Ning sopiah
Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.
Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wasiat Di Dalam Ndalem
Ada rasa yang berbeda ketika Gus Azam menatap Sopiah untuk pertama kalinya setelah empat tahun aku pergi dari Jombang.
Tatapan itu tidak sama seperti dulu. Dulu, waktu aku masih jadi santri putri kelas akhir, tatapan Gus Azam itu datar, menjaga jarak, penuh wibawa seorang putra Kiai. Tapi hari ini, di beranda ndalem yang gerimis ini, tatapannya dalam. Ada rindu, ada beban, dan ada sesuatu yang tidak bisa aku artikan.
Jantungku berdebar begitu kencang. Aku tidak berani menatapnya balik.
Aku hanya bisa menunduk dalam, memainkan ujung kerudung hitamku yang basah terkena gerimis.
"Nggih, Gus... Sopiah pulang hari ini," jawabku dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Aku masih ingat betul bagaimana caranya memanggilku. Bukan Sopiah saja, tapi selalu ada embel-embel lembut di depannya.
Gus Azam tersenyum tipis. Senyum yang dulu selalu membuat santri-santri putri salah tingkah di balik jendela asrama.
"Monggo, Ning... Silakan duduk dulu. Di luar masih gerimis. Sampun jauh-jauh dari Bandung."
Suara itu masih sama. Lembut, tenang, tapi berwibawa. Suara seorang pemimpin pesantren muda.
Aku melangkah masuk ke ndalem. Harum kayu jati tua langsung menyambutku. Harum yang sama seperti empat tahun lalu. Di dinding masih tergantung foto Abah Kiai Kholil dengan sorban putihnya. Di rak-rak kayu masih berjejer kitab-kitab kuning yang dulu sering aku pinjam.
Hanya saja, kursi rotan tempat Abah biasa duduk sambil menunggu aku setoran hafalan, kini kosong.
Abah sampun mboten wonten.
Gus Azam mempersilakanku duduk di tikar pandan yang sudah digelar. Ia duduk dengan jarak yang terjaga, sekitar satu meter di depanku. Adabnya begitu luar biasa. Tidak pernah sekalipun ia duduk terlalu dekat dengan santri putri.
"Bagaimana perjalanan dari Bandung, Nduk? Lancar?" tanyanya basa-basi, mencoba mencairkan suasana canggung ini.
"Alhamdulillah lancar, Gus."
Hening sejenak. Hanya suara gerimis yang jatuh di genting ndalem yang terdengar.
Lalu Gus Azam berdiri. Ia berjalan menuju lemari kaca jati di sudut ruangan. Dari laci paling bawah, ia mengambil sebuah amplop coklat yang sudah agak lusuh, pinggirannya sudah sedikit menguning.
Ia kembali duduk dan menyodorkan amplop itu kepadaku.
Di atas amplop itu, ada tulisan tangan yang sangat aku hafal. Tulisan Arab Pegon yang miring dan berwibawa.
_Untuk Anakku, Sopiah._
Tanganku langsung bergetar hebat.
"Maaf, Gus..." suaraku tercekat, tenggorokanku seperti tercekik sesuatu. "Kira-kira... ada keperluan apa... saya dipanggil pulang ke pesantren mendadak? Apakah ada masalah di pondok?"
Gus Azam menatapku lekat. Wajahnya yang tampan itu terlihat lelah, seperti memikul beban yang sangat berat.
"Pelan-pelan bacalah, Nduk," ucapnya pelan. "Ini... amanah terakhir dari Abah Kiai Kholil untukmu. Beliau titip ini tiga tahun lalu, sebelum beliau sedo."
Nafasku tercekat. Abah.
Dengan tangan yang terus bergetar, aku membuka amplop itu. Di dalamnya ada dua lembar kertas putih dengan tulisan tangan Abah.
Aku membacanya pelan, di dalam hati.
_Bismillahirrahmanirrahim..._
_Anakku Sopiah..._
_Jika surat ini kamu baca, berarti Abah sudah tidak ada di dunia ini. Abah minta maaf, Abah tidak bisa menunggu kamu pulang dari Bandung._
_Sopiah... Abah selalu menganggap kamu seperti anak Abah sendiri. Kamu anak yang cerdas, hafalanmu kuat, tafsirmu paling bagus di antara santri putri._
_Abah punya satu pinta terakhir._
_Abah titip putra Abah, Azam. Azam ini anak baik, Nduk. Tapi nasibnya berat. Ia harus menikah dua kali bukan karena cinta, tapi karena tanggung jawab menjaga pesantren ini tetap berdiri._
_Jika pernikahan pertama dan keduanya karena tanggung jawab... maka Abah ingin pernikahan ketiganya karena cinta._
_Dan cinta itu adalah kamu, Sopiah._
_Abah sudah istikhoroh berkali-kali. Jodoh Azam yang ketiga adalah kamu._
_Abah mohon, Nduk... mau kah kamu menjadi Cinta Ketiga untuk putra Abah?_
Baru sampai di situ, pandanganku sudah kabur oleh air mata.
"Abah..." lirihku tanpa sadar. Suaraku pecah. "Abah... Ning rindu Abah... hik... hiks..."
Aku tidak tahan lagi. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku dan menangis sesegukan di depan Gus Azam. Semua rindu yang aku tahan selama empat tahun di Bandung, semua rasa kehilangan karena tidak sempat melihat Abah untuk terakhir kalinya, tumpah semua hari ini.
Aku melihat dari sela-sela jariku, Gus Azam ingin sekali mengusap air mataku. Tangannya sudah terangkat setengah, ingin menghapus air mata yang jatuh di pipiku.
Namun ia tahan. Ia mengepalkan tangannya kembali dan menurunkannya. Ia menarik nafas panjang.
Karena aku bukan muhrimnya. Adab pesantren itu masih ia jaga, bahkan di saat seperti ini. Dan justru karena itu, hatiku semakin bergetar.
Setelah beberapa menit aku menangis, aku mengusap air mataku dengan ujung kerudungku. Aku mencoba mengumpulkan keberanianku.
Aku menatap Gus Azam dengan mata sembab.
"Lantas... istri Gus bagaimana?"
Gus Azam mengerutkan dahi, seolah sudah menduga pertanyaan ini akan keluar.
"Maksud Nduk?"
"Sampun ada dua, Gus," ucapku pelan tapi tegas. "Saya dengar dari Ning-Ning di asrama. Gus sudah punya dua istri. Bagaimana dengan perasaan mereka? Kulo... saya tidak mau menyakiti sesama perempuan, Gus. Saya perempuan, saya tau rasanya disakiti."
Ini prinsipku. Dari dulu. Aku tidak mau menjadi penyebab air mata perempuan lain.
Gus Azam terdiam lama. Ia menatap ke arah foto Abahnya di dinding.
"Ummah dan Latifah..." ucapnya pelan. "Mereka tau soal wasiat ini, Nduk."
Aku terkejut.
"Ning Ummah... beliau istri pertama saya. Saya nikahi beliau karena amanah Abah untuk menjaga marwah pondok putri. Beliau hafidzah, beliau yang pantas jadi ibu untuk santri putri. Ning Latifah... istri kedua saya. Saya nikahi karena waktu itu pesantren hampir disita bank, dan Abah juragan, ayah Latifah, yang membantu melunasi dengan syarat saya menikahi putrinya."
Ia menatapku lagi, kali ini tatapannya begitu mantap dan jujur.
"Dua pernikahan itu karena tanggung jawab, Nduk. Bukan karena cinta. Saya berusaha adil seadil-adilnya."
"Dan yang ketiga?" tanyaku lirih.
"Yang ketiga ini... jika Nduk mau... ini karena cinta. Karena wasiat Abah. Abah ingin saya belajar mencintai karena Allah, bukan karena beban."
Jantungku berdegup sangat kencang sampai terasa sakit.
Aku menunduk lagi. Aku tidak bisa langsung menjawab.
"Gus..." ucapku dengan suara bergetar. "Izinkan... izinkan saya bicara dulu dengan kedua istri Gus. Saya ingin bertemu Ning Ummah dan Ning Latifah. Saya ingin mendengar dari mereka langsung."
Gus Azam mengangguk.
"Nggih, Nduk. Monggo. Itu hak Nduk."
"Dan..." lanjutku. "Beri saya waktu, Gus. Kulo mau istikhoroh dulu. Ini keputusan besar, Gus. Saya tidak mau salah langkah."
Gus Azam tersenyum. Senyum yang pertama kali terlihat tulus sore ini.
"Nggih, Nduk. Saya beri waktu. Tujuh hari. Sampai malam Jumat Kliwon nanti. Saya tunggu jawaban Nduk di ndalem ini lagi."
Di luar, azan Ashar berkumandang dari masjid pondok, syahdu menembus gerimis.
Dan aku tahu, hidupku tidak akan pernah sama lagi setelah surat di tanganku ini.