Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI LAMARAN.
Hari lamaran yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Sejak pagi, rumah Nafisa sudah ramai oleh kedatangan keluarga inti.
Di dalam kamar, Nafisa duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin. Polesan makeup di wajahnya berhasil mengubah penampilannya.
Nafisa mengamati dirinya beberapa saat, kemudian mengembuskan napas perlahan.
Di belakangnya, ibunya duduk di tepi ranjang sambil mengusap perutnya yang mulai membesar.
Nafisa sempat melirik ibunya melalui cermin, tetapi ia memilih untuk tidak bertanya.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Seorang perempuan yang sejak tadi membantu mengurus acara muncul di ambang pintu.
“Mbak Nafisa, sudah hampir tiba. Mohon bersiap-siap, ya.”
Nafisa mengangguk pelan. “Iya, sebentar lagi.”
MUA yang duduk di hadapannya pun menyelesaikan polesan terakhir, lalu meletakkan kuas ke tempatnya.
“Sudah selesai, Mbak.”
Nafisa tersenyum tipis. “Terima kasih, Kak.”
“Sama-sama. Semoga acaranya lancar, ya, Mbak.”
“Amin.”
“Nafisa, Ibu keluar duluan, ya?” ujar Bu Yulia kemudian.
Nafisa menoleh. “Iya, Bu.”
Ibunya beranjak dari ranjang. Lalu berjalan menuju pintu kamar.
Nafisa memandangi punggung ibunya hingga menghilang di balik pintu.
Pintu kamar kembali tertutup.
“Mbak, itu ibu sampean?”
Nafisa menoleh. “Iya, Mbak. Memangnya ada apa?”
Perempuan itu sempat terdiam, tangannya masih merapikan perlengkapan makeup ke dalam tas. Raut wajahnya tampak ragu.
“Enggak ada apa-apa, Mbak. Cuma … aneh saja rasanya.”
Nafisa mengernyit. “Aneh bagaimana?”
MUA itu menggeleng kecil. “Saya takut salah ngomong. Pokoknya, Mbak berdoa saja, ya. Semoga semuanya baik-baik saja.”
Kening Nafisa semakin berkerut. Ia memperhatikan perempuan di hadapannya yang kini tampak serius, jauh berbeda dari sikap ramahnya sejak tadi.
“Mbak punya kebatinan?” tanyanya hati-hati.
“Enggak, Mbak.” Perempuan itu segera menggeleng. “Cuma, ini seperti turun-temurun di keluarga saya. Kadang saya bisa merasakan firasat buruk tentang sesuatu. Sulit sekali menjelaskannya, tetapi perasaan itu biasanya muncul begitu saja.”
Nafisa terdiam sesaat. Ia bukan orang yang mudah percaya pada firasat semacam itu.
“Semoga memang enggak ada apa-apa,” gumamnya.
Meski begitu, ucapan perempuan tadi telanjur tertinggal di benaknya.
Di sisi lain, langkah Yulia terhenti begitu memasuki ruang tamu.
Sejumlah anggota keluarga sudah berkumpul di sana, termasuk keluarga mendiang suaminya. Namun, alih-alih menyambutnya dengan ramah, mereka justru menatapnya dengan sorot mata dingin.
Yuli berusaha mengabaikan tatapan tersebut, ia melangkah mendekat dan duduk di tempat kosong yang tersedia.
Belum sempat ia mengatur posisi duduknya, salah seorang perempuan dari keluarga mendiang suaminya sudah membuka suara.
“Mbak Yulia, kabar yang beredar itu memang benar, ya? Mbak bermain di belakang Nafisa?”
Yulia seketika terdiam. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.
“Lihat saja perutnya,” sahut seorang kerabat yang lain. “Enggak mungkin itu benih yang tertinggal dari Mas Tio. Sudah hampir belasan tahun ditinggal suami, mana mungkin bisa hamil kalau bukan karena melakukan hubungan intim dengan laki-laki lain?”
Yulia menunduk. Wajahnya terasa panas mendengar ucapan tersebut.
“Enggak nyangka banget dia tega melakukan itu kepada putrinya sendiri.”
“Memangnya keluarganya enggak mendidiknya dengan baik?”
“Aduh, jangan-jangan nanti calon suami Nafisa juga jadi targetnya. Katanya laki-laki itu bos perusahaan, kan?”
Ucapan terakhir membuat Yulia semakin meremas ujung gaunnya. Ia ingin membela diri, tetapi lidahnya terasa kelu. Setiap kali hendak membuka mulut, selalu ada ucapan lain yang lebih menyakitkan menyusul.
Sampai akhirnya, suara laki-laki yang duduk tak jauh darinya terdengar.
“Dengar, enggak? Gara-gara perbuatanmu, keluarga kita ikut menanggung malu!”
Yulia mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan Ilham, kakak sepupunya yang sejak tadi duduk dengan raut wajah masam.
“Mas Ilham, aku khilaf,” ucapnya lirih. “Tapi jangan salahkan aku sepenuhnya. Salahkah Damar juga! Dia yang datang ke kamarku saat aku sedang sendirian. Aku enggak pernah menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.”
Ilham menatapnya dengan sorot mata yang membuatnya semakin tak nyaman.
“Jadi, sekarang kamu mau menyalahkan Damar saja?”
“Bukan begitu, Mas. Aku cuma—”
“Terus, sebelum kejadian itu, kamu masih melakukan hal yang sama?” potong Ilham tajam.
Yulia langsung bungkam. Ia menunduk, sementara jemarinya semakin kuat mencengkeram kain gaunnya.
“Kenapa diam?” Ilham mendesak. “Apa yang aku katakan benar? Kamu masih melanjutkan hubungan itu setelahnya?”
Yulia tidak menjawab. Ia bahkan tak berani menatap wajah sepupunya sendiri.
“Jawab, Yulia!”
“Aku ….”
Suaranya tercekat.
Ilham mengembuskan napas kasar, lalu menggeleng dengan wajah penuh kekecewaan.
“Kalau bukan karena Om dulu pernah membiayai pendidikanku sampai lulus, mungkin sudah kutampar wajahmu sekarang.”
Yulia tersentak kecil.
Ia kembali menunduk, membiarkan kata-kata itu menghantamnya tanpa perlawanan. Sejak tadi, satu demi satu ucapan menyakitkan terus dilontarkan kepadanya.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki dari arah luar rumah terdengar. Percakapan di ruang tamu perlahan mereda. Beberapa orang mulai mengalihkan perhatian ke pintu, seolah kedatangan seseorang memang sudah mereka nantikan sejak tadi.
Yulia ikut mengangkat wajah.
Seorang pria yang mengenakan kemeja batik memasuki ruang tamu. Kehadirannya langsung menarik perhatian beberapa anggota keluarga yang segera menyambutnya.
Yulia memandang pria itu sejenak sebelum buru-buru mengalihkan tatapan.
“Jaga pandanganmu, Yulia.”
Bisikan Ilham terdengar tepat di samping telinganya.
“Jangan pernah berpikir untuk mengulangi kesalahan yang sama. Kamu sudah cukup membuat malu keluarga.”
Yulia menegang. Ia tak berani menoleh kepada sepupunya, apalagi membantah.
Obrolan demi obrolan terdengar memenuhi ruang tamu. Sesekali, tawa para tamu pecah di antara percakapan yang berlangsung, membuat suasana lamaran itu terasa semakin hangat.
Namun, Yulia justru lebih banyak diam. Duduk di antara anggota keluarga yang sejak tadi melontarkan berbagai ucapan menyakitkan kepadanya.
Sesekali, pandangannya mencuri-curi arah Dewangga. Pria itu duduk bersama keluarga yang lain, tampak tenang dalam balutan pakaian rapi.
Tak lama kemudian, suara pembawa acara terdengar melalui pengeras suara, menarik perhatian seluruh tamu yang hadir.
“Baiklah, Bapak dan Ibu sekalian. Kini kita akan memasuki acara inti. Mari kita sambut calon istri dari Bapak Dewangga!”
Tepuk tangan segera memenuhi ruangan.
Yulia ikut mengangkat wajah ke arah pintu yang menjadi tempat kemunculan putrinya.
Sedangkan di tempat duduknya, Dewangga tampak mulai mengarahkan perhatian ke pintu.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Nafisa akhirnya muncul.
Membuat Dewangga terpaku menatap Nafisa yang berdiri tak jauh darinya. Wanita itu terlihat begitu anggun dalam balutan kebaya, dengan riasan yang membuat wajahnya tampak semakin menawan.
“Kedip, Wangga.”
Dewangga tersentak kecil. Ia segera menoleh ke arah Oma Rima yang duduk di sampingnya.
Wajahnya seketika menghangat saat mendapati Omanya sedang menahan senyum jahil.
“Oma,” tegurnya pelan.
“Apa?” Oma Rima memasang wajah polos. “Memangnya salah kalau Oma mengingatkanmu untuk berkedip?”
Dewangga memilih bungkam.
Sementara itu, pembawa acara kembali mengambil alih mikrofon.
“Baik, sebelum kita melanjutkan acara, apakah ada pesan yang ingin disampaikan oleh Mas Dewangga kepada calon istrinya?”
Belum sempat Dewangga membuka mulut, Oma Rima sudah lebih dahulu menyahut.
“Oh, ada, Pak!”
Dewangga spontan menoleh. “Oma!”
Namun, Oma Rima sama sekali tak merasa bersalah. Ia malah tersenyum lebar kepada pembawa acara, kemudian berbalik menghadap cucunya.
“Cepat, bicara! Oma sudah mewakili kamu menjawab.”
“Tapi, Oma, Wangga belum—”
Belum selesai Dewangga berbicara, sebuah mikrofon sudah tersodor tepat di hadapannya.
Oma Rima malah mengambil mikrofon itu dari tangan pembawa acara dan langsung menyerahkannya kepada Dewangga.
“Nih, sudah Oma bantu ambilkan. Sekarang ngomong!”
“Oma, tapi bagaimana?”
“Ya, seperti yang Oma ajarkan semalam!”
Dengan berat hati, Dewangga akhirnya mengangkat mikrofon. Ia meluruskan duduknya, lalu mengarahkan pandangan kepada perempuan yang kini menjadi pusat perhatiannya.
Nafisa balas menatapnya dengan wajah tenang.
Dewangga sempat terdiam sesaat. Dari sudut matanya, ia melihat Oma Rima memberi isyarat agar segera berbicara.
Dewangga berdeham kecil.
“Untuk Nafisa Hanum Salsabila.”
Ia berhenti sebentar, memastikan perempuan itu masih menatapnya.
“Terima kasih sudah mau menerima saya sebagai calon suamimu.”
Suasana ruangan perlahan menjadi tenang.
Dewangga menggenggam mikrofon sedikit lebih erat, lalu melanjutkan dengan suara yang terdengar lebih mantap.
“Meskipun apa pun sifatmu kepadaku, yang terkadang selalu membuatku kesal, aku akan tetap menerimamu.”
Mendengar ucapan Dewangga, alis Nafisa langsung bertaut. Ia bahkan sempat menunjuk dirinya sendiri
‘Aku? Aku yang membuat dia kesal?’
Nafisa menatap Dewangga lekat-lekat. Rahangnya mengeras.
‘Awas saja.’
Ia menarik sudut bibirnya, memasang senyum manis yang sebenarnya terasa begitu terpaksa.
. . .
Tak lama kemudian, Dewangga mengakhiri ucapannya.
Pembawa acara yang berdiri di dekat mereka segera mengambil alih suasana.
“Baiklah, sekarang kita beralih ke calon wanita. Bagaimana perasaan Mbak Nafisa tentang lamaran ini?”
Sebuah mikrofon disodorkan kepadanya.
Nafisa menerimanya dengan senyum yang kembali terpasang di wajah. Ia sempat melirik Dewangga yang kini menatapnya.
Nafisa mengangkat sedikit sudut bibirnya, lalu mendekatkan mikrofon ke mulut.
“Alhamdulillah, saya senang sekali. Akhirnya, tiang listrik melamar saya.”
Suasana ruang tamu mendadak hening selama beberapa detik.
Seseorang bahkan terdengar berdeham.
“Tiang listrik?” ulang pembawa acara, kebingungan.
Nafisa mengangguk dengan wajah polos. “Iya. Itu panggilan sayang saya untuk Mas Dewangga.”
Seketika, tawa pecah memenuhi ruang tamu.
Nafisa menahan senyum puasnya. ‘Rasakan! Salah siapa?’
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.