kisah seorang wanita yang berusaha melupakan mantannya yang mengkhianati kepercayaan.
diperjalanan menemukan jati diri dan kehidupan baru
sebuah kisah cinta yang manis namun penuh komedi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
...****************...
Suasana ruang keluarga mansion Andreas kembali hening.
Semua mata tertuju kepada Antonio Van Andreas yang duduk dengan tenang di kursi utamanya.
Tangannya saling bertaut di atas tongkat kayu hitam yang selalu menemaninya.
Arseno menghela napas pelan.
"Ayah..."
"Apa sebenarnya usulan yang Ayah maksud?"
Antonio menatap putranya beberapa detik sebelum mengalihkan pandangan kepada Evelyn.
"Aku ingin kalian..."
"...bertunangan."
Ruangan seketika membeku.
"..."
"..."
Naomi sampai menjatuhkan pulpennya.
Kosta tersedak teh yang sedang diminumnya.
"Huek...!"
Sedangkan Evelyn dan Arseno kompak berdiri dari kursinya.
"Apa?!"
"Tidak mungkin!"
Keduanya berbicara bersamaan.
Antonio justru tersenyum tipis.
"Nah, kompak juga ternyata."
Evelyn langsung menggeleng keras.
"Tidak! Sama sekali tidak!"
Arseno mengusap wajahnya.
"Ayah sedang bercanda?"
"Ayah terlihat seperti sedang bercanda?"
"Tidak..."
"Nah."
Evelyn masih terlihat syok.
"Pak Antonio, bagaimana mungkin saya bertunangan dengan orang yang setiap hari menyindir saya?"
Arseno langsung menyahut.
"Justru aku yang seharusnya bertanya."
"Bagaimana mungkin aku bertunangan dengan wanita yang pernah menendangku tanpa alasan?"
Evelyn spontan menunjuk wajah Arseno.
"Itu karena waktu itu aku mengira kau pria mesum!"
"Kau bahkan tidak memberiku kesempatan bicara."
"Salahmu mengejar aku."
"Aku hanya ingin mengembalikan gelangmu!"
"Itu kan baru aku tahu belakangan."
Antonio memijat pelipisnya.
"Sudah... sudah..."
"Kalian bahkan belum bertunangan saja sudah seperti pasangan yang bertengkar."
Naomi dan Kosta saling pandang.
Ucapan Antonio memang ada benarnya.
Renata Hills menyesap tehnya dengan tenang.
"Antonio."
"Ya?"
"Jelaskan dulu alasanmu."
Antonio mengangguk.
"Inilah alasannya."
Ia membuka sebuah map.
Di dalamnya terdapat grafik pemberitaan media selama beberapa hari terakhir.
"Semakin kita membantah..."
"...media justru semakin berspekulasi."
Naomi mengangguk pelan.
"Benar."
"Setiap klarifikasi malah memunculkan artikel baru."
Antonio melanjutkan,
"Kalau kalian terus mengatakan tidak memiliki hubungan apa pun..."
"...wartawan akan terus mengejar."
"Investor juga akan terus bertanya."
Arseno menyela.
"Lalu kenapa harus bertunangan?"
Antonio menjawab tenang.
"Karena kalau kalian mengendalikan narasinya..."
"...orang lain kehilangan kesempatan mengendalikan narasi itu."
Evelyn masih terlihat bingung.
"Maksudnya?"
Antonio tersenyum tipis.
"Kalian bukan mengakui gosip."
"Kalian mengakhiri spekulasi."
Ruangan kembali hening.
Arseno menyandarkan tubuhnya.
"Ayah..."
"Aku tidak suka melibatkan kehidupan pribadi dalam bisnis."
"Ayah tahu."
"Tapi sekarang kehidupan pribadimu sudah diseret ke dalam bisnis."
Kalimat itu membuat Arseno terdiam.
Renata ikut berbicara.
"Aku juga tidak menyukai ide ini."
Evelyn langsung mengangguk semangat.
"Nah, kan, Nek."
"Tapi..."
Senyum Evelyn langsung menghilang.
"...Antonio ada benarnya."
Evelyn membelalak.
"Nenek!"
Renata menatap cucunya lembut.
"Nenek bukan mendukung kalian benar-benar bertunangan."
"Nenek hanya melihat situasinya."
Evelyn mengembuskan napas panjang.
Arseno masih belum setuju.
"Bagaimana kalau nanti media semakin berlebihan?"
Antonio menjawab singkat.
"Itu tugas tim humas."
"Lalu kalau mereka bertanya kapan menikah?"
"Katakan belum ada rencana."
"Kalau mereka bertanya sejak kapan kami berpacaran?"
"Katakan hubungan berkembang secara alami."
Evelyn langsung mengangkat tangan.
"Sebentar."
Antonio menoleh.
"Saya tidak pandai berbohong."
Antonio tersenyum kecil.
"Aku juga tidak memintamu berbohong panjang lebar."
"Cukup menjawab seperlunya."
Naomi berdeham pelan.
"Kalau boleh jujur..."
Semua orang menoleh kepadanya.
"Sebagai orang komunikasi perusahaan..."
"Saya rasa strategi ini memang bisa meredam spekulasi."
Kosta ikut mengangguk.
"Saya juga berpikir begitu."
Arseno menatap asistennya.
"Kosta."
"Ya, Pak."
"Kau seharusnya membelaku."
"Saya membela perusahaan, Pak."
Naomi langsung tertawa.
"Kosta pintar."
"Kau diam saja," gumam Arseno.
Evelyn melipat kedua tangannya.
"Misalnya..."
"Katakanlah..."
"Saya setuju."
Arseno langsung menoleh.
"Kau serius?"
"Aku hanya berandai-andai."
"Oke."
"Kalau aku pura-pura menjadi tunanganmu..."
"...aku punya syarat."
Antonio tersenyum.
"Nah, mulai masuk tahap negosiasi."
Evelyn menunjuk Arseno.
"Pertama."
"Jangan pernah mengatur hidupku."
Arseno mengangguk.
"Setuju."
"Kedua."
"Jangan memaksaku menghadiri acara yang tidak penting."
"Baik."
"Ketiga."
"Jangan menyuruhku berhenti makan dessert."
Naomi langsung menutup mulutnya.
Kosta menunduk sambil tertawa pelan.
Arseno memandang Evelyn beberapa detik.
"Lihat?"
"Apa?"
"Aku tahu syarat ketigamu pasti soal makanan."
"Itu penting."
"Tidak."
"Itu sangat penting."
Antonio sampai tertawa.
"Kalau hanya itu syaratnya, Ayah yang akan membelikanmu dessert."
Evelyn langsung tersenyum lebar.
"Nah, Pak Antonio jauh lebih baik."
Arseno menggeleng pelan.
"Kau memang mudah disuap."
"Dengan makanan."
Kini giliran Arseno.
"Kalau aku juga punya syarat."
Evelyn menatapnya.
"Apa?"
"Jangan memanggilku pria mesum lagi."
Evelyn terdiam.
Beberapa detik kemudian ia berkata,
"...Baik."
"Serius?"
"Serius."
"Lalu?"
"...Aku akan menggantinya menjadi pria menyebalkan."
Ruangan langsung dipenuhi tawa.
Bahkan Renata yang biasanya anggun ikut tersenyum geli.
Arseno menghela napas panjang.
"Ternyata harapanku terlalu tinggi."
Setelah suasana kembali tenang, Antonio berdiri.
"Waktu kalian tidak banyak."
"Mulai besok..."
"...tim kita akan menyelidiki siapa dalang di balik semua ini."
"Kalian berdua cukup menjalankan peran sebaik mungkin."
Arseno memandang Evelyn.
Evelyn juga menatap Arseno.
Keduanya sama-sama terlihat tidak yakin.
Namun mereka juga sadar...
Semakin lama gosip itu dibiarkan, semakin besar dampaknya terhadap dua perusahaan yang mereka bangun.
Evelyn akhirnya mengembuskan napas pelan.
"Kalau ini memang cara terbaik melindungi perusahaan..."
"Aku akan mempertimbangkannya."
Arseno mengangguk.
"Aku juga."
Antonio tersenyum puas.
"Itu sudah lebih dari cukup."
Namun, tidak seorang pun di ruangan itu mengetahui bahwa di tempat lain, seseorang sedang tersenyum puas melihat kekacauan yang berhasil ia ciptakan.
Ia sama sekali tidak menyangka...
Rencananya untuk memecah belah Evelyn dan Arseno justru perlahan membuat keduanya semakin sering berada di sisi yang sama.
...****************...