Hidup Kinan berubah ketika pergantian CEO terjadi di kantor ia bekerja. Walaupun ia hanya seorang office girl, namun CEO yang baru tampak tak menyukainya. Berbagai alasan dibuat sang CEO untuk membuat kerja Kinan menjadi sulit. Hingga pada saat ia melakukan kesalahan sepele namun berdampak hingga ia dipecat. Kebenciannya kepada sang CEO pun semakin menjadi.
Raditya Abhimanyu, CEO tampan dan (tentunya) kaya raya kembali pulang dari Amerika dan menjadi pimpinan perusahaan konstruksi besar milik ayahnya. Raditya adalah pria dingin yang "mati rasa". Segala hal bisa ia dapatkan membuatnya ingin mencari hal baru untuk hidupnya. Untuk itu ia memulai sebuah petualangan. Petualangan yang membuat ia mengetahui sebuah rahasia yang sangat penting untuk hidupnya.
Bagaimana pertemuan Raditya dan Kinan terjadi?
Apakah mereka berakhir saling jatuh cinta?
Ini novel romantis komedi pertama saya. Semoga banyak yang suka dan menikmatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armasita Wardhojo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERAKHIR
Raditya merebahkan tubuhnya di atas lantai ruang kerjanya. Pandangannya menatap ke langit-langit ruangannya. Entah sejak kapan ia merasa sangat nyaman melakukannya. Melamun sambil berbaring di lantai. Ia merasa lebih relaks.
Bayang-bayang wajah Kinan tak bisa pergi dari otaknya. Teringat apa yang semalam mereka lakukan, semakin meronta-ronta pikirannya. Ia tak bisa berkonsentrasi hari ini. Belum ada kabar apapun dari Kinan. Khawatir, marah, gelisah, takut, semua ia rasakan detik ini juga. Radit menarik nafas panjang lalu memejamkan matanya.
Terdengar suara pintu dibuka pelan. Suara langkah kaki perempuan menuju kearahnya. Ia yakin bahwa itu langkah perempuan karena ia mendengar suara sepatu berhak tinggi.
"Bu Sisca, aku sedang tak ingin bertemu dengan siapapun. Aku hanya ingin bersantai hari ini" ucap Raditya tanpa menoleh sekalipun.
Tak ada balasan. Suara langkah itu malah terdengar semakin mendekati Raditya.
"Apa ada hal yang ingin kau sampaikan?" tanya Radit.
Tak ada lagi jawaban. Namun tiba-tiba ada ciuman hangat di bibir Raditya. Ia terkejut, rasanya tak asing. Radit membuka matanya. Kinan berhenti mencium Radit dan tersenyum kepada pria itu.
"Apa kau selalu aneh seperti ini?" tanya Kinan sembari berdiri.
"Aku menemukan cara yang bagus untuk melepas stress. Ngomong-ngomong kau dari mana saja? kenapa kau tak bisa kuhubungi? Dan kenapa kau meninggalkanku sendirian di hotel?"
"Maafkan aku. Ibu mu menculik ku tadi pagi dan aku tak bisa menghubungi mu karena ponselku tertinggal di rumah. Mungkin ponselku juga mati karena kehabisan baterai"
"Kau diculik ibuku?"
Kinan memutar badannya, seolah ingin menunjukkan penampilannya di depan Raditya.
"Aku diculik untuk ini" jawab Kinan sambil tersenyum. Ia terlihat cantik dan anggun dengan penampilan barunya.
"Aku juga makan siang enak di restoran China punyamu. Raditya, ibumu menceritakan banyak hal kepadaku. Dan tebak apa yang ibu bicarakan denganku!"
"Apa? Kau dimarahi?"
Kinan menggeleng, "Ibu telah merestui hubungan kita."
"Apa kau sungguh-sungguh?" tanya Radit sembari menghampiri Kinan. Ia seperti tak percaya mendengar ceritanya.
Kinan mengangguk.
"Nanti ketika kau pulang kerumah, minta maaf lah kepada ibumu. Bagaimanapun kau telah membuat orang tuamu malu di depan banyak orang. Itu tidak benar."
Raditya mengelus pipi Kinan. Ia memandang wajah wanita itu dengan lembut. Senyumnya tersungging penuh kebanggaan. Ia merasa beruntung mempunyai kekasih yang baik hatinya.
"Tapi aku tak mau pulang, aku mau tidur di hotel saja bersamamu" goda Raditya dengan nakal.
"Aku harus pulang sekarang. Nenek sedang tak enak badan."
"Kalau begitu aku ikut denganmu"
"Radit, seharian kau tidur diatas lantai, lalu sekarang kau mau ikut denganku, kapan kau akan bekerja? Kau punya tanggung jawab"
"Baiklah..baiklah.. nanti pulang kerja aku akan mampir kerumahmu"
Kinan tersenyum.
...***...
...-- Setahun berlalu --...
Embun pagi berserak segar di atas kebun bunga. Sayup-sayup terdengar suara burung berkicau riuh rendah. Matahari masih malu-malu untuk keluar. Ia sepertinya masih nyaman berdiam di ujung timur.
Kinan membuka tirai jendela yang memenuhi dinding kamar. Raditya menggeliat. Ia sedikit membuka mata ketika menyadari Kinan tak tidur disampingnya.
"Ayo bangun! Kita harus bersiap sekarang"
"Ini hari Minggu dan kau membangunkanku pagi-pagi. Memangnya kita mau kemana?"
"Kau lupa, kita harus mengunjungi ayah dan ibu. Hari ini hari ulang tahun ibu. Ayo cepat bangun! Aku akan membangunkan Shanju." Kinan menarik selimut tebal yang menyelimuti Radit.
"Sayang.." panggil Radit dengan lembut. Ia lalu menarik tubuh Kinan ke dekapannya.
"Kau tak ingin bulan madu? kita sudah menikah 6 bulan yang lalu dan belum juga bulan madu"
"Kita tunggu Shandy dan Nuri pulang dari Singapura lalu kita bisa menitipkan Shanju pada mereka"
"Ah kenapa selalu menunggu mereka. Kita menikah menunggu mereka duluan, bulan madu juga menunggu mereka"
"Nuri sedang hamil, Shandy juga sedang menjalani transplantasi ginjal di Singapura. Mereka tidak sedang bersenang-senang. Lagipula aku masih sibuk kuliah dan mengurusi restoran. Pak Ibnu mengajukan pensiun, jadi aku harus memilih manajer baru."
Raditya mencium bibir Kinan.
"Aku tidak suka kau yang sibuk seperti ini. Kau jadi tak punya waktu untukku. Ngomong-ngomong bagaimana dengan rencana pernikahan kak Bima? kau juga yang mengurusnya?"
"Tidak.. pacar kak Bima yang mengurus segalanya. Aku hanya membantu seperlunya. Terima kasih, kau kan yang membelikannya mobil itu"
Raditya tertawa, "Kau tahu itu? padahal sudah kusuruh kak Bima untuk diam. Aku membelikannya sebagai bonus untuk kinerjanya yang bagus. Kak Bima mengurus proyek-proyek baru dengan baik"
"Walau begitu, terima kasih. Kau memperhatikan keluargaku dengan sangat baik. Kau bahkan merenovasi rumah kami. Padahal aku sudah bilang aku akan merenovasi nya dengan uangku sendiri" Kinan memeluk Raditya dengan mesra. Ia merasa sangat bersyukur.
"Ah, itu karena Nenek tidak mau ikut kita tinggal dirumah ini. Mana bisa kubiarkan nenek tinggal di rumah yang sudah hampir roboh itu"
Kinan mencubit perut Raditya dengan geram. Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. Kinan bergegas membuka pintu. Shanju berdiri di depannya dengan masih memakai piyama.
"Shanju..ada apa nak?"
"Ibu dan Paman Radit tidak keluar? Nenek dan Kakek sudah datang." ucap Shanju polos.
Kinan dan Radit bergegas menuju halaman belakang. Nampak sebuah helikopter baru saja mendarat disana. Bu Merliana dan Pak Bastian turun dari helikopter dan berlari kecil menuju Radit dan Kinan. Shanju lalu menyambut mereka. Ia memeluk erat kakek dan neneknya.
"Kalian baru bangun tidur? kalian tidak ingat hari ini hari apa?" Bu Merliana menyongsong mereka dengan Omelan. Raditya tersenyum lebar. Ia lalu memeluk erat ibunya.
"Aku baru saja bersiap mau pergi" jawab Radit.
"Bersiap apanya, kau bahkan masih bau kasur!" Bu Merliana mencubit pipi anaknya itu dengan gemas. Ia lalu melihat Kinan, kemudian memeluknya.
"Selamat ulang tahun Ibu, semoga sehat dan bahagia selalu" ucap Kinan.
"Kau juga tak memasak sup ayam kesukaanku di hari spesial ini?"
Kinan tertawa, "Aku akan memasaknya sekarang juga Bu"
"Aku akan ikut membantu Ibu" sahut Shanju dengan wajah ceria.
Kinan bergegas menuju dapur bersama Shanju, meninggal Bu Merliana, Pak Bastian dan Raditya yang berjalan perlahan di belakang mereka.
"Shanju masih memanggilmu Paman?" tanya Pak Bastian. Sepertinya ia penasaran kenapa cucunya tak memanggil Radit sebagai Ayah.
"Ya. Ketika ia tahu cerita tentang Kak Juliana, dia memutuskan untuk tetap memanggilku Paman. Dia memanggil Ayah hanya untuk Shandy, Ibu untuk Kinan, Bunda untuk Kak Juliana, dan Tante untuk Nuri. Tak ada yang berbeda, dan aku tak mempermasalahkan itu"
Pak Bastian dan Bu Merliana mengangguk. Yang terpenting adalah mereka hidup dengan bahagia saat ini.
"Oh ya, untuk rapat umum pemegang saham nanti aku akan mengumumkan sesuatu" ujar Pak Bastian.
"Apa itu?"
"Aku dan Ibumu akan menyerahkan saham kami untuk Shanju. Aku akan menyuruh pengacara pribadiku untuk mengawasi Shanju hingga ia dewasa. Kau tak apa jika aku mewariskan Morawa Grup ini kepada Shanju, kan?"
"Kenapa ayah bertanya seperti itu? Aku telah merencanakan hal serupa. Aku akan mendidik Shanju dengan baik hingga dia siap menggantikan ku"
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika setelah sarapan kita pergi ke makam Juliana?" tanya Pak Bastian.
"Ah..aku sangat merindukan Juliana. Aku akan menuju kebun untuk merangkai mawar. Kalian pergilah ke dalam" jawab Bu Merliana.
Raditya mengangguk. Ia merasa sangat bahagia. Seperti tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Entah ini takdir atau memang Juliana sudah merencanakan sebelumnya? Tapi jika ia masih hidup, ia pasti menjadi orang pertama yang bersorak-sorai. Hubungan Raditya dan kedua orangtuanya menjadi lebih baik, akhirnya ia bisa merasakan kasih sayang yang selama ini ia harapkan.
Kinan, akhirnya menemukan orang yang mencintainya dengan tulus.
Shanju hidup bahagia dengan keluarga yang mencintainya.
Shandy menemukan wanita yang bersedia menerimanya setelah sekian lama hidup dalam trauma.
Nuri akhirnya bisa merasakan cinta yang tak bertepuk sebelah tangan.
Pak Bastian dan Bu Merliana menjadi orang tua yang semestinya.
Semua orang bahagia.
...***...
Tunggu,
Apakah kau melupakanku?
Apakah aku hanya tokoh figuran yang tak berguna? bukankah aku yang menyegarkan cerita ini? kenapa kau melupakanku di bagian akhir cerita ini?
Oh ya Tuhan! 😀
Bang Miko, Jatmiko Alexander Supriadi. Leader pegawai pantry sekarang menjadi orang yang paling dipercaya oleh Raditya. Ia tetap bekerja di Morawa Grup dengan posisi kepala pengamanan kantor. Ia menjadi bodyguard Raditya dan menemaninya kemanapun ia pergi.
Terima kasih Bang Miko.
Kau adalah tokoh yang kami sayangi.
...***...
...THE END...
Mau ngorbanin anakmu yg tinggal satu2nya ini ya Nyonya, demi status dan gengsimu?
Apa Shandy ingin memanfaatkan Shanju, utk mendapatkan uang dari orang tua Juliana?