Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pie bertemu Kim?
"Pie, kau tak mengendarai motor hari ini?" Yetti menstarter motor bebeknya, bersiap untuk pulang.
Pie menggeleng. Ia akan bergabung bersama siswa yang menaiki angkutan umum.
"Tidak. Kau akan langsung pulang?"
"Ya. Rayu dan Okta sudah pulang lebih dulu."
"Baiklah, kita berpisah di sini. Kau hati-hati di jalan, Yetti."
"Tunggu, ingin ikut denganku sampai ke halte?"
"Tidak, terima kasih. Aku akan bersama yang lain saja."
"Baiklah, aku pulang duluan, bye Pie."
"Bye, Yetti."
Pie segera membaur dengan para siswa yang berjalan menuju halte untuk menunggu angkutan umum.
"Pie? Ingin ikut denganku?" Zal berhenti di sisi Pie saat di pertengahan jalan.
"Tidak, terima kasih Zal."
"Oke, bye, Pie."
"Ya."
Pie tersenyum kecil saat Zal menyapa dirinya. Ia sejujurnya ingin ikut tumpangan Zal, namun otaknya menolak.
Hari berikutnya...
"Bisakah Kakak menjemputku?"
"Ada apa? Kenapa sekarang sudah pulang?"
"Para guru rapat. Sudah satu jam aku menunggu angkutan tapi belum dapat, aku sudah lapar."
"Ya."
Pie menatap layar ponsel yang menampilkan wallpaper foto kucing. Hari ini ia tak mengendarai motor karena sang Kakak beralasan akan menggunakannya.
Sudah hampir dua jam Pie menunggu angkutan umum namun tak ada muncul satu pun. Para siswa yang biasa bersamanya pun hari ini tak terlihat.
"Mungkin sekolah sudah kosong sekarang." Gumam Pie menatap jalanan yang semakin ramai.
Hari itu belum pukul 11 siang, namun sekolah sudah dipulangkan karena rapatnya para guru.
Pie menatap arlojinya dengan resah, rasa lapar yang dirasa semakin membuat perutnya perih. Beruntung sang Kakak yang diminta menjemputnya sudah tiba.
"Ke mana yang lain? Apa hanya kau yang menaiki angkutan umum?"
"Ya."
Mereka sama-sama diam selama perjalanan sampai ke rumah.
Usai menurunkan Pie di halaman, Kakak mengendarai motornya berbalik arah menuju keluar. Pie ingin bertanya namun tak sempat, ia memilih untuk segera masuk berganti pakaian dan makan.
"Kau tidak ikut berlatih karate lagi?" pesan masuk membuat Pie memeriksa ponselnya.
Itu dari Fang.
"Tidak. Aku berhenti."
"Kenapa?"
"Jadwalku padat dengan tugas sekolah."
"Benarkah? Tapi ada beberapa siswa dari sekolahmu yang berlatih karate." Pie berpikir sejenak.
"Itu beda kelas denganku."
"Apa memang begitu?"
"Ya, begitu."
Fang masih tetap mempertahankan komunikasinya dengan Pie. Ia masih belum menyerah, walaupun sudah ditolak berkali-kali oleh Pie.
"Kau terus mengejarku dan usahamu cukup besar, Fang." Pie menatap jam tangan berwarna pink hadiah dari Fang saat ia berulang tahun satu tahun yang lalu.
Walaupun Fang awalnya menyatakan cinta pada Pie karena taruhan, namun Fang memberikan sebuah cincin perak dan kue ulang tahun saat Pie berulang tahun ketika mereka baru saja resmi berpacaran. Dan itu membuat Pie memaafkan Fang. Pie merasa dulu sangat bodoh untuk hubungan asmara. Bisa-bisanya dirinya menerima begitu saja Fang yang sebelumnya Pie tak kenal bahkan belum pernah mengobrol.
Fang mengaku, bahwa ia bekerja di bengkel saat SMP dan mengumpulkan uang untuk membelikan Pie cincin perak dan kue ulang tahun. Pie menghargai usaha Fang. Namun, hanya sampai di situ, setelahnya Fang seperti acuh pada Pie seperti tak menganggap Pie kekasihnya selama berbulan-bulan. Pie marah dan memutuskan hubungan mereka dan membuang cincin perak pemberian Fang.
Kini Fang seperti menuai balasan, ia berbalik mengejar Pie untuk kembali berpacaran, namun Pie sudah tak memiliki perasaan apapun pada Fang.
Pagi buta, Pie sudah berada di suatu tempat untuk menunggu rombongan lain. Hari ini adalah hari pelatihan untuk ujian di Kabupaten.
Beberapa siswa sudah datang dan menunggu teman-teman, Pie mencari keberadaan gengnya yang belum muncul, hanya ada beberapa teman satu kelasnya yang sudah datang lebih pagi dari dirinya. Pie mengeratkan jaketnya, matahari belum muncul, langit masih gelap dan udara masih dingin membuatnya sedikit gemetar kedinginan.
"Sepertinya kita berangkat tidak sesuai perjanjian." Ucap teman sekelasnya, ia adalah sekretaris kelas Pie.
"Betul, dari dua sekolah ini bahkan belum ada setengahnya yang datang." Ucap yang lainnya. Mereka kesal terhadap siswa yang terlambat.
"Bersabarlah. Kulihat dari SMK hanya baru beberapa orang. Mereka lebih parah dari SMA kita."
Pie hanya mendengarkan saja, ia sejujurnya juga merasa kesal jika ada yang tidak tepat waktu. Terlebih teman gengnya belum ada yang datang.
Hari mulai terang, sinar matahari mulai nampak.
Waktu berangkat mundur hingga dua jam. Setelah semua siswa dinyatakan telah hadir tanpa ada yang tertinggal, mereka mulai mengendarai motor masing-masing membentuk barisan. Jika dilihat ini seperti konvoi besar-besaran. Rombongan mereka nantinya akan bergabung dengan sekolah yang ada di Kabupaten.
Perjalanan mereka memakan waktu satu jam lebih untuk sampai di lapangan besar mr. X
Di sana sudah banyak siswa kelas XI dari beberapa kecamatan yang sudah datang dan diarahkan untuk masuk ke dalam lapangan melalui gerbang dan mengisi barisan yang sudah ditentukan oleh tiap-tiap papan di depannya.
Mereka semua di jemur di bawah matahari yang terik dan mulai mengikuti pelatihan. Seluruh siswa antusias mengikuti beberapa tahap pelatihan dan bersenang-senang.
Tak sedikit yang bernostalgia bertemu dengan teman-teman masa SMP dan SD.
Waktu istirahat ditentukan, dengan serempak seluruh siswa berhamburan dari barisan untuk mencari tempat berteduh, bertemu teman, membeli makanan dan minuman dan berbagi macam kegiatan di luar pelatihan.
Kelompok Pie memutuskan untuk berfoto agar memiliki kenang-kenangan yang dapat di unggah di akun facebook mereka.
"Pie, kau sudah bertemu Kim?" Pie terkejut saat Ezti membisikkan nama yang sudah lama ia lupakan.
"Kim? Tidak."
"Benarkah? Aku bertemu dengan Kim di depan. Dia menanyakan dirimu dan ingin bertemu. Kau bisa menemuinya sebelum waktu istirahat berakhir."
Pie diam berpikir sejenak. Ezti pergi berlalu menemui teman-teman yang lain.
Pie melirik arlojinya, kurang dari lima menit waktu istirahat berakhir. Ia menimbang waktu dan jarak dirinya berada yang di tengah lapangan akan memakan waktu berjalan sekitar tiga menit menuju gerbang keluar. Dan itu belum memastikan dirinya akan langsung menemui Kim karena banyaknya siswa yang berseragam putih-abu seperti dirinya, itu akan membuatnya kesulitan ditambah dirinya kini mungkin sudah tak mengenali penampilan Kim yang sekarang.
"Jika memang ditakdirkan bertemu, maka kita akan bertemu." Pie tidak beranjak dari posisinya.
Waktu istirahat habis, dengan tertibnya seluruh siswa kembali ke barisan seperti sedia kala dan patuh mengikuti sisa pelatihan hingga waktu selesai.
Pie pulang bersama gengnya, karena rombongan dari kecamatan sudah memecah sesuai dengan kepentingan mereka.
"Pada akhirnya kita memang tak ditakdirkan bertemu, Kim." Ucap Pie ketika akan memejamkan mata usai sampai di rumah.