Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat untuk Dokter Muda yang Tidak Pernah Terkirim
Rumah Raze malam itu berubah menjadi ruang rapat yang aneh, meja makan panjang dipenuhi cangkir kopi setengah dingin, tablet Damar, dan satu map cokelat tua yang diletakkan di tengah seperti benda suci. Sarah duduk di ujung meja dengan rambut pendeknya yang masih berbau kebun teh, Rani bersila di kursi dengan celemek jahit yang entah kenapa tetap dia kenakan, dan Hartono, yang baru tiba dengan mantel basah dan wajah kurang tidur, membuka rapat dengan satu kalimat yang membuat semua orang berhenti mengunyah.
"Aku menemukan buku kode ayahku," katanya. "Tujuh dari delapan inisial berhasil kutebak. Yang kedelapan, Rumah Pertama, selalu ditulis dengan lingkaran kosong."
"Lingkaran kosong," Raze mengulang pelan.
"Seolah dia tidak berani menuliskan siapa pun di sana."
Sebelum siapa pun menyahut, Raze mengangkat satu jari. "Tiga salinan," katanya. "Tiga tempat." Itu aturan lama yang sudah Alya hafal, kebiasaannya untuk setiap dokumen penting: satu di brankas, satu di tangan orang yang dia percayai, satu di tempat yang tidak terpikirkan siapa pun. Dalam hitungan menit, salinan asli daftar pasien itu sudah difoto, dipindai, dicetak ulang, dan dibagi. Satu untuk Suster Ratna, satu untuk Mbak Wati di kampung, satu untuk Hartono yang menatapnya dengan canggung seperti seseorang yang baru saja diberi kunci rumah musuh.
"Kau percaya padaku sampai segitunya?" tanyanya.
"Tidak," Raze menjawab jujur. "Aku percaya pada kenyataan bahwa anakmu tinggal di bawah atap yang sama dengan salinan itu."
Hartono tersenyum pahit. "Itu jenis kepercayaan yang paling masuk akal."
Perdebatan sesungguhnya dimulai setelah Hartono pulang. Raze berdiri di ujung meja, tangan terlipat di punggung, dan dengan nada yang sudah sangat dikenal Alya, rendah, datar, tanpa celah, dia berkata bahwa Sabtu nanti hanya dia dan Hartono yang akan datang.
"Tidak," Alya dan Rani menjawab bersamaan.
"Itu bukan permintaan," Raze berkata.
"Itu juga bukan keputusan kamu sendiri," Alya membalas, bangkit dari kursinya. "Kamu janji nggak ada lagi keputusan sepihak. Undangannya buat keluarga Nireva dan Aldevar. Kalau cuma kamu yang dateng, mereka bakal tau kamu takut."
"Aku memang takut."
"Bagus," Rani menyela, mengunyah kerupuk, "berarti kita setara."
Sarah, yang sejak tadi menatap mereka dengan wajah geli, akhirnya meletakkan cangkirnya. "Aku punya usul," katanya. "Kalian semua datang, karena kalau tidak, itu pernyataan perang. Tapi kita yang menentukan aturan di dalam. Tidak ada yang minum dari gelas yang tidak dituang di depan mata. Tidak ada yang berjalan sendirian ke toilet. Dan Damar duduk di meja paling dekat pintu."
"Kalau gitu aku yang nuang minum Alya," kata Raze cepat.
"Itu bukan aturan," Alya membalas, tersenyum. "Itu modus."
Raze menatapnya, dan di bawah wajah datar itu, sudut bibirnya bergerak. Dia tidak membantah lagi.
Selasa malam, ruang tengah apartemen Rani berubah jadi bengkel jahit darurat. Kain satin putih menggantung dari sandaran kursi, pita ukur melingkar di leher Rani seperti selendang, dan di bawah lampu kerja yang terlalu terang. Alya berdiri di atas bangku kecil dengan separuh gaun terpasang di tubuhnya, lengan kiri belum selesai, bagian punggung masih dijepit puluhan peniti.
"Jangan napas dalam-dalam," Rani menggerutu dengan tiga peniti terselip di bibirnya. "Nanti pinggangnya berubah ukuran."
"Aku harus napas, Mbak."
"Napas pendek. Kayak lagi disembunyiin dari polisi."
Bel pintu berbunyi dua kali, dan sebelum Alya sempat menoleh, Rani sudah melompat ke arah pintu seperti penjaga gawang. "Berhenti di situ, Dok!" serunya, menutup daun pintu dengan punggung begitu Raze muncul di celahnya membawa dua kantong makanan. "Calon pengantin nggak boleh lihat gaunnya sebelum jadi. Itu aturan jahit."
"Aku bukan calon pengantin perempuan."
"Kamu calon pengantin. Titik. Duduk di luar."
Raze, yang tidak pernah terlihat diusir siapa pun dari tempat mana pun, berdiri dengan wajah datar selama tiga detik penuh, lalu menyerahkan kantong makanan lewat celah pintu dan duduk di lantai lorong dengan punggung bersandar ke daun pintu yang tertutup. Alya, yang menyaksikan itu dari atas bangku, tertawa sampai pitingnya bergeser.
Beberapa menit kemudian, setelah Rani kembali sibuk di sisi gaun yang lain dan menyalakan radio kecil, Alya turun dari bangku sambil menahan kain di dadanya dan berjalan pelan ke pintu. Dia berjongkok, dan dari celah sempit di bawah daun pintu, dia melihat ujung sepatu Raze.
"Kamu masih di situ?" bisiknya.
"Aku tidak ke mana-mana," suara rendah itu menjawab dari balik kayu, begitu dekat hingga terasa seperti napas di telinganya. "Kau pakai apa sekarang?"
"Separuh gaun, sepuluh peniti, dan tiga ancaman dari Mbak Rani."
"Aku bisa membayangkannya," katanya, dan suaranya melunak. "Aku tidak perlu melihat. Aku sudah punya gambarnya di kepalaku sejak kau bilang ya."
Alya menempelkan telapak tangannya ke daun pintu, dan dari sisi lain, dia merasakan sesuatu menekan perlahan ke tempat yang sama, hangat, seolah tangan besar itu sedang menyentuh kayu dari seberang. Lalu jemari Raze menyelinap ke celah di bawah pintu, mencari, dan Alya meraihnya dengan ujung jarinya, menautkan dua jari di antara sempitnya ruang itu.
"Dengarkan aku," Raze berbisik, dan nada memerintah yang sudah dia kenal kembali, tapi lebih lembut. "Sabtu nanti, jangan lepas cincinmu. Dari saat kau berpakaian sampai kita pulang. Aku tidak minta, Alya. Aku menyuruh."
"Aku nggak pernah lepas," Alya berbisik balik, mengusap buku jarinya dengan ibu jari. "Aku bahkan mandi pake itu."
Terdengar tawa pendek yang tertahan di balik pintu, dan jari-jari itu menggenggamnya sedikit lebih erat.
"Aku denger kalian!" Rani berteriak dari dalam. "Berhenti pegangan tangan lewat bawah pintu, ini bukan sinetron!"
"Ini sinetron," Raze menjawab datar dari lorong, dan untuk kesekian kalinya malam itu, Alya tertawa sampai air matanya keluar.
Rabu siang, sebuah mobil hitam berhenti di depan apartemen Rani. Damar sendiri yang menjemput mereka dari kampung, karena Raze tidak mau keluarga Alya tinggal tanpa penjagaan selama Rumah Pertama sudah tahu nama mereka. Alya berdiri di lobi dengan tangan dingin, dan Rani, di sampingnya, mengenakan blus terbaik yang pernah dia punya, satu-satunya yang tidak berbau kain dan minyak mesin jahit.
"Aku kelihatan aneh nggak?" bisiknya untuk keempat kalinya.
"Mbak mirip aku," Alya menjawab. "Jadi kalau Mbak kelihatan aneh, aku juga."
Pintu lift terbuka. Mbak Wati keluar lebih dulu, menenteng tas besar, dan di belakangnya, perlahan, ibunya, mengenakan kerudung krem dan jaket tipis yang selalu dia pakai untuk bepergian jauh, satu tangan memeluk sebuah kotak kayu sebesar kardus sepatu seolah itu bayi.
Ibunya berhenti dua langkah dari mereka. Dia menatap Alya, lalu menatap wanita di sampingnya, dan tubuhnya yang kecil mulai gemetar dari ujung kerudung sampai ujung sandal.
Tidak ada yang bicara. Rani melangkah satu kali. Ibunya mengulurkan tangan yang gemetar, menyentuh pipinya dengan ujung jari, seperti orang yang takut wajah itu akan pecah kalau disentuh terlalu keras.
"Alia," bisiknya.
"Namaku Rani, Bu," Rani menjawab, dan suaranya patah di tengah. "Tapi kalau Ibu mau manggil aku Alia, aku mau nyaut."
Ibunya menjatuhkan kotak itu ke tangan Mbak Wati dan memeluk Rani dengan seluruh tubuhnya. Tidak ada kata, hanya suara tangis yang tertahan selama dua puluh tahun dan akhirnya pecah di lobi apartemen yang dingin. Rani yang tadi tegak mendadak melunak, kedua tangannya naik, mencengkeram punggung jaket ibunya, wajahnya terbenam di kerudung krem itu, dan dia menangis seperti anak kecil yang akhirnya ditemukan setelah tersesat terlalu lama. Alya memeluk keduanya dari samping, menyatukan tiga tubuh dalam satu simpul, dan Mbak Wati, yang mati-matian menahan tangis demi menjaga kotak itu, hanya menutup mulutnya dengan punggung tangan sambil bergumam, "Ya Allah, ya Allah."
Malamnya, di ruang tamu apartemen, ibunya duduk di sofa dengan Rani di sisi kanan dan Alya di sisi kiri, kedua tangannya menggenggam tangan mereka masing-masing seperti takut mereka menghilang kalau dilepas. Dia belum berhenti menatap Rani sejak tadi. Setiap kali Rani bergerak, matanya mengikuti, seolah menghafal ulang setiap gerakan kecil yang terlewat selama dua puluh tahun.
"Dulu kamu suka menyanyi sebelum tidur," ibunya berbisik, mengusap punggung tangan Rani. "Sama Alya. Kalian berdua selalu menyanyi sampai salah satunya ketiduran."
Dia mulai bersenandung, nyaris tanpa suara, sebuah lagu nina bobok tua yang liriknya hanya dua baris dan diulang-ulang, dan Alya langsung mengenalinya. Itu lagu yang dulu selalu dinyanyikan ibunya di kamar kecil rumah kampung mereka. Tapi yang membuat napasnya tertahan adalah Rani, yang mendadak diam, matanya menerawang, lalu melanjutkan baris kedua tepat di nada yang benar, tanpa pernah diajari.
"Aku nggak pernah belajar lagu itu," Rani berbisik, bingung, bibirnya bergetar. "Tapi aku tahu kelanjutannya. Dari dulu. Orang tua angkatku sampai heran kenapa aku suka nyanyi lagu yang nggak pernah mereka nyanyikan."
"Pak Warno nyanyiin itu buat kamu di mobil," Alya berbisik, air mata jatuh ke pangkuan. "Dia bilang biar kamu tenang."
Ibunya menutup mulut dengan satu tangan, dan untuk beberapa menit tidak ada yang sanggup bicara.
Larut malam itu, sebelum semua orang masuk kamar, bel apartemen berbunyi, dan Raze berdiri di depan pintu dengan satu kantong jeruk dan wajah yang jelas telah berlatih mengucapkan salam sepuluh kali di dalam mobil. Alya menariknya masuk sebelum dia sempat berbalik, dan ibunya, yang sudah bangkit dari sofa dengan tangan terlipat di depan dada, menatap pria itu dari ujung sepatu sampai rambut, lama, tanpa senyum.
"Jadi kamu dokternya," katanya pelan.
"Saya Raze, Bu," jawabnya, membungkuk sedikit, suaranya lebih sopan dari yang pernah Alya dengar. "Saya tahu saya tidak pantas datang dengan hanya membawa jeruk."
Ibunya melangkah maju, meraih kedua tangannya yang menggenggam kantong itu, dan menggenggamnya erat-erat dengan tangannya yang kecil dan keriput. "Alya cerita," katanya, "kamu yang nolong dia waktu kecil. Kamu yang bayarin kuliahnya. Kamu yang nyari Alia sampai ketemu." Matanya basah. "Mama belum tahu semua ceritanya, Nak Dokter. Mama bisa lihat dari muka kalian, ada yang belum kalian ceritain. Nggak apa-apa. Mama nggak akan tanya sekarang."
"Bu—" Raze mulai berkata.
"Mama udah dikasih satu anak yang hilang hari ini," ibunya memotong lembut. "Yang lain bisa nunggu. Tapi terima kasih. Dari Mama. Atas semuanya."
Raze menatap tangan keriput yang menggenggam tangannya, rahangnya mengeras, dan Alya, yang berdiri di sampingnya, merasakan seluruh tubuh pria itu menegang karena sebuah ucapan terima kasih yang dia tahu belum pantas diterimanya. Dia menyentuh lengannya dari samping, sebentar, hanya untuk mengingatkan bahwa dia tidak sendirian di ruangan itu.
"Sama-sama, Bu," Raze berbisik akhirnya, dan suaranya pecah pada kata terakhir.
Menjelang tidur, ibunya meletakkan kotak kayu itu di pangkuan Alya. "Ini milik Bapakmu," katanya. "Mama nggak pernah berani buka. Kuncinya Bapak simpan di leher sampai meninggal, dan Mama nggak sampai hati mengambilnya dari peti. Tapi dua hari lalu, Mbak Wati nemu kuncinya terselip di dasar lemari tua. Mungkin Bapak sengaja menaruhnya di tempat yang cuma kita yang tahu."
Alya membuka kotak itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya hanya ada tiga benda. Sebuah foto keluarga lama, dua anak kembar di pangkuan seorang pria berkumis dan wanita muda, bahagia, tidak tahu apa yang akan datang, selembar kuitansi penyewaan mobil dengan nama perusahaan yang pudar, dan sebuah amplop putih yang menguning, tertutup rapat, ditulis dengan tulisan tangan yang Alya kenal betul, huruf terakhirnya selalu ditutup garis panjang.
Untuk Dokter muda yang menyelamatkan anak perempuanku. Jika kelak ia mencari.
Alya mengangkat amplop itu dengan dua tangan. Dia tidak membukanya. Itu bukan miliknya.
Alya menemukan Raze di balkon, menatap lampu kota yang sudah jarang. Tanpa berkata apa-apa, dia menyerahkan amplop itu ke tangannya. Raze membaca tulisan di depannya, dan seluruh tubuhnya membeku. Ibu jarinya menyentuh huruf-huruf itu satu per satu, nyaris tidak bernapas.
"Itu dari Bapak," Alya berbisik. "Buat kamu."
Raze tidak membukanya. Lama sekali. Akhirnya dia melipat amplop itu di antara kedua tangannya dan berkata dengan suara yang sangat rendah, nyaris tidak terdengar: "Kalau aku membacanya sekarang, aku tidak akan sanggup duduk di meja mereka hari Sabtu."
"Kamu nggak harus buka malam ini."
"Aku harus membukanya," dia berbisik. "Tapi aku tidak akan sanggup." Dia menatapnya, matanya basah dan lelah dan jujur. "Simpan untukku. Setelah Sabtu."
Alya mengambil amplop itu kembali, menyelipkannya ke saku dalam jaketnya, lalu menarik Raze ke dalam pelukan, wajahnya menempel di dadanya. Raze memeluknya erat sampai tulang rusuknya terasa ngilu, dagunya menekan puncak kepalanya, napasnya bergetar di rambutnya.
Di tengah malam, buku bersampul kulit hitam itu terbuka kembali, tulisannya lebih pelan dan lebih jujur dari biasanya.
Ayah Alya menulis surat untukku dua puluh tahun lalu. Seorang pria yang kehilangan separuh anaknya malam itu masih sempat memikirkan dokter muda yang kebetulan menolong. Aku tidak layak menerima surat itu. Aku hanya berdiri di lorong yang sama dengan pena yang menyunting daftar, dan aku diam.
Hari ini aku melihat Rani menyanyikan lagu yang tidak pernah diajarkan siapa pun. Tubuh punya ingatan yang tidak bisa dipalsukan oleh kertas. Itulah yang membuatku yakin, apa pun yang menunggu di meja itu hari Sabtu, ada hal-hal dalam diri manusia yang tidak bisa dihapus siapa pun, tidak dengan uang, tidak dengan kekuasaan, tidak dengan dua puluh tahun.
Aku akan duduk di meja mereka dengan cincin di jari Alya dan surat yang belum kubuka di saku jaketnya. Itu bukan strategi. Itu keyakinan yang baru kupelajari.