Seorang gadis cerdas, tetapi Cupu bertemu tanpa sengaja dengan seorang laki-laki dengan aura tidak biasa. Pertemuan itu adalah awal dari kisah panjang perjalanan cinta mereka. Laki-laki itu menunjukkan sikap tidak sukanya, tetapi dibelakang ia bak bayangan yang terobsesi pada kelinci kecil. Akankah kelinci itu terperangkap, atau justru mencoba kabur dari pengejaran si dominan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
D-1
Kembali ke rutinitas Fakultas Kedokteran yang selalu sibuk. Setelah acara amal dan segala huru haranya, hari ini Sesilia kembali sebagai Mahasiswi biasa. Koridor kampus yang biasanya beraroma antiseptik kini terasa makin sempit dan menyesakkan. Ada beban yang terasa lebih berat dua kali lipat dari biasanya. Beban skripsinya tentang regenerasi sel saraf yang sedang sulit-sulitnya, dan beban nama besar Steel yang mulai membuntuti ke mana pun ia pergi.
Berita Acara Amal semalam masih jadi buah bibir. Di sudut-sudut kampus manapun, Sesilia selalu merasa ada banyak pasang mata yang mengawasinya. Mencari celah kekurangan atau sekedar kagum pada kemewahan yang diperolehnya dari Axel.
Bagi orang lain, Sesilia seperti drama Cina yang menjadi nyata. Atau seperti tokoh putri dongeng yang berakhir bahagia karena dicintai oleh pangeran berkuda yang kaya dan tampan.
Tetapi menurutnya, ia hanya gadis biasa yang beruntung karena bertemu Steel. Baik dulu maupun sekarang, nama Steel adalah penolong baginya, Uni dan Axel. Mereka adalah malaikat tak bersayap untuk dirinya yang penuh luka. Seorang gadis yatim, miskin dan kotor yang di pungut dan di poles oleh Steel hingga menjadi bunga cantik yang disukai banyak orang. Semua orang yang menyanjung dan mengaguminya sekarang, pasti akan jijik jika dihadapkan pada Sesilia yang dulu.
Satu-satunya tempat yang membuatnya merasa aman dan bebas melakukan apapun hanyalah laboratorium ini.
"Hello, Cinderella, are you okey?" Ini berbisik tepat di telinga kanannya. Membuatku kaget setengah mati.
"Uni!!!" teriaknya,
"Wh.. what? kok kamu kayak liat setan, Si. I'm your best friend, girl!" Uni kelabakan sendiri karena wajah kaget sahabatnya.
"Aku kaget, Ni. Kirain setan beneran."
"Mana ada setan secantik aku, Sesi. Lihat!!" Uni menyadarkan sahabatnya itu.
Sesilia perlahan pulih dari kekagetannya dan memandangi sahabatnya intens. Di tangannya, Uni menenteng dua cup kopi, senyum tulus yang menenangkan menghiasi bibirnya.
....
Dua sahabat baik itu segera menyingkir dari laboratorium yang tenang. Mereka butuh area privat yang memungkinkan untuk bebas bercerita, berteriak atau melakukan hal aneh lainnya tanpa dilihat orang lain.
Tempat yang cocok untuk itu hanya di taman yang berada di atap fakultas. Di bawah langit Jakarta yang mulai jingga, Sesilia baru bisa benar-benar bernapas. Hanya di depan Uni ia tidak perlu berakting jadi permaisuri Axel. Uni memperlakukannya seperti teman biasa, tanpa embel-embel status.
"Thanks for coming, Ni. I need someone to talk." Kata Sesilia sambil menyesap kopinya.
Uni tertawa kecil. "Jadi calon Nyonya Steel yang terhormat ternyata seberat itu yah, Hehe"
Sesilia tersenyum pahit. "Ni, ada pertanyaan yang selalu pengen aku tanyakan langsung sama kamu."
Uni diam mendengarkan.
"Kenapa kamu mau temenan sama aku, Ni? Kamu itu putri keluarga Steel. Kamu punya segalanya, dan bisa pilih teman dari kalangan mana pun."
Uni masih diam, kemudian beralih menatap gedung-gedung pencakar langit milik keluarganya yang mendominasi cakrawala.
"Karena di duniaku, Si, semua orang pakai topeng. Mereka berteman karena angka di belakang nama. Waktu aku ketemu kamu, kamu satu-satunya orang yang lihat aku sebagai 'Uni', bukan anggota keluarga Steel. Kamu tulus, meski kadang keras kepala banget."
Obrolan mereka semakin dalam, hingga masuk ke rahasia yang selama ini tertutup rapat. Sesilia mulai bercerita tentang betapa posesifnya Axel padanya, tentang ia yang bingung menempatkan diri di sisi laki-laki sesempurna dia.
"Aku kan belum pernah pacaran sebelumnya, Ni," aku Sesilia pelan. "Makanya aku merasa kewalahan. Semuanya... terlalu cepat dan terlalu menekan."
Uni mengangguk, matanya menunjukkan empati. "Wajar kok. Aku juga hampir di posisi itu. Kamu tahu kenapa sampai sekarang aku nggak punya pacar?"
Sesilia menggeleng.
"Karena ayah dan kakakku, Edward," suara Uni merendah. "Ayah merasa nggak ada laki-laki yang cukup layak buatku. Dia lihat semua laki-laki yang mendekat itu cuma parasit. Dan Edward..." Uni menghela napas panjang. "Edward jauh lebih parah dari Axel kalau soal menjagaku."
Uni bercerita bagaimana Edward pernah menghancurkan karier seorang mahasiswa hanya karena berani mengirim surat cinta pada Uni saat SMA. Edward memantau setiap chat, mengatur siapa yang boleh duduk di sebelahnya, bahkan sering muncul tiba-tiba di acara temannya hanya untuk memastikan tidak ada pria yang menyentuhnya.
"Laki-laki Steel itu dididik untuk menjaga otoritasnya, Si. Di darah mereka juga mengalir kutukan cinta mati dan obsesi untuk menjaga pasangannya," lanjut Uni.
"Aku bisa merasakan apa yang kamu alami, karena aku dikelilingi dua orang seperti Axel. Jadi, waktu tahu Axel berbuat sama, aku takut sekaligus merasa bersalah. Sorry banget yah Si. Gara-gara berteman sama aku, kamu ketemu Axel"
Mendengar itu, Sesilia hanya tersenyum kecil, terselip perasaan lega yang menghangatkan hatinya. Ternyata dia tidak sendirian dalam kegilaan ini. Ada rasa solidaritas yang tumbuh di antara mereka, dua perempuan yang sama-sama terjebak dalam lingkaran pria Steel yang dominan.
.....
Saat hari mulai gelap, Uni mengeluarkan amplop tebal berwarna krem dengan stempel lilin emas bergambar logo keluarga Steel. Raut wajahnya mendadak serius saat menyerahkannya pada Sesilia.
"Ini dari kakek dan ayahku. Undangan makan malam keluarga besar di rumah utama akhir pekan ini," kata Uni.
Sesilia menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Makan malam keluarga? Tapi... kenapa aku harus ikut?"
"Karena kamu adalah tunangan Axel, Si... Sudah sewajarnya kamu menerima undangan itu. Keluarga besar juga mau lihat secara langsung, perempuan hebat yang bisa menaklukkan singa paling liar di keluarga."
Sesilia merasa mual seketika. Membayangkan Edward yang provokatif, ayah Uni yang mengintimidasi, dan tatapan tajam para tetua lainnya membuat nyalinya ciut.
"A...aku takut, Ni. Kalau...menurut keluarga kamu...aku tidak sesuai untuk Axel, gimana Ni?"
Uni menggenggam tangan sahabatnya erat. "Don't worry be happy, Si.. You have Axel in your side, hehe.." Uni mencoba bergurau.
"Keluargaku baik kok, tenang aja. Dibalik kutukan dan obsesi itu, mereka cuma manusia pada umumnya, yang agak sedikit kaya..."
Sesilia mengerutkan keningnya kala mendengar kata terakhir keluar dari mulut sahabatnya.
"Tapi mereka nggak makan orang!" Uni berkata cepat. Tangannya terangkat membentuk huruf V terbalik.
.....
Malam itu, Sesilia berdiri di balkon kamarnya, menatap undangan emas di atas meja. Di kejauhan, lampu kota Jakarta berkelap-kelip, tapi matanya terpaku pada tulisan di sana Sesilia - Calon Anggota Keluarga Steel.
Dia sadar ketenangan sesaat bersama Uni tadi hanyalah jeda sebelum badai. Makan malam itu akan membuktikan segalanya, apakah dirinya akan diterima sebagai bagian dari keluarga hebat itu, atau justru hancur seperti porselen rapuh.
...
Di tempat lain, Axel sedang menatap monitor yang menampilkan wajah melamun tunangannya di balkon. Ia tahu soal undangan itu. Dengan senyum tipis yang dingin, lelaki itu bergumam pada kegelapan.
"Don't scare baby girl, I'm with you."
.
Di dalam kamar mewahnya, Sesilia perlahan membuka amplop itu, sadar bahwa hidupnya sebagai mahasiswi biasa sudah tamat. Kini ia berdiri tepat di depan pintu masuk jurang yang dalam dan gelap, entah apa yang akan ditemuinya di dalam sana. Tapi, ia tidak punya pilihan lain selain masuk dengan suka rela.
bau bau bucin😍😄