Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.
Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.
Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. "Lagu Lo... Jelek Banget."
Deru mesin motor tua Devan melaju kencang menembus jalanan gang. Hatinya diburu rasa cemas yang tak menentu. Kata-kata Melly terus berputar di kepalanya, meremas dada Devan oleh penyesalan yang mendalam.
Sesampainya di rumah, Devan buru-buru mematikan mesin dan mendorong pintu depan yang ternyata tidak terkunci.
"Bell?" panggil Devan serak, suaranya dipenuhi nada panik yang tak bisa disembunyikan.
Tidak ada jawaban. Rumah tua itu begitu hening, hanya menyisakan suara embusan angin di celah jendela.
Devan melangkah cepat menuju kamar Bellona. Pintu yang tadi pagi ia banting kini sedikit terbuka. Di atas kasur, Bellona masih meringkuk di balik selimut tebalnya. Wajah gadis itu makin pucat, bibirnya kering, dan tubuhnya menggigil lebih parah dari sebelumnya.
Devan menghembuskan napas panjang. Pria itu mengatur napasnya, mencoba menekan habis-habisan emosi dan gengsinya. Ia mengingat pesan Melly: turunin gengsi dan sabar.
Dengan langkah sepelan mungkin, Devan masuk dan berlutut di samping kasur. Ia meletakkan wadah bekal berisi bubur hangat dari Melly di meja kecil, lalu mengganti air kompresan yang sudah dingin di baskom.
Bellona sempat membuka matanya yang sayu dan merah. Melihat Devan kembali, gadis itu mencoba memalingkan wajahnya kaku. "Ngapain... balik lagi..." bisiknya parau dan lelah, hampir kehabisan tenaga untuk sekadar memasang raut galak.
Devan tidak membalas dengan bentakan. Pria itu menyapu rambut basah yang menempel di dahi Bellona dengan telaten, memeras handuk basah, lalu menempelkannya perlahan di dahi anak gadisnya.
"Gue salah udah ninggalin lo tadi," kata Devan pelan, suaranya begitu lembut—sebuah nada suara yang belum pernah Bellona dengar dari pria slengean itu sebelumnya. "Gue yang bodoh. Mau lo maki-maki atau usir gue seratus kali pun, gue kagak bakal pergi lagi."
Bellona mematung. Dahi hangatnya yang tertimpa handuk basah terasa sedikit menyejukkan rasa pening di kepalanya. Gadis itu menatap Devan kaku, menemukan raut wajah pria di hadapannya bukan lagi kemarahan, melainkan rasa cemas yang jujur dan keputusasaan yang dalam.
"Ada bubur hangat dari Mbak Melly, istrinya Bang Raka," lanjut Devan sambil merapikan selimut Bellona hingga ke dada. "Lo tidur dulu aja kalau belum kuat makan. Nanti kalau pusingnya mendingan, bangunin gue. Gue ada di luar."
Bellona tidak menjawab, tetapi ia tidak lagi menepis tangan Devan saat pria itu membetulkan letak kompres di dahinya. Bellona memejamkan matanya, membiarkan air mata hangat menetes perlahan di sudut matanya, menyerap rasa lelah yang amat sangat di tengah deman tinggi yang menguasai tubuhnya.
Devan membiarkan jemarinya bertahan sejenak di tepi selimut Bellona, memastikan kain itu menutupi tubuh anak gadisnya dengan rapi. Saat melihat napas Bellona perlahan memelan dan lebih teratur, Devan mengembuskan napas lega yang sangat panjang.
Pria itu beranjak dari lantai dengan gerakan serba pelan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun dari engsel pintu kayu yang lapuk. Sebelum benar-benar melangkah keluar kamar, ia melirik sekilas ke arah meja kecil tempat botol minyak kayu putih dan bubur hangat berada, lalu menutup pintu kamar hingga menyisa celah sedikit agar ia bisa mendengar jika Bellona memanggilnya.
Di ruang tamu, Devan menarik kursi kayu dan duduk bersandar kaku. Rasa lelah melingkupi tubuhnya, tetapi otaknya bekerja ekstra keras. l Ia menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar—tangan yang biasa memegang stik gitar dan botol alkohol itu kini belajar memeras kain kompresan untuk anak gadisnya.
Waktu bergulir lambat hingga matahari mulai bergeser ke barat.
Sekitar pukul tiga sore, suara batuk serak dan derit kasur dari dalam kamar membuat Devan langsung tersentak berdiri dari duduknya. Pria itu buru-buru melangkah masuk ke dalam kamar.
Bellona tampak sedang berusaha mendudukkan tubuhnya, menyandarkan punggung ke dinding dengan wajah yang masih pucat, meski rona merah akibat demam tinggi tadi pagi sudah sedikit berkurang. Handuk kompresan sudah terjatuh ke pangkuannya.
"Pelan-pelan," kata Devan cepat, namun suaranya langsung ia pelankan agar tidak terdengar seperti bentakan. Ia mendekat dan menyodorkan segelas air hangat yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Bellona menerima gelas itu tanpa menatap mata Devan. Jemarinya yang dingin mengusap permukaan gelas hangat, lalu meminumnya beberapa teguk untuk membasahi tenggorokannya yang terasa seperti diamplas.
"Masih pusing banget?" tanya Devan pelan, berdiri canggung berjarak dua langkah dari kasur.
"Mendingan," sahut Bellona singkat dengan suara parau.
Matanya secara tidak sengaja bergulir menatap wadah bekal bubur di atas meja, lalu beralih menatap Devan yang berdiri serba salah di dekat pintu. Ada keheningan yang canggung mengudara di antara mereka—tidak ada ledakan emosi seperti semalam, tidak ada amukan ketus dari Bellona, hanya ada sisa kepasrahan dan rasa canggung yang tebal.
Devan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Itu... buburnya mau gue hangatkan dulu kagak? Tadi udah agak dingin."
Bellona merapatkan bibirnya yang kering, lalu menggeleng pelan. "Kagak usah. Gini aja bisa."
Devan mengangguk cepat. "Yaudah, gue ambilkan sendoknya sebentar." Pria itu langsung berbalik ke dapur untuk menyambar sendok, merasa bersyukur luar biasa karena setidaknya Bellona tidak lagi melempar tuduhan ketus atau mengusirnya keluar rumah hari ini.
***
Devan kembali membawa sendok stainless dan nampan kecil. Pria itu menyodorkan mangkuk bubur yang sudah dipindahkan dari wadah bekal.
"Nih, makan pelan-pelan. Kalau kagak habis juga kagak apa-apa, yang penting perut lo terisi," ujar Devan halus, menaruh nampan itu di pangkuan Bellona.
Bellona menyendok buburnya kaku. Suapan pertama terasa hambar di lidahnya yang pahit gara-gara demam, tapi rasa hangatnya cukup menenangkan perutnya yang kosong. Devan hanya memperhatikan dari jarak aman, berdiri bersandar di kosen pintu tanpa mengganggu.
"Habis ini obatnya diminum ya, udah gue taro di sebelah meja," tambah Devan pelan saat melihat Bellona menghabiskan setengah porsi buburnya.
Bellona mengangguk tipis, meletakkan mangkuknya kembali ke nampan. "Makasih..." bisiknya pelan sekali, hampir tak terdengar, sambil meraih botol obat dan meneguknya.
Devan sempat tersentak kaget mendengar kata makasih dari mulut anak gadisnya, tapi ia menahan diri untuk tidak menggodanya agar suasana tenang ini tidak merusak suasana. "Yaudah, lo istirahat lagi. Gue di luar."
Pria itu menyambar nampan kosong, melangkah keluar, dan menutup pintu kamar Bellona pelan-pelan.
***
Malam pelan-pelan merayap turun. Tubuh Devan rasanya remuk. Emosi yang terkuras, rasa bersalah yang bertumpuk, serta lelah fisik setelah mengurus Bellona seharian membuat dadanya terasa tertekan berat.
Pria itu melangkah ke sudut ruang tamu, menyambar gitar akustik tuanya yang sudah penuh goresan. Devan berjalan ke teras depan, duduk di atas bangku kayu panjang yang agak lapuk. Angin malam menyapa kulitnya yang dingin.
Devan memetik senar gitarnya pelan. Nada-nada nada minor meluncur halus dari jemarinya, menciptakan melodi akustik yang terdengar begitu sepi, dalam, dan penuh rasa keputusasaan yang tertahan.
Dengan suara serak khasnya yang berat, Devan mulai bernyanyi pelan menembus heningnya malam:
Terlalu banyak jejak yang salah...
Langkah yang pincang di jalan yang patah...
Bagaimana bisa jemari yang kotor ini...
Merangkul luka yang tak pernah terobati?
Aku pria yang hancur, tenggelam di lumpur...
Menyesali penyesalan yang tak lagi berguna...
Tapi jika penyesalanku bisa memelukmu...
Biar kupertaruhkan sisa hidup yang tersisa...
Di dalam kamar, Bellona yang baru terbangun dari tidurnya terpaku. Suara petikan gitar dan nyanyian serak Devan menembus dinding papan kamarnya yang tipis. Liriknya, melodi gitar yang menyayat hati, serta keputusasaan yang terpancar dari vokal Devan terasa begitu jujur dan menyengat dada.
Bellona memaksakan tubuhnya yang masih agak lemas untuk turun dari kasur. Dengan menyelimuti bahunya menggunakan kain tebal, langkah kakinya bergerak pelan menuju pintu depan.
Ia mendorong pintu teras sedikit. Pemandangan di depannya membuat Bellona mematung.
Di bawah pendar kuning lampu teras yang remang, Devan duduk membungkuk di atas gitar tuanya. Matanya terpejam rapat, rahangnya mengetat, dan ada lelehan air mata yang menetes pelan menyusuri pipinya yang kusam saat jemarinya terus memetik senar gitar dengan begitu emosional.
Petikan senar gitar Devan makin dalam dan menyayat. Jarinya menari di atas fretboard, membiarkan nada-nada minor bergema di tengah heningnya malam. Pria itu menyandarkan dahinya di kepala gitar, menyanyikan bait lanjutan dengan vokal serak yang bergetar hebat.
I am just a broken shadow of the past...
Begging for a light that I don't deserve to hold...
How can these dirty hands heal your scars?
When all I ever gave you were the darkest stars...
If I could bleed to wash away your tears...
I'd trade my last breath to erase all your fears...
But I'm just a fool trapped in my own disgrace...
Wishing I could give you a better place...
Nada vokalnya pecah di ujung kalimat, dipenuhi rasa keputusasaan dan penyesalan mendalam yang tak mampu lagi ia sembunyikan. Air mata Devan menetes makin deras, jatuh menimpa kayu gitar tuanya yang kusam.
Bellona berdiri mematung di balik celah pintu teras. Tangannya yang memegang tepi kosen pintu meremas kayu lapuk itu kuat-kuat.
Dada gadis itu bergemuruh hebat. Bellona melangkah pelan keluar ke teras. Gesekan kain selimutnya di lantai menyadarkan Devan.
Petikan gitar pria itu mendadak terhenti. Devan buru-buru menyapu air matanya dengan punggung lengan, lalu mendongak kaget.
"Bell..." panggil Devan serak, suaranya kaku dan panik melihat Bellona berdiri di sana. "Ngapain keluar? Udara malam kagak bagus buat lo yang lagi demam."
Bellona tidak menjawab. Ia menatap Devan dengan mata yang berkerak air mata dingin. Pria yang biasanya bising, ugal-ugalan, dan tak tahu malu itu kini terlihat begitu kerdil dan rapuh di bawah pendar remang lampu teras.
"Lagu lo..." bisik Bellona pelan sekali, suaranya parau dan gemetar disergap angin malam. "...jelek banget."
Devan terkekeh kaku—sebuah tawa getir yang pecah di tenggorokannya. Ia menunduk menatap gitarnya. "Iya... gue tahu. Lagu orang bego emang kagak pernah bagus."
Bellona merapatkan selimut di bahunya, lalu duduk perlahan di ujung bangku kayu, mengambil jarak dari Devan. Gadis itu membuang pandangannya ke arah jalanan gang yang gelap, membiarkan keheningan malam membungkus mereka berdua.