Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : ARSITEK NYENTRIK
Sungguh di luar dugaan Bintang, kisah hidup Devan ternyata lebih dramatis darinya. Ternyata pria brewok yang ia ajak bekerja sama kurang lebih dua bulan lalu Adalah pria yang sungguh sedang dalam ujian hidup. Tetapi tidak ia tampakkan. Ia usahakan melakukan pekerjaannya seprofesional mungkin. Hanya, ia manusia biasa yang memiliki batas kemampuan.
“Maaf pak Devan. Saya datang ke sini tidak bermaksud ..”
“Tidak bu, ini hal yang wajar. Sangat wajar ibu curiga mungkin saya main-main dengan kerja sama ini. Uang yang sudah ibu keluarkan tidaklah sedikit.” Potong Devan yang tau, mungkin Bintang menuduhnya akan kabur dari tanggung jawab.
“Tidak pak Devan. Sama sekali tidak terpikirkan bagi saya, kalau pak Devan akan kabur dengan uang saya. Hanya, para pekerja di Gudang hampir kehabisan pekerjaan. Kebetulan pekerjaan di Surabaya juga agak longgar. Jadi saya punya waktu yang banyak untuk memeriksa kendala yang terjadi di sini. Saya harap, Pak Devan tidak salah mengerti kedatangan saya.” Jelas Bintang dengan nada yang sangat sopan.
“Untuk pekerjaan di Gudang, jika cepat mungkin 7 hari akan selesai. Tetapi bukan berarti karena itu saya berani tidak cek kerjaan mereka. Tapi, kegiatan di rumah ini sungguh sangat menyita waktu dan perhatian saya, Bu.”
“Saya sangat mengerti Pak Devan. Jadi, mumpung saya di sini, apa yang bisa saya bantu?” Bintang sebenarnya sejak tadi sangat ingin menggendong Biru, bayi laki-laki 6 bulan itu sangat gemas di mata Bintang.
“Dev …” lagi. Suara lirih dan agak lemas terdengar dari dalam kamar.
Devan memandang Bintang, begitu juga sebaliknya.
“Iya bu …” Jawab Devan dari luar.
“Duduk.” Rupanya ibu Devan bosan dengan posisi rebahannya.
“I .. iya sebentar bu.”
“Pak Devan. Sini. Biar aku gendong Biru. Kamu bantu ibu di dalam saja.” Dua tangan Bintang sudah terulur, meminta Biru di serahkan padanya.
Devan melongo. “ Bu Bintang, jangan … nanti baju ibu kotor. Biru baru pup.”
“Udah sini, jangan buat ibu kelamaan nunggu kamu di dalam.” Devan terpaksa menyerahkan Biru pada Bintang.
“Jangan nangis ya, sama tante Bintang dulu.” Pesan Devan sebelum Biru sungguh jatuh ke tangan Bintang,
“Anak cakep. Anak pintar, sama aunty Bintang dulu ya.” Setelah Biru sudah di tangan Bintang, Devan Bagai lari menuju kamar ibunya.
Biru tadi di serahkan menghadap Devan, sehingga Biru tidak melihat ia sedang dengan siapa. Karena sudah di tangannya, Bintang pelan-pelan memutar tubuh Biru. Tujuannya agar matanya dan Biru bisa saling beradu.
Tetapi apa yang terjadi.
Biru malah nangis kejer.
Gak kenal dengan wajah asing yang sedang memegangnya.
Huaaa …. Huaa… aaa
“Cup … cup. Biru, diam sayang. Hey… ini aunty Bintang.” Emang iya, anak 6 bulan tau di suruh diam?
Huaa … aaa… huuaaa.
“Iya… aunty balik lagi deh, gak usah liat.” Bintang buru-buru membalik tubuh balita itu, agar tidak melihat wajahnya.
Tapi gagal.
Biru tetap saja menangis yang sungguh, berairmata.
“Bu …”
“Bu Bintang maaf. Tolong bawa masuk ke sini saja.” Suara Devan terdengar sopan memintanya membawa Biru ke kamar ibunya.
“Iya … iya. Permisi ya.” Bintang panik.
Menikah 3 tahun tanpa anak. Keponakan juga jarang dekat, mana pernah punya pengalaman ngurus bayi.
“Biii … jangan nangis. Papa di sini.” Devan dalam posisi duduk terkunci, sebagai sandaran. Jika ia tinggalkan, mungkin tubuh itu langsung rebah.
“Maaf bu, tolong sinikan.” Badannya dia buat serong, supaya sebelah badannya bisa jadi sandaran sang ibu, lalu dua tangannya bisa meraih Biru lagi.
Dengan terpaksa Bintang memberikan Biru Kembali pada Devan.
“Siapa?” ibu Devan bertanya dengan suara yang tidak nyaring. Bagian bibirnya tidak simetris, hanya bicaranya tidak pelo.
“Kenalkan bu. Ini Ibu Bintang. Dia yang memberikan Devan pekerjaan kemarin, sehingga kita bisa punya uang mengontrak rumah ini.” Jelas Devan jujur pada ibunya. Di balas anggukan.
“Terima kasih, nak. Bintang.”
“Sama-sama bu. Pak Devan memiliki skill yang baik. Dia sangat berbakat, sehingga saya tidak ragu untuk bekerjasama dengannya.” Jawab Bintang terenyuh dengan keadaan dalam kamar itu.
Bagian luar kamar memang berantakan. Tetapi tidak dengan isi di kamar itu. Susunan pakaian, popok, minyak urut, hingga dispenser air juga tersusun rapi di dalamnya. Ada blower pengisap udara di dalam, sehingga kamar itu bersih dan wangi, Juga ada bak sampah tertutup. Devan sungguh menjaga kebersihan dalam kamar pasiennya tersebut.
“Mau rebahan.” Pinta ibu Devan lagi.
“Nanti saya yang tahan.” Bintang sigap, akan menopang tubuh ibu Devan yang pasti akan mendarat kasar, jika Devan bergeser.
“Maaf merepotkan.” Ucap Devan sungguh tak nyaman di bantu Bintang.
“Udah … gak usah sungkan gitu.” Jawab Bintang yang sudah berhasil membantu ibu Devan merebahkan dirinya dengan lembut.
“Biii … popokmu sungguh sudah bau acem. Papa ganti yuk.” Ucapnya ceria pada Biru yang memang sudah bau pup.
“Pak Devan … boleh liat?” Bintang merasa tertarik melihat duda satu anak itu mengurus bayinya sendiri.
“Liat, secara live? Bau lo” Kekeh Devan akrab.
“Gak apa-apa.” Bintang tetap nyusul ikut masuk ke kamar Biru.
Kamar Biru, yang sungguh-sungguh di buat nuansa biru. Biru yang di padu dengan gradasi warna biru tua hingga muda, sesuai fungsi dan posisinya masing-masing. Fix, Devan arsitek nyentrik.
Bersamaan dengan keponya Bintang yang makin dekat dengan Devan dan Biru, tepat saat itu juga HPnya bunyi lagi.
Angkasa
Bersambung…
Kira-kira Angkasa mau bilang apa ya?
Gimana nih?
Bintang kita pulangin ke Surabaya
Atau di susul ke Sidoarjo?