NovelToon NovelToon
MENIKAHI AYAH KEKASIHKU

MENIKAHI AYAH KEKASIHKU

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romantis / Tamat
Popularitas:5.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aysha Siti Akmal Ali

Laura gadis malang yang dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan seorang CEO yang sudah beristri dan juga sangat dingin.

Mampukah Laura bertahan disamping Tuan CEO? Atau kembali kepada cinta pertamanya, yang ternyata adalah anak dari Mr. Edward yang dingin itu?

"Pernikahan adalah hal yang suci dan aku akan bertahan walaupun kau terus menyakiti ku." Laura

"Kau hanya seorang selir bagiku, jadi jangan pernah berharap lebih dariku." Mr. Edward Sebastian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baju Couple

"Hukuman seperti apa yang patut mereka dapatkan, Laura? Bukankah selama ini mereka tidak pernah berbuat baik padamu?" ucap Tuan Edward,

"J-jangan, Tuan. Jangan hukum mereka. Biarkan saja mereka dan sebaiknya kita pulang." pinta ku.

Tuan Edward kini menatap lekat kedua mataku, sepertinya dia tidak suka mendengar jawaban dariku. Tapi itulah yang ada di benakku sekarang. Aku tidak ingin Tuan Edward menghukum mereka karena biar bagaimanapun, mereka adalah Ibu dan Adikku.

"Tuan, sebaiknya aku berkemas. Kita pulang sekarang, ya?!" bujuk ku, seraya bangkit dari tempat duduk.

Namun belum sempat melangkah, Tuan Edward menahan tanganku dan menyuruhku untuk duduk kembali. Akupun menurut saja, hingga akhirnya Tuan Edward kembali bicara.

"Eliza, kau bantu Laura mengemasi barang-barangnya!" perintah Tuan Edward,

Eliza menoleh kepada Mama, sepertinya ia ingin minta bantuan kepada Mama namun Bodyguard tidak membiarkannya. Salah seorang Bodyguard menyeret Eliza menuju kamarku.

Saat itu Mama juga bangkit dan ingin membantu Eliza, namun salah seorang Bodyguard lainnya, melarangnya dan menyuruhnya untuk duduk kembali. Dengan terpaksa, Mama pun kembali duduk di tempatnya semula.

Sekarang Tuan Edward menatap Mama dengan tatapan tajamnya. Mama bahkan tidak berani membalas tatapan Tuan Edward. Dia hanya diam sambil menundukkan kepalanya seraya meremas kedua tangannya.

Sejenak, ruangan itu menjadi hening. Tak ada seorangpun yang mengeluarkan suara, termasuk Tuan Edward. Hingga akhirnya Eliza kembali sambil menyeret koper ku. Eliza terisak sambil melangkah menghampiri kami. Entah apa yang dilakukan oleh Bodyguard itu kepada Eliza didalam sana.

"Ayo, Laura sayang... Kita pulang." ajak Tuan Edward seraya bangkit dari tempat duduknya sambil mengulurkan tangannya kepadaku.

Aku tersenyum melihat tingkah Tuan Edward yang begitu manis. Akupun menyambut uluran tangannya kemudian melangkah bersamanya menuju halaman depan dimana mobil Tuan Edward terparkir. Disusul oleh Lee dan Para Bodyguard serta Mama juga Eliza yang turut melangkah dibelakang para Bodyguard nya Tuan Edward.

Lee membukakan pintu untukku juga untuk Tuan Edward. Dan setelah kami masuk kedalam mobil, Lee segera melajukan mobilnya. Sedangkan Para Bodyguard itu masih tinggal dirumah Mama.

"Kenapa Para Bodyguard mu masih tinggal disana, Tuan?" tanyaku,

Tuan Edward hanya tersenyum tipis kemudian menarik tubuhku kedalam pelukannya. "Biarkan mereka memberikan pelajaran kepada kedua orang itu." sahut Tuan Edward seraya mengusap kepalaku dengan lembut.

Aku menoleh kepada Tuan Edward sambil memperhatikan wajahnya. "Tuan, tolong jangan sakiti keluargaku..." ucap ku, sambil memelas kepadanya.

Tuan Edward membalas tatapan ku, kemudian melabuhkan satu kecupan hangat di keningku.

"Kenapa kamu begitu mengkhawatirkan mereka? Mereka bahkan tidak pernah menganggap kehadiran mu, Laura." sahut Tuan Edward.

Aku mengalihkan tatapan ku, kemudian menyandarkan kepalaku ke dadanya sambil memeluk tubuhnya dengan erat.

"Karena biar bagaimanapun mereka adalah Ibu dan juga Adikku, Tuan. Aku menyayangi mereka..."

Tuan Edward terkekeh pelan. "Tenang saja, Laura Sayang. Mereka tidak akan kenapa-napa. Bodyguard ku hanya memberi mereka sedikit pelajaran agar mereka bisa bersikap baik lebih baik kepadamu."

Tuan Edward mempererat pelukannya kepadaku. "Laura, mulai sekarang bisakah kamu berhenti memanggil ku dengan sebutan Tuan?" sambung Tuan Edward,

Aku kembali menengadah kepadanya dan kini kami saling tatap. "Lalu aku harus memanggil mu apa, Tuan?"

Tuan Edward tersenyum lepas, terlihat sangat manis. "Sayang?!"

Owh, Tuan Edward semakin manis saja! Dia memintaku memanggilnya dengan sebutan Sayang. Tentu saja aku mau, itu artinya Tuan Edward benar-benar sudah menerima ku sebagai istrinya dan bukan selir.

Akupun mengangguk cepat. "Baik! Sayang..." ucap ku.

Tuan Edward kembali terkekeh pelan ketika aku memanggilnya Sayang. Setelah itu kamipun terdiam dan kembali menikmati pelukan kami sambil melepaskan kerinduan.

Untuk beberapa saat, kami masih betah dengan posisi seperti itu. Hingga akhirnya mataku tertuju pada sebuah pusat perbelanjaan terbesar dikota ini.

"Tuan Lee, berhenti!" ucap ku,

Lee pun segera menepikan mobilnya dan berhenti ditempat yang aman. Tuan Edward mengerutkan keningnya sambil menatapku.

Aku melepaskan pelukan ku kemudian menatapnya. "Sayang, bolehkah aku meminta sesuatu?" ucap ku seraya menatapnya lekat.

Tuan Edward nampak berpikir sambil membalas tatapan ku. "Katakanlah..."

Aku tersenyum, "Aku ingin mengunjungi tempat itu bersamamu." sahut ku seraya menunjuk Pusat Perbelanjaan itu.

Tuan Edward mengerutkan keningnya kemudian mengangguk pelan.

"Oh! Terimakasih, Tuan! Ehm, Sayang!" ucap ku seraya memeluk tubuhnya.

Lee kembali menghidupkan mobilnya kemudian melaju menuju tempat parkir Pusat Perbelanjaan itu. Setibanya ditempat parkir, Lee segera membukakan pintu untuk aku dan Tuan Edward. Sementara aku dan Tuan Edward mengunjungi tempat itu, Lee menunggu kami di mobil.

Aku menggandeng tangan Tuan Edward dan mengajaknya memasuki tempat itu. Aku ingin mengingat masa-masa ketika aku dan sahabat ku Mimi sering kali menghabiskan hari libur kami ditempat ini.

Walaupun belum gajian dan tidak bisa membeli apapun, cukup dengan melihat-lihat barang-barang yang terpanjang, itu sudah cukup membuat kami senang. Miris memang, tapi seperti itulah caraku dan Mimi menghabiskan waktu libur, daripada diam dirumah kemudian kena omelan oleh Mama dan juga Eliza.

Aku mengajak Tuan Edward mengitari tempat itu sambil terus memperhatikan ekspresi wajahnya. Wajahnya tetap dingin seperti biasanya walaupun sekarang ia sudah mulai terbiasa tersenyum tipis kepadaku.

Hingga akhirnya aku menghentikan langkah ku ketika melihat baju kaos couple berwarna putih bertuliskan MOM dan DAD yang tengah terpajang.

Aku tersenyum kepadanya dan Tuan Edward pun menoleh kearah ku. Sepertinya dia tahu kalau aku menginginkan baju couple itu.

"Tidak!" ucapnya,

"Owh, Ayolah Sayang... aku ingin itu untukmu dan aku..." bujuk ku sambil menahan tangannya yang ingin segera beranjak dari tempat itu.

"Aku bisa membelikan mu pakaian yang lebih bagus dari itu. Tapi..."

Tuan Edward menghentikan ucapannya ketika memperhatikan wajahku. Ya, aku memasang wajah murung sambil menatapnya.

Tuan Edward menghembuskan nafas kasar kemudian, "Baiklah, kita beli!" sahutnya ketus.

Aku kembali tersenyum kemudian mengambil baju itu dan membayarnya. Aku mengajak Tuan Edward ke ruang ganti untuk mengganti pakaian kami dengan baju couple itu.

"Tidak, Laura! Aku bukan anak muda seperti mu, apa kau tak lihat rambut putih ku yang sudah mulai tumbuh?!" ucap Tuan Edward sambil menekuk wajahnya.

Aku terkekeh ketika mendengar jawabannya. "Tidak apa-apa, Tuan ku sayang. Sekali-sekali, ya...!" bujuk ku.

Tuan Edward menatapku tajam kemudian meraih tubuhku kedalam pelukannya. "Baiklah, sekali ini saja!" sahutnya.

Akhirnya lelaki itu berhasil ku bujuk untuk mengenakan baju itu bersamaku.

Ah, dasar Tuan Edward! Disaat aku sedang mengganti pakaianku, dia sempat-sempatnya menggerayangi tubuhku sambil melabuhkan kecupan-kecupan kecil.

"Aku sangat merindukan mu, Laura..." ucapnya, sambil memperhatikan bayangan kami dicermin. Aku tersenyum kemudian berbalik kepadanya, "Akupun sama, Tuan ku Sayang..."

Tuan Edward mendekatkan wajahnya dan menautkan bibirnya. Untuk beberapa saat aku dan dirinya terhanyut didalam ruang ganti.

***

1
Dewi Pujiarso
GK jelas
nathalia
laura tolol sih emg naif bgt jd orang
Jetva
ya...klo di luar negeri..bayi prematur selain di inkubator..ada waktu juga buat sang ibu/ayah utk skin to skin alias menggendong bayi dgn bertelanjang dada walaupun sang bayi penuh dgn selang" penyambung hidup...krn dgn skin to skin suhu tubuh ayah/ibu akan membawa ketenangan pada bayi secara naluri..
vj'z tri
🥳🥳🥳🥳🥳
vj'z tri
kebuka sekarang kartu nya 🫢🫢🫢
vj'z tri
chelsea harus pake bahasa apa lahk bicara sama ni orang biar ngerti 🤨🤨🤨🤨 pusing pala Berbie pala Berbie auw auw auw 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
permisi Thor warga baru mau melapor 🤭🤭🤭
myscleoo
Luar biasa
Erina Munir
kok udh tamat aja sih thoor
Debby Feybe Mekutika
Luar biasa
janah bibah
Lumayan
꧁𓊈𒆜🅰🆁🅸🅴🆂𒆜𓊉꧂
👍👍👍
Nuraini Nuraini
Luar biasa
Dewi Zahra
penasaran kak
Bun Yian Cu Dumpit: kpn lanjut nya KK,, up trus lh KK author
total 1 replies
Dewi Zahra
lanjut kak
Dewi Zahra
semangat kak
Dewi Zahra
lanjut lagi
Dewi Zahra
semangat Rania
Dewi Zahra
sabar redra
Dewi Zahra
coba kalau Uda bersi pasti cantik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!