Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Korban Struktur Kelas
"Anak-anak, harap tenang!"
Suara lantang Bu Rita, wali kelas Sepuluh-Tiga sekaligus guru Biologi yang terkenal tegas, seketika membuat riuh rendah di dalam kelas mereda. Semua murid baru yang tadinya asyik mengobrol langsung memposisikan diri duduk dengan tegak.
Callista menghela napas lega. Setidaknya dengan dimulainya jam pelajaran, dia punya alasan untuk tidak menoleh ke belakang dan menghindari tatapan dingin nan menyebalkan dari Kenzo.
"Hari pertama ini kita akan gunakan untuk saling mengenal dan menentukan pengurus kelas," lanjut Bu Rita sambil meletakkan tasnya di meja guru. Pandangannya menyapu seluruh ruangan.
"Ibu tidak suka bertele-tele. Berdasarkan nilai tes masuk tertinggi di kelas ini, Ibu langsung menunjuk Kenzo sebagai ketua kelas. Kenzo, silakan berdiri."
Di baris belakang, Kenzo berdiri dengan tenang. "Saya, Bu."
Bisikan-bisikan kagum langsung terdengar dari deretan siswi di barisan depan. “Wah, udah ganteng, pinter pula,” bisik salah satu siswi yang samar-samar terdengar oleh Callista.
Callista memutar bola matanya malas. Ganteng sih ganteng, tapi hatinya dari batu es, batinnya dongkol.
"Baik, Kenzo. Tugas pertama kamu adalah memilih wakil ketua kelas atau sekretaris yang bisa membantu kamu mengurus administrasi kelas," kata Bu Rita sambil mencari spidol di dalam laci.
Kenzo tidak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak, dan Callista bisa merasakan aura tidak enak. Benar saja, dari sudut matanya, Callista melihat Kenzo perlahan menundukkan pandangan, menatap tepat ke arah punggungnya. Sebuah senyuman tipis—yang lebih mirip seringai usil—muncul di bibir cowok itu.
"Untuk sekretaris, saya merekomendasikan siswi yang duduk di barisan ketiga dekat jendela, Bu. Yang rambutnya dicepol," ucap Kenzo dengan suara lantang dan jelas.
Deg.
Callista langsung membeku. Sean yang duduk di sebelahnya refleks menoleh dengan mata membelalak, lalu mati-matian menahan tawa sampai pundaknya bergetar.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Bu Rita sambil menatap Callista.
Mau tidak mau, Callista berdiri dengan senyum yang dipaksakan mirip orang meringis. "Ca-Callista, Bu."
"Bagus. Kenzo, kenapa kamu memilih Callista?"
Kenzo memperbaiki posisi berdirinya, lalu menatap Callista dengan tatapan tanpa dosa. "Saya rasa Callista punya energi yang... sangat aktif, Bu. Mengingat insiden di koridor tadi pagi, dia tampaknya sangat cekatan dan 'berani' mengambil tindakan. Saya yakin dia bisa gerak cepat kalau mengurus absensi kelas."
Cekatan mbahmu! Itu namanya lo mau bales dendam karena kemeja lo ketumpahan kopi! teriak Callista dalam hati. Wajahnya sudah merah padam menahan dongkol.
"Baik, keputusan adil. Kenzo ketua kelas, dan Callista sekretarisnya. Silakan kalian berdua nanti berkoordinasi untuk mencatat jadwal pelajaran," final Bu Rita tanpa memberikan kesempatan bagi Callista untuk protes.
Callista duduk kembali dengan lemas. Dia langsung menenggelamkan wajahnya di atas meja yang dilapisi kedua tangannya.
"Selamat ya, Bu Sekretaris," bisik Sean dengan nada mengejek yang sangat menyebalkan.
"Baru hari pertama udah dapet jabatan terhormat langsung dari pilihan hati Pak Ketua."
"Diem lo, Sean! Gue lagi mau nangis ini!" gerutu Callista dari balik lengannya. "Gue gak mau sekelompok, seorganisasi, atau se-apa pun sama cowok kutub itu!"
"Yee, mana bisa menolak takdir sekolah," sahut Sean santai sambil menepuk-nepuk bahu Callista, mencoba menenangkannya. "Lagian tenang aja, kan ada gue. Kalau si Kenzo macem-macem atau bikin lo nangis, ntar gue temenin lo ngadu ke Buddha di Vihara biar karma dia cepet dateng."
Mendengar ucapan Sean, Callista perlahan mengangkat kepalanya dan menatap sahabat masa kecilnya itu. Senyum tulus Sean selalu berhasil membuat hatinya sedikit lebih tenang. Sean memang selalu tahu cara mengembalikan suasana hatinya.
Namun, saat Callista baru saja mau membalas ucapan Sean, sebuah pulpen mendarat dengan ketukan pelan di atas mejanya dari arah belakang.
Callista menoleh dengan malas. Kenzo sudah menyodorkan selembar kertas kosong ke arahnya.
"Tugas pertama lo, Sekretaris," ucap Kenzo datar, tanpa ekspresi kocak sedikit pun. "Catat nama-nama anak kelas ini dari baris depan sampai belakang. Jangan sampai ada yang salah tulis. Dan satu lagi..." Kenzo mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik pelan, "...jangan sampai kertasnya ketumpahan es kopi lagi."
Callista menyambar kertas itu dengan sentakan kasar. "Gak usah diingetin terus bisa gak, sih?!"
Kenzo hanya menaikkan alisnya, lalu kembali bersandar di kursinya dengan santai.
Perang dingin di kelas Sepuluh-Tiga resmi dimulai. Dan Callista tahu, ke depan hidupnya di SMA Wijaya tidak akan pernah berjalan dengan tenang selama ada Kenzo di belakangnya, dan Sean di sampingnya.