Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Setapak yang Selalu Sama
Langit di atas Banjarmasin sudah berubah menjadi ungu kemerahan, warna yang selalu membuat Aruna merasa seolah langit sedang berbisik perpisahan lembut kepada siang. Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang tumbuh liar di sela-sela semak belukar. Di sekelilingnya, pohon-pohon besar yang sudah berumur ratusan tahun berdiri tegak bagai penjaga tak bernama, dahan-dahannya saling menyilang membentuk atap alami yang meneduhkan jalan setapak tua ini.
Bagi orang lain, tempat ini mungkin terlihat menyeramkan. Jalan setapak yang sempit, berlumut, menyusur di pinggir hutan kecil yang memisahkan kawasan kampus dari perumahan tempat Aruna tinggal. Belakangan ini, berita-berita tak menyenangkan mulai terdengar: seseorang yang pulang terlambat tak pernah sampai ke rumahnya, sepasang kekasih yang berjalan di sini menghilang tanpa jejak, hanya ditemukan sepasang sandal tertinggal di tepi semak. Namun bagi Aruna, tempat ini bukanlah gerbang ketakutan. Ia justru merasa lebih tenang di sini daripada di keramaian kampus yang bising dan penuh tatapan asing.
"Aruna! Tunggu aku!"
Suara Dinda memecah keheningan, menyusul langkah Aruna yang berjalan santai. Sahabatnya itu berlari kecil, tas punggungnya berguncang, wajahnya tampak cemas.
"Kau mau lewat sini lagi?" tanya Dinda, menyamai langkah Aruna sambil menatap ke kiri dan ke kanan seolah ada mata-mata yang mengintai dari balik pepohonan. "Sudah kubilang, jalan ini tidak aman. Sudah ada tiga orang hilang dalam sebulan terakhir, Aruna. Polisi saja belum menemukan petunjuk apa pun."
Aruna tersenyum lembut, merapikan ujung jilbabnya yang tertiup angin. "Aku tahu kau khawatir, Dinda. Terima kasih. Tapi aku sudah berjalan di sini sejak aku masuk kuliah, tidak pernah terjadi apa-apa padaku."
"Itulah yang membuatku aneh," gumam Dinda, meremas tali tasnya. "Semua orang menghindari tempat ini, kecuali kau. Dan kau... kau selalu terlihat seolah ada yang menemanimu."
Aruna terdiam sejenak. Ia ingin menceritakan perasaan itu — perasaan yang selama ini ia simpan sendirian di dalam dadanya, sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Bahwa sejak pertama kali melangkah ke jalan setapak ini, ia tidak pernah merasa benar-benar sendirian.
"Aku memang tidak sendirian," jawab Aruna pelan, matanya menatap ke arah bayangan paling pekat di antara dahan pohon besar. "Ada seseorang... atau sesuatu... yang selalu menjagaku. Aku merasakannya."
Dinda mengerutkan kening, menarik lengan Aruna sedikit seolah ingin menariknya kembali ke kenyataan. "Aruna, jangan bicara begitu. Itu hanya imajinasimu karena kau terlalu lelah atau terlalu banyak membaca buku-buku misteri. Tidak ada siapa-siapa di sini."
"Kalau tidak ada siapa-siapa," Aruna berhenti melangkah, menatap sahabatnya dengan mata yang jernih namun penuh keyakinan, "siapa yang menarikku mundur saat aku hampir tertimpa dahan kering yang patah minggu lalu? Kau ingat? Dahan itu jatuh tepat di tempatku berdiri sedetik sebelumnya. Dan rasanya... ada tangan yang menarik kerah bajuku pelan tapi pasti."
Dinda menelan ludah, wajahnya sedikit pucat. "Mungkin... mungkin kau hanya tersandung dan mundur sendiri tanpa sadar."
"Begitu juga saat aku hampir terperosok ke parit yang tertutup rumput tinggi bulan lalu," lanjut Aruna, suaranya tetap tenang namun tegas. "Aku tidak melihatnya, tapi ada angin yang mendorong bahuku ke samping. Sangat lembut, tapi cukup kuat untuk mengubah arah langkahku. Saat aku menoleh, aku melihat lubang yang dalam itu tepat di tempat kakiku akan melangkah."
Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Angin berhembus lebih kencang, membuat dedaunan berdesir pelan, seolah ikut mendengarkan percakapan mereka.
"Dan kemarin," tambah Aruna pelan, "saat hujan turun deras dan aku berlari di sini... ada rantai yang jatuh dari pohon tinggi. Tepat di depan kakiku. Jika aku melangkah lebih cepat sedikit, pasti kakiku terluka parah. Saat itu, aku mendengar suara. Sangat pelan, seolah berbisik tepat di telingaku."
Dinda memeluk dirinya sendiri, matanya membelalak. "Suara apa?"
Aruna menunduk sejenak, pipinya merona halus meski tak ada orang lain yang melihatnya. "Suara itu memanggil namaku. Hanya satu kata: 'Aruna...' Lembut, rendah... dan terdengar sangat menyayangkan."
Dinda menggeleng kuat, menarik napas panjang seolah ingin membuang ketakutan yang mulai merayap. "Aruna, aku mohon... jangan lewat sini sendirian lagi. Aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpamu. Siapa pun atau apa pun itu, kita tidak tahu niatnya. Bisa saja itu bukan perlindungan, melainkan jebakan."
Aruna tersenyum, meraih tangan sahabatnya dan mengenggamnya erat. "Aku tahu kau menyayangiku, Dinda. Dan aku tidak akan memaksamu ikut denganku jika kau takut. Tapi di dalam hatiku... aku tahu itu bukan jebakan. Jika ia ingin menyakitiku, pasti sudah lama melakukannya. Ia sudah menjagaku sejak aku masih kecil, aku yakin itu."
"Sejak kecil?" Dinda terkejut.
"Ya. Saat aku hampir tenggelam di sungai waktu umur tujuh tahun... saat aku tersesat di hutan belakang rumah nenekku... saat aku sakit keras dan sendirian di kamar... selalu ada perasaan itu. Seolah ada yang berdiri di dekatku, menjagaku agar tetap bernapas." Aruna menatap ke arah kedalaman bayangan di ujung jalan. "Aku tidak tahu siapa dia. Aku bahkan belum pernah melihatnya dengan jelas. Tapi aku tahu namanya."
Dinda mengerjap. "Kau tahu namanya?"
"Sekali waktu, saat aku menangis sendirian karena kesepian... aku mendengarnya. Di antara bisikan angin, di antara suara detak jantungku sendiri. Namanya..." Aruna berhenti, bibirnya hampir menyebut nama itu, lalu menarik napas pelan. "Aku belum siap mengucapkannya. Belum saatnya."
Dinda menghela napas panjang, menyadari tak bisa mengubah pikiran sahabatnya. "Baiklah. Aku tidak akan melarangmu. Tapi janjilah padaku: jika sesuatu terasa tidak benar, kau akan lari. Kau akan memanggilku, atau pulang lewat jalan lain. Janji?"
"Janji," jawab Aruna tulus, meski di lubuk hatinya ia tahu — ia tak akan lari darinya, siapa pun sosok itu nantinya.
Matahari hampir sepenuhnya tenggelam sekarang. Cahaya kemerahan memudar, digantikan oleh kebiruan lembut yang perlahan berubah menjadi kelabu. Dinda memeluk Aruna sebentar sebelum berpisah di persimpangan — Dinda pulang lewat jalan raya yang terang, sementara Aruna melanjutkan langkahnya menyusuri jalan setapak yang kini mulai diselimuti kabut tipis.
Saat langkah kaki Dinda tak terdengar lagi, Aruna berhenti. Ia berdiri di tengah jalan, di antara keheningan yang lembut, dan menatap ke sekelilingnya.
"Kau di sana, bukan?" tanyanya pelan, suaranya bergetar sedikit namun penuh harap. "Aku tahu kau mendengarku."
Tidak ada jawaban langsung. Namun angin berhenti berhembus tiba-tiba. Dedaunan yang tadi berdesir kini hening. Kabut di depannya bergerak pelan, seolah terbuka sedikit, menyisakan celah di mana cahaya senja yang tersisa menembus dan menyinari sepetak tanah kering.
Aruna tersenyum. Hatinya berdebar — bukan karena takut, melainkan karena perasaan dikenali, diperhatikan, dihargai dengan cara yang tak pernah diberikan siapa pun lain.
"Terima kasih," ucapnya tulus kepada kegelapan. "Terima kasih sudah menjagaku selama ini."
Ia melanjutkan perjalanannya, langkahnya ringan, dan sepanjang perjalanan pulang, ia merasa — di antara bayang-bayang pohon, di balik kabut tipis itu — ada sepasang mata yang mengikutinya. Mata yang tidak menyembunyikan kejahatan, melainkan kerinduan yang tak terucapkan.
Sesampainya di rumah, Aruna berdiri di beranda, menatap kembali ke arah jalan setapak yang kini hilang dalam kegelapan malam. Ia menyentuh dadanya, tempat jantungnya berdetak tenang dan mantap.
Siapa kau? tanyanya dalam hati. Mengapa kau menjagaku? Dan kapan... kapan kau akan menampakkan dirimu padaku?
Tidak ada jawaban. Namun di kejauhan, dari balik rimbunnya pepohonan, seolah ada suara lembut yang terbawa angin — terlalu pelan untuk dipastikan, namun cukup jelas untuk dirasakan:
"Segera, cahayaku