Saat ia mengidap penyakit tumor otak pun, ayahnya tidak peduli, istri menceraikannya, dengan sisa tabungan yang ia punya, ia pergi ke rumah sakit untuk operasi, sayangnya ia mati di meja operasi.
Keajaiban pun datang, ia mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan kendapatkan sistem untuk menjadi dokter hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Arka berjalan menuju area Poliklinik Penyakit Dalam. Menurut petunjuk Sistem, dr. Hendra sedang bertugas di Poliklinik Nomor 3.
Saat mendekati ruangan tersebut, Arka melihat seorang pria berkacamata berseragam dokter putih sedang duduk di meja konsultasi, tangannya memegang cangkir kopi sambil meneliti berkas.
Wajah dokter muda itu tampak sangat pucat dan pelipisnya dibasahi keringat dingin.
[Analisis Target - dr. Hendra]
[Kondisi: Terkontaminasi Racun Tetrodotoxin Dosis Rendah (Terlarut dalam Kopi)]
[Efek: Kelumpuhan saraf bertahap, gagal napas dalam 5 jam.]
[Tingkat Bahaya: Sangat Tinggi.]
Arka tidak bisa langsung menerobos masuk dan berteriak "Kopimu beracun!", orang-orang hanya akan menganggapnya gila atau mencari keributan lagi. Ia harus memutar otak.
Sengaja Arka mengambil nomor antrean umum, menunggu hingga giliran namanya dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan dr. Hendra.
"Antrean nomor 14, silakan masuk ke Ruang Poliklinik 3," suara mesin pemanggil terdengar.
Arka berdiri, merapikan kemejanya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Selamat pagi, silakan duduk," sapa dr. Hendra dengan suara lemas. Tangannya gemetar pelan saat meletakkan pena di atas meja. "Ada keluhan apa, Mas... Arka?"
Arka duduk santai di kursi pasien. Tangannya tidak langsung menyodorkan kartu berobat, melainkan menatap lurus ke dalam mata dokter muda itu.
"Keluhan saya tidak banyak, Dok. Tapi keluhan Dokter sepertinya jauh lebih berat," kata Arka tenang dengan nada berbobot.
Dr. Hendra mengerutkan dahi, tertawa canggung. "Maksudnya? Saya baik-baik saja, Mas. Cuma sedikit lelah karena jadwal piket."
"Sedikit lelah?" Arka menyunggingkan senyum tipis, lalu menunjuk cangkir kopi di sudut meja Hendra. "Ujung jarimu mulai kebas sejak setengah jam lalu, 'kan? Jantungmu berdebar tidak teratur, dan pandangan matamu mulai agak kabur di bagian tepi?"
Raut wajah dr. Hendra berubah seketika. Pensil yang dipegangnya terjatuh ke lantai.
"Kamu... kamu tahu dari mana?" bisik dr. Hendra terkejut. "Kamu dokter dari rumah sakit lain?"
"Aku bukan dokter," jawab Arka pelan, memajukan badannya ke depan meja. "Tapi aku tahu, kopi yang sedang kamu minum itu tidak cuma berisi kafein, melainkan racun saraf yang sengaja dimasukkan oleh orang yang tidak ingin kamu membuka mulut soal manipulasi rekam medis."
Mendengar kata manipulasi rekam medis, wajah dr. Hendra menjadi sepucat kertas.
Tubuhnya bergetar hebat, bukan hanya karena efek racun, tapi juga karena rasa takut yang membakar dadanya.
"Si... siapa kamu sebenarnya?!" bisik dr. Hendra panik, matanya liar memandang ke arah pintu yang tertutup.
"Tenang, Dok. Kalau aku berniat jahat, aku tidak akan duduk di sini bicara baik-baik denganmu," kata Arka dengan suara amat pelan namun sarat ketegasan. "Turunkan cangkir itu dan jangan diminum lagi kalau kamu masih mau melihat matahari besok pagi."
dr. Hendra menyandarkan punggungnya ke kursi dengan napas tersengal. Keringat dingin makin membanjiri pelipisnya. Kata-kata Arka menembus langsung ke dasar ketakutan terbesarnya.
"Dokter Senior Baskoro..." bisik dr. Hendra dengan bibir bergetar. "Dia yang menyuruh perawat membawakan kopi ini tadi pagi. Aku... aku baru saja menemukan janggalnya rekam medis pasien VIP dan berniat melaporkannya ke komite medis siang nanti."
Arka menyipitkan mata. "Dokter Baskoro... Dokter Senior yang semalam histeris di ruang VIP itu? Tentu saja," batin Arka.
"Dia tahu kamu bakal melapor, makanya dia ingin membungkammu sebelum komite berkumpul," sambung Arka.
[Ting!]
[Petunjuk Sistem: Racun belum menyerap sepenuhnya ke dalam aliran darah sistemik. Anda dapat menetralkannya menggunakan teknik 'Stimulasi Titik Pembuangan' pada lengan kanan target.]