Tidak ada manusia yang ingin gagal dalam membina rumah tangga, begitu pun aku. Ku berikan seluruh cinta ku, perasaan ku pada suami ku.
Namun semua yang ia katakan ternyata hanya iming-iming saja, tanpa ada yang menjadi nyata.
Aku hanyalah manusia biasa, dan perlahan cinta ku hilang terkikis habis oleh setiap air mata yang aku keluarkan karena kecewa. Bahkan pintu hati ku pun sudah ku tutup dengan begitu rapi untuk nya.
Lantas bagaimanakah dengan Devan? karena setelah Hanna menyerah dalam mempertahankan rumah tangga nya ia pergi dengan membawa Derren dan janin yang masih ia kandung.
Akankah Devan bahagia dengan kepergian Hanna? Atau Devan justru berubah menjadi gila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gila
Brak!!!
Devan menggebrak meja dengan kuat, padahal ia sedang berada di ruang rapat. Semua karyawan panik, dan juga beberapa rekan bisnis Devan sampai terkejut. Sebab di saat Farhan tengah menjelaskan dengan baik, tiba-tiba Devan malah menggebrak meja.
"Maaf," Devan sadar semua mata mulai melihat kearahnya, dan Devan memijat dahinya yang terasa pusing. Hari-hari sudah berlalu dengan begitu cepat, tapi bagi Devan hari-hari nya kini sangat lambat dan sulit untuk di jalani. Setelah kepergian Hanna selama hampir sepuluh hari, semua menjadi kacau. Bukan hanya Devan yang kacau, tapi juga perusahaan nya yang juga ikut kacau.
Setelah ia merasa tidak bisa fokus saat rapat, akhirnya Devan memutuskan untuk keluar begitu saja dari ruang rapat. Tidak ada lagi Devan yang selalu menghargai karyawan nya, tidak ada lagi Devan yang selalu tepat waktu dan bekerja dengan konsisten. Bahkan perusahaan semakin tidak karuan.
"Apa ini!!!" Devan melemparkan berkas yang di berikan seorang karyawan padanya, "Ini salah!" kata Devan kesal. Padahal kesalahan karyawan itu tidak fatal dan masih bisa di perbaiki, tapi kini Devan benar-benar dingin tidak tersentuh. Ia bahkan bisa membesar-besarkan masalah kecil, ataupun hal yang bukan seharusnya jadi masalah malah menjadi masalah yang sangat besar, "Kalau kau tidak suka lagi bekerja di sini katakan, kami tidak butuh orang malas seperti mu!" tegas Devan lagi.
Karyawan tersebut menunduk, dan ini adalah pertama kalinya ia membuat kesalahan, "Maaf Pak, saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan-kesalahan lagi," kata Karyawan itu dengan tubuh gemetaran.
"Kau di pecat!" kata Devan lagi.
"Pak, saya minta maaf dan tolong jangan pecat saya," pinta karyawan itu dengan memohon.
Tiba-tiba pintu terbuka, dan ternyata Agatha yang datang.
"Kau keluar dulu," kata Farhan yang dari tadi hanya diam saja, berdiri di sudut ruangan.
"Pak jangan pecat saya," karyawan itu tanpaknya tidak ingin pergi, sebelum ia yakin tidak di pecat.
"Tidak akan terjadi apa-apa, kau keluar dulu," kata Farhan lagi.
"Terima kasih Pak," walaupun masih ada perasaan takut, tapi tetap saja Karyawan itu kini mau keluar. Karena ia merasa sedikit lega dengan kata yang di katakan oleh Farhan.
Agatha semakin berjalan masuk, ia melihat sekeliling ruangan tersebut. Dimana ada banyak pajangan, kemudian Agatha duduk di sofa. Dan Agatha bisa melihat Devan dengan wajah menyeramkan yang tengah duduk di kursi kebesaran nya.
"Kenapa perusahaan semakin tidak karuan?" tanya Agatha to the point.
Devan yang dari tadi hanya tertunduk kini menatap Agatha, ia pun sadar akan hal itu.Tapi memang hatinya yang tengah tidak karuan hingga ia pun tidak bisa fokus pada pekerjaan nya.
"Apa kau sudah tidak bisa lagi memegang tanggung jawab mu?" tanya Agatha lagi.
Devan masih menatap Agatha, andai saja ia bisa mengatakan untuk mundur dari jabatannya. Mungkin ia akan katakan, karena ia lebih memilih fokus untuk mencari Hanna yang sampai sekarang entah dimana keberadaan nya.
"Kalau kau tidak ingin lagi memimpin perusahaan ini silahkan angkat kaki dari sini, tidak ada yang memaksa kau tetap di sini!" tegas Agatha lagi. Agatha sudah sangat kecewa pada apa yang di lakukan oleh Devan dan Sarah, hingga ia merasa semua tidak mudah untuk di tebus, "Aku tidak suka ada pemimpin yang semena-mena pada karyawan nya, tapi aku juga tidak suka jika ada pemimpin yang tidak tegas pada karyawan nya. Dan aku pun tidak suka bila ada pemimpin yang mencampur adukkan malah pribadinya dengan pekerjaan," tambah Agatha lagi.
Devan masih diam saja sambil bersandar di kursinya, ia hanya melihat Agatha dan mendengarkan dengan baik. Tidak ingin menjawab dan tidak ingin pula membantah, karena itu bukan sipat dari Devan. Ia terbiasa menerima apapun yang di perintahkan padanya, walaupun hatinya menolak.
Agatha dari tadi menunggu jawaban dari Devan, tapi tidak satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Bahkan kata sekalipun, tidak ada yang terdengar dari bibir pria itu.
"Aku tahu kau tidak bahagia menikahi Diana, maka aku minta kau menikah lagi dengan alasan aku ingin memiliki seorang cucu," kata Agatha.
Devan tertegun dengan itu semua, karena Agatha kembali membuka hal yang seharusnya sudah sama sekali tidak diperlukan. Akan tetapi bukan Devan tidak penasaran, justru kini ia semakin ingin mendengar dan bertambah ingin tahu.
"Tapi sayang jalan yang kau ambil salah, aku tidak suka lelaki yang tidak memiliki pendirian. Mengorbankan wanita yang di cintai. Demi wanita yang wanita pilihan Mama mu," Agatha menatap Devan yang nampaknya begitu penasaran dengan apa yang akan ia katakan, "Aku pun mengerti kau sangat menyayangi Mama mu, tapi mulai hari ini jadi lah diri mu sendiri. Hiduplah dengan aturan mu, tidak perlu mengorbankan perasaan bila kau tidak bisa," kata Agatha lagi. Agatha bangun dari duduknya dan menatap Devan dengan sinis, kemudian ia pergi begitu saja tanpa ada kata pamit dari bibirnya.
"Aaaaa....." Devan benar-benar pusing dengan semua ini, di kepalanya hanya Hanna dan Hanna saja tanpa bisa fokus pada yang lain sekalipun, "Farhan apa kau sudah menemukan Derren dan Hanna?!" tanya Devan dengan mengeratkan giginya.
"Belum bos," jawab Farhan sambil menunduk.
"Sssssttt....." Devan berdiri dan ia tampak emosi.
Brak!!!
Lagi-lagi ia tidak bisa menahan amarahnya, hanya bisa meluapkan kemarahannya itu pada benda apa saja yang ada di dekatnya.
"Kenapa kau bodoh sekali! Menemukan satu wanita dan seorang anak kecil saja tidak bisa!" geram Devan.
Farhan hanya diam tanpa menjawab, karena apapun yang di katakan oleh nya hanya membuat Devan semakin marah.
"Cepat cari dia sampai ketemu!"
Buk!!!
Devan malah memberikan bogem mentah pada Farhan.
"Devan," Sarah yang baru saja masuk ke ruangan Devan terkejut, karena ia melihat Devan tengah memukul Farhan. Awalnya Sarah hanya ingin memastikan apa Devan ada di kantor, karena sudah beberapa hari ini Devan tidak pulang ke rumah. Dan jarang juga datang ke kantor, "Devan cukup," Sarah menarik Devan agar menjauh dari Farhan.
"Cepat cari Hanna dan Derren, kalau tidak kau...." Devan mengepalkan tangannya dan mengeratkan giginya.
"Devan cukup Nak," Sarah gemetaran dan merasa bersalah setelah melihat Devan yang seperti sekarang ini, "Farhan cepat keluar," kata Sarah, karena ia tidak ingin Devan semakin memukuli Farhan, sebab Farhan tidak bersalah dalam hal ini.
Farhan keluar dari ruangan Devan, ia pun tidak ingin berada di ruangan itu. Karena hanya bisa membuatnya menjadi sasaran amarah Devan.
"Dasar gila," umpat Farhan.