Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Audit Rakyat
Arum dan Baskara merayap naik ke pasir pantai yang kasar di sebuah pulau tak berpenghuni, sekitar dua mil dari lokasi ledakan Nagasari 01. Pakaian mereka compang-camping dan kulit mereka perih karena air garam, namun mata Arum tetap terjaga. Di tangannya, ia masih menggenggam tas kedap air berisi "Hard Drive Hitam"satu-satunya bukti fisik yang tersisa dari kejahatan The Infinite 00.
"Mereka pikir api bisa menghapus angka," Arum terengah-engah, memandangi cahaya jingga dari kejauhan yang merupakan sisa-sisa kapalnya. "Tapi mereka lupa bahwa angka yang sudah dilepaskan ke publik akan berlipat ganda seperti virus."
Di daratan, Jakarta dan kota-kota besar lainnya sedang mengalami "malam tanpa tidur". Siaran Arum tadi telah memicu reaksi berantai. Rakyat tidak lagi menunggu pagi untuk memeriksa saldo bank mereka; mereka turun ke jalan dengan membawa satu tuntutan: Audit Independen Total.
Arum membuka laptop cadangan yang ia sembunyikan di sebuah safe box bawah tanah di pulau tersebut salah satu dari banyak titik logistik yang ia siapkan sejak ia menjadi hantu. Ia segera masuk ke dalam jaringan gelap (dark web) yang kini dipenuhi oleh ribuan sukarelawan digital dari seluruh dunia.
"Mas, lihat ini," Arum menunjukkan layar yang berdenyut dengan aktivitas data. "Ini bukan lagi audit saya. Ini adalah Audit Kerumunan (Crowd source d Audit). Ribuan akuntan, peretas etis, dan ahli hukum di seluruh dunia sedang membedah data yang saya unggah tadi. Mereka sedang memburu setiap rekening cangkang milik The Infinite 00."
Namun, musuh belum menyerah. The Infinite 00 mencoba melakukan manuver terakhir: "Audit Narasi". Mereka menggunakan media arus utama yang masih mereka kendalikan untuk menuduh Arum sebagai teroris siber yang mencoba menghancurkan ekonomi nasional demi kepentingan asing.
"Mereka ingin memecah suara rakyat, Rum," Baskara memperingatkan sambil memantau berita di radio satelit. "Mereka bilang kau sedang melakukan sabotase untuk memicu kudeta."
Arum tidak membalas dengan kata-kata. Ia melakukan langkah yang jauh lebih cerdas. Ia meretas papan iklan digital (videotron) di sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman. Alih-alih menampilkan wajahnya, ia menampilkan Neraca Transparansi Real-Time.
Di layar raksasa itu, setiap rupiah yang keluar dari kas negara secara ilegal ditampilkan dalam waktu nyata. Nama pejabat yang menandatangani perintah transfernya muncul dalam warna merah menyala. Rakyat tidak butuh pidato; mereka butuh angka yang jujur, dan Arum memberikannya langsung di depan mata mereka.
"Audit rakyat tidak bisa dihentikan dengan gas air mata atau narasi palsu," Arum mengetik perintah terakhir. "Karena angka tidak memiliki opini. Angka hanya memiliki kebenaran."
Saat itu juga, sistem perbankan mulai mengalami reboot otomatis bukan karena perintah The Infinite 00, melainkan karena tekanan dari ribuan staf ITI bank yang terinspirasi oleh Arum untuk memblokir akses para koruptor ke sistem inti.
Tiba-tiba, sebuah helikopter tanpa lencana mendarat di pantai tempat Arum bersembunyi. Namun kali ini, Arum tidak lari. Dari dalam helikopter, keluar seorang pria tua yang pernah Arum temui di Nagasari dulu mantan Ketua KPK yang telah lama disingkirkan.
"Arum... rakyat sudah melakukan bagian mereka," ujar pria tua itu dengan suara berat. "Sekarang, berikan kami kuncinya. Kami akan membuka pintu sel untuk orang-orang yang selama ini menganggap diri mereka di atas hukum."
Arum menyerahkan Hard Drive Hitam itu. "Pastikan audit ini tidak pernah ditutup, Pak..."
Karena sekali kita berhenti mengawasi, bayangan itu akan kembali."
Arum dan Baskara berdiri di pantai, menyaksikan helikopter itu membawa bukti terakhir menuju pusat keadilan. Mereka tahu, identitas mereka mungkin tidak akan pernah kembali. Mereka tetap akan menjadi hantu. Tapi bagi Arum, itu adalah harga kecil untuk sebuah bangsa yang akhirnya belajar cara membaca angka mereka sendiri.
Udara di pantai itu terasa lebih ringan meski bau hangus dari sisa-sisa kapal masih tercium. Arum menatap helikopter yang menjauh, membawa cakram keras yang berisi nasib ekonomi bangsa. Namun, meskipun bukti fisik telah berpindah tangan, Arum tahu bahwa di era digital, pertempuran belum benar-benar usai sebelum "akar" dari sistem itu dicabut.
"Mas, kita belum selesai," Arum kembali ke laptop cadangannya. Jari-jarinya masih bergerak cepat.
"Apalagi, Rum? Bukannya semua data sudah diserahkan?" Baskara mendekat, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu.
"Penyerahan bukti ke hukum itu untuk sejarah. Tapi untuk menghentikan kekacauan besok pagi pukul 08.00, aku harus melakukan Audit Sinkronisasi," Arum menjelaskan tanpa menoleh. "Abis sal Corp sudah memasang logic bomb di server-server perbankan. Jika aku tidak menyuntikkan 'vakum digital' sekarang, sistem itu akan meledak sendiri meski pemimpinnya sudah ditangkap."
Arum kini tidak lagi menyerang. Ia sedang membangun "jembatan penyelamat". Ia mengirimkan ribuan paket data kecil yang berisi kode perbaikan ke seluruh administrator ITI bank di Indonesia secara anonim. Di dalam paket itu, Arum menyertakan instruksi sederhana: “Hapus baris kode 0X00FF1, kembalikan kedaulatan pada nasabah.”
Satu per satu, titik-titik merah di peta monitor Arum berubah menjadi hijau. Para staf ITI di berbagai kota, yang selama ini hanya menjadi pion, mulai bergerak serentak. Ini adalah pemberontakan para teknisi yang dipicu oleh satu orang auditor hantu.
"Lihat, Mas. Mereka melakukannya," bisik Arum. Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang kotor oleh jelaga. "Rakyat tidak hanya mengaudit dengan teriakan, tapi dengan keahlian mereka masing-masing."
Namun, di tengah kemenangan itu, sebuah notifikasi terakhir muncul di layar Arum. Sebuah pesan pribadi dari sisa-sisa algoritma The Infinite 00 yang mulai hancur:
"Arum, kau menangkap kami hari ini. Tapi kau telah menciptakan standar baru. Kau telah mengajari dunia cara melawan. Sekarang, kau adalah target bagi setiap entitas yang ingin menguasai kegelapan. Kau tidak akan pernah bisa pulang ke Nagasari."
Arum membaca pesan itu dengan tenang. Ia menutup laptopnya perlahan. Ia melihat ke arah Baskara, lalu ke arah laut luas. Ia teringat rumah dinasnya, kebunnya, dan warga desa yang sangat ia cintai. Harga dari kebenaran ini adalah pengasingan abadi.
"Mas... mereka benar. Kita tidak bisa pulang," suara Arum bergetar.
Baskara menggenggam tangan Arum dengan erat. "Nagasari bukan lagi sebuah tempat di peta, Rum. Nagasari ada di setiap orang yang berani jujur karena kau. Ke mana pun kita pergi, kita membawa Nagasari di dalam diri kita."
Di ufuk timur, cahaya fajar mulai menyingsing. Tanggal 13 Januari 2035. Pukul 08.00 pagi.
Tidak ada kiamat finansial. Tidak ada ATM yang mati. Sebaliknya, jutaan nasabah menerima notifikasi di ponsel mereka: "Audit Transparansi Berhasil. Saldo Anda Aman. Kedaulatan Digital Dipulihkan."
Arum berdiri, memanggul tasnya. Ia dan Baskara berjalan menyusuri bibir pantai, menjauh dari reruntuhan, menuju sebuah perahu nelayan kecil yang sudah menunggu untuk membawa mereka ke tempat yang tidak ada di dalam radar mana pun.
Identitas mereka mungkin sudah dihapus, tapi jejak audit mereka telah terukir permanen dalam sejarah baru bangsa ini.
menegangkan ..
lanjut thor..