NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Diceraikan

Istri Gendut Yang Diceraikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Dendam Kesumat / Cewek Gendut
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Danti tiba-tiba diceraikan oleh suaminya saat rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.

Alasannya? karena tubuh Danti berubah gemuk setelah menjalani berbagai program kehamilan yang selama ini sedang mereka perjuangkan bersama.

Bukannya menangis dan memohon agar dicintai kembali, Danti justru menerima perceraian itu dengan tenang.

Namun sebelum palu hakim diketuk, Danti akan membuktikan bahwa perempuan yang dicampakkan karena bentuk tubuhnya... kini masih bisa berubah menjadi bidadari yang membuat banyak lelaki tergila-gila.

Dan saat mantan suaminya menyesal, Danti hanya tersenyum sambil berkata...

“Aku pawang buaya yang akan membuka kembali peternakannya!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amarah Danti

Malam sudah jatuh ketika Danti akhirnya sampai di rumah.

Ia membuka pintu pelan-pelan, melepas sandal, lalu menyalakan lampu ruang tamu. Rumah itu menyambutnya dengan keheningan yang jauh lebih lega dari keributan rumah mertuanya. Tak ada bentakan, tak ada tumpukan piring, tak ada tatapan menilai. Hanya bunyi jam dinding dan desau kipas angin yang berputar malas.

Danti melepas selendang dari tangan kirinya dan melemparkannya ke sandaran sofa. Ia menggerakkan pergelangan itu beberapa kali, memutar-mutarnya sambil tersenyum geli.

Ia mengganti baju dengan daster longgar, membuat teh hangat, lalu duduk bersila di sofa dengan ponsel di tangan. Layar menyala, menampilkan daftar lowongan yang sejak kemarin ia kumpulkan.

Satu per satu ia buka, membaca syaratnya, menyimpan yang cocok.

Sesekali ia mengigit bibir, berpikir keras. Ijazahnya masih tersimpan di dasar lemari, terselip di antara berkas-berkas lama. Kemampuan mengetiknya mungkin karatan, tapi tidak hilang. Dan kalau tidak ada yang mau menerima, ia akan mulai dari bawah.

Suara mobil memasuki halaman.

Rizal masuk dengan wajah kusut.

Kemejanya sudah tidak serapi tadi pagi, dua kancing teratas terbuka, lengan digulung asal-asalan. Matanya agak merah, entah karena lelah atau karena beban yang ia bawa pulang dari rumah ibunya. Ia melempar kunci ke atas meja, lalu berhenti di tengah ruang tamu.

Pandangannya jatuh pada Danti yang duduk di sofa.

Hening beberapa detik.

Danti masih menunduk menatap layar ponselnya. Daster motif bunga kecil membungkus tubuhnya yang berisi. Rambutnya dikuncir seadanya, beberapa helai jatuh di sisi wajah. Pipinya bulat dan merona karena hangatnya teh, lengan atasnya terlihat penuh, dan pinggangnya, yang tertutup kain longgar, tak lagi menyisakan lekuk seperti dulu.

Rizal mengamatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki, perlahan, tanpa sadar.

Dan sebuah gambar lain menimpa penglihatannya.

Danti di tahun-tahun pacaran. Berdiri di depan kosnya dengan gaun kuning muda yang melambai, tertawa sambil menutup mulut, pinggang ramping, bahu halus, mata berbinar saat melihat Rizal datang membawa bunga murahan. Gambar yang dulu membuatnya ingin cepat-cepat menikahi perempuan itu.

Lalu gambar itu bertabrakan dengan sosok di sofa. Dan di tengah benturan itu, sebuah perasaan asing menyelinap ke dalam dadanya.

Ilfil.

Rasanya seperti menggigit sesuatu yang sudah basi, tak enak, janggal, membuat bibir ingin mengerut. Ia buru-buru memalingkan muka, tapi perasaan itu sudah terlanjur menempel.

Namun, di sudut paling dalam, ada suara lain. Suara kecil, lirih, yang berbisik, "itu Danti. Istrimu. Dia yang bikin kopi tiap pagi. Dia yang nunggu kamu pulang bertahun-tahun."

Rizal mengernyit. Ia menggelengkan kepala pelan, seperti mengusir lalat. Perasaannya campur aduk, tak karuan. Ingin marah, tapi tak tahu pada siapa. Ingin menyalahkan, tapi sesuatu menahannya. Dan karena tak bisa menamai apa yang ia rasakan, ia memilih hal yang paling mudah.

"Aku lapar."

Danti melirik sekilas dari balik ponselnya. Matanya menatap wajah suaminya, hanya sebentar, lalu kembali ke layar.

Ia tahu. Ia tahu persis apa yang baru saja melintas di kepala Rizal. Terlalu lama ia membaca ekspresi lelaki itu, terlalu hafal setiap kerutan di dahinya. Dulu, ia akan menelan semua itu bulat-bulat dan berusaha lebih keras. Tapi malam ini, ia hanya menghela napas pendek. Tak ada tenaga untuk berdebat soal hal yang sama.

"Ambil sendiri di belakang, Mas," ujarnya datar. "Ada nasi sama tempe goreng di tudung saji."

"Kamu nggak masak?"

"Itu yang ada."

Ia bangkit, mengambil gelas tehnya, dan berjalan menuju kamar tanpa menoleh.

"Dan..."

"Aku capek, Mas. Mau istirahat."

Pintu kamar tertutup pelan. Tak dibanting, hanya ditutup, tapi bunyinya terdengar lebih keras dari bantingan mana pun.

Rizal berdiri sendirian di ruang tamu, menatap pintu itu dengan rahang mengeras.

---

Setelah makan seadanya, nasi dingin dengan tempe yang sudah agak melempem, ia mandi cepat dan masuk ke kamar sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

Danti sudah berbaring di sisi kiri ranjang, membelakangi pintu, selimut ditarik sampai bahu. Ia tak bereaksi ketika Rizal masuk.

Rizal menuju lemari untuk mengambil kaus tidur. Tapi langkahnya terhenti di depan meja rias.

Ada sesuatu yang kurang.

Dahinya berkerut. Ia menatap permukaan meja itu lama, mencoba mengingat. Bedak. Pelembap. Sisir. Cermin kecil. Dan ruang kosong, ruang di sudut kiri yang biasanya dipenuhi botol-botol putih kecil dan kotak-kotak obat, berderet rapi seperti prajurit yang menjaga harapan mereka.

Kosong. Hanya ada sedikit bekas lingkaran debu tempat botol-botol itu berdiri.

"Dan," panggilnya. "Obat-obatanmu mana?"

Tak ada jawaban.

"Danti."

"Hm?"

"Obat-obatanmu. Yang di sini. Suntikan, vitamin, semuanya. Kamu pindahin ke mana?"

Danti tak membalikkan badan. Suaranya terdengar pelan dan tenang dari balik selimut. "Sudah kubuang."

Rizal tak yakin ia mendengar dengan benar. "Apa?"

"Sudah kubuang, Mas. Semuanya."

Hening yang pekat jatuh di antara mereka.

Rizal berdiri kaku dengan handuk di tangan. Kemudian wajahnya perlahan berubah. Dahi mengerut, mata melebar, rahang mengetat.

"Kamu bercanda?"

"Nggak."

"KAMU BUANG!"

Teriakan itu membuat Danti membuka mata. Ia tak langsung bangun, hanya menatap dinding di hadapannya, menarik napas panjang.

"Kamu tahu berapa biaya semua itu?" Rizal melangkah mendekat, suaranya naik. "Kamu tahu berapa lama kita jalanin program ini? Dua tahun, Dan! Dua tahun! Uang yang keluar nggak sedikit! Waktu, tenaga, semuanya! Dan kamu buang begitu aja?"

"Iya."

"Kenapa? Kamu gila? Kamu mau berhenti? Kamu tahu aku pengen punya anak! Aku pengen banget punya anak! Kamu tahu itu, kan!"

Danti perlahan duduk, menyibak selimut. Ia menoleh. Dan Rizal terkejut melihat wajahnya, bukan karena marah, bukan karena air mata. Wajah itu datar, tenang, dan matanya menatap lurus ke arah suaminya dengan sorot yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

"Kamu pengen punya anak," ulang Danti pelan. "Terus aku apa, Mas?"

"Apa?"

"Aku ini apa buat kamu?" Suaranya mulai bergetar, tapi tak pecah. "Mesin? Alat? Wadah?"

"Jangan lebay, Dan..."

"Lebay?" Danti tertawa pendek, getir. "Dua tahun, Mas. Dua tahun aku suntik hormon tiap hari. Aku mual, pusing, bengkak, nangis tanpa alasan. Badanku berubah sampai aku nggak mengenali diriku sendiri di cermin. Dan kamu tahu apa yang kamu bilang tiap kali aku bilang aku capek? Itu risiko. Itu perjuangan. Bersabar sedikit."

"Itu memang..."

"Kamu pernah tanya, nggak, aku sakit atau nggak? Aku kuat atau nggak? Pernah?" Danti bangkit berdiri, wajahnya kini sejajar dengan Rizal. "Yang kamu tanya cuma satu udah hamil belum?"

Rizal membuka mulut, tapi tak ada kata keluar.

"Dan waktu badanku membesar karena obat-obat itu, waktu bajuku nggak muat, waktu aku harus pakai gaun lusuh yang sama berkali-kali karena cuma itu yang cukup, kamu bilang apa?" Suaranya meninggi. "Kamu bilang aku gendut! Kamu bilang aku memalukan! Kamu bilang aku makan terlalu banyak! Kamu bentak aku di depan lemari! Di depan teman-temanmu, kamu bilang aku rakus!"

"Itu karena..."

"Kamu cekal tanganku waktu aku mau ambil makanan! Kamu bilang aku bikin malu! Padahal sejak pagi aku belum makan, Mas! Aku lapar!" Air matanya akhirnya jatuh, tapi suaranya tetap terdengar jelas. "Waktu perempuan-perempuan itu menghinaku, kamu diam. Waktu temanmu bilang aku mirip drum bekas, kamu ketawa! Waktu ibumu ngambil semua makananku, waktu ibumu bilang aku boros, waktu semua orang bilang aku mandul, kamu nggak pernah sekali pun membelaku!"

"Itu..."

"Aku capek, Mas!" teriak Danti. Suara itu pecah, menggema di kamar sempit itu. "Aku capek! Aku udah habis! Aku nggak punya tenaga lagi buat jadi istri yang sabar, yang nurut, yang diam! Aku bukan sapi perah! Aku manusia!"

Napasnya tersengal. Dadanya naik-turun. Air mata mengalir deras di pipinya, tapi ia tak menyekanya. Ia hanya berdiri di sana, gemetar, menatap lelaki yang selama ini ia panggil suami.

1
ryuka
bagus rizal semakin cepat kamu masuk kurang klo bgini 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
selamat Rizal sbntar lgii km bkal masuk k jurang kehancuran 😏
Muft Smoker
awalnya emnk manis ,, tp nanti juga akhirnya anda bakal ngerasa mana yg tulus ma hidup mu ,, mana yg cuma tulus ma uang mu zal ,, 😒😒😒
ryuka
nunggu kehancuran kalian sekeluarga aku tuuuhhh 🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
haduuuhh biasa nya yg gampang terpukau itu yg gampang di bodohi 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
ryuka
orang salah emang selalu cari pembenaran 🫠🫠🫠🫠🫠🫠
Muft Smoker
ayoo dantii ,, semangat berjuang ,,
ryuka
semangat dantiiii 👍👍👍👍👍👍👍
ryuka
kamu mulai terlena rizal.. haduh haduh haduhh.. /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Muft Smoker
gpp danti ,, biarkan si Rizal hancur sndrii dg selalu merasa bnar ,,
km tinggal fokus dg ap yg Skrang km kerjakan ,, meski rasa sakit mungkin ad ,, sbgai istri melihat suami sperti itu ,,
Muft Smoker
baru 1 hari atur uang belanja ,, km udh stress zal/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
ryuka
naahhh mikir kamu sekarang.. haduuhh di bodohin kok mau aja sihhh
Muft Smoker
sbntar lgii jugaaa hancur dy ,, biarin aj ,,
ryuka
bodoh kamu bodoh rizal.. tunggu kehancuran kamu zal
Muft Smoker
gpp zal semakin km merasa bosan ma danti ,, semakin penyesalan dan kehancuran mendekat ke arah mu
ryuka
terlalu bodoh kamu rizal../Sweat//Sweat//Sweat//Sweat/
Muft Smoker
danti pun membalas ,, ' km banci mas ' 😒😒😒😒😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
Muft Smoker
good dantii ,, keluarin uneg2 mu ,, abis tu tinggalin si Rizal ,, punya suami otak ny Segede udang rebon ,, yx begitu ,, 😒 😒 😒 😒
ryuka
bagus danti.. keluarkan semua uneg2 mu biar rizal tau.. tinggal kita liat keputusan apa yang kita ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!