NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Yang Kukunci

Di Balik Pintu Yang Kukunci

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Sepuluh tahun Erlyn membangun kehidupan sempurna bersama suami dan anaknya, menyembunyikan masa lalu kelam yang sudah ia kunci rapat-rapat.

Dulu, saat usia 19 tahun, ia terjebak pada Om Hendi — pria kaya yang mengurungnya, menyiksanya, dan menyimpan ratusan foto memalukan yang dipaksa diambil. Erlyn berhasil kabur, berpikir ia sudah aman.

Hingga suatu hari, pesan dan foto lama masuk ke ponselnya. Hendi kembali.

"Datang padaku, atau semua foto dikirim ke suamimu."

Sekarang Erlyn harus memilih:
kembali ke neraka yang dulu ia tinggalkan, atau membiarkan keluarganya hancur oleh kebenaran yang menyakitkan.

Satu rahasia. Dua pilihan. Tak ada yang tidak terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Malam itu, jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul sepuluh malam, menandakan bahwa Rara sudah lama terlelap di kamar tidurnya yang hangat.

Di dalam kamar utama, Erlyn duduk di tepi ranjang, menatap kosong pada lantai kayu yang bersih. Matanya bengkak, wajahnya pucat pasi, dan sisa-sisa air mata masih mengering di pipinya.

Kepergian Iqbal selama seminggu ini meninggalkan kekosongan yang meremukkan jiwanya. Tanpa disadarinya, sebuah suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu depan. Ketukan itu begitu ragu-ragu, namun sangat familier di telinganya.

Erlyn terkesiap. Jantungnya berdegup kencang seketika. Dengan langkah gontai dan tangan yang bergetar hebat, ia berjalan keluar kamar menuju ruang depan. Ia memutar kunci pengaman dan membuka pintu perlahan.

Di ambang pintu, di bawah temaram lampu teras yang kekuningan, sosok yang selama seminggu ini ia rindukan sekaligus ia takuti kini berdiri dihadapannya. Iqbal.

Pria itu tampak sangat berantakan. Kemejanya tidak lagi rapi, dasinya sedikit longgar, dan lingkaran hitam tebal membingkai mata merahnya yang menyiratkan bahwa ia kekurangan tidur.

Namun, tidak ada lagi sorot amarah atau tatapan dingin yang minggu lalu menghujam dada Erlyn. Yang ada hanyalah lautan penyesalan yang teramat dalam dan kelembutan yang mencairkan pertahanan Erlyn seketika.

"Mas..." bisik Erlyn lemah, suaranya tercekat di tenggorokan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Iqbal melangkah maju dan langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam dekapannya yang hangat dan erat.

Pelukan itu begitu kuat, seolah ingin menyatukan kembali serpihan-serpihan jiwa mereka yang berserakan selama badai menghantam rumah tangga mereka.

Erlyn terpaku sejenak, sebelum akhirnya pertahanannya runtuh sepenuhnya. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, menangis sejadi-jadinya, melampiaskan seluruh rasa sakit, ketakutan, dan rasa bersalah yang selama ini ia pendam sendirian.

"Maafkan aku, Lyn... maafkan aku..." bisik Iqbal berulang-ulang di dekat telinga istrinya, suaranya bergetar hebat diiringi isak tertahan.

Ia mengeratkan dekapannya, mengecup puncak kepala Erlyn dengan penuh kasih sayang. "Aku suami yang bodoh... aku sudah menghakimimu, aku meninggalkanmu saat kamu sedang berjuang sendirian melawan monster itu..."

Erlyn mendongak perlahan, menatap wajah suaminya dengan mata terbelalak basah. "K-kamu... kamu sudah tahu semuanya, Mas...?"

Iqbal mengangguk pelan. Ia mengangkat tangannya, dengan lembut menghapus air mata di pipi Erlyn menggunakan ibu jarinya.

"Doni sudah menceritakan semuanya kepadaku. Masa lalu itu... bagaimana kamu berkorban belasan tahun lalu demi menyelamatkan ayahmu, dan bagaimana keparat itu memerasmu sekarang menggunakan ancaman foto-foto masa lalu."

Mendengar hal itu, Erlyn merasa tubuhnya lemas seketika. Rasa malunya kembali membuncah. Ia menundukkan kepala, menghindari tatapan mata suaminya. "Maafkan aku, Mas... aku menyembunyikan masa lalu itu darimu karena aku takut... aku takut kehilangan kamu, takut kehilangan Rara, takut kamu jijik padaku..."

Iqbal segera memegang kedua pipi Erlyn, memaksa istrinya untuk kembali menatap lurus ke dalam matanya. Tatapan pria itu begitu teduh, penuh dengan ketulusan yang mutlak.

"Dengarkan aku, Erlyn," kata Iqbal dengan suara berat yang penuh tekad. "Masa lalu itu bukan pilihanmu. Kamu adalah gadis sembilan belas tahun yang dipaksa bertekuk lutut oleh keadaan demi menyelamatkan nyawa ayahmu. Nggak ada kehinaan dalam pengorbanan itu. Yang hina adalah pria bajingan yang memanfaatkan ketidakberdayaanmu."

"Dan siksaan itu berakhir malam ini," potong Iqbal tegas, namun lembut. Ia menggenggam jemari istrinya yang terasa dingin. "Aku tidak akan membiarkanmu melangkah lagi ke apartemen terkutuk itu besok hari Rabu. Kita tidak akan lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan."

Erlyn tersentak kencang. Ketakutan terbesar langsung mencengkeram dadanya. "Tapi... foto-foto itu, Mas! Hendi bisa mengirimkannya ke ponselmu, dia bisa menghancurkan hidup kita dalam sekejap jika aku mangkir!"

"Biarkan dia mengirimkannya," jawab Iqbal tenang namun menyimpan bara api yang menyala di balik sorot matanya. "Biarkan dia mengeluarkan semua kartu as miliknya. Karena kali ini, kita nggak akan melawan sendirian.

Aku bersama Doni dan jaringan profesionalnya sedang meretas jalan untuk mencabut akar kekuasaan pria itu. Kita akan menghancurkan Hendi Sasmita sebelum dia sempat menyentuh kita lagi."

***

Keesokan paginya, matahari terbit dengan cahaya yang cerah, seolah membawa babak baru dalam kehidupan keluarga kecil tersebut.

Iqbal tidak pergi bekerja ke kantor arsitekturnya. Pria itu tinggal di rumah bersama Erlyn, menemani istrinya menyiapkan sarapan, dan mengantar Rara ke sekolah dengan senyum lebar yang membuat putrinya bersorak riang karena sang ayah telah kembali dari "luar kota".

Namun, di balik kehangatan pagi itu, jarum jam terus berputar mendekati pukul dua siang, waktu di mana Erlyn biasanya harus bersiap melangkah menuju apartemen Grand Tower unit 402.

Pukul satu siang, di ruang kerja kecil di rumah, Iqbal dan Doni duduk berhadapan di atas meja kayu. Doni membuka laptopnya, menampilkan beberapa dokumen digital dan data perbankan yang berhasil dilacak oleh tim siber mereka semalam.

"Kita sudah menemukan celahnya, Bal," kata Doni serius sambil mengetuk-ngetuk layar laptop. "Hendi Sasmita bukan hanya sekadar pengusaha properti bersih.

Perusahaan cangkang yang ia gunakan untuk menyembunyikan aset-aset ilegalnya memiliki catatan transaksi mencurigakan, termasuk bukti-bukti pemerasan terhadap beberapa korban lain di masa lalu.

Jika kita menyerahkan data ini ke pihak berwenang dengan pengawalan hukum yang tepat, pria itu bisa langsung diseret ke penjara atas tuduhan pemerasan dan pelecehan beruntun."

Iqbal mengangguk tajam, memperhatikan setiap detail data di layar. "Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk mengeksekusi ini secara resmi, Don?"

"Hari ini timku sedang merapikan dokumen hukum terakhir," jawab Doni. "Tapi ada satu syarat mutlak agar perangkap ini tertutup sempurna."

Kening Iqbal mengerut dalam. "Syarat apa?"

"Kita butuh umpan," kata Doni dengan nada berat. Ia menatap lurus ke mata sahabatnya. "Hari ini adalah hari Rabu. Hendi sedang menunggu Erlyn di apartemennya.

Jika Erlyn tidak datang dan tidak ada kabar, Hendi bisa curiga dan langsung menghapus seluruh server cadangan dokumen ancamannya sebelum penegak hukum sempat bergerak.

Kita butuh Erlyn datang ke sana seperti biasa, menahan Hendi dalam situasi terkontrol, sementara kita memasang perangkat pelacak dan menyusupkan bukti digital ke sistem keamanannya dari dalam."

Mendengar rencana itu, darah Iqbal mendadak berdesir dingin. Ia langsung berdiri dari kursinya, menolak dengan tegas. "Nggak! Aku nggak akan membiarkan Erlyn menginjakkan kaki lagi di apartemen keparat itu! Aku nggak mau dia disakiti lagi oleh pria itu, bahkan untuk satu menit pun!"

"Iqbal, dengarkan aku!" potong Doni dengan nada tegas, mencoba meredam emosi sahabatnya. "Ini adalah satu-satunya cara tercepat dan paling aman untuk mengakhiri teror ini secara permanen.

Kalau kita mendobrak masuk secara paksa sekarang tanpa bukti digital di server utamanya, Hendi punya seribu pengacara untuk memutarbalikkan fakta dan lolos dari jerat hukum. Dan ancaman foto-foto itu akan tetap beredar."

Ruangan itu mendadak hening. Napas Iqbal memburu, dadanya naik-turun menahan gejolak rasa takut dan amarah yang hebat.

Ia tahu Doni benar, namun gagasan untuk membiarkan istrinya kembali ke pelukan monster itu membuat kewarasannya hampir terenggut.

Tiba-tiba, pintu ruang kerja terdorong pelan.

Erlyn berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat, namun sorot matanya tampak sangat tenang, jauh lebih tenang daripada hari-hari sebelumnya.

Iqbal menoleh cepat, matanya membelalak lebar. "Lyn... kamu dengar semua pembicaraan tadi? Jangan gila, aku nggak akan membiarkanmu pergi!"

Erlyn melangkah masuk mendekati suaminya. Ia mengangkat tangan kanannya, dengan lembut menyentuh rahang Iqbal yang masih tegang, lalu tersenyum tipis, senyuman tulus yang sudah lama tidak pernah dilihat Iqbal.

"Mas..." bisik Erlyn lembut. "Selama belasan tahun aku hidup dalam bayang-bayang ketakutan karena aku berlari sendirian. Tapi hari ini... aku nggak sendirian lagi. Kamu ada di sini. Doni ada di sini."

Ia menatap lurus ke mata suaminya yang berkaca-kaca.

"Aku akan pergi ke sana," lanjut Erlyn dengan ketegasan yang mengejutkan. "Aku akan menemuinya seperti biasa, mengulur waktu, dan memastikan kalian punya cukup waktu untuk masuk dan merobek seluruh kedok pria itu untuk selamanya. Aku siap, Mas."

Iqbal merapatkan rahangnya, air matanya tumpah membasahi pipinya. Ia mendekap tubuh istrinya erat-erat, merasa hancur sekaligus bangga pada ketegaran wanita yang sangat dicintainya itu.

1
Arni Arlinawati Pratiwi💃
mantap.. logika yang masuk akal dulu buat mengguling orang congkak yang entah datang nya dari mana, orang kek gitu harus di balas dengan kepintaran... lanjutkan iqbal!!! 🤬
Arni Arlinawati Pratiwi💃
balik gak lu!!! balik... cepetan, di tinggalin istri di rumah seminggu!!! 🤬
Arni Arlinawati Pratiwi💃
kan g*la emang belis yang berwujud manusia kek si Hedi jelek!!! udah tua.. bau tanah.. bertingkah.. HIDUP lagi ah lu P A!!! 🤬
Miu.Nuha
naahh gitu...
bergerak sendiri, 😅
entah gimana entar kalian berdua ini kalo main sembunyi2in terus...
Miu.Nuha
jgn itu beneran yaaa 🥲
mungkin iqbal pergi buat nenangin pikiran mungkin, mungkin lho yaaa...
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Sungguh malang sekali nasibmu, Erlyn. Tapi sayangnya, setelah berhasil kabur, kamu malah diteror terus sama om-om gak punya hati itu/Frown/
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
Hancur sekali pastinya. Mentalnya udah berantakan, ditambah lagi dengan kabar kepergian ayahnya/Frown/
♡⃝ 𝓠𝓾𝓮𝓮𝓷𝓡𝓪 ♕
4 tahun dikurung, astaghfirullah... Sungguh tak punya hati kau Hendi
Fall.
jangan dipendam semuanya astaghfirullah 😭😭
aefpe fp
kok greget ya liat nya...pengen aku tolongin bilanginnya...klau kayak gini mah kayak bom waktu yang bisa meledak kapan aja🗿
Hamzah [Hiatus]
wah.. gila..😱
Hamzah [Hiatus]
coba tenangkan dirimu, tarik nafas, huuu.. tarik nafas lagi.. huuu.. gimana sudah lebih baik?😌
Hamzah [Hiatus]
noo.. please jangan ancurin keluarga harmonis ini 🫠
Mingyu gf😘
ini kalau udah end aku mau marathon deh
❥␠⃝ ͭ🍁Arrasy: blm end kak. 🤭
total 1 replies
Mingyu gf😘
Aku mengerti perasaan kamu bal
Mingyu gf😘
Ahh rara anak pintar, semoga kamu selaly dalam lindungan tuham
Mingyu gf😘
Udah di bilang jujur aja dri awal, bebal sih, malah menyerahkan tubuhnya sama laki laki lain
naws
duh aku kesian sama erlyn, tapi kesel karena komunikasi dia jelek banget. gereget, asli.
naws
nah kan. dikira jadi ani2 pasti si erlyn /Sob/
Pencari Cerita
mau gak mau si harus cerita ke iqbal, mungkim iqbal bisa menerima dan memahami, semoga aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!