*
"Tidak ada asap jika tidak ada api."
Elena Putri Angelica, gadis biasa yang ingin sekali memberi keadilan bagi Bundanya. Cacian, hinaan, makian dari semua orang terhadap Sang Bunda akan ia lemparkan pada orang yang pantas mendapatkannya.
"Aku tidak seperti Bunda yang bermurah hati memaafkan dia. Aku bukan orang baik." Tegas Elena.
"Katakan, aku Villain!"
=-=-=-=-=
Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE yaaa Gengss...
Love You~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Villain Chapter 33
*
Langit malam dengan kerlap kerlip bintang, di temani cahaya lampu terang dari berbagai gedung menghiasi jalanan kota. Mobil milik Faizal melintasi jalan, dirinya fokus menyetir namun sesekali melirik Elena yang duduk di sampingnya sambil menatap lurus ke depan.
Menatap Elena dari samping meski sesekali namun bisa ia kenali wajahnya. Merasakan sesuatu yang tak bisa di jelaskan, entah kenapa wajah seseorang di sampingnya mengingatkan dia pada seseorang. Semakin di tatap semakin membuatnya penasaran.
Sepersekian detik ia menggeleng, kembali menatap ke depan fokus jalanan. Rasa penasaran itu ia buang jauh-jauh, meyakinkan hati jika itu tidak mungkin dan hanya sebuah kebetulan semata. Apalagi jika di ingat kembali sikap Elena yang melawan dia saat di rumah sakit, sungguh berbeda jauh dari orang yang ada di masa lalunya.
Tanpa Faizal tahu, sebenarnya Elena menyadari jika dia sedang di perhatikan diam-diam, namun enggan merespon dan malas menegur. Yang ada di pikirannya kini justru rasa takut jika nanti Faizal bertemu dengan Bundanya, dia tidak ingin lelaki itu mengetahui jati dirinya. Sekelebat pikiran ingin meminta turun di tengah jalan, namun itu tidak mungkin. Nanti lelaki itu mengadu pada Keyra jika dirinya tidak sopan dan menolak bantuannya. Bukan takut Keyra marah atau salah paham, hanya saja dia masih butuh Keyra untuk mempermudah misinya.
"Saya pikir kamu menolak uang itu karna harga diri, tapi ternyata karna kau ingin lebih dari jumlah uang itu dengan memanfaatkan putriku." Seru Faizal tanpa menolehkan wajahnya.
Lamunan Elena buyar, ia tahu maksud ucapan lelaki di sampingnya yang tak lain adalah sebuah sindiran. Ia menghela nafas pelan sambil senyum tipis "Jika memang saya manfaatkan, pasti saya sudah meminta lamborghini padanya." Ucapnya tanpa menoleh.
Faizal terkekeh tak percaya dengan jawaban spontan Elena "Yeah, kau akan meminta itu nanti. Pertama kau akan mendekatinya lalu kamu mulai memanfaatkannya. Heh... Seseorang akan melakukan apapun demi uang."
"Saya bukan orang yang tergila-gila dengan harta." Balas Elena masih enggan menatapnya.
Lagi dan lagi Faizal terkekeh, ia makin tak percaya padanya "Disini tidak ada putriku, kau bisa melepas topengmu. Katakan saja berapa jumlah yang kau inginkan."
Tak ada yang tersinggung, Elena menanggapinya dengan tenang. Bahkan ia tersenyum tipis "Bagaimana jika sebaliknya?" Elena menjeda ucapannya beberapa saat, Faizal mengernyit tak mengerti. Detik berikutnya Elena menolehkan wajah menatapnya intens "Disini tidak ada keluarga anda, jadi lepaskan topengnya. Bukankah anda menikahi Nyonya Shella bukan karena cinta melainkan harta? Benarkan seperti itu Tuan Faizal yang terhormat."
Refleks saja Faizal menginjak pedal rem mobil miliknya. Elena menyunggingkan senyuman sedikit puas saat melihat wajah Faizal memerah, rahangnya mengeras, bahkan juga menggenggam setir mobil dengan erat.
"Apa maksudmu bicara seperti itu?" Tanya Faizal penuh penekanan, bahkan ia mengeratkan giginya seolah menahan perasaan emosi dalam hati.
"Jangan tersinggung Tuan." Balas Elena masih tampak santai, tak ada rasa takut melihat tatapan tajam Faizal "Saya hanya mengatakan apa yang anda katakan. Bukankah anda bilang seseorang akan melakukan apapun demi uang? Jadi saya menebak mungkin anda menikahi Nyonya Shella karena uang bukan cinta, apalagi dia putri orang kaya."
"Kau terlalu banyak bicara. Kau sudah bosan hidup?" Kesal Faizal dengan nada mengancam, darahnya makin mendidih. Gadis di depannya terlalu berani melawan.
Elena takut? Tidak. Justru Elena terkekeh kecil, mencoba menahan gelak tawanya. Hal itu sungguh tidak di mengerti Faizal, ia merasa tidak ada yang lucu dari ancamannya tapi kenapa gadis di itu tertawa?
"Kenapa kau tertawa? Tidak ada yang lucu." Seru Faizal menatap tajam.
"Bagi saya itu lucu." Elena menghentikan tawanya, menyenangkan melihat raut wajah orang yang ia benci marah "Biasanya seseorang yang di tuduh dengan tuduhan tidak berdasar pasti akan membela diri. Saya mengatakan jika anda tidak mencintai istri anda. Seharusnya anda membela diri anda, katakan jika anda mencintainya bukan karena harta tapi tulus. Lalu apa tadi? Respon apa yang anda berikan? Marah? Tapi tidak mengklarifikasi? Apa tebakan saya benar?"
Penuturan Elena yang panjang lebar mampu membungkam mulut Faizal. Tak menyangka gadis di depannya pandai berbicara, apakah dia penipu handal? Apakah gadis itu pandai memanipulasi? Pikiran Negatif tentang Elena mulai bermunculan.
"Turun!" Usir Faizal tak berperasaan.
"Apa? Ini belum sampai rumah saya." Elena memainkan mimik wajah terkejut dan sedih. Padahal dalam hatinya bersorak senang, karena itu berarti Faizal tidak akan bertemu dengan Bundanya.
"Itu salahmu karena berbicara lancang denganku." Faizal menyeringai puas.
Tak banyak kata lagi, Elena segera keluar dari mobil Faizal. Beberapa detik setelah dia keluar, Faizal ikut keluar lalu berjalan menghampirinya dengan menatap penuh arti.
Elena bingung, apa yang ingin dia lakukan? Kenapa ikut keluar?
"Mulai besok dan seterusnya jauhi putri saya. Saya tidak ingin putri saya bergaul dengan orang yang tidak bermoral sepertimu." Ucap Faizal, tatapan tajam dan menusuk.
"Saya tidak bermoral?" Elena mengulang ucapannya, sungguh ia tidak terima.
"Ya. Karena kau tidak tahu sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Sudah miskin dan tidak beradab, kau pasti dari keluarga yang tidak baik." Maki Faizal yang tidak peduli saat melihat Elena, ia tahu jika gadis itu sedang marah dan hanya bisa menahannya.
Faizal mengambil dompet, merogohnya lalu melempar uang seratus ribuan dengan jumlah lumayan banyak tepat di wajah Elena "Balasan untukmu karena pernah melempariku uang. Kau pikir kau siapa ha?! Berani melawanku."
Guratan urat di leher Elena menonjol, mengepalkan tangan, mata memerah menatap tajam Faizal. Namun yang di tatap justru tersenyum smirk.
"Ini terakhir kalinya ku berikan kau uang. Ambil dan pergi dari kehidupan putri saya." Ucap Faizal tegas.
"Bagaimana jika saya tidak mau?" Tanya Elena sedikit menantang.
"Saya yang akan menjauhkan kalian dengan cara mengirimmu ke tempat yang tidak bisa orangtuamu temukan." Ancam Faizal terus smirk menatap Elena "Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya."
Elena diam, tak ada respon sedikitpun. Bahkan saat ia melihat Faizal memasuki mobilnya lalu melaju pergi meninggalkan dirinya seorang diri disana di tempat sepi.
Matanya teralih menatap lembaran uang di tanah dekat kakinya berpijak. Ingatannya kembali berputar pada semua ucapan Faizal yang memakinya.
Sakit. Ya... Jujur saja dia sedikit sakit mendengar sosok ayah yang biasanya orang sebut sebagai pahlawan justru memakinya. Ia juga punya perasaan yang ingin di perhatikan ayahnya. Walaupun kenyataan jika ayahnya memaki dia karena belum tahu dia anaknya, namun tetap saja ia tidak terima. Ya tidak menerima fakta jika dia memiliki ayah yang tidak punya hati. Entah pelet apa yang dia punya dulu hingga sang Bunda bisa jatuh cinta padanya.
Memikirkan rasa sakit itu tidak ada gunanya, melihat sikapnya tadi justru membuat Elena makin membara, makin bersemangat untuk membuatnya hancur. Tidak ada rasa takut sedikitpun pada ancaman, meski ia harus mengorbankan nyawa akan ia lakukan. Tapi sebelum itu terjadi, akan dia pastikan jika sosok ayah tak punya hati itu hancur bersama keluarga bahagianya. Itu janji Elena.
.
~Bersambung~
*-*-*-*-*-*-*-*-*
Jangan lupa LIKE, COMMENT, dan VOTE Yaa Gengs....
Love You~