Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Kesadaran Darius perlahan mengabur. Tepat ketika tubuh tegapnya menyerah dan ambruk di dekat pintu belakang sebuah rumah kumuh, bayangan seorang wanita samar-samar mendekat.
Tangan wanita itu gemetar, namun ia tidak berteriak. Di tengah malam dan badai salju, bau darah yang menyeruak dari tubuh Darius justru memancing naluri kemanusiaannya.
"Hei! Apa... apa kamu masih hidup?" Suara wanita itu terdengar halus, bergetar ketakutan namun memendam kehangatan
Tanpa berpikir panjang, wanita itu segera memapah tubuh Darius. Ia menyeret Darius masuk ke dalam rumah kayunya yang sederhana, lalu mengunci pintu rapat-rapat.
Ruangan itu kecil, hanya diterangi nyala api dari perapian tua. Wanita itu melayangkan tatapan panik pada luka di bahu kiri Darius dan robekan di perutnya yang terus mengucurkan darah segar.
"Tahan... kamu harus tahan," bisik wanita itu, lebih kepada dirinya sendiri untuk menenangkan diri.
Darius tidak ingat kapan pastinya rasa sakit yang membakar itu berganti menjadi dingin yang menenangkan.
Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, hal pertama yang merayap ke inderanya adalah aroma kayu pinus yang terbakar dan wewangian yang sangat lembut.
Matanya kemudian terbuka tajam, pupilnya dengan cepat menyesuaikan diri dengan cahaya remang yang masuk melalui celah jendela kayu
Ia terbangun di atas ranjang sederhana dengan selimut tebal menutupi tubuhnya. Saat Darius mencoba duduk, rasa nyeri yang tajam langsung memilin perut dan bahu kirinya, memaksanya meringis.
Darius lalu menunduk dan mendapati luka tembak di bahunya serta sabetan di perutnya telah terbalut rapi dengan perban bersih.
"Jangan banyak bergerak dulu. Jahitannya bisa lepas." suara yang begitu lembut tu datang dari sudut ruangan.
Darius segera menegang, matanya bergulir cepat menatap sosok wanita yang baru saja melangkah mendekat sambil membawa sebuah mangkuk berisi air hangat dan kain bersih.
Wanita itu mengenakan sweater rajut longgar berwarna hitam. Rambutnya yang pirang keemasan dibiarkan terurai. Darius memperhatikannya dengan tatapan intens tajam, dan penuh antisipasi.
"Aku pikir kamu tidak akan bangun lagi," ucap wanita itu sambil menyunggingkan senyum tipis yang tampak lelah namun tulus. "Semalam lukamu parah sekali."
Darius masih menatapnya lekat-lekat, mencoba memproses situasi. Suaranya terdengar serak dan berat ketika akhirnya ia bersuara, "Kenapa kamu menolongku?"
Wanita itu tersentak kecil mendengar nada dingin tanpa emosi dari Darius, tetapi ia tidak mundur. "Aku tidak bisa membiarkan seseorang mati tepat di depan pintuku."
Ia mengambil kain basah, mencoba membersihkan keringat dingin di dahi Darius, tetapi pria itu refleks menahannya. Cengkeramannya begitu kuat, membuat wanita itu menahan napas sejenak.
Pandangan mereka bertaut. Di mata Darius, wanita itu melihat kegelapan dan kewaspadaan. Sementara di mata wanita itu, Darius melihat kepolosan.
"Maaf," ucap Darius dengan datar, sambil melepaskan cengkeramannya.
Wanita itu mengusap pergelangan tangannya, lalu menarik napas panjang. "Tidak apa-apa. Aku paham kamu pasti sedang melarikan diri atau semacamnya."
Ia mengulurkan tangannya kembali, kali ini bukan untuk menyentuh luka, melainkan untuk berjabat tangan. "Namaku Karina Volodina."
Darius menatap tangan Karina yang begitu halus. Tak disangkanya, tangan selemah itu baru saja menyelamatkan nyawanya dari cengkeraman maut semalam.
Bagi seorang pria yang selama ini hanya mengenali nama sandi dan nomor registrasi militer, menyebutkan nama aslinya adalah sebuah risiko besar.
Namun, melihat binar ketulusan di kedua mata Karina, Darius merasa benteng pertahanannya goyah sejenak.
Ia mengulurkan tangan kanannya, menyambut jemari Karina dengan genggaman yang mantap namun lembut.
"Darius," jawabnya sangat singkat, tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Karina. "Namaku Darius."
"Darius..." ucap Karina mengulang nama itu dengan suara menyerupai bisikan halus. "Nama yang kuat."
Ia menyunggingkan senyum tipis sebelum menarik pelan tangannya dan duduk di kursi kayu tepat di samping ranjang.
Karina memeras kain basah ke dalam mangkuk, lalu mulai menyapu keringat dingin di dahi Darius dengan sangat hati-hati.
Darius tidak lagi menolak. Pria yang terlatih untuk selalu dalam mode siaga itu kini membiarkan seorang wanita asing menyentuh kulitnya.
Sentuhan Karina begitu hangat, sangat bertolak belakang dengan dinginnya udara Ruskavia dan kejamnya dunia yang baru saja Darius masuki.
Selama tiga hari berikutnya, rumah kayu sederhana di pinggiran Negara Ruskavia itu menjadi tempat persembunyian sekaligus oasis bagi Darius.
Di luar, badai salju terus mengamuk. Namun di dalam rumah, Karina merawat Darius dengan ketelatenan yang tak pernah Darius dapatkan seumur hidupnya.
Karina mengganti perban Darius secara berkala, memasakkan sup panas, dan telaten membersihkan luka-lukanya. Setiap kali jemari Karina menyentuh kulitnya, ada getaran aneh yang merayap di dadanya.
"Kenapa kamu hidup sendirian di tempat seperti ini?" tanya Darius di suatu malam. Tubuhnya sudah mulai membaik, meski ia masih harus bersandar di kepala ranjang.
Karina yang sedang merajut di dekat perapian tersenyum samar, ada bayang kesedihan di matanya. "Orang tuaku meninggal dua tahun lalu. Tempat ini tenang... jauh dari keramaian kota yang sering kali bising dan kejam."
Darius menatap gumpalan benang di pangkuan Karina, lalu mengalihkan pandangannya ke lidah api yang menari di perapian.
Kalimat terakhir perempuan itu memanggil kembali memori tentang dunianya sendiri, dunia yang penuh dengan hujan peluru dan tipu daya yang tak pernah tidur.
"Kota memang bisa membunuh manusia dengan cara yang berbeda," gumam Darius pelan. "Kadang, kesunyian seperti ini adalah satu-satunya pelindung yang tersisa."
Karina menghentikan rajutannya sejenak. Ia mendongak, menatap mata Darius yang berkilat tertimpa cahaya api perapian.
"Lalu bagaimana denganmu?" Karina memiringkan kepalanya, menatap Darius lembut. "Apakah kamu juga sedang melarikan diri dari kejamnya dunia luar?"
Darius kemudian mencoba bergerak sedikit, namun rasa nyeri mendadak menusuk di perut dan bahu kirinya, membuatnya seketika meringis.
Tanpa ragu, Karina meletakkan rajutannya dan segera bangkit mendekati ranjang. Ia merapikan bantal di belakang punggung Darius.
Jemarinya secara tidak sengaja mengusap garis rahang lelaki itu saat memastikan posisi bersandarnya nyaman. Getaran hangat itu kembali muncul, menjalar cepat dan membuat dada Darius berdesir hebat.
"Jangan banyak bergerak dulu," tegur Karina halus, matanya menatap Darius dari jarak yang begitu dekat. "Lukamu bisa terbuka lagi."
Darius tidak mengalihkan pandangannya. Meskipun ada getaran asing yang berdesir hebat di balik dadanya, ekspresi wajahnya tetap sama sekali tak tersentuh, datar dan dingin
"Aku tidak sedang melarikan diri," jawab Darius. Suaranya rendah dan bernada datar tanpa intonasi sedikit pun. "Aku hanya tertangkap basah oleh orang-orang yang salah,"
Darius menatap wajah Karina dari jarak beberapa sentimeter saja. Tatapannya seolah menembus perempuan itu, dingin dan penuh jarak.
Namun semakin lama, getaran di dadanya bukannya mereda, melainkan berubah menjadi letupan intens yang membakar ketenangannya.
Dan malam itu, di tengah badai salju yang melintasi rumah terpencil itu, Darius sadar bahwa pertahanannya yang selama ini ia bangun dengan kokoh perlahan mulai runtuh.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya