Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibela
Arsen masih berdiri di tempat yang sama.
Sunyi.
Tangannya perlahan terangkat, menyentuh bibirnya sendiri. Ada rasa perih yang masih tersisa akibat gigitan Keira tadi.
Ia menatap kosong ke depan. Kejadian beberapa menit lalu terus berputar di kepalanya.
Apa yang sebenarnya baru saja ia lakukan?
Bahkan Arsen sendiri tidak menyangka dirinya bisa bertindak sejauh itu. Ia mengembuskan napas panjang dan memejamkan mata sejenak.
“Gila...” gumamnya lirih.
Sementara itu, Keira kembali ke kamar dengan langkah cepat. Ia berusaha memasang wajah biasa saja, meskipun matanya masih sembap.
Rina yang melihatnya langsung mengernyit curiga. Tatapannya mengamati wajah Keira dengan teliti.
“Kamu habis nangis? Pak Arsen marahin kamu lagi?” tanyanya penasaran.
Keira hanya menggeleng singkat tanpa menatap Rina.
“Enggak. Aku mau tidur,” jawabnya cepat.
Ia langsung berbaring membelakangi teman-temannya, kemudian menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
Rina sebenarnya masih ingin bertanya, tetapi melihat Keira yang jelas tidak ingin diganggu, ia akhirnya memilih diam.
Di balik selimut, napas Keira masih belum teratur. Jantungnya berdetak begitu cepat sampai denyutnya terasa jelas di telinganya.
Tangannya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri. Kejadian tadi kembali terlintas di pikirannya.
Ciuman itu. Terlalu tiba-tiba. Dan terlalu nyata untuk begitu saja dilupakan.
'Kenapa dia berani melakukan itu...' gumam Keira dalam hati.
Matanya kembali berkaca-kaca. Rasa marah masih memenuhi hatinya. Namun, ada perasaan lain yang membuat dirinya semakin gelisah—perasaan yang bahkan tidak ingin ia akui.
Keira memejamkan mata rapat-rapat, berusaha memaksa dirinya untuk tidur. Sayangnya, bayangan wajah Arsen terus muncul di kepalanya.
.....
Sore harinya, seluruh mahasiswa kembali berkumpul untuk melanjutkan kegiatan KKN.
Suasana kembali ramai dengan berbagai aktivitas yang harus mereka selesaikan.
Namun, Keira terlihat berbeda. Ia lebih banyak diam dan tidak banyak bicara seperti biasanya. Yang paling terlihat, ia sengaja menghindari Arsen.
Setiap kali tanpa sengaja mata mereka bertemu, Keira langsung mengalihkan pandangan dengan wajah dingin.
Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah kejadian siang tadi tidak pernah ada. Padahal kenyataannya justru sebaliknya.
Di sisi lain, Arsen beberapa kali mencuri pandang ke arah Keira. Tatapannya memang tidak pernah terlalu lama, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa perhatiannya masih tertuju pada perempuan itu.
Dan perubahan sikap Arsen tidak luput dari perhatian orang lain.
“Keira, sini!” panggil Kevin dari kejauhan.
Keira menoleh, lalu menghampirinya. “Iya?”
Kevin tersenyum dan menyerahkan sebuah benda kepadanya.
“Tolong pegang ini sebentar.”
Keira menerimanya dan membantu tanpa banyak bicara. Interaksi mereka sebenarnya sederhana.
Namun, bagi seseorang yang memperhatikan dari kejauhan, pemandangan itu terasa cukup mengganggu.
Arsen melihat semuanya. Cara Kevin berbicara dengan Keira. Cara Keira mendekat. Dan bagaimana keduanya terlihat cukup akrab.
Rahang Arsen perlahan mengeras. Tangannya mengepal pelan. Ia berusaha kembali fokus pada pekerjaannya, tetapi pandangannya selalu saja kembali kepada mereka.
Perasaan itu muncul lagi. Kali ini jauh lebih jelas.
Cemburu. Tiba-tiba suasana berubah.
“Aaw!”
Keira meringis ketika tangannya tidak sengaja terkena pisau yang sedang digunakannya.
Darah segar langsung mengalir dari ujung jarinya.
“Keira!” Kevin panik.
Tanpa berpikir panjang, Kevin langsung meraih tangan Keira untuk memeriksa lukanya dan tanpa aba-aba ia menghisap darah Keira untuk menghentikan darah yang keluar.
Semuanya terjadi begitu cepat. Beberapa mahasiswa yang berada di sekitar mereka langsung menoleh kaget.
Dan pada saat yang sama—
“KALIAN!”
Suara Arsen menggelegar dari arah belakang. Semua orang sontak terdiam.Semua orang seketika terdiam. Arsen melangkah cepat menghampiri mereka. Dari raut wajahnya, kemarahannya terlihat jelas.
Tanpa mengatakan apa pun, ia langsung menarik tangan Keira menjauh dari Kevin.
"Lepaskan!" tegas Arsen.
Kevin spontan mundur, tampak terkejut. "Pak, saya cuma—"
"Saya tahu apa yang kamu lakukan!" potong Arsen dengan suara dingin.
Keira hanya diam, masih menahan rasa perih yang menjalar dari jarinya.
Tatapan Arsen kemudian beralih tajam kepada Kevin.
"Itu bukan tindakan yang benar. Jaga sikapmu!"
"Iya, Pak... maaf," jawab Kevin sambil menundukkan kepala.
Arsen kemudian memperhatikan Keira.
"Kenapa kamu tidak hati-hati?" tanyanya dengan nada keras. Namun, di balik ketegasannya, terselip kekhawatiran yang sulit ia sembunyikan.
Keira menatapnya tanpa ekspresi. "Tidak sengaja."
Arsen mengembuskan napas panjang. Ia kemudian membawa Keira sedikit menjauh dari mahasiswa lainnya.
Tanpa banyak bicara, ia mengambil selembar kain bersih dan mulai membalut jari Keira yang terluka.
Gerakannya cepat, tetapi tetap hati-hati. Keira sama sekali tidak membalas tatapannya. Ia justru memalingkan wajah. Sikap itu tidak luput dari perhatian Arsen.
Dan entah kenapa, kali ini hal tersebut terasa begitu menusuk baginya.
"Lepas... nanti mereka curiga kalau kita punya hubungan," bisik Keira pelan, hampir tak terdengar oleh siapa pun.
Tangan Arsen yang masih menggenggam jemarinya langsung berhenti. Ia tampak sedikit tersentak sebelum buru-buru melepaskan tangan Keira.
Beberapa mahasiswa yang sejak tadi memperhatikan mulai saling bertukar pandang. Mereka merasa ada sesuatu yang aneh di antara keduanya.
Arsen segera berdiri tegak dan kembali memasang sikap sebagai seorang dosen.
"Saya paling tidak suka mahasiswa yang bersikap seperti ini! Jangan sampai ada yang menjadikannya contoh!" tegurnya keras sambil menatap Kevin dan mahasiswa lainnya.
Suasana seketika berubah sunyi. Kevin hanya bisa menundukkan kepala, merasa bersalah atas kejadian tadi.
Namun, beberapa detik kemudian, Arsen kembali menoleh kepada Keira. Tatapannya kali ini jauh lebih tajam.
"Tolong jangan pecicilan dan centil seperti itu," ucapnya dingin, seolah sedang menegur Keira sebagai dosen kepada mahasiswanya.
Keira terdiam. Ia hanya menatap Arsen dengan wajah datar. Namun, dari sorot matanya terlihat jelas bahwa ada emosi yang sedang ia tahan.
Arsen segera mengalihkan pandangan dan berjalan meninggalkan mereka. Suasana masih terasa canggung setelah kepergiannya.
Beberapa mahasiswa mulai berbisik satu sama lain. Sementara itu, Keira hanya berdiri diam sambil menatap jarinya yang kini sudah terbalut kain.
Kevin yang sebelumnya terus menunduk akhirnya mengangkat kepala. Ia melangkah sedikit ke depan. Suaranya terdengar tegas, tetapi tetap sopan.
"Pak Arsen, jangan menyudutkan Keira di depan semua orang."
Seketika semua mahasiswa kembali terdiam.
Kevin menarik napas sebelum melanjutkan.
"Maaf sebelumnya, Pak. Keira tidak pecicilan ataupun centil. Dia sudah bekerja dengan benar. Hanya saja... saya yang kehilangan kendali dan langsung mengisap jarinya untuk menghentikan darah, dan itu hanya gerakan spontan."
Ia menundukkan kepala sebentar.
"Jadi, saya yang salah. Saya minta maaf, Pak."
Suasana kembali hening. Tak ada seorang pun yang berani berbicara. Arsen hanya terdiam. Tatapannya tertuju pada Kevin tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
Beberapa mahasiswa mulai saling pandang. Mereka tampak kagum melihat keberanian Kevin yang berani membela Keira di hadapan Arsen.
"Wah... Kevin berani banget."
"Iya. Berani bela Keira di depan Pak Arsen lagi."
"Cie, Keira... ada yang jadi pahlawan nih," bisik salah seorang mahasiswa dengan nada menggoda.
Keira langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia mengusap keningnya sambil menghela napas panjang.
"Ya ampun..." gumamnya lirih. "Dia malah bikin masalah baru."
Keira tahu betul. Ucapan Kevin sama sekali tidak akan membuat keadaan membaik. Justru sebaliknya.
Tatapan Arsen kepada Kevin semakin tajam. Rahangnya terlihat mengeras, menandakan ia sedang berusaha menahan emosinya.
"Kamu tahu apa?" tanyanya dingin. "Jangan sok jadi pahlawan."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Kevin untuk menjawab, Arsen langsung membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu.
Langkahnya cepat dan tegas. Jelas sekali ia sedang menahan amarah.
Suasana kembali membisu.
Kevin tetap berdiri di tempatnya. Meskipun terlihat sedikit tegang, ia sama sekali tidak menunjukkan niat untuk mundur.
Sementara Keira hanya bisa diam. Keadaan kali ini benar-benar terasa semakin rumit. Tak lama kemudian, Kevin kembali menghampiri Keira yang masih berdiri di tempatnya.
"Keira, kamu tenang saja. Kalau Pak Arsen terus menyalahkan kamu, ada aku," ucap Kevin serius.
Keira menatapnya beberapa saat sebelum memberikan senyum tipis.
"Makasih... tapi kamu nggak perlu melakukan itu. Kamu nggak mungkin melawan dosen kita."
Kevin justru terlihat santai. "Siapa bilang? Papa aku salah satu donatur di kampus ini."
Keira langsung menggeleng.
"Kevin, jangan gunakan itu sebagai kekuatanmu. Nggak baik kalau kamu menjadikan posisi papa kamu sebagai alasan untuk melawan orang lain."
Kevin terdiam sejenak. Ia kemudian mengembuskan napas pelan.
"Aku cuma nggak suka melihat dia terus menyalahkan kamu. Itu saja."
Setelah mengatakan itu, Kevin memilih pergi. Keira hanya bisa memandangi punggungnya yang semakin menjauh.
Namun, sebelum sempat memikirkan semuanya lebih jauh, Rina tiba-tiba datang menghampirinya dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Cieee..." goda Rina. "Tapi Kevin keren banget, sih. Kayaknya dia benar-benar suka sama kamu, Kei."
"Ah!" Keira langsung menggeleng cepat. "Nggak begitu."
"Kenapa?" Rina mengangkat sebelah alis. "Lumayan, lho. Bisa jadi kesempatan buat PDKT."
Keira menundukkan wajahnya. "Nggak, Rin... bukan karena aku nggak mau."
"Terus?"
Keira terdiam. Tatapannya kosong beberapa saat.
"Tapi aku nggak bisa."
Rina semakin bingung. "Kenapa nggak bisa? Kamu kan nggak punya pacar."
Keira kembali terdiam. Bibirnya sempat terbuka, tetapi tak satu pun kata keluar. Ia tidak mungkin menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya... adalah istri Arsen.
Sebuah status yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang. Dan sekarang, setelah kejadian tadi, hubungan rahasia itu justru terasa semakin sulit untuk dijalani.
Keira akhirnya hanya menggeleng pelan, memilih menyimpan semuanya seorang diri.