Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Cemburu Buta si Pangeran
Tiga hari telah berlalu sejak penandatanganan kontrak kerja sama rahasia di kelas kosong itu. Bagi Rendra Adijaya, tiga hari ini adalah kombinasi antara surga dunia dan siksaan batin.
Sesuai kesepakatan, setiap pagi di meja Naya selalu tersedia satu kotak susu stroberi merek Ultra dan roti isi cokelat minimarket yang ditaruh secara anonim. Rendra juga sukses menjalankan tugasnya sebagai "asisten akademis" dengan mengumpulkan buku tugas Fisika dan Matematika Naya yang sudah diisi dengan jawaban ber-ranking satu paralel. Semuanya berjalan sempurna. Rendra menikmati perannya sebagai budak bucin rahasia, sampai hari keempat membawa sebuah malapetaka besar di jam pulang sekolah.
Kringgg!!!
Bel pulang sekolah berdering nyaring. Suasana koridor lantai dua langsung ramai oleh hiruk-pikuk murid yang berhamburan menuju gerbang.
Rendra sedang berdiri di depan loker koridor bersama Aldi, berpura-pura merapikan buku ke dalam tasnya dengan gerakan lambat nan elegan khas pangeran sekolah. Matanya yang tajam tetap terarah ke arah pintu kelas XI-A, memantau pergerakan Kanaya Putri yang baru saja keluar sambil menggendong tas ransel hitamnya sendirian.
Namun, belum sempat Rendra menikmati pemandangan wajah pawang mentalnya itu, sesosok cowok bertubuh tinggi besar dengan jersi basket menyampir di bahunya mendadak mengadang jalan Naya.
Itu Dimas. Anak kelas XII yang menjabat sebagai kapten tim basket sekolah, bertampang rupawan, populer, dan terkenal hobi tebar pesona ke siswi-siswi junior.
"Hai, Naya," sapa Dimas dengan senyuman termanisnya, sengaja memajukan tubuhnya agar terlihat keren di depan cewek cuek itu. "Pulang naik apa hari ini? Kebetulan motor gue lagi kosong nih di parkiran. Mau bareng gue ga? Kita mampir beli es krim dulu di depan."
Naya menghentikan langkahnya, menatap Dimas dengan dahi berkerut malas. Dia mengunyah permen karet stroberinya dengan tempo pelan. "Gak usah, Kak. Gue pulang naik angkot jalur biasa aja," jawab Naya ceplas-ceplos tanpa minat.
"Yaelah, santai aja kali, Nay. Angkot kan panas, berisik lagi. Mending sama gue, naik motor gede lebih cepet sampai kosan lo," bujuk Dimas lagi, tidak mau menyerah begitu saja. Tangannya bahkan bergerak lancang hendak mencolek ujung tas ransel Naya untuk mengajaknya jalan.
DEG.
Di ujung koridor, tepat di depan lokernya, saklar obsesi di dalam otak Rendra Adijaya mendadak mengalami korsleting fatal yang meledakkan seluruh pasokan amarahnya. Sisi wibu cemasnya menguap digantikan oleh mode psikopat bucin tingkat dewa yang sangat mengerikan. Wajah blasterannya mendadak mengeras, rahangnya mengetat kaku, dan sepasang matanya memancarkan kilatan aura gelap sedingin es kutub utara yang sanggup membekukan darah siapa pun yang melihatnya.
Brakk!
Rendra menutup pintu loker besi di depannya dengan hantaman keras yang berdentang nyaring di sepanjang koridor, membuat Aldi yang ada di sebelahnya langsung melonjak kaget sampai HP-nya hampir jatuh.
"E-eh? Ren? Lo kenapa dah? Muka lo seram amat kayak mau ngebantai orang?" tanya Aldi dengan tubuh gemetaran, perlahan mundur menjauhi Rendra karena merinding merasakan hawa membunuh yang mendadak keluar dari tubuh sahabatnya itu.
Rendra tidak menjawab celotehan Aldi. Dengan langkah kaki yang lebar, tegap, dan memancarkan tekanan aura intimidasi yang luar biasa pekat, sang pangeran sekolah berjalan lurus menghampiri posisi Dimas dan Naya yang masih berdebat di depan pintu kelas.
Setiap derap langkah sepatu Rendra di atas lantai koridor seolah membawa gempa tektonik tak kasat mata bagi murid-murid di sekitarnya yang langsung otomatis membuka jalan karena ketakutan.
"Kak Dimas," panggil Rendra dengan suara yang teramat sangat rendah, berat, dalam, dan sedingin es batu yang baru keluar dari freezer.
Dimas yang sedang asyik merayu Naya langsung tersentak kaget. Dia berbalik badan dan mendapati Rendra sudah berdiri menjulang tepat di depannya dengan jarak hanya beberapa senti. Tinggi mereka setara, namun aura dominasi yang dikeluarkan Rendra membuat kapten basket itu mendadak merasa kerdil.
"Eh? Rendra? Ada apa ya, Dek?" tanya Dimas, mencoba mengontrol suaranya agar tetap terdengar berwibawa sebagai senior, meskipun bulu kuduknya sudah merinding disko ditatap begitu tajam oleh sang juara paralel.
Rendra tidak memandang Dimas sebagai manusia. Di matanya, Dimas hanyalah seonggok sampah pengganggu yang berani-beraninya menyentuh area suci milik Tuhannya. Rendra melipat kedua tangannya di depan dada, memberikan tatapan mata elang yang sanggup menusuk jantung korbannya hingga bolong.
"Di koridor ini dilarang bikin macet. Dan satu lagi..." Rendra menjeda kalimatnya, memajukan wajah tampannya mendekati telinga Dimas, lalu berbisik dengan nada yang sangat mengancam. "...lo dilarang keras tebar pesona di depan anggota kelompok tugas gue. Mengganggu konsentrasi belajar kelompok. Paham, Senior?"
Naya yang berdiri di belakang Dimas langsung cengo parah menyaksikan pemandangan ajaib ini. “Ini si manekin setrikaan kenapa mendadak dateng-dateng masang muka psikopat gini? Alasan macet kelompok tugas macam apa itu gila? Modus cemburunya ga masuk akal bener!” batin Naya menepuk jidatnya sendiri, menahan tawa sekaligus ngeri melihat level kegilaan Rendra di dunia nyata.
Dimas yang merasakan hawa dingin mencekam dari bisikan Rendra langsung menelan ludahnya dengan sangat berat. Nyalinya sebagai kapten basket mendadak ciut seratus persen. Dia merasa jika dia menolak ucapan Rendra detik ini juga, dia tidak akan selamat sampai ke rumah.
"O-oh... gitu ya? Oke, oke, sorry. Gue ga bermaksud ganggu tugas kelompok kalian kok. Gue... gue duluan ya, Nay!" ucap Dimas terbata-bata penuh ketakutan. Tanpa menunggu jawaban, cowok basket itu langsung balik badan dan berlari terbirit-birit menyusuri koridor lantai dua, melesat menuju parkiran seperti orang yang baru saja dikejar hantu lokal.
Setelah pengganggu itu menghilang dari pandangan, Rendra perlahan membalikkan tubuh tingginya menghadap ke arah Naya. Aura gelap psikopatnya dalam waktu dua detik langsung runtuh total, berganti menjadi mode anak kucing yang cemberut dengan mata berkilat penuh kecemburuan yang mendalam.
"Nayaaa... kok lo diem aja sih pas dirayu sama jamet basket tadi? Kenapa ga lo usir?!" rengek Rendra pelan dengan suara cempreng aslinya yang super manja, memastikan suaranya hanya terdengar oleh Naya karena murid-murid lain masih berdiri jauh di ujung koridor dengan wajah ketakutan.
"Heh, babi! Suara lo kecilin, ntar reputasi cool lo ilang!" semprot Naya berbisik tajam sambil memukul lengan Rendra menggunakan buku rangkumannya. "Lagian siapa juga yang mau pulang bareng dia? Gue kan udah bilang mau naik angkot biasa!"
"Gak boleh! Mulai besok lo ga boleh dekat-dekat sama cowok lain! Kalau lo butuh tebengan, gue bisa beliin angkot jalurnya sekalian buat lo biar lo cuma bisa pulang sama gue, Naya sayang!" tekad Rendra berapi-api dalam mode posesif-obsesif akut skala 10/10, kedua tangannya mengepal penuh semangat gila di depan dadanya.
Naya hanya bisa melongo kaku menatap idola sekolah di depannya yang saraf otaknya sepertinya sudah korsleting permanen tanpa bisa diperbaiki lagi. Komedi cemburu buta sang pangeran wibu resmi menutup sore itu dengan tingkat kebucinannya yang semakin akut menembus batas atmosfer bumi.