NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Romansa-Percintaan bebas / Fantasi / Tamat
Popularitas:169.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Yani Wi

Untuk pertama kalinya Laras belajar bekerja dengan orang lain dan jatuh cinta di rumah besar itu setelah menuruti kemauan kedua orang tuanya.

Di situ ia hanya akrab dengan Vano saja teman mainnya sedari kecil, sedangkan Vim adalah kakak lelaki Vano yang kelak memberi perubahan pada Laras.

Ujian cinta dan kehidupan membuat Laras menjadi wanita yang tidak mau pasrah dengan keadaan.


Nama, cerita dan tempat tidak berhubungan dengan siapapun.


Ini adalah karya kedua.
Jangan lupa baca novel receh yang pertama Semburat Jingga ya.


Sekali lagi senang bisa menyalurkan hobi di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yani Wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Perhatian Vim.

"Kau masih memikirkan yang tadi?" Pertanyaan meluncur dari bibir Vim. Laras tidak menghiraukan pertanyaan itu. Kesedihan Laras adalah pukulan untuknya.

"Laras."

"Hmmm."

"Laras, lihat aku."

Laras menoleh sekilas. Mengacuh

kan Vim lagi. Besok adalah ulang tahunnya, tapi hari ini sesuatu telah membuatnya kesal. Merusak suasana hatinya. Harusnya Vim sadar kalau ia tidak setuju Aurora masih saja bisa bertemu Vim.

"Laras!" Vim mencegat langkah Laras. Laras mengambil langkah ke kanan, Vim menghalangi lagi. Ke kiri, dihalangi juga. Laras semakin kesal. Lebih baik bagi Laras berdiam diri dari pada mengeluarkan seluruh isi hatinya pada Vim.

"Kau mengacuhkanku Laras."

"Aku kesal." Laras akhirnya tidak bisa menahan ucapannya. Keberadaan Aurora di kantor Vim benar-benar mengganggu ketenangannya. Mengusik ketentramannya. Aurora yang pernah namanya disebut Vim dalam tidur.

"Karena Aurora?"

"Sudah tahu kenapa mas tanya?"

"Sayang dia bekerja sementara saja. Jangan marah lagi ya." Vim berusaha memujuk Laras.

"Mana senyummu?" Vim tetap menahan Laras. Sudah berhasil membuat menggiring Laras merapat di dinding sebelah tualet. Laras terkunci oleh lengan Vim. Senjata Vim untuk menguasai Laras.

Gawat kalau Laras marah sampai nanti malam. Bisa-bisa aku diacuhkan sampai pagi.

Sungguh menyiksa batin.

"Awas mas aku mau istirahat."

"Aku tidak minggir kalau kau belum tersenyum." Sorot mata Vim tepat di manik mata Laras. Laras menghindari tatapan yang mendebarkan hatinya itu.

"Aku akan tersenyum jika mas berjanji."

"Janji apa. Katakan."

Vim tak mau menyerah. Dia mengikuti kemauan Laras. Barangkali Laras bisa bersikap lunak setelah ini.

"Mengeluarkan Aurora dari kantor."

"Itu mudah saja sayang. Apapun maumu. Cuma.."

"Cuma apa??"

"Berikan waktu."

"Mengapa tidak sekarang. Mas masih berat melepaskannya?"

"Laras bukan begitu! Aku hanya perlu waktu sampai Dion menemukan pekerjaan untuknya."

"Berapa lama itu mas?"

Laras mencoba lolos dari bawah lengan kiri Vim tetapi sia-sia. Vim merapatkan tubuhnya ke hadapan Laras. Dada Laras kini bisa dirasakan oleh Vim. Vim tersenyum penuh kemenangan.

"Tersenyum dulu untukku. Akan kuberikan jawaban." Bisik Vim.

Hembusan nafasnya menyentuh telinga Laras. Menyalurkan aliran hangat. Bisa ditebak Vim sedang bernafsu pada Laras.

"Ya sudah. Aku yang menentukan saja. Setelah bulan ini dia tidak bekerja di situ lagi."

"Jika belum ada lowongan?"

"Terserah dia. Itu urusannya. Bisa kan mas?"

"Baiklah. Baiklah." Vim mengalah jua. Yang penting Laras tidak merajuk. Laras bersorak dalam hati. Saingannya itu akan hengkang dari kantor Vim. Senyum lebar mengembang dari wajahnya.

"Dan kalau bisa secepatnya dia pindah kerja, akan lebih baik. Sekarang mas lepaskan aku ya." Laras mencoba membuka kungkungan lengan Vim pada tubuhnya tapi tidak berhasil. Tangan Vim begitu kokoh untuk dikalahkan.

"Tidak begitu saja. Berikan aku sentuhan sayang, sepenuh hatimu dulu." Vim menggelengkan kepala.

Hmmm apalagi ini.

"Dengar sayang. Apa mas tidak ingin istirahat. Sedari tadi kita begini terus."

Jemari Laras mengusap lembut wajah Vim. Perlahan penuh perasaan. Tatapannya lekat pada Vim tanpa mengedip. Sebenarnya Laras itu cinta dan sayang sekali sama Vim. Hanya emosi sesaat sering menguasai dirinya terlebih bila mengetahui wanita lain berada di dekat Vim.

"Bukan sentuhan itu yang kumaksud. Di sini." Vim menunjuk Bibirnya.

"Lakukan." Pinta Vim.

Laras mendekatkan wajahnya ke wajah Vim. Terus mendekat lagi hingga bibir mereka bersentuhan. Sebelum Laras mengakhirinya, Vim terlanjur menggapai leher Laras. Sulit bagi Laras melepaskan diri. Belaian Vim di bagian-bagian tertentu tubuhnya membuat Laras lupa diri. Vim sangat lihai mencumbunya. Mereka berdua terhanyut dalam gelora asmara. Pergelutan asmara berakhir di atas pembaringan mereka.

...🌾🌾🌾...

Mentari mulai menyapa pagi. Laras memulai aktivitas nya lebih awal. Mencuci pakaian, membilas dan mengeringkan lalu menyiapkan sarapan pagi. Jika Vim telah berangkat kerja, Laras merapikan kamarnya sebelum memulai kegiatan lain. Berhubung hari libur Vim akan di rumah saja hari ini.

Ruangan kamarnya adalah wewenangnya. Bibi kebagian bertugas membersihkan rumah dan memasak jika Laras mengejar tenggat tugas kuliah.

"Apa yang kau lakukan?" Sapa Vim mengejutkan Laras. Vim menyipitkan matanya menghindari bias sinar matahari di kaca. Belokan sinar itu tepat mengenai ranjang tempat Vim berbaring.

"Ooh mas sudah bangun. Aku menyingkap gorden ini mas. Mas terganggu ya."

"Tidak sama sekali. Mendekatlah padaku."

"Bangunlah mas. Mandi ya?"

"Tunggu dulu." Vim menahan Laras dengan tangannya.

Laras duduk di sisi bed. Vim memeluk sebagian pinggang Laras.

"Selamat ulang tahun sayang."

Vim mendudukkan dirinya sejajar dengan Laras. Mengecup kening Laras hati-hati lalu memeluknya erat. Haru biru memenuhi relung hati Laras. Usianya kini bertambah hitungan. Telah tiba waktunya untuk Laras mulai belajar dewasa sedikit demi sedikit.

"Terima kasih sayang." Laras mulai terisak.

"Kok nangis sih. Jangan menangis. Laras, kau tak boleh menangis hari ini. Hei..Kau harus bahagia. Simpan air matamu."

Vim mengusap air mata Laras.

"Aku bahagia mas. Aku bahagia atas semua yang mas berikan padaku. Terima kasih untuk semuanya."

"Iya. Berhentilah menangis."

Vim mengusap lagi air mata Laras. Kelemahannya adalah melihat air mata Laras. Ia takkan sanggup melihat Laras menangis di depannya meskipun menangis bahagia. Vim membelai rambut Laras dan membenamkan wajah Laras di dadanÀaya yang bidang. Memberi penghiburan pada Laras.

"Seharian ini kau tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah. Kita makan di luar ya. Untuk Pak Uun dan Bibi kita bungkuskan saja. Aku sudah meminta Pak Uun membersihkan dua kamar untuk mami, papi, bapak dan ibu."

"Mami dan papi mau datang? Lalu ayah, ibu juga?" Laras merasa mendapat kejutan. Hatinya senang bukan main.

"Ehmm..Aku mengundang mereka datang. Aku juga sudah memesan menu untuk barbeque, Laras. Khusus di hari ulang tahunmu."

"Ooh mas terima kasih sayang!"

Kasih sayang Vim pada Laras tumpah ruah. Tiada alasan bagi Laras untuk mencari yang lain. Tidak sedetikpun ia pernah memikirkan itu.

Kedua tangan Laras melingkar di pundak Vim. Satu kecupan bahagia singgah di bibir Vim.

Kecupan dan kecupan. Selalu.

Mereka memang selalu mengumbar kemesraan.

Laras berpikir sejenak.

"Apa yang harus kusiapkan. Aku belum membeli apa-apa mas. Buah-buahan, juga cemilan ataupun kue-kue."

"Tenanglah. Bibi Am sudah berbelanja. Mami akan membawa tumpeng dari rumah."

"Benarkah? Mas tidak melibatkanku berbelanja."

"Laras ini adalah harimu. Aku tidak mau kau sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk malam nanti."

"Apakah mas mengundang orang lain?"

"Tentu tetapi hanya teman-teman kita saja. Tidak apa bukan?"

"Tidak masalah mas. Aku ikut saja." Bibir Laras membentuk lengkungan senyum yang sangat manis. Senyuman yang memabukkan Vim selama ini.

Beberapa jam kemudian Vim mengajak Laras menemui salah satu desainer di kota mereka. Vim minta direkomendasikan tiga busana wanita untuk dipilih oleh Laras. Untuk itulah Vim mengajak Laras ke sana.

"Mas sebenarnya pakaianku yang bagus banyak sekali. Sepertinya tidak perlu membeli lagi."

"Ini hari khusus buatmu Laras. Semua baju itu sudah pernah kau pakai."

Mereka tiba di tempat yang dituju. Disambut dengan sangat ramah oleh pemilik yaitu sang desainer.

"Nona Laras bisa memilih yang mana suka. Dua warna gelap satu satu warna pastel." Ucap desainer menawarkan.

Laras menoleh pada Vim. Vim mengerti Laras meminta pendapatnya. Vim mengedikkan bahu.

"Aku suka warna pastel mas."

Vim sudah mengira Laras akan memilih warna tersebut. Laras kurang menyukai warna gelap. Kata Laras akan membuat tubuhnya tambah mungil. Vim mengingat apa yang pernah dikatakan oleh Laras.

"Terserah."

Desainer menerima busana dari tangan Laras dan memberikan kepada pekerjanya untuk membungkus busana tersebut dengan baik.

"Kau boleh memilih lagi Laras."

"Itu sudah cukup mas."

"Yakin?"

"Iya."

Busana pesta itu telah diberikan lagi kepada Laras. Desainer mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua atas kedatangan mereka. Laras dan Vim berlalu dari sana.

🌹🌹🌹🌹🌹

Jangan lupa tinggalkan jejak di sini..😍

1
ManaManaSandar
mcm jadi bahan taruhan pula
Lies Atikah
semoga aja si pim masih waras dan bukan penyuka barang bekas apa lagi orang yang pernah menyakitinya ih geuleuh kalau sampai gitu awas aja thor
Sri Nurdiantari
romantis... lanjut dong
R.F
2like hadir kk
Reo Ruari Onsiwasi
romantis ya. mawarnya ditabur berbentuk love segala😷😷😷
Rini Haryati
ceritanya bagus
sukses
semangat
mksh
🌻Yani Wi💕: Terimakasih..baca lagi ya Kaka.💐
total 1 replies
🦋⃝𝄞͢𝓕𝓐𝓚𝓡𝓤ཹ
Om
Neyna 🎭🖌️
semangat thor yuk bikin yang baru 💪💕💕
🎧Reo Ruari Onsiwasi
Semoga laras tidak goyah
🎧Reo Ruari Onsiwasi
Nyesekkan. sudah ditolak masih ngeyel
🎧Reo Ruari Onsiwasi
Rony jangan buat masalah. kasihan nanti si laras
🎧Reo Ruari Onsiwasi
Rony laras sudah menikah
Arin
bagus Laras emng mesti bgtu Sam pelkor
🌻Yani Wi💕: terima kasih yaa.💕❣️❤️
total 1 replies
Arin
semoga Laras cpet hamil amiin
Arin
lagian si vim wlpun niatnya Krn menolong tpi jngn kasih celah buat mantan...
Arin
sykurlh vim udh ngga inget mntan lagi
Arin
ya semoga aja nanti pas mau gituan vim ngga inget mntan lagi,klo msih inget tinggl pergi aja dlu ras biar vim bisa introfksi dri
Arin
bguslh vim bisa tegas sama aurora
Arin
dasar si vim klo oleng Laras bwa kabur aja do biar tau rasa si vim
Arin
bgus Laras jngn jdi wnita lemah...vim itu egois cembru kok smaa orng yg udh ngga ada,sndriy gemna yg msih inget mntan dan juga skrng mntnya udh cre...awas aja oleng😡👊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!