Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Buta
BAB 34 - ISTRI POLOS TUAN GARRA
Dokter Alfin tidak mau gegabah dan bodoh, jika dia keluar dari mobilnya sekarang di jalan sepi dekat kebun teh itu, dia sama saja setor nyawa secara cuma-cuma. Badan kalah besar, tinggi kalah, jumlah pun dia kalah. Satu lawan dua preman berbadan kekar seperti gorila. Belum lagi di dalam mobil Alphard itu bisa saja masih ada sopir yang menunggu.
Otak cerdasnya sebagai seorang dokter langsung berpikir cepat dalam hitungan detik.
"Aku tidak boleh keluar! Aku harus pergi dari sini! Kalau aku mati di sini, siapa yang akan melindungi Elisa dan bayi dalam kandungannya?!"
Daripada keluar dan dipukuli sampai mati, dokter Alfin dengan nekat mengorbankan body mobil kesayangannya. Ia langsung tancap gas sekuat tenaga, tidak peduli ada dua orang pria besar yang berusaha menahannya dengan berdiri di depan mobil dan menggedor kaca depan.
BRUUMMM!!!
Mobil Fortuner putih itu meraung keras, ban belakang selip karena jalanan tanah berkerikil.
Satu orang preman botak nekad naik dan melompat ke atas kap mesin depan mobilnya, memegangi wiper dan berteriak mengancam, satunya lagi mengejar sambil memukul-mukul kaca samping pengemudi dengan kepalan tangannya yang besar.
"Keluar kau anjayyy! Berhenti!"
"Celaka! Gila orang-orang ini!" gumam Dokter Alfin dengan napas memburu, jantungnya mau copot.
Tidak mau mati konyol di tangan anak buah Garra tersebut, dokter semakin menambah kecepatan sampai 100 km/jam di jalanan sempit berkelok itu, mobilnya oleng ke kanan dan ke kiri. Sampai orang kekar yang di atas kap mobilnya tidak kuat menahan angin dan goncangan, langsung jatuh terpelanting keras ke bahu jalan yang penuh semak belukar dan batu.
BRUKK! "AARGGHHH!!!"
Dokter Alfin melihat dari spion, orang itu jatuh berguling-guling. Tapi dia tidak berhenti, dia terus tancap gas sekencang-kencangnya meninggalkan lokasi itu.
Dokter Alfin bukannya langsung pulang ke rumah kebun tempat Elisa bersembunyi, karena itu akan sangat berbahaya dan sama saja menunjukkan alamat persembunyian. Ia justru dengan cerdik langsung belok tajam. Langsung banting setir ke arah berlawanan, ke jalan raya besar menuju kantor polisi terdekat di Lembang untuk melapor dan meminta perlindungan.
Beberapa jam kemudian, di Penthouse mewah lantai 55 milik Garra di Jakarta.
Brakkk!!!!
Garra mengebrak meja marmer hitamnya dengan sangat keras sampai gelas kristal di atasnya pecah. Dia marah besar, matanya merah menyala melihat dua orang anak buah kepercayaannya yang sekarang berdiri menunduk ketakutan di hadapannya dengan baju kotor penuh tanah.
"Tololll!!!! Bagaimana bisa lepas! Kalian berdua lawan satu dokter kurus saja tidak becus! Kalian itu GOBLOKKK!!! BODOHHHH!!! Tak guna!!! Aku bayar kalian mahal-mahal untuk apa, hah?!!"
Garra memaki anak buahnya habis-habisan dengan kata-kata kasar, yang satu wajahnya masih normal tapi ketakutan, yang satu sudah lebam-lebam, pelipis berdarah dan baju robek karena jatuh dari atas mobil dokter yang tadi ngebut.
"Maaf, Tuan Garra, maafkan kami. Dokter itu nekat, dia tabrak kami, mobilnya kencang sekali ..." kata salah satu dengan suara gemetar.
"Saya tidak mau dengar alasan sampah kalian! Sekarang cari alamatnya sampai dapat!! Aku mau alamat rumahnya, alamat prakteknya, semua keluarganya! Bongkar!"
"Baik .... baik Tuan," Dua orang itu langsung mundur ketakutan dan lari keluar dari ruangan Garra.
Dokter Alfin memang sangat menjaga privasi nya dengan sangat ketat. Punya banyak tempat tinggal dan villa yang tidak atas nama dia langsung, hanya saja, yang satu ini, rumah kebun kecil di tengah kebun teh itu memang tidak ada yang tahu sama sekali. Benar-benar disembunyikan, bahkan Alex sekretaris Garra pun tidak bisa melacaknya lewat data kependudukan.
Dulu, rumah kebun itu adalah tempat dia merenung dan menyendiri pasca istrinya meninggal dunia 3 tahun lalu. Namun, sekarang malah jadi tempat perlindungan paling aman dan paling nyaman bagi seorang wanita muda polos bernama Elisa tersebut yang sedang hamil 5 bulan.
"Dokter sialann ... kau menantang ku rupanya. Berani-beraninya kau sembunyikan wanita ku! Aku hancurkan karir mu! Aku cabut izin praktekmu! Berani sekali menyentuh barang milikku!!!"
Matanya semakin gelap karena cemburu buta.
"Alex!!!" Ia langsung memanggil sekretaris pribadinya yang menunggu di depan pintu dengan suara menggelegar.
"Ya, Pak Garra, ada apa?" Alex masuk dengan tergesa-gesa.
"Aku mau kau kumpulkan semua informasi tentang dokter brengsek bernama Alfin itu! Semuanya!!! Keluarganya siapa, rekening banknya, semuanya kau hack! Aku mau tau dia sembunyikan Elisa dimana!"
"Baik, Pak. Akan saya kerjakan secepatnya! Saya akan kerahkan tim IT!" kata Alex dengan tegas.
"Lakukan sekarang! Malam ini juga aku harus dapat alamatnya! Kalau tidak, kau ku pecat!"
"Baik, Pak Garra!"
Sekarang Garra seorang diri di ruangan penthouse yang gelap itu, hanya diterangi lampu kota Jakarta dari kaca besar. Tangannya mengetuk meja pelan dan berulang dengan penuh emosi, tok tok tok.
Tangan satunya lagi memegang foto Elisa yang terbaru. Foto dari CCTV waktu itu.
Wajah Garra yang tadinya marah, perlahan berubah menjadi obsesif dan posesif.
"Elisa ... mau kabur ke mana lagi kau, hm? Aku pastikan ... ini terakhir kalinya kau bisa lari dariku. Kau tidak akan bisa lari lagi dari ku. Jika perlu ... aku patahkan kakimu!"
bener2 garra... ada aja akal liciknya... ini pasti si Alex ni biang keroknya
pura pura tanya opo nanya ,,wis Ra atik
gamang pokoe langsung ,,kates ae ganggo ,,😂 langsung lodeh kates ceplok telor kecebong berlapis lapir. ratusan,,, astagaaa iku di baleni maneh go kamar mandi,,,dadi dadi lakone langsung Garra Junior ga suwe. maneh loncing hahah
ngakak 👍 Jempol BESTie jos tenan,,,Ojo seru seru krungu tonggo tembok kandel,
Dan dengan lugu nya akhir nya Elisa tertipu
Gara menang banyak 👍👍🤣🤣🤣