NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 - Roan Bersama

Di Darul Hikmah, ada satu kegiatan yang paling ditunggu sekaligus paling dihindari santri: roan akbar.

Ditunggu karena tidak ada pelajaran. Dihindari karena... capeknya minta ampun. Sehari penuh bersih-bersih pesantren dari ujung ke ujung.

Pagi itu, habis Subuh, semua santri sudah dikumpulkan di halaman. Ustazah Khadijah dan Ustaz Heeseung yang jadi koordinator.

"Oke, kelompoknya Ustazah acak ya. Biar adil, putra sama putri campur tapi tetap jaga batas. Tidak boleh berduaan, kerja kelompok minimal lima orang," kata Ustazah Khadijah sambil membawa kertas list.

Muthi'ah berdiri sama Dina, Zahra, Salsa. Sudah siap pakai baju roan, jilbabnya diikat biar tidak ribet.

Ustaz Heeseung membacakan kelompok.

"Kelompok 7: Muthi'ah, Dina, Zahra, Salsabila... sama Jay, Ni-ki, Jungwon. Tugasnya membersihkan gudang kitab lama belakang masjid."

Sedetik, hening.

Dina langsung menyikut Muthi'ah, "Muth, sekelompok sama Gus Jay!"

Di sisi putra, Ni-ki langsung heboh, "Woy, sekelompok sama cewek-cewek pinter! Asik!"

Gudang kitab lama itu ada di belakang masjid, bangunannya dari kayu, atapnya seng. Di dalamnya tumpukan kitab kuning yang sudah tidak terpakai, karpet gulungan, mimbar rusak. Baunya apek, debu tebal. Pintunya dibuka lebar dua sisi biar cahaya masuk, dan Ustazah Khadijah mondar-mandir mengecek tiap kelompok.

Pas kelompok 7 masuk, semua langsung batuk.

"Uhuk! Ya Allah debunya," Salsa langsung protes.

Jay dan Jungwon dan Ni-ki berdiri di dekat pintu, jaga jarak. Sesuai aturan, putra di sisi kanan, putri di sisi kiri, tengahnya dikosongkan.

"Oke, kita bagi tugas ya," Jay mulai, dengan nada ketua roan. "Yang putri beresin kitab yang masih bagus, dipisahkan. Yang putra angkat karpet dan kayu yang sudah lapuk, buang ke belakang. Bagaimana?"

Muthi'ah mengangguk, "Inggih, Gus."

Awalnya kaku sekali. Hanya terdengar suara sapu dan batuk.

Salsa yang blak-blakan tidak tahan suasana kaku.

"Eh, ini kitab apa ya? Kok tulisannya Arab semua tapi nggak ada harokatnya? Kayak tulisan dokter," kata Salsa sambil mengangkat kitab besar yang berdebu.

Muthi'ah tertawa kecil, "Itu kitab Fathul Mu'in, Salsa. Memang tidak ada harokatnya, harus sudah bisa baca gundul."

Ni-ki dari sisi putra langsung menyaut, "Wah, Kak Salsa nggak bisa baca gundul ya? Sama dong kayak saya, bisanya baca komik."

Satu gudang langsung tertawa. Suasana yang tadinya kaku, jadi cair sedikit.

Pas lagi mengangkat kayu lapuk, paku di kayu itu nyangkut di sarung Jay. Sarungnya ketarik, hampir sobek.

"Eh, Gus, hati-hati!" Zahra refleks berkata.

Ni-ki tidak mau menyia-nyiakan momen, "Wah, Gus Jay hampir jadi korban roan. Pahlawan gudang kitab."

Jay, yang biasanya hanya diam kalau digoda, malah tertawa. Tertawa lepas. Bukan senyum tipis formal yang biasa dia berikan di panggung. Tapi tertawa beneran, giginya kelihatan, matanya sampai sipit.

"Hahaha, sudah seperti film action," kata Jay sambil menahan sarungnya.

Semua yang di gudang diam sepersekian detik.

Karena itu pertama kalinya mereka melihat Jay tertawa seperti itu.

Muthi'ah yang lagi memegang tumpukan kitab, berhenti. Dia menatap Jay. Baru kali ini dia melihat putra Kiai yang selama ini kelihatan dingin, ternyata kalau tertawa... biasa saja. Seperti anak muda biasa.

Salsa yang blak-blakan langsung nyeletuk, "Loh, Gus Jay bisa ketawa juga toh? Kirain bisanya cuma bilang 'syukron' sama 'saya laksanakan'."

Satu gudang meledak ketawanya.

Jay yang sudah terlanjur tertawa, jadi tidak bisa kembali jaim lagi.

"Heh, Salsa, jangan ngadi-ngadi. Saya juga manusia," kata Jay, masih tertawa.

Muthi'ah, tanpa sadar, ikut tertawa kecil. Tertawa pelan yang dia tahan, tapi terdengar.

Jay mendengar. Dia menoleh ke arah Muthi'ah. Pas mata mereka bertemu sepersekian detik, Muthi'ah langsung menunduk lagi.

Zahra yang memperhatikan dari tadi, senyum-senyum sendiri.

Roan berlanjut sampai Dzuhur. Gudang yang tadinya seperti kapal pecah, sekarang sudah agak lumayan.

Pas beres-beres terakhir, Ni-ki menemukan kardus berisi kitab-kitab kecil yang tulisannya masih pakai tulisan tangan.

"Eh, ini apa? Kayak diary Kiai zaman dulu," kata Ni-ki.

Jay mengambil satu, membuka. Ternyata catatan ngaji Kiai Hasyim waktu muda.

"Wah, ini tulisan Abi waktu masih santri," kata Jay.

Muthi'ah penasaran, "Boleh lihat, Gus?"

Jay menyodorkan dari jarak jauh, lewat Jungwon. Muthi'ah membaca sebentar, "MasyaAllah, rapi sekali tulisannya."

Waktu adzan Dzuhur berkumandang, Ustazah Khadijah datang mengecek.

"MasyaAllah, kelompok 7 bersih sekali. Paling bersih se-pesantren kayaknya. Kalian kompak ya," puji Ustazah.

Salsa langsung menjawab, "Iya, Ustazah, soalnya ada pahlawan sarung hampir sobek."

Semua tertawa lagi. Jay hanya bisa menggaruk kepala.

Pas keluar dari gudang, Muthi'ah jalan di belakang bersama Zahra. Bajunya sudah penuh debu, tapi mukanya kelihatan puas.

Zahra berbisik, "Muth, tadi lihat Gus Jay ketawa nggak?"

Muthi'ah mengangguk pelan, senyumnya masih ada, "Iya. Ternyata... nggak sedingin yang dikira."

Di sisi putra, Ni-ki juga berbisik ke Jay, "Gus, tadi Kak Muthi'ah ketawa gara-gara lu tahu."

Jay langsung menjitak kepala Ni-ki pelan, "Ngaco. Sana wudhu, kotor semua."

Tapi habis itu, Jay tersenyum sendiri.

Hari itu, untuk pertama kalinya, Muthi'ah melihat Jay bukan sebagai putra pengasuh yang harus dihormati dari jauh. Tapi sebagai teman roan yang sarungnya hampir sobek, yang ketawanya lepas.

Dan Jay, untuk pertama kalinya, melihat Muthi'ah bukan sebagai santri pendiam yang hanya bisa menunduk. Tapi sebagai partner roan yang cekatan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!