilis dan Pak Bram.
Mereka membawa bingkisan besar dan buah tangan, menambah riuh decak kagum para tetangga.
“Masya Allah, ternyata orang tuanya juga berwibawa sekali…” bisik Bu Siti dari seberang pagar.
Begitu masuk ruang tamu, suasana berubah haru. Bu Lilis memeluk Citra erat. “Nak, kamu sekarang resmi jadi bagian keluarga kami. Terima kasih sudah mau menerima Rama apa adanya.”
Citra menunduk, menahan haru. “Saya yang berterima kasih, Ma.”
Pak Haris dan Pak Bram pun saling berjabat tangan. Tapi di antara kehangatan itu, Maya sempat merasa canggung. Ia ingat betul—berapa mahar yang diterima anaknya dulu. Hanya lima ribu rupiah.
“Maaf kalau kami masih merasa sungkan, Pak Haris, Bu Maya…” ucap Pak Bram pelan. “Soalnya dulu Rama hanya memberikan mahar sederhana sekali…”
Pak Haris tersenyum bijak. “Tidak apa, Besan. Nilai mahar tidak mengukur ketulusan."
"Tapi Rama memang merasa harus menebus kekurangannya.” sela bu Lilis.
Rama menatap ke arah Citra, lalu mengangguk pada sopir di luar. Beberapa menit kemudian, suara mesin mobil lain terdengar—dan sebuah mobil putih mengilap berhenti tepat di depan rumah.
Pak Haris memicingkan mata. “Lho… itu mobil siapa lagi?”
Rama tersenyum kecil. “Itu… pengganti mahar, Pak."
“Ya Allah…” Maya menutup mulutnya, hampir menitikkan air mata. “Nak Rama… ini terlalu besar… Kami sudah nerima banyak bangett, Citra masih dikasih mahar mobil...”
“Tidak, Bu,” jawab Rama lembut. “Tidak ada yang terlalu besar untuk membahagiakan orang tua istri saya. Dan ini pengganti mahar. Citra... Gadis yang sangat berharga, nilai mobil tak sebanding.”
Tangis haru pun pecah di ruang tamu kecil itu. Bu Lilis ikut menepuk punggung Maya, sementara Pak Bram menepuk bahu Haris.
“Besan yang baik bukan dilihat dari hartanya,” ujar Pak Bram lirih, “tapi dari niat dan tanggung jawabnya. Rama sudah belajar banyak.”
Di luar rumah, Yani yang baru datang lagi karena penasaran, hanya bisa terpaku melihat pemandangan itu. Ia tak jadi masuk, hanya berdiri di balik pagar dengan mata yang berkaca-kaca.
“Mobil…” bisiknya tak percaya. “Dikasih mobil?”
Suara ibu-ibu kompleks mulai riuh lagi.
“Masya Allah, beneran kaya ya suaminya Citra!”
“Tuh kan, aku bilang juga dia bukan orang sembarangan!”
"pasti ceo yang nyamar itu."
Yani menunduk, menggigit bibirnya sampai pucat. Suara-suara itu bagai pisau yang mengiris perlahan harga dirinya. Ia berbalik cepat, menyeret Cantika masuk ke rumah tanpa berkata apa pun.
"Cantika! Kita juga enggak boleh kalah. Kita minta mobil yang lebih mahal dari Rava!"
meninggal Juni 2012
😭😭