NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Rahang Putih dan Dansa di Atas Geladak

Bab 18: Rahang Putih dan Dansa di Atas Geladak

Tengah malam di hulu Sungai Brantas.

Suasana hening yang tidak wajar menyelimuti kapal Si Walet Merah. Suara jangkrik hutan bakau yang biasanya bising tiba-tiba lenyap. Bahkan angin malam pun segan berhembus, membuat layar kapal terkulai lemas. Mesin uap kapal menderu pelan, menjadi satu-satunya sumber suara yang memecah kebisuan.

Di dalam kabinnya, Bara baru saja berhasil merasakan Titik Surya Pertama di ulu hatinya menghangat, merespons teknik pernapasan dari kitab ibunya.

DUM!

Guncangan hebat terjadi. Bukan karena ombak. Sesuatu dari bawah air baru saja menabrak lunas kapal dengan kekuatan seperti torpedo.

Bara terlempar dari posisi meditasinya, menabrak dinding kayu. Lampu minyak di mejanya jatuh dan pecah.

"Serangan!" teriak suara Jihan dari geladak atas, suaranya tajam menembus kekacauan. "Semua awak ke pos tempur! Nyalakan suar!"

Jihan berdiri di anjungan, mencengkeram kemudi agar kapal tidak terbalik. Matanya menatap permukaan air yang hitam pekat.

"Apa itu tadi? Karang?" tanya juru mudi dengan panik.

"Di bagian sungai sedalam ini tidak ada karang," desis Jihan. Dia mencabut cerutunya dan membuangnya ke air. "Itu sesuatu yang hidup."

BYAAR!

Air sungai meledak di sisi lambung kanan. Sebuah ekor raksasa bersisik putih pucat, setebal batang pohon kelapa, mencuat keluar dan menghantam pagar pembatas kapal.

KRAK!

Kayu ulin yang diperkuat mantra itu pecah berantakan seperti kerupuk. Pecahan kayu berhamburan, melukai dua awak kapal wanita yang sedang menyiapkan meriam.

"Medis! Bawa yang terluka ke bawah!" perintah Jihan sambil mencabut sepasang Scimitar kembarnya. "Sisanya, tembak bajingan itu!"

Para awak kapal Walet Merah terlatih dengan baik. Meski takut, mereka tetap menembakkan senapan tombak dan panah api ke arah bayangan raksasa di air.

Tapi senjata mereka memantul. Sisik makhluk itu sekeras baja.

Dari dalam air, sebuah kepala muncul perlahan. Mengerikan.

Kepala buaya. Tapi ukurannya sebesar rumah kecil. Sisiknya putih bersih, matanya merah menyala seperti lampion neraka. Dan di lehernya, melingkar sebuah rantai emas kuno yang sudah tertanam di dagingnya.

"Sang Penjaga Gerbang..." bisik Jihan, wajahnya memucat. "Buaya Putih Kyai Patih. Kenapa dia muncul? Bukankah kita sudah memberikan sesajen kerbau di muara tadi?"

Buaya itu membuka mulutnya. Bau busuk bangkai menyeruak. Dia tidak mengaum, tapi mengeluarkan suara dengkuran rendah (Infrasound) yang membuat dada semua orang sesak.

Makhluk itu menerjang, mencoba menggigit bagian depan kapal untuk membelahnya jadi dua.

"TIDAK AKAN KUBIARKAN!" Jihan melompat dari anjungan.

Dia mendarat di atas moncong buaya itu.

"Teknik Pedang Kembar: Tarian Badai Laut!"

Jihan berputar seperti gasing, kedua pedangnya menyabet sisik di sekitar mata buaya itu. Percikan api tercipta. Serangannya cepat dan presisi, berhasil membuat goresan-goresan dangkal yang mengganggu penglihatan si monster.

Buaya itu mengibas kepalanya dengan kasar.

Jihan terpental ke udara, tapi dengan lincah dia menendang udara (Air Step) dan mendarat kembali di tiang layar utama. Napasnya memburu. Tangannya gemetar. Kulit buaya itu terlalu keras.

"Sialan. Kulitnya lebih tebal dari tembok benteng!" umpat Jihan.

Buaya itu marah. Dia memukulkan ekornya ke air, menciptakan ombak setinggi tiga meter yang menyapu geladak, membuat kapal miring 45 derajat.

Pintu kabin penumpang terbuka kasar. Bara keluar, sudah mengenakan Topeng Penyamar Sukma (hanya menutupi separuh wajah atas) dan membawa kedua Kujang-nya.

Dia melihat kekacauan itu. Kapal nyaris terbalik. Awak kapal bergelantungan pada tali agar tidak jatuh ke sungai. Dan Jihan sedang bertarung mati-matian sendirian melawan monster legenda.

"Itu Kyai Patih," kata Garuda. "Siluman tingkat Bumi Pala Puncak. Setengah langkah menuju Tingkat Langit. Dulu dia adalah peliharaan Patih Gajah Mada."

"Peliharaan?" Bara meringis. "Peliharaan macam apa yang sebesar ini?"

"Dia menjaga jalur menuju Trowulan. Dia hanya membiarkan mereka yang 'berhak' untuk lewat."

Bara melihat Jihan terpojok. Buaya itu sudah naik setengah badannya ke atas geladak, moncongnya siap melahap sang kapten.

"Minggir, Kapten!" teriak Bara.

Bara melompat.

Dia tidak menggunakan api. Kapal ini terbuat dari kayu dan mesiu. Api Garuda akan meledakkan mereka semua.

Dia menggunakan berat.

Bara mengaktifkan Raga Besi di kakinya, menambah massa tubuhnya secara artifisial. Dia jatuh seperti meteor, menginjak kepala buaya itu tepat di tengah kening.

BUM!

Kepala buaya itu terbanting menghantam lantai geladak hingga kayu di bawahnya retak. Kapal berguncang hebat ke arah berlawanan.

Buaya itu mendesis kaget. Siapa semut yang berat ini?

Bara berdiri di atas kepala buaya itu, menancapkan Kujang Si Sulung dan Si Bungsu ke celah sisik di leher.

"Kulitmu keras, Mbah," sapa Bara sopan tapi dingin. "Tapi Wesi Winge ini berasal dari bintang. Lebih keras dari kulitmu."

Bara memutar kedua Kujang-nya.

Buaya itu meraung kesakitan. Bilah hitam Kujang itu berhasil menembus pertahanan mutlaknya, meski hanya sedalam lima senti.

Buaya itu mengamuk, memutar tubuhnya (Death Roll) di atas geladak.

Bara terlempar. Dia menabrak tiang layar. Tulang rusuknya terasa nyeri.

"Bara!" Jihan mendarat di sampingnya. "Kau gila?! Kenapa tidak pakai apimu?!"

"Kau mau kapalmu jadi arang?!" balas Bara. "Kita harus mengusirnya, bukan membunuhnya! Bantu aku dorong dia kembali ke air!"

"Bagaimana caranya? Beratnya sepuluh ton!"

"Alihkan perhatiannya. Tusuk matanya. Aku akan menghantam ulu hatinya dari bawah."

"Kau mau masuk ke kolong mulutnya? Itu bunuh diri!"

"Lakukan saja!"

Bara lari meluncur di bawah perut buaya yang sedang mengangkat badan. Jihan menggertakkan gigi, lalu melompat ke arah mata buaya.

"HEI! KADAL RAKSASA! LIHAT SINI!" teriak Jihan, menusukkan pedangnya ke kelopak mata buaya.

Buaya itu tersentak mundur, membuka mulutnya lebar-lebar untuk menggigit Jihan.

Saat perut putihnya terekspos... Bara sudah ada di bawahnya.

Dia tidak menggunakan Prana api. Dia mencoba mengalirkan Prana Surya yang baru dia pelajari tadi.

Hanya setitik. Energi murni yang hangat dan berwibawa.

Bara memukul perut buaya itu dengan telapak tangan terbuka.

"Sembilan Langkah Surya: Langkah Pertama - Terbit Fajar."

Cahaya putih menyilaukan meledak dari telapak tangan Bara. Tidak ada panas, hanya tekanan murni yang menolak kegelapan.

BLARR!

Tubuh raksasa buaya itu terangkat ke udara, terdorong mundur oleh gaya tolak yang luar biasa, lalu jatuh kembali ke sungai dengan suara deburan raksasa yang menciptakan tsunami mini.

Kapal Walet Merah terombang-ambing hebat, lalu perlahan stabil kembali.

Bara jatuh terduduk, napasnya habis. Teknik baru itu... menguras tenaganya sampai kering.

Di sungai, buaya putih itu muncul kembali ke permukaan. Tapi kali ini dia tidak menyerang.

Matanya yang merah menatap Bara yang terengah-engah di geladak. Tatapan itu... berubah. Dari lapar menjadi hormat.

Buaya itu membuka mulutnya sedikit, mengeluarkan suara geraman rendah, lalu menundukkan kepalanya tiga kali. Sebuah gestur penghormatan kuno.

Detik berikutnya, sang Kyai Patih menyelam, menghilang ke dalam kedalaman sungai yang keruh, membiarkan kapal itu lewat.

Jihan berdiri terpaku, pedangnya terkulai di sisi tubuh.

Dia melihat semuanya. Cahaya putih tadi... dan gestur penghormatan sang buaya.

Dia menatap Bara yang sedang berusaha bangun. Pemuda misterius bertopeng setengah wajah itu... siapa dia sebenarnya?

Buaya Putih Kyai Patih tidak pernah menghormati siapapun. Bahkan Laksamana Kerajaan pun harus bertarung berdarah-darah untuk lewat.

"Kau..." Jihan mendekati Bara, suaranya pelan dan penuh kecurigaan. "Jurus apa tadi? Itu bukan elemen api."

Bara memegangi dadanya yang sakit. "Hanya... trik cahaya. Buaya takut cahaya terang, kan?"

"Jangan bohong padaku, Elang," Jihan mencengkeram kerah baju Bara, menariknya mendekat. Wajah mereka sangat dekat. "Buaya itu menunduk padamu. Dia mengenalimu. Atau mengenali darahmu."

Bara menatap mata Jihan tenang. "Mungkin dia cuma salah lihat. Atau mungkin dia takut melihat wajahmu yang seram kalau lagi marah."

Jihan terdiam. Emosinya campur aduk antara ingin menonjok wajah sok tahu Bara atau berterima kasih karena sudah menyelamatkan nyawanya dan kapalnya.

Akhirnya, Jihan melepaskan cengkeramannya dan mendorong Bara pelan.

"Kau menyebalkan," kata Jihan, berbalik badan. "Tapi kau berguna. Hutang 500 emasmu lunas. Sekarang masuk ke kabin sebelum aku berubah pikiran."

Saat Jihan berjalan menjauh untuk memeriksa awak kapalnya, Bara melihat telinga Kapten wanita itu sedikit memerah.

Pagi itu, Si Walet Merah akhirnya memasuki wilayah Delta Trowulan.

Pemandangannya berubah drastis. Hutan bakau yang suram digantikan oleh reruntuhan bangunan batu bata merah yang megah, tertutup tanaman merambat. Kanal-kanal air kuno (Canal) saling bersilangan seperti Venesia versi Nusantara kuno.

Di kejauhan, terlihat sisa-sisa candi gapura yang menjulang tinggi, sebagian sudah runtuh, sebagian masih berdiri kokoh menantang zaman.

"Selamat datang di Kota Hantu," kata Jihan yang berdiri di samping Bara di haluan kapal. "Dulu, ini adalah pusat dunia. Sekarang... hanya tempat persembunyian buronan, pencari harta karun, dan sejarawan gila."

"Tempat yang indah," gumam Bara, merasakan getaran aneh di dalam dadanya. Peti Teratai Emas di kamarnya bergetar, beresonansi dengan energi tempat ini.

"Tujuanmu di mana?" tanya Jihan.

Bara membuka peta pemberian Ki Awan.

"Ada sebuah kuil tua di sektor timur. Candi Bajang Ratu. Aku harus ke sana."

"Sektor Timur?" wajah Jihan berubah serius. "Itu wilayah kekuasaan Geng Tengkorak Besi. Mereka tidak ramah pada pendatang. Apalagi yang memakai topeng aneh sepertimu."

"Aku sudah terbiasa dengan sambutan tidak ramah," jawab Bara.

Jihan menghela napas, lalu merogoh sakunya. Dia melempar sebuah pistol suar (Flare Gun) kuno kepada Bara.

"Jika kau terdesak... dan hanya jika kau benar-benar mau mati... tembakkan ini ke langit. Aku mungkin sedang bosan dan mau mampir membantumu."

Bara menangkap pistol suar itu. "Aku pikir kau benci laki-laki?"

"Aku benci laki-laki yang lemah," Jihan membenarkan letak pedangnya. "Tapi laki-laki yang bisa membuat Buaya Putih menunduk... pengecualian."

Kapal merapat di dermaga batu kuno yang lumutan.

Bara turun. Kakinya menyentuh tanah leluhurnya untuk pertama kali. Angin Trowulan berhembus, membawa bisikan-bisikan masa lalu yang menyambut kepulangannya.

"Kita sampai, Mitra," kata Garuda, suaranya terdengar nostalgia. "Di sinilah dulu aku dikhianati. Dan di sinilah kau akan dilahirkan kembali."

Bara membenarkan letak Kujang-nya, menarik napas dalam, dan melangkah masuk ke dalam labirin reruntuhan.

Di bayang-bayang pilar candi, mata-mata Elang Hitam yang sudah tiba lebih dulu mulai bergerak.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 18

Infrasound: Gelombang suara frekuensi rendah yang tidak bisa didengar telinga manusia tapi bisa dirasakan sebagai getaran fisik/ketakutan (sering dihasilkan buaya/harimau sebelum menyerang).

Death Roll: Teknik mematikan buaya di mana mereka menggigit mangsa lalu memutar tubuhnya dengan cepat untuk mencabik daging.

Candi Bajang Ratu: Salah satu situs gapura paduraksa peninggalan Majapahit di Trowulan asli. Di novel ini, tempat itu adalah gerbang menuju dimensi penyimpanan harta karun kuno.

Titik Surya: Simpul energi baru dalam sistem kultivasi "Sembilan Langkah Surya". Berbeda dengan Dantian (pusar), titik ini menyebar di organ vital (jantung, paru, otak, dll).

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!