REVISI BERJALAN
Jika memang ini takdir yang dipilihkan Tuhan untukku, maka aku menerimanya dengan ikhlas.
Sejak kecil aku sudah terbiasa sendiri, bahkan disaat aku kesepian aku hanya bisa berdoa padamu.
Kini engkau hadirkan ujian baru dalam hidupku, ujian yang bahkan aku tak memintanya, tapi jika memang ini terbaik untukku, maka aku ikhlas.
Tuhan, ijinkan aku bahagia meskipun itu tidak mungkin terjadi. Ijinkan aku untuk bisa bernafas lebih lama lagi, agar aku bisa membagiakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KESERUAN CAMPING
“Dasar laki-lagi dudul kagak ada akhlak!” gerutu Rini disepanjang perjalanan dari kegiatan mandinya.
Dia terus menggerutu karena tiba-tiba ketemu Edo. Edo yang buru-buru mau buang hajat tak sengaja menyenggol peralatan mandi Rini yang mengakibatkan seluruh peralatan mandinya jatuh berserakan. Bukannya minta maaf, dia malah langsung lari ngibrit ke pinggir sungai.
Dasar Rini yang agak bar-bar dan tersulut emosinya langsung menyusul Edo ke tepi sungai dan ...
“Huaaaa ... laki-laki gak ada akhlak ... pagi-pagi sudah menodai mata gue yang suci ini ... hu hu hu ...”
Sontak ia pun menutup kedua matanya lalu berbalik badan.
Edo yang lagi asyik-asyiknya meng-eden jadi terhambat akibat teriakan Rini yang menggema. Ia pun menoleh ke belakang dan ...
“Woiii pergi lu... ganggu tau!” teriaknya sambil menaikkan celananya ke atas.
Tentu saja Edo kaget karena ada Rini yang memandanginya saat ia mau buang hajat. Antara malu dan masih mules pun campur aduk jadi satu. Sehingga mau tidak mau ia pun menunda keinginannya itu lalu berlalu.
Edo yang terlanjur kesal dan keburu mules pun bergegas pergi ke lokasi yang agak jauh agar tidak terlihat oleh mahasiswa yang lainnya. Ia pun agak menjauh dan melanjutkan hajatnya di tepi sungai yang agak rimbun tanaman di sisi kirinya.
Entah pagi ini ia yang sedang sial ataukah Rini yang sedang sial karena melihat bagian tubuh Edo. Dengan perasaan campur-campur kek gado-gado ia pergi meninggalkan Edo dan kembali ke tenda.
Zara yang melihat kedatangan Rini dari kejauhan segera mempersiapkan makanan sarapan untuknya dan Rini.
"Untung mie-nya udah matang."
Rini pun menghampiri Zara. Dengan senyuman mengembang ia menyerahkan mie itu pada Rini.
“Sarapan pagi sudah siap nona manis,” seru Zara sambil menyerahkan segelas pop mie rasa yang tak pernah ada eh ... rasa sotoy pada Rini.
Wkwkwk rasa soto ya pemirsah... maaf othor lagi konslet dikit maapin yah.
“Makaseh!” ucap Rini agak sewot.
"Dih ga ikhlas gue, dah susah payah buatin makanan, bilang makasih aja kagak ikhlas."
Rini tak menggubris ucapan Zara. Ia pun menyeruput kuah soto yang masih panas itu tanpa mendengarkan seruan Zara.
Sepersekian detik berikutnya ... hmmm... prutttttfffff ...
Kuah soto pun menyembur dengan sempurna disana. Zara yang baru saja mau menyerahkan kipas angin portable miliknya tertawa. Niatnya agar mempercepat proses pendinginan mie tersebut ketimbang harus meniupnya. Tetapi Rini yang terlalu lapar sehingga tidak sabar untuk menikmatinya.
Dengan menahan tawa ia pun menegur Rini.
“Hastaga nonah itu masih panas kenapa kagak pake ditiup dulu sih?”
“Aseemmm ... napa gak bilang kalau lagi panas sih?”
“Ye.. masak gak kerasa saat dipegang tadi.”
“Pasti otak loe lagi traveloka ya?” seru Zara sesaat kemudian.
“Ho-oh, sial banget gue pagi ini.”
“Kenapa?”
Rini lalu menjelaskan secara rinci apa saja yang ia alami pagi ini sepeninggal Zara tadi. Zara sedikit tidak enak padanya. Karena ia buru-buru mau masak, ahirnya ia meninggalkan sahabatnya itu disana. Alhasil malah jadi begini ahirnya.
Dengan masih menahan tawanya, Zara mengalihkan perhatiannya dengan sibuk mengipasi mie-nya sambil sesekali mendengarkan cerita Rini.
“Ya maaf nona, aku kan gak sengaja, mana tau kalau aku tinggallin kamu jadi kek begini," seru Zara sambil menyeruput kuah soto miliknya.
.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Mansion Lily...
“Kapan Zara kembali?”
“Besok tante!”
“Sudah kamu persiapkan acara yang aku minta?”
“Sudah hampir selesai tante, semuanya berjalan lancar, hampir delapan puluh persen, sudah terkoordinir dengan baik.”
“Aku percaya padamu, lalu untuk pengobatan Zara?”
“Kalau itu hanya tinggal membujuk Zara agar mau mengikuti program kesehatan di luar. Setidaknya jika ditangani oleh orang yang profesional mungkin akan berbeda hasilnya.”
“Hmm, kalau begitu atur saja.”
“Siap tante.”
"Tetapi ..."
"Tetapi kenapa tante tidak berobat saja dan beristirahat lebih lama agar kondisi kesehatan nenek cepat membaik."
"Urus saja permintaanku, selain itu biar aku mengurusnya sendiri."
"Baik tante."
Kedua manusia beda generasi itu pun kembali meneruskan pembahasan tentang bisnisnya. Karena kondisi kesehatan nenek kurang baik, maka ia pun memanggil Andrew untuk membahasnya di rumahnya.
Ia juga melarang semua orang agar tidak memberitahukan keadaan keseharanya pada Zara. Cukup ia dan Tuhan yang tau tentang kejadian sebenarnya.
.
.
...Di belahan bumi yang lain...
“Oh baby kamu sungguh luar biasa,” bisik Davin tepat di telinga sebelah kiri Laura.
Kedua muda-mudi itu masih bermandi peluh akibat olahraga yang mereka lakukan barusan. Setelah pesta kejutan semalam selesai, mereka pun menghabiskan malam panjangnya di dalam kamar. Davin sudah berhasil melamar Laura semalam, dan ia pun berjanji akan segera melamarnya secara resmi setelah wisuda Laura nanti.
>>> FLASH BACK ON
“Baby, kamu sungguh cantik malam ini,” ucap Davin sembari mencium salah satu punggung tangan Laura.
“Terimakasih sayang, kamu juga sangat tampan malam ini.”
Benar saja, karena malam itu Laura memang tampil menawan dan tentu saja terlihat seksi dan menggoda karena gaun merah menyala yang ia kenakan. Hal itu terlihat jelas karena perbedaan yang kontras antara gaun dengan warna kulitnya yang putih.
Rambutnya pun dibiarkan sedikit terurai dan menari-nari terkena hembusan angin laut.
Sedangkan Davin terlihat macho dan maskulin dengan setelah jas yang ia kenakan. Malam itu Davin sengaja mempersiapkan kejutan makan malam yang spesial.
Ia menaruh cincin pertunangannya itu disalah satu gelas wine yang telah dipersiapkan oleh pihak restaurant.
Ketika Laura bersulang dan hampir meminum wine itu, cincin itu mengenai bibir merahnya. Masih untung tidak tertelan, bahkan ia terkesan kaget, lalu mengambil cincin itu di tangannya.
Ia pun memberi kode mata pada Davin untuk menayangkan apa maksudnya hal itu. David tersenyum dan perlahan mendekatinya.
Sembari tersenyum, ia mengambil cincin itu darinya. Davin pun berjongkok di depan Laura. Ia pun bermaksud untuk memasangkannya di jemari Laura.
Dengan diawali kata-kata yang romantis ahirnya Davin melamar Laura. Antara percaya atau tidak, tetapi Laura benar-benar syok akan kejadian barusan. Dengan mulut masih menganga dan terharu ia pun menerima lamaran Davin.
Hatinya tersentuh oleh ketulusan cinta seorang lelaki didepannya itu. Meski awalnya ini sebuah kesalahan tetapi ia bersyukur ia bisa sampai di tahap ini.
Dengan sikap yang masih romantis ia mengecup berkali kali jemari Laura yang sudah terpasang cincin pengikat cintanya itu. Meskipun Laura masih belia, tetapi ia berjanji akan selalu memanjakannya nanti.
>>> FLASH BACK OFF
Setelah perjamuan yang haru biru serta romantis tadi, sebagai ucapan terimakasihnya ia pun memberikan servis luar biasa pada Davin.
.
.
Hmm.. bagiamana dengan part ini? semoga suka yah, maaf bila masih banyak kekurangan di dalamnya.
Jangan lupa favoritkan, like dan komen ya agar saat update tidak ketinggalan, terimakasih