Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari kebenaran yang masih terpendam
Tidak selang lama setelah Pengawal Zhu Wan keluar dari ruangan kamar. Kaisar Xiao Chen bangkit dari tempat duduknya. Jubah luarnya ia kenakan sebelum berjalan menuju kearah ujung ruangan terdalam. Patung singa sebesar telapak tangan yang ada di rak pada ujung ruangan di tekan.
Kreekkkk...
Pintu rahasia terbuka.
Kaisar Xiao Chen melangkah menuruni tangga yang langsung menghubungkan jalur bawah tanah.
Pintu tertutup kembali.
Lilin-lilin yang ada di pinggiran lorong menyala terang. Menjadi cahaya penuntun pria yang tengah melangkah santai berjalan semakin dalam.
Di ujung lorong terdapat enam jalur berbeda. Kaisar Xiao Chen berjalan di jalur kedua dari kanan. Di ujung lorong itu terdapat ruangan khusus. Tempat barang-barang yang akan di gunakan Kaisar Xiao Chen untuk berganti berbagai identitas rahasia.
Jubah yang ia kenakan di lepas. Dia berganti dengan pakaian serba hitam untuk menyamarkan keberadaannya saat berada di kegelapan.
Dari arah pintu masuk, langkah kaki terdengar menggema berjalan kearahnya.
"Yang Mulia." Ketua utama prajurit pengawal bayangan memberikan hormatnya. Dia memberikan surat rahasia.
Kaisar Xiao Chen menggambil surat itu lalu membaca isi di dalamnya. "Lakukan pergerakan malam ini juga."
"Baik."
Kaisar Xiao Chen berjalan lebih dulu di ikuti Ketua utama prajurit pengawal bayangan. Mereka memilih jalur keempat dari kanan. Setelah berjalan hampir lima belas menit. Mereka berdua sampai di ujung lorong. Bagian dinding di ujung lorong bagian kiri di tekan.
Krekkkk...
Pintu batu besar terbuka. Angin kencang bertiup kuat kearah mereka berdua. Kini di hadapan mereka kegelapan menyelimuti setiap tempat tanpa terkecuali. Pepohonan rimbun menjulang tinggi menutupi setiap jalur yang akan mereka lewati.
"Yang Mulia," ujar serentak semua prajurit bayangan yang telah menunggu di luar jalur lorong.
"Bergerak," ujar Kaisar Xiao Chen.
"Baik."
Salah satu prajurit membawa kuda terbaik untuk Kaisar Xiao Chen.
Setelah kekang kuda berada di genggaman tangannya. Kaisar Xiao Chen dengan cepat melompat naik ke atas kuda miliknya.
Semua prajurit bayangan yang ada dalam kendalinya. Juga ikut menaiki kuda masing-masing.
Ciahhhh...
Satu hentakkan cukup kuat dari kekang kuda. Membuat kuda melaju kencang menembus kegelapan malam. Hutan lebat di belakang istana kekaisaran menjadi jalur rahasia. Yang selalu di gunakan untuk memulai aksinya.
...~~~...
Di malam yang sama.
Di salah satu kediaman yang berada di pinggiran Ibu Kota bagian selatan. Terdapat delapan halaman luas dengan puluhan ruangan di dalamnya.
Ruangan yang terdapat di halaman tengah memiliki penjagaan yang jauh lebih ketat. Dari arah luar seorang pria berjalan cepat.
Tokkk...
"Raja kecil."
"Masuk." Suara dari dalam terdengar lembut.
Pria di luar segera masuk ke dalam ruangan kamar. "Raja kecil." Memberikan hormatnya.
Pria usia tiga puluh tahunan duduk diam di kursi yang berada di samping ruangan bagian kanan. Kilatan pedang yang ada di tangannya menunjukkan jika pedang di asah dengan sangat baik. Ujung pedang di seka dengan sapu tangan hitam pekat. Gerakkan tangannya terhenti di saat suara samar tertangkap pendengarannya. "Bersiap." Bangkit dari tempat duduknya. "Tamu tidak di undang telah datang." Suara lembutnya itu terdengar penuh tekanan.
"Baik."
Drakkkk...
Langkah kaki dari ratusan orang terdengar tanpa henti berlarian di atas kediaman itu. Bahkan di luar sudah banyak pasukan misterius yang mengepung.
Raja kecil Xiao Jinhai berjalan keluar dari ruangan kerjanya. Pedang yang ada di genggaman tangannya di remas kuat. Pandangan matanya menatap semua orang yang telah mengepung kediaman pribadinya.
Dreeee...
Dua ratus lebih prajurit yang ada di bawah kendalinya telah siap untuk melakukan pertempuran di malam itu.
Tatapan Raja kecil Xiao Jinhai sangat tenang. "Aku sudah cukup lama menunggu mu."
Salah satu pria bertopeng yang ada di atas atap kediaman bertanya. "Raja kecil, apa kau tahu penyebab kematian Pangeran Ning Qing?"
"Tidak tahu." Raja kecil Xiao Jinhai menjawab tanpa ragu. Dalam batinnya dia dapat pastikan jika pria bertopeng yang bertanya adalah ketua utamanya. Karena ukiran topeng yang ia kenakan berbeda dan memiliki keunikan tersendiri.
"Sepuluh tahun yang lalu. Jenderal tinggi Yu Wang menahan pasukannya untuk beberapa waktu. Sehingga mengakibatkan seluruh pasukan Pangeran Ning Qing tidak mendapatkan bantuan tepat waktu. Pembantaian pasukan elit Shaiming hampir meruntuhkan Kekaisaran. Sedangkan kau dan Jenderal tinggi Yu mendapat keuntungan dari runtuhnya kekuasaan Pangeran Ning Qing setelahnya. Raja kecil, apa semua yang aku katakan bukanlah kebenarannya?" Ujar pria yang ada di atas atap kediaman itu.
Raja kecil Xiao Jinhai hanya diam. Tidak lagi memberikan jawaban yang di minta.
"Apakah di saat pedang ku telah berada di leher mu. Kau baru akan mengatakan kebenarannya!" Pedang di tarik dari sarungnya. "Tangkap dia hidup-hidup." Teriak pria di balik topeng.
"Baik."
Prajurit bayangan terbang turun dari atas atap kediaman dengan peringan tubuh.
Sreenggg...
Pedang di tangan Raja kecil Xiao Jinhai di keluarkan. Dia berjalan tenang membuat perlindungan untuk dirinya.
Treenggg...
Sreettt...
Darah mengalir seperti genangan air di setiap langkah Raja kecil Xiao Jinhai. Dan ketua utama kelompok misterius yang datang untuk mencari kebenaran.
Dari segala arah suara pedang saling bersinggungan terdengar tanpa henti. Nyawa prajurit berjatuhan membuat jalur darah yang mengerikan.
Dan setelah hampir satu jam pertempuran terus di lakukan.
"Berhenti." Raja kecil Xiao Jinhai tidak berani melakukan pergerakan lagi. Karena pedang lawannya telah menekan lehernya cukup kuat. Pria di hadapannya menatap tajam dan dingin. "Sekalipun kau membunuh ku malam ini. Aku tidak akan pernah mengatakan kebenaran yang kau inginkan. Jika kau mau, kau bisa mencarinya sendiri." Memejamkan kedua matanya. Dia tidak lagi melawan.
Tangan pria bertopeng itu bergetar di saat dia mencoba menahan hasratnya. Untuk membunuh pria di depannya. "Mundur." Teriaknya kuat menekan amarah dalam dirinya.
"Baik."
Semua pasukan yang tersisa segera pergi dari kediaman Raja kecil Xiao Jinhai.
Kediaman yang damai itu kini berubah menjadi penuh mayat dan genangan darah segar.
Semua pasukan misterius itu berlari masuk ke dalam hutan. Di sana lah mereka menempatkan kuda-kuda yang mereka gunakan untuk menempuh perjalanan selama satu jam.
Topeng di lepaskan. Wajah di balik topeng itu tidak lain adalah Kaisar Xiao Chen. Pria yang telah mengejar kebenaran untuk pamannya. Yang merupakan Pangeran ke delapan Ning Qing. Satu-satunya keturunan yang tersisa dari Kekaisaran sebelumnya. "Kembali ke istana."
"Baik."
"Ciahhhh..."
Kekang kuda di hentakkan kembali. Melaju kencang menembus rintik hujan di tengah hutan belantara di pinggiran Ibu Kota.
Sebelum matahari terbit, Kaisar Xiao Chen telah berada di dalam ruangan rahasia di bawah istananya. Dia mandi dengan air dingin untuk menghilangkan bau darah yang terlalu melekat kuat di tubuhnya. Setelah beres dia keluar dari pintu rahasia di dalam kamarnya.
Langkahnya cukup pelan. Bukan karena dia takut membangunkan wanita yang masih tertidur lelap. Tapi pikirannya terus menjelajah di malam itu. Pada saat kabar kekalahan pamannya ia dengar.
Di dalam tenda yang masih dengan penjagaan ketat. Kaisar Xiao Chen yang di saat itu masih menjadi Pangeran kedua belas. Harus menghadapi hidup dan mati. Di saat pamannya yang selalu membawa dirinya menjelajah seluruh negeri. Menghadapi kekalahan mengenaskan.
"Pangeran kedua belas. Kita harus segera pergi. Jenderal besar telah kalah dalam pertempuran. Sebentar lagi markas pasukan elit Shaiming pasti akan di ambil alih pasukan musuh. Jika anda tidak segera pergi, hidup anda dalam bahaya." Jenderal Enlai mencoba meyakinkan Pangeran kedua belas Xiao Chen.
"Jika kau terus mencoba menghalangi ku untuk pergi berperang. Pedang di tangan ku ini yang akan terlebih dulu membunuh mu." Tegas pemuda yang baru berusia tujuh belas tahun itu.
Jenderal Enlai langsung berlutut. "Pangeran kedua belas. Tugas ku adalah menjaga keselamatan mu. Dan ini adalah perintah terakhir yang di berikan Jenderal besar untuk ku."
Tubuh yang awalnya berdiri tegap itu seketika ambruk di lantai yang sangat dingin. "Apa yang kau lakukan?" Menatap penuh amarah. "Enlai, aku harus membantu peperangan." Pangeran kedua belas mencoba bangkit namun obat pelemas otot tidak lagi bisa membuatnya bangkit.
Jenderal Enlai bangkit dengan tatapan penuh kesedihan dan ketidakberdayaan. "Menjaga keselamatan anda adalah bagian utama dari tugas saya. Saya harap Pangeran dapat mengerti. Setelah anda selamat. Saya akan menghukum diri saya sendiri dengan kematian." Dia menggendong Pangeran kedua belas Xiao Chen di atas punggung kerasnya. "Semua pasukan yang tersisa. Ikuti aku meninggalkan markas utama. Ini adalah bagian dari perintah terakhir Jenderal besar Ning Qing."
"Baik," jawab serentak dua ratus pasukan yang tersisa.
Dari tiga ratus ribu pasukan elit Shaiming. Hanya tinggal dua ratus lebih pasukan yang tersisa. Dan semua pasukan lainnya telah meninggal di dalam pertempuran hari itu.
Di hari itu juga, pasukan musuh benar-benar telah berhasil mendapatkan markas utama pasukan elit Shaiming. Sedangkan Pangeran kedua belas Xiao Chen telah berhasil melarikan diri.
Karena pelarian yang tidak pernah ia atur atau pun ia rencanakan. Telah membuat rasa bersalah tertanam dalam dan sulit untuk di hilangkan.
Kebencian perlahan menumpuk untuk wanita yang tidak pernah ikut terlibat di dalamnya. Namun ikut terseret karena ikatan darah yang terlalu erat mengalir di dalam dirinya.
Bau dua wewangian yang telah tercampur obat tidur di buang.
Satu jam setelah itu Selir Yu terbangun dari tidurnya. "Aaaa..." Merenggangkan tubuhnya. Dia membuka kedua matanya dan mendapati selimut tebal telah menghangatkan dirinya. Dia duduk perlahan sembari mencari keberadaan orang yang ingin ia temukan. "Kau tidak tidur semalaman?"
Wanita itu melihat kearah pria yang tengah duduk di kursi kerjanya. Tumpukan dokumen yang memenuhi mejanya hampir setinggi pria itu. Satu demi satu dokumen di buka lalu di baca setiap detail yang tertulis di dalamnya.
"Aku sudah meminta pelayan menyiapkan air hangat juga gaun baru," ujar Kaisar. Xiao Chen tanpa menoleh kearah wanita yang masih menatap dirinya.
Tanpa memakai alas kaki, Selir Yu berlari menuju kearah pintu yang langsung menghubungkan kamar mandi.
semangat dan sehat terus kak 🤲
thanks Thor, lanjut