Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Yang Tak Mungkin Ada
"Maaf mengganggu waktu anda Nona Emma... Saya hanya ingin menyampaikan informasi bahwa rapat dengan tim Tokyo telah dijadwalkan ulang hari Senin."
Emma Taylor menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras.
Angin laut meniup rambut pirangnya yang dipotong sebahu hingga berantakan, tetapi ia bahkan tidak berniat merapikannya.
"Aku bahkan sedang cuti."
"Tetapi direktur meminta anda untuk.. "
"Aku bilang aku sedang cuti. Apakah aku harus mengerjakan semua yang ada di perusahaan itu?"
Suara Emma terdengar datar, tetapi semua orang yang mengenalnya tahu, itulah tanda paling berbahaya.
Di ujung telepon, sekretarisnya terdiam beberapa detik.
"Nona Emma mohon maaf tapi..."
"Bilang pada mereka, perusahaan tidak akan bangkrut hanya karena aku tidak ada disana selama seminggu. Biarkan aku menikmati masa tenang ini."
Klik.
Emma memutus sambungan tanpa menunggu jawaban.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu menggenggam pagar kaca di dek kapal pesiar mewah yang sedang membelah lautan biru.
Liburan ini sudah direncanakan dari jauh hari dan tentu saja atas seijin dari pemilik perusahaan langsung.
Seharusnya ini menjadi liburan.
Bukan rapat.
Bukan laporan.
Bukan puluhan surel yang tak ada habisnya.
Bukan pula para rekan kerja yang selalu menganggap dirinya mesin penyelesain masalah.
Ia menutup mata.
Menghitung dalam hati seperti yang selalu diajarkan psikolognya.
Satu... Dua... Tiga...
Empat.. Lima.. Enam..
Tujuh.. Delapan.. Sembilan..
Belum sampai sepuluh, ponselnya kembali berdering.
Rahang Emma mengeras.
Nama yang muncul membuat dahinya berdenyut.
tertulis nama Papa dilayar ponselnya.
Ia mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?"
"Emma... Papa hanya ingin memastikan kau sudah sampai dengan selamat sayang."
"Aku sudah di kapal."
"Bagaimana perjalananmu? Apakah semua lancar?"
"Ya tentu saja lancar."
Hening.
Ayahnya seperti sedang memilih kata-kata.
"Emma... jangan lupa jadwal terapimu minggu depan, kau harus tetap sesuai jadwal yang sudah di ditentukan. Kau tahu jika.."
Emma memejamkan mata.
"Tentu saja. Semua orang akan selalu ingat soal itu."
"Bukan begitu maksud Papa."
"Lalu apa?"
"Karena Papa khawatir."
"Papa selalu khawatir."
Nada bicaranya mulai meninggi.
Di seberang sana, pria paruh baya itu menghela napas pelan.
"Papa hanya ingin kau menikmati liburan mu sayang."
Emma menutup mata lagi.
Rasa bersalah sesaat menyelinap.
Ia tahu ayahnya tidak salah.
Namun entah mengapa, setiap percakapan sederhana selalu berhasil mengusik emosinya.
"Hmm baiklah Aku akan baik-baik saja disini."
Ia menutup telepon lebih dulu.
Beberapa detik kemudian, ia memukul pelan pagar kaca dengan kepalan tangan.
"Sial...kemarahan ini selalu saja menguasai ku dan membenci semua orang."
Ia mengusap wajahnya kasar.
Inilah alasan ia dipaksa menjalani terapi selama hampir dua tahun terakhir.
Marah.
Kesal.
Mudah meledak.
Hal-hal kecil yang bagi orang lain sepele, baginya terasa seperti percikan api yang mampu membakar seluruh hutan.
Ia membenci dirinya sendiri karena itu.
Namun ia juga tidak tahu bagaimana cara menghentikannya.
Ratusan meter dari tempat Emma berdiri...
Seorang wanita lain sedang duduk sendirian di kafe terbuka kapal.
Rambut cokelat panjangnya yang bergelombang lembut tertiup angin.
Gaun krem sederhana yang dikenakannya bergerak perlahan mengikuti embusan laut.
Namanya Ella...
Tatapannya kosong mengarah ke cakrawala.
Secangkir teh di hadapannya sudah dingin sejak lima belas menit lalu.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Ralph suaminya.
Ia membukanya.
"Semoga perjalananmu menyenangkan."
Hanya itu.
Tidak ada kalimat lain.
Tidak ada emoji.
Tidak ada kata rindu.
Ella tersenyum tipis.
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena ia memang sudah terbiasa.
Ia membalas singkat.
"Terima kasih."
Beberapa detik kemudian...
"Jaga kesehatan."
Ella menghela napas pelan.
Percakapan mereka selalu seperti itu.
Pendek.
Dingin.
Seolah dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama.
Ia mematikan layar ponsel.
Tak jauh dari sana, sepasang suami istri lanjut usia sedang tertawa sambil berfoto.
Anak-anak mereka berlarian di sekitar kolam renang.
Ella memalingkan wajah.
Dulu...
Saat menerima perjodohan dengan Ralph Alexander, ia tidak pernah berharap kisah cinta seperti dongeng.
bertemu pria asing lalu jatuh cinta kemudian hidup berbahagia selamanya.
atau hanya berharap mereka bisa menjadi teman.
teman bercerita, berbagi dalam suka dan duka meski mungkin sulit menumbuhkan rasa suka satu dengan yang lainnya.
Namun bahkan harapan sederhana itu terasa terlalu sulit diwujudkan.
Ralph adalah pria baik.
Bertanggung jawab.
Dan tentunya sangat terhormat berasal dari keluarga bangsawan.
Namun hatinya seolah terkunci rapat.
Tak pernah benar-benar terbuka untuknya.
Karena pria itu masih menyimpan cinta untuk kekasihnya yang sudah tiada.
Ella menatap cincin di jari manisnya.
Kadang ia bertanya-tanya...
Apakah pernikahan memang harus terasa sesepi ini?
apakah ia tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya saling menyukai?
Sore itu...
Kapal pesiar mulai dipenuhi para tamu yang keluar menikmati pemandangan indah.
Emma berjalan cepat menuju kafe luar ruangan.
Ia membutuhkan kopi.
Bukan karena mengantuk.
Melainkan agar kepalanya berhenti memikirkan pekerjaan dan mengendalikan rasa marah dalam dirinya.
Saat melewati koridor utama...
Seseorang menabraknya.
Bruk.
"Oh, maaf. Saya kurang hati-hati berjalan."
Suara perempuan muda.
Emma spontan mendongak.
Lalu...
Waktu seakan berhenti.
Wanita di depannya juga membeku.
Mereka saling menatap.
Tidak berkedip.
Tidak bergerak.
Mata.
Hidung.
Bibir.
Bentuk wajah.
Semuanya...
Sama.
Seorang anak kecil yang melewati mereka bahkan berhenti.
"Mommy...cepat lihatlah mereka berdua."
Ia menunjuk kedua wanita itu.
"Kenapa wajah mereka terlihat serupa?"
"Maaf.. Putraku memang suka mengganggu siapa saja."
Ibunya segera menarik sang putra pergi sambil tersenyum canggung.
Emma masih terpaku.
Hal seperti ini mustahil.
Sangat mustahil.
Wanita itu juga tampak sama terkejutnya.
"Maaf..."
Suara wanita itu lirih.
"Apa... kita pernah bertemu sebelumnya?"
Emma menggeleng perlahan.
"Kalau pernah, aku pasti ingat."
Hening.
Beberapa detik.
Mereka terus saling memandang.
Seolah sedang bercermin.
Bedanya hanya satu.
Wanita di depannya berambut cokelat panjang bergelombang.
Sedangkan rambut Emma pirang dan dipotong sebahu.
Emma akhirnya tertawa kecil.
"Ternyata aku punya wajah yang cukup umum. Dan aku percaya akan sebuah teori bahwa didunia ini kita memiliki tujuh kembaran."
Wanita itu ikut tersenyum.
"Tidak..."
Ia menggeleng pelan.
"Ini terlalu mirip untuk disebut kebetulan."
Emma tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Ia kehilangan kata-kata.
Entah mengapa, melihat wajah wanita itu menimbulkan perasaan aneh di dadanya.
Akrab.
Hangat.
Sekaligus asing.
Seolah ada kenangan yang nyaris muncul, tetapi menghilang sebelum sempat ia tangkap.
Wanita itu lebih dulu mengulurkan tangan.
"Perkenalkan namaku Ella."
Emma menerima uluran tangan itu.
"Emma Taylor."
Mereka berjabat tangan.
Lama.
Tatapan keduanya belum juga lepas.
Tak satu pun menyadari...
Bahwa pertemuan yang tampak seperti kebetulan itu akan mengubah kehidupan mereka selamanya.
mulai ngikuti sepertinya menarik