Terbelenggu dalam pernikahan yang tidak diinginkan, mampukah pernikahan itu bertahan?
Bagaimana bila yang selalu berjuang justru menyerah saat keduanya sudah disatukan dalam ikatan suci pernikahan?
“Cinta kita seperti garis lurus. Bukan segitiga atau bahkan persegi. Aku mencintai kamu, kamu mencintai dia dan dia mencintai orang lain. Lurus kan?” ucap Yuki dengan tatapan nanar, air mata yang mulai merembes tertahan di pelupuk mata. “Akan lucu dan baru menjadi bangun datar segi empat bila sosok yang mencintai aku nyatanya dicintai orang yang kamu cintai.”
“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.
Ini adalah cerita klise antara pejuang dan penolak hadirnya cinta.
*
*
*
SPIN OFF Aara Bukan Lara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perghibahan Ikan
Melepas helm yang dikenakan, Ara menanti Yuki di depan pelataran rumah Yuki. Biasanya di jam yang sama Ara masih bersantai memilih baju apa yang akan ia kenakan, namun berbeda dengan hari ini. Ara sudah siap sedia berangkat ke kampus lebih pagi karena Yuki yang memaksa.
“Kamu kenapa, Ki?” Tanya Ara bingung, pasalnya Yuki berjalan terseok menghampiri Ara.
Meraih lengan kanan Yuki, Ara membantu Yuki dengan memberikan tumpuan di bahu, berharap Yuki bisa lebih mudah menggerakkan kakinya. Dengan perlahan keduanya bergerak, hanya beberapa langkah, tapi sudah menguras waktu.
“Aku jatuh tadi malam.” Ucap Yuki dengan raut lega saat sudah berhasil mendudukkan dirinya di jok belakang motor Ara.
“Kok bisa?” Ucap Ara singkat penuh tanya, menekan starter motor matic miliknya dan melajukan dalam kecepatan sedang. Tidak dapat dipungkiri Ara khawatir bila guncangan jalan bergelombang dan dari speed bump menyakiti kaki Yuki yang tertumpu di pijakan kaki pada motor.
“Ya bisa-bisa aja. Langsung jatuh gitu aja gak sadar karena apa.” Ucap Yuki santai, berkilah tidak ingin mengatakan kebenaran atas fokusnya yang teralihkan pada pemikiran tentang karma mengabaikan perasaan orang lain.
Sejurus kemudian hal memalukan nan miris kala dirinya tidak kuat mengangkat motor terlintas, lelah dan kehabisan tenaga membuat Yuki beberapa saat ikut berbaring pasrah di jalanan dingin sebelum kembali memberdirikan motornya.
Sedangkan Ara tentu tidak puas dengan jawaban tidak jelas yang Yuki berikan. “Jatuh di mana?” Tanya Ara lagi layaknya sedang menginterogasi.
“Daerah yang mau dibangun perumahan itu. Lahan kosong yang baru digusur.” Jawab Yuki jujur.
“Bisa-bisanya jatuh di situ, kan sepi. Ada yang tolongin kan?” Gerutu Ara diakhirnya pertanyaannya yang bukan hanya penasaran, namun tetap khawatir meski kejadiannya sudah berlalu.
“Nah itu, gak ada orang. Aku udah paduan suara sampai serak juga gak ada orang yang datang bantu. Orang lewat aja gak ada, benar-benar nasib ku jelek banget malam itu.” Mencebikkan bibirnya, Yuki menjawab pertanyaan Ara dengan suara melengking menggebu-gebu penuh keluhan.
“Memang sekitar jam berapa kamu jatuh di sana, Ki?” Tanya Ara lagi sambil menambah kecepatan perputaran roda motornya. Rasanya mengantuk dan pegal jika membawa motor terlalu pelan.
Berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Ara, Yuki justru menguap lebar tanpa menutup mulutnya. Beruntung tidak ada kumbang yang sering menabrak helm atau wajah secara mendadak.
“Adem banget lihat cewek-cewek dari ekonomi atau keguruan, berasa lihat ikan pelagis deh. Bosan aku main sama ikan demersal terus.” Ucap Dimas memuji barisan para gadis dari Fakultas Ekonomi dan Fakultas Ilmu Keguruan.
Tentu tidak sungguh-sungguh berbaris, mereka hanya jalan bergerombol masing-masing melewati koridor Fakultas Kelautan, memotong jalan agar lebih cepat sampai pada gedung rektorat yang berdekatan dengan gedung Fakultas Kelautan
Meraup kasar wajah Dimas dengan telapak tangannya, sudut kiri bibir Yuki tertarik ke atas dengan mata melotot. “Kamu ngatain kita ikan demersal gitu?” Ucap Yuki sinis.
“Kegeeran.” Berdecih lirih Dimas memutar bola matanya malas dan kembali memusatkan perhatian pada gadis-gadis cantik yang sengaja tidak membalas tatapannya itu.
“Mau ngerasain di hajar ikan demersal gak?” Celetuk Ara tiba-tiba sambil sedikit memutar kepala seakan meregangkan tulang lehernya. Menatap Dimas dengan senyuman segaris sambil memukulkan kepalan tangan kanan pada telapak tangan kiri
“Nah kan benar, kalian ini spesies bar-bar. Cocok jadi keluarga ikan demersal yang keliatan sangar.” Bukannya takut, Dimas justru semakin membenarkan kalimat sensitif yang mengusik hati Yuki. Sedangkan Ara sebenarnya biasa saja, dirinya masa bodoh dan hanya memberi gertakan asal pada Dimas, toh Ara tidak perduli jika memang mirip ikan demersal.
“Wah, gak bagus nih mulut mu Dim. Pencemaran nama baik, gak berperi keikanan.” Ucap Yuki sambil mendorong lengan Dimas berulang kali.
“Dari pada ghibah ikan mulu, mending pulang aja yuk.” Ajak Ara pada Dimas dan Yuki, melipat tangan dan mengedikkan dagu sekilas.
Melangkah terlebih dahulu, Dimas seakan memimpin jalan di depan kedua sahabatnya, namun ia lupa pada kaki Yuki yang sedang sakit tidak akan bisa mengejar langkahnya. Begitu pula dengan Ara yang setia membantu Yuki melangkah perlahan.
“Aku lanjut duluan ya.. Mau antar stok jualan ke warung-warung lagi.” Pamit Dimas pada Yuki dan Ara, melajukan motornya meninggalkan area kampus hingga menghilang dari pandangan Yuki dan Ara.
“Antar aku ke restoran di kanan jalan setelah pertigaan arah rumah mu itu ya, Ra. Nanti tinggalkan aja aku di situ.” Ucap Yuki pada Ara saat keduanya juga sudah menyusuri jalanan lenggang di siang hari itu.
Melirik sekilas pada kaca spion motor, Ara mengerutkan dahinya. “Restoran yang seberang jalannya suka ada yang jualan air cincau atau degan pakai gerobak motor itu ya?” Tanya Ara memastikan, pasalnya meski sudah berulang kali bahkan jutaan kali melewati jalanan itu, terkadang Ara suka tidak sadar pada letak lokasi tempat-tempat tertentu. Apa lagi restoran yang Yuki sebutkan tidak pernah Ara sambangi meski hanya sekali saja.
“Iya, yang di situ. Nanti tinggalkan aja aku di situ.” Ucap Yuki sambil mengangguk mantap, tentu tidak terlihat oleh Ara.
“Jujur deh, Ki. Kamu kerja ya di restoran itu?” Tanya Ara tepat sasaran, tanpa basa-basi atau sekedar memberi pertanyaan pancingan pada Yuki.
“Kok bisa mikir gitu?” Ucap Yuki setenang mungkin seolah bukan dirinya yang sedang dibicarakan.
“Aku sempat gak sengaja lihat seseorang yang mirip kamu di dalam restoran itu. Pakai baju samaan kayak beberapa orang lainnya. Aku sempat ragu sih, soalnya kamu tau lah mata aku ini kan agak susah kalau dipakai buat lihat objek di jarak jauh. Tapi kalau lihat dari siluet yang aku tangkap memang benar-benar persis sama kamu.” Tutur Ara berargumen sekaligus menguatkan pertanyaan sarat akan dugaan yang dilayangkannya pada Yuki.
“Kamu yakin itu aku?” Tanya Yuki sembari mencondongkan tubuhnya ke depan agar suaranya lebih jelas terdengar oleh Ara.
“Yakin, banget malahan. Jadi benar ya, Ki?”
“Yups, benar sekali.” Ucap Yuki membenarkan. Jika sudah langsung ditanya oleh Ara, rasanya Yuki tidak perlu mengelak. Lagi pula Yuki tidak bekerja yang aneh-aneh, hanya menjadi seorang pramusaji dengan tujuan meraih hati dengan bonus gaji.
“Dari kapan kamu kerja di situ?” Tanya Ara penasaran, Yuki seolah mulai banyak membatasi diri, tidak bercerita tentang segala hal pada Ara atau bahkan Dimas. Padahal biasanya Yuki akan berkoar-koar bak ayam ingin bertelur jika sedang menyibukkan dirinya pada sesuatu.
“Lebih baik izin aja deh. Aku temani kamu izin. Mau kerja juga susah loh kamu itu, jalan aja tertatih.” Imbuh Ara berucap, kali ini dengan memberikan sedikit nasehat pada Yuki. Bukan apa-apa, hanya saja selama di kampus Yuki sudah cukup kesulitan bergerak. Bagaimana jika tetap bekerja, bukan meringankan beban, Ara sudah yakin Yuki justru menambah beban kerja rekan-rekannya.
...****************...
*
*
*
Ada yang ingat di novel “Aara Bukan Lara” saat Ara tidak sengaja melihat Yuki di sebuah restoran dari seberang jalan?😄 Yang belum mampir, yuk merapat ke sana🥰
By the way, buat yang belum tau ikan pelagis atau demersal itu penyebutan kategori ikan dari lingkungan tinggalnya. Jadi pelagis di permukaan dan kolom perairan (seperti tuna, bilis, dll), kalau demersal di dasar perairan.
Nah yang paling terkenal dari ikan demersal itu yang tinggal di laut dalam, pernah muncul di animasi kartun, salah satu nya yang ikan punya sesuatu bersinar kayak lampu di ujung kepalanya, kayak yang pernah muncul di serial animasi kartun di bawah ini👇
Oh iya, malam ini 1 bab aja ya.. Kalau Hana bisa kebut mungkin nanti tengah malam ada lanjutannya lagi. Jangan ditunggu double up, soalnya gak janji😁