Lalu Argadana anak laki - laki yang memiliki garis darah keturunan setengah manusia dan setengah siluman. Di umur sepuluh tahun telah diangkat menjadi raja di Kerajaan Siluman Darah.
Tetapi sebelum dapat memimpin takhta, sang ibu memberinya misi untuk menghabisi seorang pengkhianat kerajaan selain mencari ayah kandungnya yang merupakan seorang manusia.
Dapatkah Argadana menyelesaikan misinya itu?
Silakan ikuti ceritanya dalam kisah 'Ksatria Lembah Neraka' yang akan kami update in sya allah 1 chapter/hari
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pangeran Buluk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengasuh Harimau 2
"Ada apa pak kusir? Kenapa lama sekali? Apa mereka bahkan tidak dapat menghajar dua orang saja? Dasar gentong - gentong nasi tidak berguna"
Tidak lama setelah suara itu terdengar keluarlah seorang pemuda pesolek berpakaian serba kuning. Usianya sekitar dua puluhan. Melihat wajahnya saja sudah jelas kalau pemuda itu sangat sombong.
Pemuda itu bernama Arya Sena. Dia adalah putra bungsu Arya Wajra alias si Pengasuh Harimau. Si Pengasuh Harimau sendiri sebenarnya bukanlah orang golongan sesat meskipun tidak bisa dibilang golongan lurus.
Tingkahnya yang suka semaunya sendiri membuat orang - orang golongan lurus enggan bersahabat dengannya, sedangkan orang - orang golongan sesat sangat banyak yang memusuhinya.
Karena kemampuan uniknya dalam menjinakkan harimau orang - orang persilatan menjuluki dia si Pengasuh Harimau. Sifat urakannya tiada duanya di dunia persilatan, tak ada yang bisa mencegahnya karena tidak ingin berurusan dengan harimau peliharaannya yang begitu banyak dan terlatih dalam pertarungan. Kalau pun ada orang yang paling ditakutinya itu tiada lain adalah Anung Pramana dan Kasih Pertiwi Sepasang Pendekar Naga.
Pernah dulu sewaktu masih muda Pengasuh Harimau terlibat pertarungan dengan Kasih Pertiwi yang kala itu masih berjuluk Dewi Obat. Pengasuh Harimau dibuat lari pontang - panting karena gentar melawan Pedang Naga Guntur. Hal itu tiada lain karena si Pengasuh Harimau sangat takut dengan suara guntur. Dan hal itu diketahui pula oleh Wisesa karena pernah mendengar cerita itu dari ibu angkatnya, Dewi Obat.
Arya Sena membelalakkan matanya setelah melihat kejadian apa yang menimpa sebelas orang pengawalnya.
Dia menoleh pada Argadana yang telah lebih dulu menghentikan 'Jurus Tubuh Raja Api' setelah sepuluh orang menjadi korban keganasannya.
"Katakan padaku, siapa pelakunya" kata Arya Sena memalingkan pandangannya dari Argadana karena merasa gentar melihat tatapan pemuda itu sangat tajam mencorong.
Sang kusir lalu menjawab
"Pemuda gunung itu yang melakukannya, tuan muda. Dia membakar sepuluh murid dengan api yang keluar dari mulutnya" kata sang kusir dengan suara bergetar.
"Hahh. . .? Jangan mengada - ada, pak kusir. Aku bukan anak kecil yang bisa kau bodohi" Arya Sena membentak marah karena merasa dibodohi oleh kusirnya.
"Ta ... Tapi, tuan muda. . ."
Kusir tersebut tergagap - gagap berbicara. Arya Sena lalu menoleh pada empat orang yang masih tersisa namun wajahnya pucat pasi bagai tak berdarah.
"Apa anak gunung itu yang melakukannya?"
"Be... Benar, tuan muda"
"Hmpp. . . Hey, anak gunung tidak tau adat. Kau rupanya belum tahu siapa kami, sehingga kau berani benar mencari masalah denganku" kata Arya Sena dengan sombongnya.
"Hey. . . Jaga mulutmu, orang hutan. Kalian hidup dan tinggal bersama binatang, mana tahu adat istiadat"
Suara keras bentakan Wisesa terdengar oleh semua orang yang ada di sekitar pasar itu. Beberapa orang berbisik - bisik membenarkan kata - kata Wisesa.
"Tua Bangka bau tanah juga berani bicara tidak sopan. Aku mau lihat apa kau masih bisa berbicara tidak sopan setelah mulutmu kusobek" kata Arya Sena langsung menyerang Wisesa dengan tinju kanannya.
Sedikit lagi tinju Arya Sena hampir mengenai Wisesa ....
Plak. . .
Arya Sena melotot lebar melihat tinjunya dapat ditangkis dengan mudah oleh Argadana. Tangannya yang berbenturan dengan Argadana terasa kebas.
"Kau lumayan berisi juga rupanya. Kalau begitu coba kau terima ini"
'Jurus Harimau Mencengkram Gunung'
Arya Sena menyerang ganas dengan cakar - cakarnya mengancam seluruh bagian vital dari tubuh lawannya.
Argadana hanya menghadapinya dengan 'Jurus Sembilan Langkah Ajaib' bergerak lemah sempoyongan sana - sini. Terkadang hampir rubuh seperti orang mabuk tetapi di saat sempoyongannya itu justru terdapat serangan tak terduga.
Sundulan kepala Argadana mengenai perut Arya Sena dengan telak membuatnya terdorong mundur dengan perut terasa mulas.
"Bangs4t. . ." maki Arya Sena yang merasa diremehkan dengan gaya gerakan musuh yang terlihat seperti orang mabuk.
Putra si Pengasuh Harimau itu langsung mencabut pedang yang tersampir di pinggangnya.
Srang. . .
Seketika sinar merah memancarkan hawa panas di sekitar tempat itu membuat para penonton menjauh dari tempat pertarungan mereka. Pedang yang digunakan Arya Sena adalah Pedang Wulung, pedang pusaka kebanggaan milik si Pengasuh Harimau sewaktu muda.
Sebagai anak bungsu dan merupakan anak kesayangannya Pengasuh Harimau tidak tanggung - tanggung memberikan pedang pusaka yang telah memakan banyak korban selama pengembaraannya di dunia persilatan dulu kepada putranya. Arya Wajra selalu memanjakan Arya Sena dengan memberikan apa saja yang diinginkannya dan hanya membiarkan saja jika ada orang persilatan yang datang dan mengeluhkan soal anaknya itu kepadanya. Sebagai hasilnya, Arya Sena tumbuh besar menjadi pribadi yang sombong karena senantiasa dimanja oleh ayahnya.
"Kau harus mati di tanganku, anak gunung. Hiaaatt. . ."
"Hati - hati, Argadana. Itu Pedang Wulung yang sangat berbahaya. Kalau bisa kusarankan agar kau menggunakan pusaka Cambuk Raja Naga. Pedang itu tidak ada apa - apanya dengan cambuk itu" kata Wisesa memperingati Argadana sebelum bergerak mundur menjauhi Argadana dan Arya Sena yang hendak bertarung serius.
"Baiklah, paman. Aku akan mencobanya. . ."
Argadana mengangkat tangannya tinggi - tinggi, mulutnya terlihat berkemak - kemik. Dia tengah memanggil pusaka Cambuk Raja Naga.
Tidak lama kemudian tiba - tiba muncul sebuah cambuk berbentuk seperti ekor ular memancarkan warna keemasan di dalam genggaman tangan Argadana.
Semua orang terkejut sekaligus juga takjub melihat keajaiban itu. Wisesa juga tidak terkecuali.
"Ternyata dia mempunyai ilmu aneh yang dapat menyimpan pusaka Cambuk Raja Naga di tempat yang tidak diketahui" kata Wisesa dalam hati. Maka kini yakinlah dia bahwa Argadana pernah belajar pada orang lain selain dari kedua orang tuanya, Sepasang Pendekar Naga.
'Jurus Cakar Maut Harimau'
Arya Sena menyerang Argadana dengan jurus mematikan. Argadana seperti melihat bayangan kaki depan seekor harimau hendak mencabik tubuhnya ketika pedang Arya Sena bergerak cepat menyerang bagian dadanya dengan tebasan miring.
Argadana dengan refleks menghindar ke samping sedikit jauh lalu mulai memutar - mutar Cambuk Raja Naga di atas kepalanya. Seketika angin kencang nan panas berhembus dari putaran Cambuk Raja Naga.
Argadana kini dikelilingi kobaran api yang besar dari putaran cambuk pusakanya membuat Arya Sena ragu - ragu memilih antara melanjutkan pertarungan atau menghentikannya begitu saja.
Anak manja itu merasa kepalang tanggung. Mau maju menyerang dia takut terbakar api, mau menghentikan pertarungan sudah terlanjur malu karena dianggap kalah dari anak seusianya yang dianggap anak gunung.
Akhirnya Arya Sena mendapatkan ide bagaimana cara menyerang Argadana dari jarak jauh yaitu dengan menggunakan ilmu 'Pukulan Harimau Maut'.
Arya Sena membentuk kuda - kuda tegak lurus, tangan kiri dan kaki kiri sejajar di depan. Sedangkan tangan kanan dan kaki kanan ditarik ke belakang. Mulut Arya Sena mulai komat - Kamit merapalkan mantra pembuka ilmu 'Pukulan Harimau Maut'.
Dikerahkannya seluruh tenaga dalamnya ke tangan kanan. Setelah tangan kanannya bergetar karena terisi tenaga dalam tinggi, segera tangan kanannya didorong kan ke depan ...
"Hiaaatt. . ."
Seberkas sinar hijau semburat melesat bagai kilat ke arah Argadana yang masih memutar - mutar cambuk pusakanya.
Melihat lawan menggunakan ilmu pukulannya Argadana Segera mengerahkan 'Jurus Sapuan Ekor Naga'.
Duarrr. . .!!!
Lecutan ujung Cambuk Raja Naga bertabrakan dengan sinar hijau dari Pukulan Harimau Maut' milik Arya Sena menimbulkan ledakan dahsyat mengguncang tempat tersebut.
Argadana hanya bergoyang - goyang saja tubuhnya akibat benturan tenaga dalam tadi, tetapi lain halnya dengan Arya Sena. Putra kesayangan Pengasuh Harimau itu terdorong sepuluh langkah. Pedang Wulung terlepas dari gengamannya ...
"Uhukkkk. . ."
Arya Sena batuk darah pertanda mengalami luka dalam akibat benturan tenaga dalam tadi.
"Oh tidak. Putraku..."
Melesat sesosok bayangan berwarna kuning yang berhenti tepat di belakang Arya Sena dan menahan saat Arya Sena hampir terjatuh.
Orang yang baru saja datang adalah si Pengasuh Harimau. Wajahnya dicat miring dengan warna hitam dan kuning. Rambutnya awut - awutan tidak terurus.
Melihat putra kesayangannya dibuat terluka oleh seseorang membuat marah orang yang bernama asli Arya Wajra itu. Raut wajahnya merah padam.
"Orang ini tampaknya cukup kuat. Walau tidak sekuat kedua guru, tapi tidak mudah untuk mengalahkannya" batin Argadana kemudian mengacungkan pusaka Cambuk Raja Naga tinggi - tinggi bersiap melawan Arya Wajra.
Arya Wajra atau si Pengasuh Harimau yang tengah bersiap memanggil seluruh harimau peliharaannya dengan 'Ajian Pemikat Harimau' segera menghentikan niatnya melihat cambuk berwarna keemasan di tangan Argadana. Wajahnya yang tadi memerah berubah pucat seketika. Tanpa sadar tengkuknya terasa dingin.
Masih terbayang kekalahannya dulu dari Dewi Obat yang membuatnya takut hingga kini. Dia ingat betul bahwa cambuk yang berada di tangan anak muda di hadapannya itu adalah cambuk yang dulu menjadi senjata andalan Anung Pramana, suami Dewi Obat.
"Cambuk Raja Naga" ucap Arya Wajra dengan suara bergetar. Seketika semua orang yang menyaksikan pertarungan secara diam - diam terkejut mendengar Arya Wajra menyebutkan nama cambuk di tangan Argadana itu.
"Cambuk Raja Naga? Bukankah itu adalah senjata andalan Pendekar Cambuk Naga, Anung Pramana"
"Iya, betul. Jangan - jangan dia murid Sepasang Pendekar Naga yang belakangan ini namanya mulai terkenal dengan gelar Ksatria Lembah Naga"
"Ahhh. . . Aku ingat sekarang. Sebulan yang lalu, aku menyaksikan sendiri pemuda itu yang bertarung bersama si Tangan Seribu dan berhasil membunuh Adipati Renggana yang ternyata adalah ketua Perkumpulan Pengemis Darah Hitam"
Seketika gegerlah semua orang di pasar itu. Ksatria Lembah Neraka yang selama ini hanya mereka dengar namanya tanpa tahu seperti apa orangnya kini hadir di hadapan mereka bahkan telah menunjukkan kebolehannya.
Plak. . .
"Aduh. . . Ayah, kenapa malah menamparku? Huuuu....huuu. . ."
Arya Sena mengasuh menangis setelah menerima tamparan dari ayahnya.
"Anak bodoh, tidak tau mencari mati. Kalau kau sudah bosan hidup, jangan ajak - ajak orang. Sekarang ayo pulang" bentak Arya Wajra.
Arya Sena lalu pergi bersama empat murid dan kusirnya dengan berjalan kaki karena harimau dan kuda - kuda tunggangan mereka hanya berbaring dan tidak mau bergerak sama sekali.
Setelah Arya Sena dan rombongannya tidak terlihat barulah Arya Wajra berbalik menoleh ke arah Argadana dan berbicara dengan nada yang dibuat sesopan mungkin.
"Anak muda. Hari ini adalah kesalahan putraku yang telah menyinggungmu. Itu karena orang tua ini terlalu memanjakannya. Tolong jangan dimasukkan ke hati, aku mewakili putraku untuk meminta maaf yang sebesar - besarnya kepadamu" kata Arya Wajra sambil menjura hormat.
"Ahh. . . Tidak perlu seformal itu, orang tua. Aku pun juga sebenarnya bersalah karena telah kelepasan tangan membunuh beberapa muridmu. Jadi tolong dimaafkan. . ." Argadana balas menjura.
"Baiklah, anak muda. Terimakasih atas pengertianmu. Aku pergi dulu, aku harus memberi pelajaran pada anak br3ngsek itu" Arya Wajra menutup kalimatnya lalu menjumput Pedang Wulung yang terjatuh di tanah dan melesat cepat menyusul Arya Sena beserta kusir dan murid - muridnya yang tersisa tanpa mempedulikan mayat muridnya yang lain.
"Uhukkk. . ."
Setelah Arya Wajra tidak lagi terlihat Argadana memuntahkan darah segar. Benturan tadi juga memang mengguncang organ dalamnya walau tidak separah Arya Sena.
"Argadana. . . Bagaimana keadaanmu?" tanya Wisesa khawatir.
"Aku tidak apa - apa, paman" kata Argadana setelah mengatur nafas untuk mengobati luka dalamnya.
"Aku terlalu meremehkannya, sehingga tidak meladeni pukulannya dengan sungguh - sungguh. Hari ini aku benar - benar mendapat pelajaran baru" desah Argadana.
Setelah pertarungan berakhir tidak ada lagi yang menghalangi jalan Argadana dan Wisesa. Pendekar kita lalu menoleh ke arah dua ekor harimau penarik kereta dan kuda - kuda tunggangan yang masih berbaring menghadapnya.
"Aku menerima sembah hormat kalian. Sekarang kalian pulanglah pada tuan kalian. Tetapi ingat, jika kalian mendapat perintah untuk melakukan kejahatan dan kerusakan maka tinggalkan tuan kalian"
Begitu selesai Argadana berkata terjadilah keanehan yang membuat mata orang - orang di sana terbelalak. Bahkan Wisesa pun melongo, mulutnya menganga terbuka lebar.
Harimau dan kuda - kuda tunggangan milik para murid Pengasuh Harimau itu seketika bangun dan berlari ke arah yang sama dengan arah yang ditempuh Arya Wajra dan rombongan Arya Sena.
"Kejutan apa lagi yang masih kau sembunyikan, Argadana?" batin Wisesa.
"Paman sedang melamun apa? Ayo, kita lanjutkan perjalanan"
Teguran Argadana menyadarkan Wisesa dari lamunannya.
"Ehhh. . . Iya, ayo kita pergi"