Andita Rosmanilla gadis cantik berusia 25 tahun,ia telah menyelesaikan pendidikan nya di universitas Kebidanan.dan telah Bekerja sebagai Bidan Desa di Kabupaten kota K.Andita atau sering di sapa Dita bertugas di sebuah Puskesmas,ia mempunyai rekan kerja seorang Dokter tampan yang diam-diam menyukainya.
Andita mempunyai pacar seorang pengusaha kaya-raya mereka sudah menjalin hubungan selama 3,5 tahun, sejak Andita bekerja di luar kota perubahan sikap Bagas menjadi tanda tanya besar bagi Andita.
Bagas yang lembut, romantis,dan penyayang berubah menjadi arogan,dan sangat sensitif.
Bagas Prawijaya Subroto seorang pengusaha muda yang kaya-raya berusia 27 tahun, namun siapa sangka jika Bagas sudah mempunyai anak dan Istri.
Hanna, perempuan cantik berusia 25 tahun dan dan kaya-raya.Hanna adalah sahabat Andita sewaktu SMP ,tapi Hanna dan Andita kehilangan komunikasi beberapa tahun terakhir.
Hanna merupakan Istri sah Bagas,mereka menikah berdasarkan jebakan Hanna.ia sangat terobsesi terhadap Bagas sejak duduk di SMA karena obsesi nya itu, Hanna rela melakukan berbagai cara agar ia bisa memiliki Bagas sepenuhnya.bahkan ia rela di tiduri Pria lain,hanya demi melancarkan misinya.di luar dugaan Hanna, Pria yang bekerja sama dengannya itu justru memanfaatkan Hanna sebagai ladang uang.setiap saat Hanna harus mendapatkan ancaman dari Pria tersebut,yang merupakan ayah biologis dari putrinya Allisa.
Akankah Andita tetap menerima bagas, setelah tau pengkhianatan Bagas terhadapnya ??? Akankah hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan ? Atau justru Andita menikah dengan Dokter yoga ???
Ikuti ceritanya...
"PACARKU SUAMI TEMANKU"
Yang penuh konflik,menguras air mata dan emosi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adelmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB ~34 "SELAMAT MEMBACA"
Ting tong...ting tong...,bunyi panggilan masuk di ponsel Andita bertepatan kakinya menginjak di depan pintu masuk Bandara Hang Nadim.
Andita melihat panggilan dari Ayu,lalu ia menyeret kakinya sedikit menjauh dari pintu masuk untuk mengangkat panggilan dari Ayu terlebih dahulu.
"Halo. Assalamualaikum ma !" Jawab Andita.
"Walaikumsalam Nak.apa kabar kamu sayang ?" Tanya Ayu dari seberang sana.
"Alhamdulillah Dita baik ma, Mama sendiri bagaimana kabarnya ?" Tanya Andita tanpa memberitahu kalau ia akan pulang.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik aja, Mama juga baik Nak" sahut Ayu.
"Dit'.tadi Mama bertemu Bagas, waktu sedang beli kue di toko langganan kita" cerita Ayu sama Andita.
Ada desiran takut dihati Andita saat mendengar nama Bagas, jantung nya berpacu kacau.
"Lalu ?" Tanya Andita gugup.
"Dia nanyain keberadaan kamu Nak. Mama hanya takut suatu hari nak Bagas berbuat nekat terhadapmu, sebaiknya kamu hati-hati nak.
Kalau hatimu sudah siap,kembalilah temui dia.
selesaikan masalah kalian,kamu harus hidup lebih baik Nak. Mama tidak mau langkahmu terhambat karena hubungan yang tidak layak kamu pertahankan.
dari awal saja dia sudah membohongi mu, bagaimana jika kalian berjodoh bukan tidak mungkin pria itu bisa lebih menyakitimu" ucapan Ayu panjang lebar.
"Intinya selesaikan masalah kalian,ambil sikap dan tindakan yang tegas dan bijak.
Waktu di Desa, Mama bukan tidak tau Kalian bertengkar bahkan bagas melakukan tindak kekerasan terhadap Dokter Yoga." ujar Ayu lagi.
"Iya ma" sahut Andita singkat.ketika ada seseorang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Dit ?" Panggil Ayu karena tak mendengar Andita menyampaikan kalimat lain.
"Ah,iya ma maaf. Secepatnya,akan Dita urus" jawabnya bingung.
"Ya sudah, Mama hanya nyampaikan itu saja.jaga dirimu Nak,mama sudahi dulu panggilan nya" ujar Ayu langsung memutus panggilan nya tanpa menunggu jawaban dari Andita.
"Apa yang mau Dita urus ? Batin Ayu setelah panggilan mereka terputus.
Ayu menghembuskan nafasnya yang terasa berat, sambil menggelengkan kepalanya.
...----------------...
"Sayang,jangan pergi tinggalin mas?" Lirih Yoga di telinga Andita.
Andita yang tengah mematung memikirkan ucapan Ayu barusan seketika terlonjak, ponselnya sampai terlepas dari genggamannya.
Yoga merunduk dan memungut ponsel Andita, "Ayo kembali kerumah,mas janji akan menceritakan semuanya sama kamu. mas mohon jangan pergi,sebelum mendengarkan penjelasan Mas" bujuk Yoga lembut.
Yoga menggenggam tangan Andita, "Maafkan atas sikap mas tadi,mas sangat menyesal" ujar Yoga tulus menatap wajah sembab Andita.
Yoga kembali memeluk gadis yang terdiam mematung itu, "Maafin mas ya, sekarang ayo kita kembali kerumah" ajaknya.
Andita mengangguk dalam pelukan mas Dokter tampan itu, sedangkan Bi Ima dan Mang Amin tersenyum menatap pasangan yang sedang selisih paham itu. Mang Amin membawa koper Andita ke mobilnya,di ikuti bi Ima di belakangnya.
Yoga membopong tubuh Andita ala Bridal style menuju mobilnya,tak sulit baginya menggendong tubuh mungil gadis itu yang memiliki bobot hanya 50kg.berbanding terbalik dengan tubuhnya yang tinggi dan besar, lengan kokoh serta dada bidang.
Setelah mendudukkan Andita di kursi Co Driver,yoga menaruh tongkat Andita dikursi belakang lalu ia masuk dan duduk di balik stir kemudinya.
Yoga mulai menginjak gas pada mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik gadis yang duduk di sampingnya. Yoga meraih tangan Andita lalu mengecupnya berulang kali, sedangkan gadis itu hanya diam membisu.
Yoga pun berusaha tak mengganggu kenyamanan Andita,dia memilih memikirkan gimana reaksi Andita nanti jika mengetahui statusnya yang sebenarnya.
Sedangkan mobil yang di kemudikan Mang Amin masih mengiring di belakang mobil Yoga, Mang Amin tersenyum bahagia karena masih sempat menyusul dan bertemu Andita.
Kalau tidak,sudah di pastikan seluruh penjaga rumah akan kena imbasnya.
Lebih-lebih mang Amin yang tau Andita keluar,bahkan sempat berpamitan padanya.
"Alhamdulillah ya Bu, Non Andita masih sempat di susul.kalau Ndak wah...,habis sudah kita kena maki" ujar Mang Amin sama Istrinya.
"Ibu juga bersyukur banget,kalau Non Dita gak sempat disusul...Ibu ya sedih.sedih lihat tuan juga,pasti dia kehilangan banget" ujar bi Ima.
"Kenapa begitu ?" Jawab Mang Amin.
"La iya toh pak,wong tuan dari kecil ibu yang momong kok.
kalau tuan sedih,ibu ya ikut sedih.apalagi mereka pasangan yang cocok, Non Dita beda sama non Clara dulu yang bisanya cuma jalan,shopping,gak sopan, sombong,kalo ngomong wah...juteknya minta ampun" ujar bi Ima.
"Walah bu..bu.ujung-ujungnya Ghibah, dosa loh" ujar Mang Amin.
"Ups..ya Allah Gusti,ampuni hambamu ini" ucap Bi Ima kemudian.
"Amiin" lanjut bi Ima
"Iya Bu" ujar Mang Amin.
"Opo toh pak ?!" Ujar bi Ima sambil mendelik suaminya,karena ia tau suaminya bercanda ketika ia mengucapkan kata Amin di ujung doanya.
"Hahaha..." Mang Amin tertawa.
Tanpa terasa mobil mereka sudah memasuki halaman rumah besar nan megah itu, sedangkan Yoga mengendong Andita masuk kedalam rumahnya.lalu membawa Andita kembali ke ruangan lantai dua dimana ia membentak nya tadi dan mendudukkan Andita di Sofa di ruang itu.
"Tunggu sebentar,mas Ambil kunci kamar itu" ujar Yoga sambil berlalu masuk ke sebuah kamar, yang merupakan kamar pribadinya saat ini.
Yoga sudah duduk di samping Andita,dengan memegang kunci kamar tersebut.ia menatap wajah Andita,gadis itu hanya diam saja sejak dari bandara sampai dirumah.
"Sayang ?" Panggil Yoga.
Andita menoleh dan menatap Yoga sendu,lalu ia hanya mengangguk.
"Sekarang kita buka kamar itu, setelah kamu melihat semuanya jangan langsung mengambil keputusan.
jika ada hal yang harus kamu ketahui secara mendetail tanyakan sama mas langsung.
pertanyaan beserta jawabannya ada di kamar itu" ujar Yoga berwajah sedikit muram.
"Setelah itu,jika di hatimu tidak ada sedikitpun cinta untuk mas ! Mas tidak akan memaksa" lirih Yoga.
Gadis itu memandang wajah tampan mas Dokternya itu,lalu ia tersenyum hambar.
"Ayo kita masuk kesana" Ajak Yoga membimbing Andita.
Yoga membuka pintu tersebut dengan perasaan campur aduk,,dadanya berdebar cepat bukan takut menceritakan semuanya tapi justru takut Andita meninggalkan nya setelah tau semuanya.
Yoga membawa Andita duduk di Sofa yang tersedia di kamar tersebut, "Duduklah, mas akan tunjukkan semuanya tentang masa lalu mas"lirihnya serak.
Andita bingung,apa maksud laki-laki itu.lalu ia mengitari seluruh ruangan tersebut dengan penglihatan nya,awalnya Andita hanya melihat ruang Walk-in Closet yang di masuki Yoga.setelah itu matanya mengarah ke kamar mandi dan menatap tempat tidur. Mata Andita menatap bingkai foto yang tidak terlalu jelas darinya,karena ruangan tersebut jauh lebih besar dari Kemarnya di lantai tiga.
Rasa penasaran membawa langkahnya terseret mendekati foto yang lihatnya barusan, tatapan nya nanar ! Andita menutup mulutnya saat melihat foto itu. Seketika itu juga sudut hatinya terasa nyeri sekali saat mengetahui siapa yang ada di foto tersebut,foto Prayoga bersama perempuan yang memakai gaun pengantin.
Setelah keluar dari ruang Walk-in Closet dengan beberapa dokumen di tangannya, Yoga menatap Andita dan menghampiri nya.
Air mata Andita meloncat begitu saja,dan tubuhnya luruh di samping pembaringan tempat ia berdiri sejak tadi.
"Inikah yang mau kamu tunjukkan mas ?" Lirihnya.
"Ternyata kamu sama seperti Bagas ?" Isak nya.
Yoga yang berdiri di samping Andita berjongkok menghapus air mata gadis itu.
"Tidak sayang, jelas mas berbeda" jawabnya lembut, lalu meraih tubuh lemas Andita kedalam pelukannya.
Yoga membawa Andita duduk di atas peraduan super luxury di kamar tersebut,lalu ia menyerahkan semua dokumen tentang perceraian nya dan semua berkas-berkas pengajuan perceraian nya beberapa tahun yang lalu.
"Lihatlah" ujar Yoga.
Gadis itu menerima beberapa dokumen yang di serahkan Yoga pada,ia membaca semuanya.
Andita menatap Yoga dengan air mata berlinang,lalu memeluk Pria itu.
"Maafin mas,bukan bermaksud membohongi mu.hanya saja mas masih mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya" ujarnya pelan.
"Mas juga korban,tapi yang mengkhianati mas istri dan sahabat mas sendiri" ucap Yoga berkaca-kaca,hatinya perih kembali mengingat hal itu.
"Lihatlah pernikahan mas,hanya beberapa bulan sa..." Ucapan Yoga terhenti karena Andita sudah mengecup lembut bibir Pria itu.
"Tak perlu mas lanjutkan" ucap Andita lembut.
"Itulah kenapa mas meminta bi Ima menyiapkan lantai tiga khusus untukmu,karena di lantai ini ada ruangan terkutuk.
mas tidak mau,kamu tertular virus pengkhianat itu" suara Yoga terdengar penuh amarah.
"Hari ini dengan atau tanpa mu lagi mas akan menghanguskan semua yang berkaitan dengan perempuan itu" ujar Yoga geram.
"Mas...ruangan ini tidak bersalah,
penghuninya dulu yang bersalah.
untuk hal yang berkaitan dengan masa lalu mas, silakan lakukan yang terbaik menurut mas.karena yang berhak soal itu adalah mas" ucap Andita lembut.
"Apa kamu memaafkan mas,sayang ?" Tanya Yoga.
Andita mengangguk dan tersenyum, Yoga kembali memeluk gadis itu. "Apa kamu akan meninggalkan mas ?" Bisik Yoga di telinga Andita.
"Ya" jawab Andita singkat.
Yoga melepaskan dekapannya dan menatap wajah Andita,ia tak menemukan ekspresi apapun di sana.
"Tinggalkan mas ?" Tanya Yoga sedih.
"Iya,di tinggal sebentar.aku mau mandi,tubuhku gerah" ujar Andita sambil menyeret kakinya yang masih pincang.
Yoga tersenyum bahagia kala mendengar jawaban Andita,lalu ia mengangkat tubuh mungil Andita menggendong menghadap wajahnya.
"Sudah pintar menggoda sekarang,hm? Tanya Yoga sambil mengecup pipi gadisnya itu.
"Masih terima mas yang Duda ini ?" Tanya Yoga tersenyum.
Gadis itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Yoga sambil menggeleng,wangi citrus dan kayu-kayu an di tubuh laki-laki itu menjadi aroma yang di sukainya akhir-akhir ini.
Lalu Andita menjulurkan lidahnya menggoda leher laki-laki itu, jiwa lelaki Prayoga sontak kaget.
"Sayang !" Geramnya.
"Hahaha..." Andita tertawa lepas.
Spontanitas Yoga memutar tubuh Andita,dan mendorong nya di pintu lift.
Yoga ******* habis bibir jahil Andita,hingga gadis itu kehabisan pasokan oksigen.
Yoga menatap wajah Andita yang bersemu merah dan membawanya keluar pintu lift yang sudah terbuka.
"Mandilah,mas juga mau mandi" ujar Yoga.
Yoga Menangkup kedua tangan gadis itu dan mengecupnya bergantian.
"Mas mencintaimu,sangat mencintaimu" ucap Yoga.
"Mau menikah sama mas ?" Tanya Yoga.
"Ehmmmm...,Apakah seperti ini caramu melamar seorang gadis ?" Tanda Andita bersungut-sungut.
"Hahaha...tentu saja tidak sayang.sebelum di lamar harus di tanya dulu" ujar Yoga masih terkikik.
"Mas tinggal dulu,mandilah" setelah mencium kilas surai gadis itu, Yoga keluar untuk menemui mang Amin dan bi Ima.
...----------------...
*To Be Continued*
jangan lupa vote dan like ya guys
Terima kasih author, karyamu luar biasa👍👍👍