Selama dua puluh tahun, Aisha mengira dia adalah gadis paling beruntung karena diadopsi oleh keluarga kaya. Namun, segalanya berubah saat anak kandung keluarga tersebut, Clara, yang sempat hilang, akhirnya ditemukan. Seketika, posisi Aisha bergeser menjadi "pembantu" tak kasat mata.
Puncaknya terjadi ketika Clara terjerat hutang miliaran rupiah pada jaringan mafia kejam akibat gaya hidupnya yang liar. Enggan mengorbankan putri kandung mereka, orang tua angkat Aisha tega menumbalkannya. Aisha dipaksa menikah dengan Devan Alister, putra mahkota dari keluarga mafia terbesar sekaligus CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Aisha mengira hidupnya akan berakhir di neraka. Devan menyambutnya dengan tatapan tajam dan peringatan keras agar Aisha tidak berharap lebih dari pernikahan kontrak ini. Namun, di balik sikap galak dan dinding es yang dibangun Devan, perlahan Aisha menemukan sisi lain dari sang CEO, kepedulian diam-diam yang mulai mengikis luka di hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arraziq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Devan menghentikan langkahnya tepat di depan Aisha. Mata elangnya yang jeli dengan cepat menangkap perubahan ekspresi di wajah sang istri, tatapan mata yang sedikit teralihkan, bibir yang merapat tipis, serta genggaman tangan yang meremas erat tali kotak bekal di pangkuannya.
Pria yang biasanya dingin dan tegas dalam memimpin ribuan karyawan itu justru merasa ada kehangatan yang menggelitik dadanya.
"Aisha cemburu?" Pikir Devan.
Sebuah fenomena langka yang membuat sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan.
"Kamu tidak pernah mengganggu, Aisha," jawab Devan halus. Suaranya yang bariton terdengar sangat kontras dengan nada kaku yang digunakannya saat bicara dengan Catherine tadi.
Devan mengulurkan tangannya, secara alami mengambil alih kotak bekal yang dipegang Aisha dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya merengkuh pinggang Aisha, menuntun gadis itu masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas.
Klek.
Pintu jati berukuran raksasa itu tertutup rapat, meninggalkan Asisten Arya di luar yang hanya bisa mengelus dada sambil tersenyum lega. Sang bos akhirnya benar-benar menunjukkan sisi manusianya.
Di dalam ruangan, Aisha masih berdiri agak kaku di dekat meja tamu. Aroma parfum wanita lain, aroma khas Catherine masih tersisa tipis di sekitar sofa. Aisha menghela napas pelan, mencoba menetralkan degup keraguan di dadanya.
"Siapa wanita tadi, Devan?" tanya Aisha, berusaha mengucapkannya dengan nada sesantai mungkin, meski tangannya saling bertautan di depan gaun kremnya.
Devan meletakkan kotak bekal di atas meja marmer, lalu melepas jas hitamnya dan menyangkutkannya di sandaran kursi. Dia berbalik menatap Aisha, menyilangkan dada sambil bersandar di tepi meja.
"Catherine Lim. Putri pemilik Lim Corporation dari Singapura," Devan menjelaskan dengan jujur dan lugas.
"Dia mitra bisnis Alister Group untuk pengerjaan proyek pelabuhan baru. Kenapa? Kamu penasaran?"
Aisha menggigit bibir bawahnya, merasa tertangkap basah.
"B-Bukan begitu... Dia kelihatan sangat akrab denganmu. Tadi dia menyentuh lenganmu."
Devan terkekeh pelan. Sebuah tawa rendah yang renyah dan terdengar sangat seksi. Pria itu melangkah mendekati Aisha, mengikis jarak di antara mereka hingga Aisha terdesak pelan menyandar pada dinding di samping lemari buku. Devan menumpukan kedua tangannya di dinding, mengurung tubuh Aisha dalam jangkauannya.
" Catherine hanya teman masa kuliah di London dan murni rekan bisnis, Aisha," bisik Devan, menundukkan wajahnya hingga jarak hidung mereka hanya terpisah beberapa senti.
"Dan soal sentuhan tadi, aku tidak meresponsnya. Bagiku, hanya ada satu wanita yang berhak menyentuh dan berada di dekatku."
Mata Aisha bergetar menatap manik mata Devan yang dalam dan jujur. Rasa cemburu yang sempat membakar dadanya seketika menguap, berganti dengan rona merah yang membanjiri kedua pipinya.
"A-Aku cuma bertanya." Cicit Aisha malu, mencoba mendorong dada Devan pelan, tetapi Devan justru menggenggam tangan halus itu dan meletakkannya tepat di atas dadanya, di mana detak jantung Devan berdebar kencang dan teratur.
"Sensasi cemburumu ini, jujur saja, aku sangat menyukainya," goda Devan dengan senyum maut yang membuat Aisha makin salah tingkah. Pria itu lalu mengelus pipi Aisha yang merona sebelum akhirnya melepaskan kuncian tubuhnya.
"Sekarang, mari kita lihat apa yang dimasak oleh Nyonya Alister untukku."
Mereka duduk berdampingan di sofa kulit hitam yang empuk. Aisha membuka kotak bekal tingkat dua tersebut satu per satu. Aroma gurih dari sup ayam bening yang masih hangat dan aroma wangi dari perkedel kentang langsung memenuhi ruangan.
Devan menatap hidangan di depannya dengan pandangan yang mendadak berubah sangat dalam. Matanya terpaku pada mangkuk sup bening berisi potongan wortel dan daging ayam segar itu.
"Bi Sumi bilang ini makanan favoritmu waktu kecil," kata Aisha pelan, memperhatikannya dengan cemas.
"Rasa masakan Ibu kandungmu. Aku mencoba membuatnya sesuai resep Bi Sumi. Tapi kalau rasanya beda atau kamu tidak suka—"
Sebelum Aisha menyelesaikan kalimatnya, Devan sudah meraih sendok dan menyicipi kuah sup tersebut.
Hening sejenak. Devan memejamkan matanya, mengunyah dan menelan masakan itu perlahan. Untuk beberapa detik, ruangan terasa sangat sunyi hingga Aisha menahan napasnya karena gugup.
Saat Devan membuka matanya kembali, ada kilatan emosi yang sangat halus dan hangat di sana. Pria itu menatap Aisha, lalu menyendokkan kembali sup itu ke mulutnya tanpa ragu.
"Bagaimana? Enak tidak?" tanya Aisha penasaran.
"Sangat enak," jawab Devan tulus, senyuman hangat terukir di bibirnya.
"Rasanya membuatku merasa seperti pulang ke rumah. Terima kasih, Aisha."
Aisha bernapas lega, rasa bahagianya membuncah mendengarnya. Dia tersenyum manis, menyaksikan Devan makan dengan lahap, sebuah pemandangan langka bagi seorang CEO yang biasanya hanya makan beberapa suap hidangan restoran bintang lima karena kesibukannya.
Setelah makan siang selesai dan Devan menyelesaikan beberapa penandatanganan berkas dengan cepat, Devan bangkit dari kursi kerjanya. Dia menghampiri Aisha yang sedang duduk membaca majalah desain di sofa.
"Aisha, ikut aku," ajak Devan seraya mengulurkan tangannya.
Aisha mendongak, menerima genggaman tangan hangat itu.
"Ke mana? Bukannya kamu masih harus bekerja?"
"Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu. Sesuatu yang seharusnya sudah menjadi milikmu sejak lama," jawab Devan misterius.
Devan menuntun Aisha berjalan ke sudut ruang kerjanya, tepat di depan sebuah rak buku kayu mahoni raksasa yang berisi ratusan buku-buku hukum dan ekonomi tebal. Devan merogoh sebuah tombol tersembunyi di balik salah satu bingkai ukiran kayu.
Klek. Srrr...
Rak buku raksasa itu bergeser secara otomatis ke samping tanpa suara, mengungkapkan sebuah pintu besi dengan sistem pengaman sidik jari dan kata sandi digital di baliknya.
Aisha membelalakkan mata.
"Ruang rahasia?"
Devan menempelkan ibu jarinya pada pemindai, lalu menekan beberapa digit angka. Pintu besi itu terbuka dengan hembusan angin dingin yang pelan. Devan menuntun Aisha melangkah masuk ke dalam ruangan tersembunyi berukuran sedang yang terang benderang oleh lampu LED putih.
Di dalam ruangan itu, tidak ada tumpukan uang atau senjata seperti yang dibayangkan Aisha tentang ruang rahasia seorang mafia.
Ruangan itu dipenuhi oleh brankas-brankas kaca transparan. Dan di dalam brankas-brankas tersebut, tersimpan puluhan dokumen saham berbingkai emas, sertifikat tanah tua, hingga berbagai perhiasan antik bernilai fantastis.
Devan membawa Aisha berhenti di depan brankas kaca utama di tengah ruangan. Di dalamnya, terdapat sebuah dokumen tebal berbahasa hukum dan sebuah kotak beludru merah berisi kalung berlian bermotif bunga matahari yang sangat indah.
"Ini..." bisik Aisha, menatap kalung berlian itu dengan ingatan samar yang mendadak muncul di kepalanya.
"Ini milik Ibuku...?"
"Ya," jawab Devan pelan, menatap kalung itu.
"Dua puluh tahun lalu, sebelum Hendra menyita dan menjual seluruh aset milik orang tuamu secara ilegal, ayahku berhasil menyelamatkan sepuluh persen saham pendirian Alister Group dan aset perhiasan ini atas nama Aris Dirgantara, ayah kandungmu."
Devan membuka brankas kaca itu, mengambil dokumen dan kotak beludru tersebut, lalu menyerahkannya langsung ke tangan Aisha.
"Selama ini, Hendra berpikir dia bisa merebut warisan keluargamu," lanjut Devan dengan nada tegas.
"Tapi dia tidak pernah tahu bahwa aset terbesar ayahmu sudah aku amankan di sini. Surat-surat ini adalah bukti bahwa kamu, Aisha Dirgantara, adalah pemegang saham resmi lima belas persen Alister Group dan pemilik sah dari seluruh peninggalan orang tuamu."
Aisha menggenggam kotak beludru itu dengan tangan gemetar. Air mata haru menetes di pipinya. Benda ini bukan sekadar harta bernilai ratusan miliar, melainkan bukti keberadaan dan kasih sayang orang tua kandungnya yang sempat dicoba dihapuskan oleh Hendra.
"Devan, aku tidak tahu harus bilang apa." Tangis Aisha pecah.
Devan mengambil kalung berlian itu dari kotak beludru, lalu melangkah ke belakang Aisha. Dengan gerakan lembut, Devan memakaikan kalung indah itu ke leher mulus Aisha. Liontin bunga matahari itu mendarat pas di atas dada Aisha, berkilauan diterpa cahaya lampu.
Devan merengkuh bahu Aisha dari belakang, menatap pantulan mereka berdua di dinding kaca brankas.
"Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa, Aisha," bisik Devan di dekat telinga istrinya, memeluknya erat.
"Semua ini adalah hakmu yang kukembalikan. Aku berjanji, mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang bisa mengambil apa pun darimu. Aku akan menjaga warisanmu, dan menjaga hatimu."
Aisha menyentuh liontin di lehernya, lalu berbalik dan memeluk leher Devan erat-erat, menyembunyikan wajah bahagianya di dada pria itu. Di dalam ruang rahasia yang dingin itu, hangatnya ikatan jiwa mereka makin menguat, menjadi benteng tak tertembus untuk menghadapi ujian-ujian kecil maupun besar yang mungkin akan mendatangi kehidupan pernikahan mereka ke depannya.