NovelToon NovelToon
Married With Single Daddy

Married With Single Daddy

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:15.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: NOVIA IP

Luna Anatasya Gerraldy seorang mahasiswa semester akhir harus berusaha keras untuk mengikuti pendaftaran magang di sebuah perusahaan terbesar, di negeri ini.


Kisah cintanya dimulai saat bertemu dengan Reza Aditya Winajaya seorang CEO yang berstatus Single Daddy yang ternyata adik dari Dosen killernya. Segalanya berubah saat seorang bocah laki-laki berusia tiga tahun memanggilnya 'Mommy' dan malah mengikat Luna dengan Reza semakin erat hingga keduanya saling jatuh cinta.


Bagaimana kisah keduanya saat tahu masalalu mereka seperti benang merah, yang dimana semua terasa mimpi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Keluarga Kecil

♥♥♥

Setelah sehari kepulanganya dari Jepang. Ia bergegas untuk menyiapkan baju Wisuda yang akan di pakainya nanti. Tapi itu tidak terjadi karena Rara dan Abel sudah mempersiapkan semua selama Luna berlibur.

Memang kedua sahabatnya ini adalah yang terbaik dan pastinya banyak maunya.

Luna berada didalam kamar membereskan oleh-oleh yang masih menyisakan beberapa barang. Luna menjadi bingung dengan sisa barangnya. Karena terlalu banyak membeli oleh-oleh dan entah berapa uang yang Reza keluarkan.

Ingin bertanya tapi merasa tidak enak hati.

Biboy yang sembari tadi duduk di alas karpet bulu bersama Luna mulai merasa mengantuk terlihat dari matanya yang sayu dan terus mengucek matanya berkali-kali. 

Luna menggendong Biboy, "Anak Mommy, kamu ngantuk ya?" ucanya memberikan perhatian.

Biboy begitu mulai tenang dan menyandarkan kepala di bahu Luna terlihat lelah.

Dengan sigap ia mengelus pelan punggung bocah kecil itu hingga Biboy tidur lelap dan meninabobokan anaknya dengan lagu tidur yang sering orang tuanya nyanyikan. 

♪ Nina bobo

♪ Oh Oh nina bobo  

♪ Kalau tidak bobo digigit nyamuk

Biboy tertidur. 

Sudah cukup lama Biboy berada digendongan dirinya. Ia pun memutuskan membawa putra kecilnya kekamarnya di sebelah tak jauh dari kamarnya. Saat melangkahkan kaki dan tepat berada diambang pintu.

Seorang wanita menghampiri sembari ingin mengambil Biboy digendongannya namun ia tahan. 

"Nggak usah. Mbak Mirna biarkan Luna saja yang menidurkan Biboy." Luna pun memberikan penolakan halus pada baby sister yang sudah menjaga Biboy selama ini.

"Tapi, Bu…" wanita itu masih keukeuh namun akhirnya mengikuti Luna dan masuk ke dalam kamar tuan kecilnya dan membaringkannya di ranjang khusus bayi yang diberikan topangan pagar agar tidak mudah terjatuh. Dikarenan anak seusia Biboy bila tidur tidak beraturan.

"Oh ya. Jangan lupa sama oleh-olehnya dibawa pulang, ya." sahut Luna seraya mengelus dan mencium kening anaknya yang sudah tidur lelap. 

"Iya, Bu terima kasih.  Jadi saya tidak menginap disini dulu."

"Tidak usah. Besok pagi kamu kesini lagi. Biboy biar aku yang jaga."

"Sekali lagi terima kasih Bu."

Luna hanya tersenyum dan mengangguk pelan ke arah wanita itu dan keluar meninggalkan Biboy. Begitu halnya dengan Mirna. Ia melihat dari lantai dua menemukan Reza sedang sibuk dengan laptop dan Berkas-berkasnya di meja yang berserakan dan Luna pun memutuskan untuk menghampirinya namun terlebih dahulu pergi menuju dapur untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya.

"Mas ini teh, kamu minum dulu. Sibuk banget dari tadi. " Luna meletakkan teh di meja.

Reza menoleh, "Terima kasih sayang." Ia juga mengambil cangkir teh hangat dan meminum sedikit-sedikit menikmati aroma dan rasa teh yang dibuat khusus oleh istrinya, "Enak. " katanya lagi usai mencicipi teh. 

"Mau aku bantu susun berkasnya?"

"Boleh, tapi kamu belum tidur?"

"Belum. Tadi aku habis nidurin Biboy dulu."

"Habis ini, giliran Daddy-nya yang di tidurin, ya?"  Goda Reza tersenyum dengan tatapan mata yang membuat Luna terpesona.

"Ih, Mas Reza. Mesum banget sih." Luna merona merah dan mengalihkan pandangannya pada berkas di meja karena merasa malu, canggung dengan sikap Reza disampingnya. 

Reza menarik pinggang Luna sehingga pria itu berada dekat dengannya. Secara otomatis Luna mengalungkan tangannya di leher Reza yang sekarang berada di hadapannya.

Mata Luna terpejam, sedetik kemudian Reza sudah mendarat bibirnya di bibir Luna sembari memberikan lumatan panjang dan dalam pada ciumannya meski pelan namun pasti. Dan juga menikmati cumbuan mereka.

Namun Luna sadar, saat mendengar langkah kaki dan melepaskan bibirnya itu dari ciuman Reza, membuat pria itu heran. Menyadari akan kedatangan Mirna di belakangnya. 

"Maaf, Pak Reza dan IBu Luna. Mengganggu." Mirna tidak enak hati mengganggu majikan nya yang sedang bermesraan. Tangan Mirna sedikit meremaskan baju seragamnya. Gugup. Takut. 

"Oh. Mbak Mirna. Mau pulang ya?" 

Sementara Reza merasa sangat kesal karena merasa terganggu, namun Luna memberikan arahan agar Reza bersikap biasa karena raut wajahnya membuat takut Mirna tertunduk tak ingin menatap wajah keduanya.

"Iya. Saya pulang Pak Reza dan Bu Luna. "

"Hati-Hati" seru Reza. 

Mirna menunduk pelan bergegas melangkah kakinya meninggalkan ruangan. Dan Reza mulai berdehem memberikan kode pada Luna untuk melanjutkan aktivitasnya yang terganggu tadi. 

"Aku mau tidur, Ah. Mengantuk." desis Luna akan beranjak dari sofa namun ditahan oleh suaminya. 

"Nggak mau dilanjutin lagi… " Harapan Reza.

"Bukan kamu masih banyak kerjaan, sayang?" tanya Luna menunjuk ke arah meja. Berkas yang berserakan dan juga laptop yang masih menyala.

Tidak menjawab.

Reza menghela nafas dan memang pekerjaan masih banyak namun dia ingin bermesraan dengan istrinya. Pulang dari Jepang banyak berkas yang belum dia tandatangan. Begitu pula e-mail dari rekan bisnis lainnya. 

"Kalau begitu aku tidur duluan ya." Kata Luna bergegas meninggalkan Reza.

Beberapa detik, Reza membereskan semua berkas dan menutup laptop. Meninggalkan begitu saja di atas meja menyusul istrinya. 

"Tunggu aku juga mau tidur". Teriak Reza dan menghentikan langkah Luna.

Luna menoleh dan tersenyum seraya menggerakkan jari telunjuknya  kearah Reza agar ia cepat menyusul.

"Ayo."

•••

Pukul 05:00 Luna bangun tidur dan dilihatnya Reza masih tidur pulas di sampingnya.

Luna melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Beberapa menit ia pun keluar dari kamar mandi masih mengenakan jubah putih melekat di tubuhnya dengan rambut masih basah. Dikeringkannya menggunakan handuk kecil. 

Luna memilih pakaiannya mengenakan dress kemeja panjang berwarna blue dan tak lupa memakai BB cream bagian lehernya itu untuk menutup kissmark begitu banyak di area dada dan lehernya, karena ulah Reza yang selalu meninggalkan banyak tanda.

"Ini terlalu banyak. Nyebelin banget, Mas Reza. Nanti yang ada aku diledekin Abel sama Rara lagi. " gerutunya sekilas menoleh ke arah Reza yang masih tidur. Dan merasakan risih dengan kissmark di bagian lehernya yang terlihat. 

Setelah merapikan rambut. Dan memberikan make up diwajah, Luna sengaja mengecek ke kamar Biboy. Untungnya masih tidur. Sehingga dia bergegas turun ke bawah untuk mengecek bahan makanan untuk pagi ini, apa yang akan dimasak.

Melihat kerjaan suaminya masih berserakan dimeja masih berserakan Luna membereskan dan terlebih dahulu berkas-berkas.

Merapihkan sesuai tanggal penerimaan dan melanjutkan kembali ke area dapur. 

Sampai didapur Luna mengecek dulu bahan makanan di lemari dan dilihat masih banyak bahan yang masih tersedia dan dia juga mulai memikirkan menu makanan apa yang akan di masaknya.

Ia memutuskan untuk membuat bubur ayam resep mendiang ibunya dulu. Mengingat setiap pagi ibunya ini selalu membuat sarapan pagi dengan membuat bubur ayam. Dan sekarang ia melakukannya untuk keluarga kecilnya.

Sudah selesai dengan membuat bubur sengaja belum dituangkannya kedalam mangkuk, dan niat untuk membangunkan suaminya dahulu karena ia tahu hari ini akan mengadakan meeting.

Membuka kamarnya, pria itu masih belum juga bangun. Luna berjalan melangkahkan kakinya menuju ranjang king sizenya. 

"Sayang, bangun." bisik Luna tepat di telinga Reza yang sedang berbaring dengan dada yang telajang. 

Pria itu belum merespon. Luna pun kembali berbisik di telinga suaminya dengan nada pelan namun penuh godaan. 

"Sayang, bangun."

"Hmm…"

Reza menggeliat meregangkan tubuhnya dan masih memejamkan matanya, dan beberapa saat ia membuka matanya, merasakan silau matahari karena Luna sengaja membuka tirai jendela.

"Cepat Mas bangun, inget hari ini kamu ada meeting." Cetus Luna.

"Iya, sayang aku ingat. "

Reza membuka mata dan tergesa terduduk diam masih mengantuk. Dan melihat Luna yang bersedakep menatap tajam ke arahnya.

"Cepat ke kamar mandi, aku mau mandiin Biboy dulu terus siapin kalian sarapan. Aku sudah siapin pakaian kamu hari ini. Dan begitu juga berkas-berkas kamu semalam sudah aku beresin. Aku tunggu di bawah." 

"Ok. Siap Bos. "

Luna tertawa pelan melihat tingkah Reza yang kekanakkan dan meninggalkan menuju kamar Biboy, yang ternyata Mirna sudah ada di dalam kamar. Dan memang Mirna sudah tau password agar mempermudah dirinya masuk keluar apartemen. Mirna sangat di percaya begitu juga Asisten rumah tangganya Bik Surti.

"Mbak Mirna sudah datang. Tadinya Luna mau mandiin Biboy. Tapi untung ada Mbak Mirna. Aku mau siapin sarapan dulu." Sahut Luna pun menghampiri Biboy yang sudah bangun dan mengangkat mencium pipi gembulnya. 

"Iya Bu. Soalnya urusan di rumah sudah beres. Jadi saya berangkat lebih awal. Memangnya Bik Surti tidak masuk, sehingga Bu Luna yang masak?" tanya Mirna.

"Bik Surti lagi mengurus anaknya yang mau masuk sekolah SMA Jadi dia nggak masuk hari ini. Mbak sudah makan, tadi saya buat bubur?"

"Sudah Bu, sebelum berangkat saya sarapan nasi uduk di rumah."

"Ya, sudah aku serahkan Biboy sama Mbak Mirna "

"Iya Bu."

Luna menyerah Biboy pada Mirna baby sister nya, dan sementara ia kebawah untuk menyiapkan sarapan.

Bubur yang tadi dibuat Luna ia taruh di mangkuk, diberi kecap, kacang, suwiran ayam, dan kerupuk sebagai tambahan terakhir.

Tak lama Reza turun dari lantai dua berjalan menghampiri meja makan dan duduk di tengah dan melihat sudah ada bubur ayam yang sudah dihidangkan dan segelas susu yang wajib dia diminum setiap hari.

"Kayaknya enak, kamu yang buat." kata Reza mencium bau wangi di bubur ayam yang ada di hadapannya terlihat menggiurkan.

Luna duduk disamping Reza, "Iya, Mas. Aku yang buat. Ini resep mendiang ibuku. Semoga Mas suka. " ucapnya memandang Reza yang sedang mencicipi bubur ayam buatan Luna dan diam menunggu reaksi suaminya tentang rasa masakannya. 

"Uhm, ini enak banget sayang. Kamu pinter banget masak. Tukang bubur diluar aja kalah sama rasa bubur kamu." Jawab Reza begitu menikmati buburnya dan memberikan dua jempol ke arah Luna. 

"Syukur deh kalau memang suka. Dihabiskan."

•••

TOK TOK TOK

Suara pintu ruangannya terdengar oleh Reza dan bergumam 'Masuk' sementara dia masih berkutik dengan berkas dan laptopnya diatas meja. Dan seorang pria masuk melangkahkan kaki masuk dan berhenti di depan meja Reza dan meletakkan berkas merah.

"Ini ajuan dari Pak Fredi, anaknya Alisha mau mengajukan magang di perusahaan ini." Ucap Soni menunggu jawaban Bosnya. 

Reza mengerutkan alis, "Magang? Alisha?" 

"Bagaimana Pak? Apa ada masalah?" tanya Soni penasaran. Melihat raut bingung Reza.

Ia tahu bahwa ini akan menjadi masalah bila wanita itu berada di kantor.

Karena Alisha dan Luna tidak akur dan mungkin musuh bebuyutan seperti yang dia dengar dari Abel.

"Apa hanya nama Alisha saja yang mengajukan magang ini?"

"Iya pak hanya Alisha saja. Maaf apa sebaiknya anda tolak. Saya hanya takut kalau wanita ini akan melakukan sesuatu. Maksud saya… "

"Tidak usah berpikir negatif. sepertinya kamu merasa khawatir dengan adanya Alisha. Aku tidak akan tergoda. Aku kan sudah memiliki wanita yang lebih menggoda darinya. Luna istriku."

"Kalau memang itu pendapat bapak. Saya itu hanya tidak suka dengan wanita itu. Apalagi kejadian di cafe terlihat sekali dia sengaja menggoda anda."

"Kamu lihatkan. Aku tidak tergoda olehnya. Aku juga akan menanyakan dahulu kepada Luna. Dia harus tahu ini. Dan aku tak ingin ada kesalahpahaman terjadi di rumah tanggaku. Karena ini masih awal."

"Saya mengerti pak, lalu bagaimana. Apa form magang ini kita simpan dahulu. "

"Saya akan pikir nanti."

"Baik Pak."

Soni keluar dari ruangan. 

Kepergian Soni dari ruangannya, Reza terus berpikir tentang maksud Alisha melakukan magang di kantornya. Merasa ada sesuatu.

Sama halnya Soni. Ia mulai berpikir negatif, Mengingat kembali ucapan Abel bila dirinya harus berhati-hati dengan wanita ini.

Sangat berbahaya. Benarkan? Pikirannya terus bertanya-tanya. 

Pusing memikirnya Ia pun kembali disibukkan dengan pekerjaannya.

Namun Ia merasa bosan.

Cuaca hari ini pun tidak secerah biasanya Reza berjalan dan bersedekap di depan jendela dan melihat gedung perkantoran lain menjulang tinggi dan memikirkan kembali awal ia berada disini.

Reza dulu bercita-cita menjadi pilot sejak kecil bukan hanya angan masa kecil belaka, tapi memang itu ada impiannya yang belum terlaksana.

Karena Ia tahu bahwa dirinya akan cepat atau lambat akan mengantikan posisi Ayahnya itu. Seperti saat ini. CEO jabatannya. Sudah tiga tahun sudah.

Ia kembali ke kursi kebanggaannya dan duduk bersandar. Melihat ponselnya mendapat chat dari istrinya Reza pun cepat mengambil dan membaca chat dari wanita yang sangat ia cintai itu.

 💬 Luna : Sayang apa hari ini aku boleh ke kantor dengan Biboy? Aku membuat makan siang untukmu. Aku juga bosan dirumah 😞

💬 Reza : Tentu saja aku juga senang kalau kalian datang. Aku akan suruh orang buat jemput kamu. Aku nggak mau kamu bawa mobil sendiri. Apa lagi harus naik taksi online. Big No.

💬 Luna : Ok. Aku menurut saja. Apa kata suami. Kalau begitu tunggu kami. I ❤ U

💬 Reza : I love you too 😘

Mendapat chat dari Luna istrinya membuat Reza kembali bersemangat untuk kembali mengerjakan tugasnya, ditambah ia dan anaknya akan kemari. 

Ia menyelesaikan semua berkas yang akan ditandatanganinya. Begitu pula menjawab semua e-mail yang masuk.

Karena ia tak ingin kalau nanti mereka datang kerjaan menumpuk dan tak bisa menikmati kebersamaanya dengan istri dan anaknya.

"Aku harus menyelesaikan ini semua. " gunem Reza.

Dan melihat jam di ponsel masih menunjukan pukul 10:30 dan ada waktu satu jam setengah untuk menyelesaikannya. 

Reza fokus. Tapi pikirannya masih melayang kemana-mana.

Ini serasa mimpi. Kadang ia merasa iri pada teman bisnis ataupun teman kerjanya itu dimana istri mereka akan menghantarkan makan atau bekal untuk suami setiap hari. Dan sekarang ini terjadi padanya sekarang dan ini sangat menyenangkan.

Keluarga kecil yang memberikan harapan begitu banyak untuknya.

Helaan nafas, "Aku tidak sabar menunggu kalian sayang." pikirnya. 

•••

Luna turun dari mobilnya dan berdiri tepat didepan gedung pencangkar langit tempat dulu dirinya magang.

Sekarang ia berdiri disini.

Terus melangkahkan kakinya masuk kedalam sambil menggendong Biboy dan menjinjing tas bekal untuk suaminya. 

Mendapatkan tatapan dan sapaan darinya di karyawan yang seraya memanggilnya dengan sebutan 'Bu Luna' membuat ia merasa tidak nyaman dan risih apalagi iabmelihat mereka memberikan senyum dan hormatnya secara resmi.

Luna hanya bisa tersenyum dan berbalik sapa pada mereka. 

Sebelum memasuki lift Luna melihat Karin yang sedang sibuk menerima telepon dan melangkahkan kaki untuk menyapa teman lamanya Karin saat meletakkan telponnya. Karena sudah lama tidak bertemu. Terakhir saat acara resepsi pernikahannya. 

"Hai Karin." sapa Luna melihat Karin terlihat berbeda dengan tampilan rambutnya pendek sebahu terlihat lebih fresh. 

"Luna…Upss Sorry maksud saya, Ibu Luna apa kabar?" balas Karin cipika cipiki, menyentuh pipi embul Biboy "Hey, tuan muda."

"Baik. Panggil saja Luna. Dan nggak usah pake embel-embel 'Ibu' nggak nyaman tau. Dan juga panggil anakku juga Biboy atau Bi saja. Nggak usah pake 'tuan muda' aneh tahu dengernya. Kamu kira bangsawan." Protesnya.

"Jangan begitu dong. Kamu kan sekarang istri dari tempat aku kerja." sahut Karin tak enak. Menatap Luna begitu banyak berubah menjadi sosok wanita dewasa namun mempesona tiap yang melihat.

"Oke terserah deh. Kalau diluar kantor jangan sampai panggil begitu lagi ya."  pasrah Luna. 

"Itu lain lagi dong kalau diluar kantor. Bu Luna bawa apa tuh?" Balas Karin menyadari Luna sedang menjinjing tas kecil. 

"Aku bawa bekal buat suamiku."

"So sweet banget sih, Ibu Luna bawain bekal buat suami tercinta."

Luna tersipu malu, "Ya sudah aku ke atas dulu. Pasti dia sedang menungguku."

"Ok Ibu Luna. Jangan sampai Pak Reza terus menunggu."

Selesai bertegur sapa dengan Karin.

Ia melanjutkan lagi menuju pintu lift namun. Harusnya Luna menggunakan lift biasa bukan lift eksekutif masih belum terbiasa dengan status barunya.

Untung saat dalam lift dirinya tidak berada bersama karyawan lain. karena akan sangat canggung bila harus menyapa dengan formal seperti tadi.

Pintu lift terbuka dan tak jauh melihat Soni sedang duduk dikursi dan sibuk dengan berkas menyadari kedatangan Luna dan Biboy. Ia pun menghentikan kegiatannya sesaat.

"Siang Ibu Luna" Sapa Soni.

"Siang. Mas Reza didalamkan?"

"Iya ada. Dari tadi tidak sabar menunggu kedatangan istri dan anak tersayang."

"Mas Soni bisa saja. Kalau begitu saya kedalam."

"Silahkan. "

Langkahnya terhenti saat seorang tiba-tiba membuka pintu kayu besar itu dari dalam, Dan siapa lagi kalau bukan Reza.

Ia sudah menunggu dan mempersilahkan Luna dan Biboy masuk dan menutup kembali pintu.

Melihat Luna membawa tas dengan cepat ia mengambil alih putra kecilnya. Mengangkat badan anaknya ke atas mencium perut besar putra kecilnya yang begitu menggemaskan. 

Biboy pun merasa geli dengan ulah Daddy-nya dan tertawa lepas. 

Dan sementara Luna hanya memperhatikan Suami dan anaknya bersenang-senang sambil menyiapkan bekal bawaanya di atas meja.

Luna sengaja membuat bekal ala korea agar tidak ribet dibawa dan mudah dibuat.

Semoga suamiku menyukainya. Pikir Luna.

"Ayo Mas, makan dulu. Jam makan siang sudah lewat 10 menit. Berhenti dulu mainnya." Luna memandang Reza yang masih asyik bermain dengan putranya. 

"Oke." Singkatnya melangkah menuju sofa dan duduk. Melihat makanan sudah tersedia.

Luna mengambil Biboy dari pangkuan Reza, "Sini Biboy sama aku. Kamu habiskan semua makanan ini."

"Kamu nggak makan?"

"Aku sudah makan sebelum kesini. Dan masih kenyang. Biboy juga sama. Jadi aku cuma minum Jus buah saja."

"Wah. Ternyata begini rasanya dibuatkan bekal sama istri. "Kata Reza senang apalagi melihat makanan yang dibuat Luna selalu enak.

Luna mengerutkan alis, "Apa memang rasanya?" ucapnya masih kurang paham. 

"Rasanya senang banget. Dulu aku suka iri sama karyawan disini. Mereka selalu dibawakan bekal oleh istrinya. Dan sekarang aku bisa merasakan hal yang dirasakan mereka. Dan ini membuat aku bahagia." ucap Reza sambil memakan nasi kepal berbentuk piramida menggunakan sumpit kayu. 

"Aku bakal bikin kamu bekal. Tapi nggak mau sering-sering." seru Luna dan sejenak menghentikan acara makan Reza. 

"Kenapa?." tanyanya penasaran.

"Apa kata karyawan kamu. Atasan makan bekal tiap hari. Dikira aku istri yang hemat."

Reza tertawa pelan. Tidak menjawab. 

"Kamu kok ketawa sih?"

"Sorry. Tapi mereka salah. Istriku boros bukan hemat. Kamu nggak tau waktu ke Jepang berapa semua total belanjaan kamu."

"Berapa?"

"Uhm… cuma sedikit sih tapi kalau buat kamu pasti besar."

"Tau. Bos kaya. Berapa memang?"

"60jt."

"What? 60jt?"

Reza mengangguk. Fokus menghabiskan makananya. Semetara Luna masih sedikit syok dengan angkat belanja yang sudah mereka habiskan di Jepang yang memasang harga barang dan makanan disana cukup mahal. 

Luna terkejut. Belum bisa bicara. Dan Biboy menggeliat dari pangkuannya menuju Reza yang sudah menghabiskan bekal buatan Luna.

"Sudah kali. Nggak usah terkejut begitu. Lebay." Reza sekilas mencubit pipi Luna.

"Ini biasa saja kali. Nggak lebay. Lagian itu kamu juga yang suruh buat habiskan uang kamu kan." cetus Luna dan memalingkan wajahnya ke arah lain.

Reza tertawa lagi, "Biboy. Lihat Mommy marah. Daddy dicemberutin." keluhnya pada putra kecilnya.

♥♥♥

1
Nadhira💦
bergandang apa begadang thor.../Facepalm/
Fitri Astriah
reza berguling2🤣🤣🤣🤣🤣
Widya Sari
👍👍👍
Anonymous
/Good/
Adhie Ningsih
banyak banget typo nya...
dikoreksi lagi ya thor
Hamizan Al Muqqit
Lumayan
prima yanary
Luar biasa
Ririn Nursisminingsih
ayolah luna jg jdi cwek lemah....and mudah ditindass
Pak On
terima kasih Thor karyamu sangat bagus teruslah berkarya dan sukses selalu
Mutia
koreksi

menagis => menangis
laili_TQ
♥️♥️
Mutia
koreksi + baca ulang thor

berjakan => berjalan
Mutia
koreksi + baca ulang thor

calon suami => calon istri
Mutia
koreksi + baca ulang thor

Reza => bi
Mutia
koreksi + baca ulang thor

sedikir => sedikit
Melii Zee🐣
Luna aku saingan mu gong Yo adalah suamiku🤣
Laili Dwi Agustina
bisa direkomendasikan kepada orang lain
Sri Widjiastuti
nyimak nihh
Megumiia
boleh to mas Reza siapa yg larang kalo bisa cepat nikahin biar kejadian di masa lalu tidak terulang kembali
Nisaa
seru sih, tapi kadang bahasanya agak aneh sedikit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!