NovelToon NovelToon
DENDAM SANG TERKHIANATI

DENDAM SANG TERKHIANATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Uswatun Kh@

Kala Azure adalah seorang kapten agen rahasia legendaris yang ditakuti musuh dan dihormati.

Namun, karier cemerlangnya berakhir tragis, saat menjalankan operasi penting, ia dikhianati oleh orang terdekatnya dan terbunuh secara mengenaskan, membawa serta dendam yang membara.

Ajaibnya, Kala tiba-tiba terbangun dan mendapati jiwanya berada dalam tubuh Keira, seorang siswi SMA yang lemah dan merupakan korban bullying kronis di sekolahnya.

Berbekal keahlian agen rahasia yang tak tertandingi, Kala segera beradaptasi dengan identitas barunya. Ia mulai membersihkan lingkungan Keira, dengan cepat mengatasi para pembuli dan secara bertahap membasmi jaringan kriminal mafia yang ternyata menyusup dan beroperasi di sekolah-sekolah.

Namun, tujuan utamanya tetap pembalasan. Saat Kala menyelidiki kematiannya, ia menemukan kaitan yang mengejutkan, para pengkhianat yang membunuhnya ternyata merupakan bagian dari faksi penjahat yang selama ini menjadi target perburuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ardan Yang Bingung Dengan Hatinya

Frans menggeram, mencoba melawan rasa takutnya. "Siapa pun kau, kau bukan dia! Mati kau!" teriaknya histeris. Jarinya mulai menarik pelatuk, siap melepaskan peluru ke arah dada Keira.

Namun, di saat maut tinggal sepersekian detik, deru mesin motor sport yang jauh lebih bertenaga membelah keheningan.

Ardan, cowok paling dingin dan misterius di sekolah Keira, melesat bagaikan bayangan hitam.

Sejak di jalanan kota tadi, ia tak sengaja melihat wajah Keira saat tudung hoodie-nya tersingkap angin. Rasa penasaran yang besar membawanya untuk mengikutinya.

Melihat Keira terpojok di depan senjata, Ardan bertindak cepat tanpa menghentikan motornya. Sambil memacu kendaraannya, ia melepas helm full-face miliknya dan melemparkannya dengan kekuatan penuh ke arah Frans.

Prakk!

Helm itu menghantam tangan Frans dengan telak tepat saat peluru dilepaskan.

DOR!

Peluru itu melesat melenceng, hanya menyambar udara kosong di samping telinga Keira.

Keira tidak menyia-nyiakan celah sempit itu. Memanfaatkan kelengahan Frans yang kesakitan, ia melesat maju dengan kecepatan yang bahkan sulit ditangkap mata manusia biasa. Dengan satu lompatan kecil, ia melayangkan tendangan spinning hook kick tepat ke arah rahang Frans.

TAK!

Suara benturan tulang yang keras bergema di pinggir tebing. Tubuh Frans terpelanting ke belakang, menghantam kap mobilnya sendiri sebelum akhirnya merosot ke aspal dalam keadaan tak sadarkan diri.

Napas Keira terengah-engah. Ia segera berbalik dan berlari menghampiri Mamoto yang tergeletak lemah. "Pak Tua Ma! Bertahanlah!" bisiknya penuh kecemasan.

Sementara itu, Ardan menghentikan motornya beberapa meter dari mereka. Ia turun dengan tenang, membiarkan rambutnya berantakan tertiup angin malam.

Matanya yang dingin kini menatap tajam ke arah Keira. Ia melihat gadis pendiam di sekolahnya itu baru saja melakukan gerakan bela diri tingkat tinggi yang tidak mungkin dipelajari siswi seusianya.

"Jadi ..." Ardan bersuara, memecah kesunyian malam. "Ini alasan kenapa lo selalu terlihat percaya diri, Keira? Atau gue harus memanggilmu dengan nama lain?"

Keira membeku. Ia masih memeluk tubuh Mamoto yang bersimbah darah, namun perlahan ia menoleh ke arah Ardan. Di bawah rembulan, identitas aslinya terasa semakin sulit untuk disembunyikan.

Keira menatap Ardan dengan sorot mata yang sulit dibaca. Di satu sisi, ia waspada, namun di sisi lain, ia butuh bantuan cepat untuk menyelamatkan Mamoto.

"Ardan, aku gak punya waktu untuk menjelaskan. Tolong, rahasiakan semua yang kau lihat malam ini. Jangan pernah katakan pada siapapun kalau aku ada di sini," ucap Keira cepat. Ia kembali menoleh ke arah Mamoto yang mulai kehilangan kesadaran.

"Aku hanya kebetulan lewat dan melihat Pak Tua ini dikeroyok. Aku harus menolongnya."

Ardan hanya menaikkan satu alisnya, menatap tubuh-tubuh anggota Dorion yang terkapar mengenaskan.

Kebetulan yang sangat profesional, batinnya sinis. Namun, melihat keseriusan di mata Keira, Ardan hanya mengangguk singkat. "Aku tidak suka berurusan dengan polisi, tapi aku akan mengikuti permainanmu ... untuk saat ini."

"Bawa dia ke klinik tersembunyi di alamat yang akan kukirimkan. Aku akan mengikutimu dari belakang," perintah Keira pada sopir pengganti yang di hubunginya.

Ardan membantu mengangkat tubuh Mamoto ke dalam mobil milik pelayan itu sendiri. Keira segera menghubungi polisi melalui ponsel sekali pakai yang ia ambil dari salah satu anak buah Frans.

Dengan suara yang dibuat panik, ia melaporkan adanya pengeroyokan bersenjata di pinggir jurang, lalu memutus sambungan sebelum bisa dilacak.

Setelah itu, Keira segera menaiki motor tuanya mengikuti mobil Mamoto.

Sementara Ardan dengan cekatan menghapus sisa-sisa jejak yang bisa menghubungkan Keira dengan lokasi itu.

Di tempat kejadian, Ardan justru terduduk di atas motor sport-nya, menunggu sirine polisi yang mulai terdengar di kejauhan. Ia memijat pelipisnya, merasa konyol.

"Kenapa gue nurut saja padanya?" gumam Ardan pada dirinya sendiri. "Dan kenapa gue malah bantu dia hapus semua sidik jarinya, sementara dia pergi begitu aja?"

Ardan tahu, Keira yang ia lihat malam ini bukanlah gadis pendiam seperti gadis kebanyakan. Ada rahasia besar di balik hoodie abu-abu itu, dan entah mengapa, Ardan merasa dirinya baru saja terseret ke dalam badai yang sangat berbahaya.

Sirine polisi membelah kesunyian malam di pinggir tebing. Beberapa mobil patroli berhenti dengan lampu rotator yang menyilaukan. Ardan tetap tenang di posisinya, menyandarkan tubuh di motornya sambil menunggu petugas mendekat.

Dari mobil terdepan, seorang pria bertubuh tegap dengan seragam perwira melangkah keluar. Begitu melihat sosok remaja yang berdiri di sana, langkahnya terhenti. Matanya membelalak tak percaya.

"Ardan? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria itu dengan nada tegas sekaligus khawatir.

Ardan mendongak pelan. "Ha ... lo, Kak Victor."

Victor adalah kakak kandung Ardan, seorang Kapten polisi yang baru saja dipindahkan ke unit kejahatan kekerasan.

Victor segera mendekati adiknya, memeriksa apakah ada luka di tubuh Ardan, lalu menatap ngeri ke arah tiga pria yang tergeletak tak sadarkan diri dengan luka-luka yang mengerikan.

"Jelaskan padaku, sekarang. Apa yang terjadi?" tuntut Victor sambil memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengamankan lokasi dan menyita senjata api milik Frans.

Ardan menarik napas panjang, mengingat instruksi Keira. "Aku sedang mencari angin malam saat melihat mobil orang-orang ini memepet mobil seorang kakek tua. Mereka menyeretnya keluar dan menghajarnya habis-habisan."

Victor menyipitkan mata. "Lalu? Jangan katakan kau yang melakukan semua ini pada mereka? Luka-luka ini ... ini bukan hasil perkelahian anak sekolah, Ardan."

Ardan berbohong dengan wajah datar andalannya. "Tentu saja bukan aku. Walau aku bisa bela diri tapi aku gak mungkin berurusan dengan mereka. Ada orang lain seorang pengendara motor misterius yang memakai hoodie. Dia bergerak sangat cepat, menghajar mereka dalam hitungan detik. Aku hanya membantu mengalihkan perhatian salah satu dari mereka yang memegang pistol."

Ardan menjeda sejenak, menunjuk ke arah jalan yang dilalui mobil Mamoto tadi. "Korban luka parah, kepalanya berdarah. Karena takut polisi terlambat sampai, aku menyuruh seseorang yang lewat untuk segera membawa korban ke rumah sakit terdekat. Aku tetap di sini untuk memastikan orang-orang ini tidak melarikan diri."

Victor menatap adiknya dengan selidik, mencoba mencari celah kebohongan. Namun, Ardan tetap tenang. Victor kemudian melihat helm Ardan yang hancur di dekat Frans, memvalidasi cerita Ardan bahwa ia sempat terlibat.

"Kau gila, Ardan. Ini sindikat bersenjata," desis Victor sambil menepuk bahu adiknya.

"Tapi ... berkat laporanmu, kita mungkin bisa mengungkap siapa mereka. Pulanglah, biar Kakak yang urus sisa kekacauan ini. Dan jangan pernah beritahu Ibu kau ada di lokasi kejadian seperti ini."

Ardan mengangguk singkat, memakai kembali helm cadangan yang ia ambil dari tas motornya. Saat ia menyalakan mesin motor, pikirannya justru melayang pada Keira.

Ternyata tidak sulit berbohong demi melindunginya, batin Ardan. Sekarang, tinggal aku yang akan menagih penjelasan padanya besok pagi.

1
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
SI bapak baru ngeuh klo Keira nya berubah
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
waduh makin tegang, keira harus jujur sama papa Marvin
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
wah hebat juga frans, pasti frans curiga waktu keira keluarin jurus Combatnya
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
meilan memang harus di beri pelajaran, aq kira meilan sdh sadar trnyata belum
Dew666
🍭🍭🍭🍭
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
pasti ada dendam kesumat nih si zero sm ardan 🤔
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
Di KO kan, makanya jangan sok jagoan jadi cowok 😏
Dew666
🔮🔮🔮🔮
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅕🅗🅐🅝ˢ⍣⃟ₛ§𝆺𝅥⃝©🦐
ehh kenapa sma ayahnya Keira?
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
waduh ada apa sama ayah keira jangan bilang ada turut campur orion
Dew666
💜💜💜
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
makin seru thor ceritanya🫶
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🅕🅗🅐🅝ˢ⍣⃟ₛ§𝆺𝅥⃝©🦐
mampus kmu orion
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
maaf kak sibuk banget kemarin.. dan gak punya tabungan bab🤧
Dew666
Tumben up cuma 1 thor?
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Dew666
🍦🍦🍦🍦🍦
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
ayoo kei saatnya beraksi, musnahkan semuanya babat habis lah
ɑׁׅ݊ꪀꫀׁׅܻ݊tׁׅɑׁׅ
Depinisi keluar dari kandang macan masuk ke kandang singa kamu kei, niat hati pindah sekolah pengen yang lebih baik eh malah tambah parah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!