Raina adalah seorang desain interior yang cukup terampil, gadis polos yang mencintai seseorang dalam diam. Namun dia harus meninggalkan cintanya demi permintaan sang ibu angkat yang ingin menjodohkannya dengan pria super dingin.
Raina dengan hati yang iklas menerima perjodohan itu. Namun bagaimana dengan si pria nya?? apa dia akan menerima Raina sebagai istri nya nanti????
Yuk ikuti terus kisah Raina dan Alex. Beri bintang 5, like semua episode yang update,
lalu klik favorit, lalu kasih gift jika kalian bersedia.
Ingat, ada giveaway di pertengahan cerita nantinya. Kalian jangan sampai ketinggalan yah.
Follow IG. @ratul_mustika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceritaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(35) Trauma
"Kak... " panggil Raina, ia menatap Alex yang tengah sibuk dengan dokumen di depannya. Lebih tepatnya Alex pura-pura sibuk.
"Kenapa kamu menerima tawaran itu! bukankah aku sudah memberi mu kode! " ujar Alex dingin setelah beberapa saat mendiamkan Raina.
"Aku... "
"Kamu tahu, Dave itu sangat berbahaya. Mengapa kamu malah sok nekat dan ingin menjadi pahlawan di sini! " tukas Alex memotong ucapan Raina.
"Kak.. aku.. "
"Sudahlah, kau memang tak pernah mendengarkan aku. Sekarang keluar lah Aku sedang sibuk! " usir Alex kembali menyibukkan diri. Emosinya sedang tidak terkendali, Alex lebih baik menghindari perdebatan dengan Raina.
"Kak... " panggil Raina lagi, ia ingin menjelaskan pada Alex bahwa dirinya melakukan semua ini demi dia.
"Sudah kah, keluar!! " usir Alex. Mau tidak mau Raina melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Alex.
"Huh.. kak Alex sangat, marah ternyata" gumam Raina, ia melangkah menuju ke ruangan lamanya. Ia harus bertemu dengan Dewi.
"Raina" panggil Kian. Raina pun menghentikan langkahnya, menatap kian yang berjalan mendekat padanya.
"Ada apa boss? " tanya Raina.
"Kau mau kemana? apa aku bisa berbicara sebentar dengan mu? " tanya Kian berharap.
"Maaf boss, aku sedang buru buru" tolak Raina secara halus. Raina bukan wanita bodoh, ia tahu jika Kian memiliki ketertarikan padanya, jadi lebih baik bagi Raina menghindari pria ini. Dari pada nantinya Raina menyakiti seseorang karena hatinya tidak bisa berpaling. Bukannya Geer, tetapi tingkah Kian terlalu transparan.
"Ohh yasudah, lain kali saja" sahut Kian menelan kekecewaan.
"Aku harus pergi boss" pamit Raina menunduk hormat, Raina bersikap selayaknya Bawahan dan Atasan. Lalu Raina kembali melanjutkan langkah kakinya menuruni tangga, dan masuk ke dalam ruangannya.
"Huhhh.... Cinta itu memang rumit, sekali jatuh cintah, eh malah sama orang yang sulit di gapai"
Kian mendelik kesal, ia menatap Gio dengan tatapan mematikan. Sadar akan mala bahaya menghampirinya, Gio bergegas kabur.
"Dasar Asisten sialan!! " dengus Kian. Lalu, ia kembali masuk ke dalam ruangannya.
Raina membawa Dewi ke tempat biasa mereka berbicara, tempat yang sepi dan paling enak di jadikan tempat diskusi. Raina menceritakan semuanya pada Dewi, ia bahkan menceritakan rencana CEO mereka yang mengutusnya mematai Dave.
"Raina!! itu bahaya banget, Kamu tahu kan Dave itu anak mafia terbesar dan terkejam di kota kita" ujar Dewi, ia tidak setuju dengan keputusan Raina. Seperti nya Dewi berada di pihak Alex sekarang.
"Tapi Dewi, ini semua untuk kak Alex. Jika proyek ini gagal, maka reputasi kak Alex akan hancur"
"Kak Alex sangat berusaha untuk menggapai proyek ini Dewi" lanjut Raina.
"Tai Raina, ini terlalu bahaya untuk kamu" sela Dewi lagi.
"Aku yakin, aku pasti bisa Dewi. Selagi kalian ada bersama ku" Gumam Raina menggenggam tangan Dewi. Bukan masalah dukungan, Dewi khawatir jika Dave melakukan sesuatu buruk pada Raina, apalagi Dave sudah pernah hampir membunuh Alex.
Sementara di ruangan Alex termenung memikirkan bagaimana cara untuk menghentikan Raina melakukan hal yang berbahaya ini.
"Raina tidak boleh melakukannya" Gumam Alex. Ia memutar otaknya memikirkan berbagai cara.
"Huh!! aku harus meminta Raina mengundurkan diri dari permintaan tuan Dion. Bila perlu, gadis itu berhenti saja dari pekerjaan nya. " Gumam Ale, pria itu bangkit dari duduknya lalu keluar dari ruangannya.
Di luar, Alex menatap ketiga sahabat nya tengah sibuk dengan tugas masing masing. Mereka harus memperbaharui data mereka secepat mungkin. Proyek harus segera di selesai kan, jika tidak perushaan akan rugi besar dan reputasi Alex akan jatuh.
"Apa kalian melihat Raina? " tanya Alex. Ketiga pria itu menggeleng pelan, sejak selesai rapat, mereka langsung fokus pada proyek nya, pekerjaan sampingan yaitu bergosip mereka tinggal kan untuk sementara.
"Mungkin sedang bersama temannya" ujar Ega.
"Hemm.. " dehem Alex, lalu keluar dari ruangan. Alex pergi ke ruangan Kian, ia perlu mendiskusikan beberapa hal dengan pria yang menjabat sebagai kepala devisi keuangan, padahal Kian merangkap ke semuanya di perusahaan ini.
****
Sepulang dari kantor, Raina mampir ke supermarket untuk membeli beberapa belanjaan dapur. Raina akan memasak makanan special, yang pasti makanan kesukaan Alex. Sebagai permintaan maaf Raina akan memanjakan Alex dengan makanan enak buatannya sendiri.
"Umh.. mau masak apa yah? " Gumam Raina memikirkan bahan bahan apa saja yang akan ia beli. Raina menatap setiap bahan bahan masakan di atas meja. Ia menjadi bingung, menentukan makanan apa yang Alex suka. Karena setiap Raina masak, Alex selalu memakannya dengan lahap.
Brak~
"Aduhh, maaf maaf " ucap Raina membantu memunguti belanjaan seseorang yang tidak sengaja ia senggol.
"In... " ucapan Raina terhenti ketika melihat barang belanjaan siapa yang telah ia senggol. Kilasan tentang hari dimana mobil Alex jatuh kedalam laut muncul di mata Raina. Pria dengan senyum menyeringai menatap mobil Alex jatuh berdiri di hadapan nya.
Raina menunduk, mengalihkan tatapan matanya dari Dave. Pria itu sedikit kaget melihat reaksi Raina.
"Maaf tuan, ini belanjaan nya. Permisi" Raina cepat cepat pergi dari hadapan Dave. Memilih beberpa sayuran dan daging sapi serta beberapa bumbu yang ia perlukan. Raina segera membayarnya dan pergi dari supermarket itu.
Dave mengerut menatap tingkah gadis yang seperti ketakutan bertemu dengan nya. Bahkan Dave sempat melirik kaca yang ada di supermarket itu untuk melihat seberapa menyeramkan dirinya di mata gadis itu.
"Tidak ada yang buruk, masih tetap ganteng" komentar Dave menilai wajahnya.
"Huh dasar Aneh" gerutunya.
Sementara Raina di luar supermarket bernafas lega, jantungnya berdetak sangat cepat. Kaki dan tangan Raina sempat menggigil. Kejadian malam itu membuatnya sedikit trauma pada Dave.
"Huhh.. " Raina menghembuskan nafas lega, Raina tiba di rumah dengan selamat. Gadis itu tak henti hentinya mengucapkan rasa syukur.
"Huh... Raina Raina.... Gimana nanti kamu akan mematai matainya?" gerutu Raina mengatur nafasnya yang memburu karena berlari dari gang depan. Lalu gadis itu segera masuk ke dalam rumah.
Raina tersenyum senang, Alex masih belum pulang. Jadi Raina memiliki waktu untuk menyiapkan makan malam.
Raina meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu membawa semua belanjaannya ke dapur.
"Mari kita mulai!!! " sorak Raina penuh semangat. Gadis itu mulai mencuci sayuran dan daging yang sudah ia beli tadi. Setelah selesai mencuci nya, Raina langsung menyiapkan bumbu untuk mengungkap daging sapi tadi agar lebih lembut ketika di masak nanti. Raina berniat akan membuat rendang daging sapi pilihan untuk Alex. Lalu menuliskan sayur dan membuat beberapa menu pelengkap lainnya. Raina berharap dengan masakannya malam ini Alex dapat mengerti apa yang Raina lakukan, dan tidak marah lagi padanya. Meskipun sebenatnya, saat ini yang seharusnya merajuk adalah Raina bukan Alex.
...----------------...