NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Kertas yang Bergerak Terlalu Cepat

Papan pengumuman di dekat ruang perawat lantai tiga biasanya hanya ditempeli jadwal shift dan pengingat pelatihan kepatuhan tahunan yang jarang ada yang benar-benar membacanya sampai selesai. Tapi pagi itu ada satu lembar baru yang belum pernah Alya lihat sebelumnya. Tergantung sedikit miring di antara paku payung yang sudah berkarat, kertas putih dengan kop resmi rumah sakit, tanda tangan kepala keperawatan di bagian bawah yang tintanya masih terlihat agak basah, dan namanya sendiri tertulis rapi di baris ketiga sebagai penerima apresiasi atas tindakan cepat dan tepat dalam situasi kritis di ruang tiga satu dua.

Dia berdiri cukup lama di depan kertas itu, cukup lama untuk membuat seorang rekan menyenggol bahunya sambil tertawa kecil, mengatakan bahwa Alya sudah jadi bahan pembicaraan sejak sore kemarin. Dan sebuah fakta bahwa tidak semua orang bisa membuat dr. Raze menyebut nama seseorang dua kali dalam satu hari tanpa nama itu berakhir sebagai berita duka di grup WhatsApp rumah sakit. Alya ikut tertawa, meski di dalam dadanya ada rasa aneh yang sulit dia artikan. Bukan bangga sepenuhnya, bukan juga cemas sepenuhnya, melainkan sesuatu yang mengambang di antara keduanya, seperti berdiri di ambang pintu yang baru saja terbuka sedikit tanpa pernah dia minta dibukakan.

Dia melipat rasa itu rapi-rapi, menyimpannya di sudut yang sama tempat dia biasa menyimpan semua hal yang tidak sempat dipikirkan panjang selagi bertugas, lalu melangkah menuju ruang pasien pertamanya hari itu dengan langkah yang sama seperti biasa. Cepat, ringan, sedikit tergesa. Karena baginya waktu di rumah sakit selalu terasa lebih pendek daripada yang seharusnya. Terutama pada hari-hari ketika ada terlalu banyak hal kecil yang ingin dia pahami sebelum sempat memahaminya sendiri.

Bayu datang menjelang tengah hari, membawa dua kotak nasi padang yang aromanya sudah tercium bahkan sebelum dia benar-benar masuk lobi, dan senyum yang bisa Alya kenali dari jarak sepuluh meter, bahkan di tengah lorong yang penuh orang berseragam sama. Dia menunggu di area tunggu dekat kantin. Duduk santai dengan satu kaki disilangkan di atas kaki yang lain seolah seluruh gedung itu adalah ruang tamunya sendiri. Dan begitu melihat Alya berjalan mendekat, dia berdiri, menariknya ke pelukan yang cukup erat dan cukup lama hingga beberapa perawat lain melirik sambil tersenyum diam-diam, seakan sudah terbiasa dengan pemandangan itu setiap kali Bayu sempat mampir.

"Aku denger kamu jadi pahlawan kemarin," katanya, mengecup puncak kepala Alya lembut sebelum melepaskan pelukannya. Tangannya masih bertahan di pinggang gadis itu selama mereka berjalan menuju bangku taman kecil di belakang gedung, tempat yang sudah lama jadi favorit mereka setiap kali jadwal Bayu yang berantakan sempat memberi ruang untuk singgah barang setengah jam. "Nyelametin nyawa orang, terus besoknya cuma dapat nasi padang dari calon suami sendiri. Kayaknya aku harus mulai mikirin cara upgrade."

"Nasi padang aja udah cukup bikin aku mau nikah sama kamu dua kali kalau bisa," Alya membalas sambil membuka kotak nasinya, hidungnya lebih dulu menangkap uap hangat rendang yang mengepul, dan untuk beberapa menit berikutnya dunia mereka menyusut jadi sesederhana bangku kayu yang mulai mengelupas catnya, dua kotak makanan yang dibagi bergantian, dan jemari Bayu yang sesekali terulur membetulkan poni Alya yang jatuh ke dahi, tanpa alasan lain selain karena dia memang suka melakukannya sejak dulu.

Sesekali dia mengecup ringan pelipis Alya di sela obrolan. Gestur kecil yang sudah jadi bahasa mereka sendiri, dan sekali dia menautkan jemarinya di sela jemari Alya di atas bangku, membiarkan tangan mereka begitu saja tanpa perlu berkata apa-apa, seolah kehadiran satu sama lain cukup untuk mengisi jeda yang tidak perlu diisi kata.

Mereka baru saja tertawa tentang sesuatu yang tidak penting. Lelucon lama soal kucing tetangga kos Alya yang selalu mengeong tepat jam tiga pagi seperti alarm rusak. Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba terlihat sebuah bayangan panjang jatuh di atas rerumputan tepat di depan mereka. Alya mendongak untuk melihat siapa pemilik bayangan tersebut, dan ia menemukan dr. Raze sedang berdiri beberapa langkah dari bangku itu, tangannya terselip di dalam saku jas, wajahnya datar seperti biasa, meski rahangnya terlihat sedikit lebih tegang dari yang Alya ingat kemarin.

"Suster Nireva." Suaranya seperti biasa, tenang, terukur, tanpa nada yang bisa ditebak arahnya. "Sesudah makan siang, laporkan diri ke ruang saya. Ada hal yang perlu didiskusikan soal penempatan."

"Baik, Dokter." Alya buru-buru menelan makanannya, sedikit gugup tanpa tahu alasan pastinya, sementara Bayu, yang belum pernah bertemu dr. Raze secara langsung, berdiri dan mengulurkan tangan dengan senyum ramah khasnya, tangan satunya masih santai bertengger di pinggang Alya seolah tidak ada yang perlu disembunyikan dari sikap itu.

"Bayu," katanya, memperkenalkan diri sendiri lebih dulu, seperti biasa, karena dia memang tipe orang yang tidak pernah menunggu diperkenalkan. "Tunangannya Alya."

Ada jeda yang terlalu panjang sebelum dr. Raze menyambut uluran tangan itu. Cukup singkat untuk tidak terlihat kasar di mata orang yang lewat, cukup lama untuk terasa canggung bagi siapa saja yang cukup peka menangkapnya. Dan Alya kebetulan adalah satu dari sedikit orang di taman itu yang menangkap jeda tersebut dengan jelas, bahkan sebelum dia sempat memahami kenapa hal sekecil itu terasa penting untuk diperhatikan.

"Dokter Raze," jawabnya singkat, menjabat tangan Bayu satu kali, cepat, seolah kontak fisik itu sendiri adalah sesuatu yang ingin segera dia selesaikan dan lupakan. Matanya sempat turun sekilas ke tangan Bayu yang masih melingkar santai di pinggang Alya, lalu kembali naik ke wajah Alya sendiri, dan untuk sepersekian detik ada sesuatu yang lewat di sana. Bukan kemarahan, bukan pula rasa tidak suka yang biasa, melainkan semacam perhitungan diam-diam, seperti seseorang yang sedang menyusun ulang rencana yang baru saja terganggu oleh satu variabel yang tidak dia perkirakan akan muncul secepat ini.

"Setengah jam lagi," katanya, lalu berbalik dan berjalan pergi tanpa menunggu jawaban, jas putihnya berkibar pelan mengikuti langkahnya yang panjang dan sama sekali tidak tergesa, meski siapa pun yang cukup lama mengenalnya tahu bahwa langkah setenang itu jarang benar-benar berarti tenang.

Bayu bersiul pelan begitu sosok itu cukup jauh dari jangkauan dengar. "Serius amat orangnya. Tapi katanya emang jenius, ya? Kamu beruntung bisa kerja langsung sama dia."

"Mungkin," Alya menjawab pelan, matanya masih mengikuti punggung yang menjauh itu sampai membelok di ujung lorong, dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, dia merasa bahwa kata "beruntung" tidak sepenuhnya menggambarkan apa yang sedang berdesir aneh di dadanya.

Ruang kerja dr. Raze lebih besar dari yang Alya bayangkan, dengan satu dinding kaca penuh menghadap kota yang tampak jauh lebih kecil dari ketinggian itu. Rak buku yang tertata berdasarkan warna sampul alih-alih judul atau nama penulis, dan sebuah meja kayu gelap yang begitu bersih hingga terasa seperti belum pernah benar-benar digunakan untuk menulis apa pun sejak pertama kali dibeli. Dia berdiri canggung di dekat pintu sampai diminta duduk. Saat duduk, matanya tanpa sengaja menangkap satu detail kecil di sudut meja. Segelas kopi kertas, masih hangat mengembun samar di bagian luarnya, hitam pekat tanpa gula, persis seperti yang biasa dia pesan sendiri, diletakkan di sisi meja yang jelas-jelas ditujukan untuknya, bukan untuk pemilik ruangan yang duduk di seberangnya.

Dia tidak berkomentar apa-apa. Dr. Raze juga tidak repot-repot menjelaskan, seolah kehadiran gelas itu adalah sesuatu yang seharusnya sudah dianggap wajar.

"Divisi bedah jantung membutuhkan satu perawat tetap untuk tim inti," katanya, duduk di kursinya sendiri dengan postur yang selalu tegak, seolah tulang punggungnya tidak pernah mengenal kata bersandar barang sedetik pun. "Berdasarkan evaluasi kemarin, nama Kamu direkomendasikan untuk mengisi posisi itu."

"Direkomendasikan oleh siapa, Dokter?" Alya bertanya, berusaha menyembunyikan rasa herannya, karena setahu dia, proses mutasi internal biasanya memakan waktu berminggu-minggu, penuh formulir berlapis, penuh rapat evaluasi yang melibatkan lebih dari satu kepala departemen sebelum tanda tangan terakhir dibubuhkan.

"Oleh saya," jawabnya, seolah itu adalah jawaban paling sederhana yang pernah ada di dunia. "Surat keputusannya sudah ditandatangani pagi ini."

Alya menahan napas sebentar tanpa sadar. Pagi ini, artinya keputusan itu sudah dibuat bahkan sebelum tinta di kertas apresiasi pada papan pengumuman sempat benar-benar mengering. Bahkan sebelum evaluasi formal yang biasanya membutuhkan tanda tangan tiga kepala unit berbeda sempat dijalankan sesuai prosedur yang selama ini dia pahami sebagai baku dan sulit ditawar.

"Ini kesempatan bagus," lanjutnya, mungkin membaca sedikit keraguan di wajah Alya meski nada bicaranya sama sekali tidak berubah. Tetap datar, tetap terkendali, seperti orang yang sudah lama terbiasa membuat keputusan besar tanpa perlu repot meyakinkan siapa pun tentang alasan di baliknya. "Anda akan belajar lebih banyak di bawah pengawasan saya langsung dibanding hanya berdiri di ruang rawat biasa. Anggap ini investasi, bukan hadiah."

"Terima kasih, Dokter," Alya akhirnya berkata, karena apa lagi yang bisa dia ucapkan di hadapan keputusan yang sudah final sebelum dia diberi kesempatan untuk didengar pendapatnya sendiri, meski di kepalanya satu pertanyaan kecil terus berputar tanpa menemukan jawaban. Bagaimana caranya satu insiden yang hanya berlangsung tiga puluh detik di ruang tiga satu dua bisa mengubah seluruh jalur kariernya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam penuh.

Dr. Raze berdiri, tanda bahwa pertemuan itu sudah selesai. Alih-alih berjalan ke pintu, dia melangkah ke sisi meja tempat Alya duduk. Cukup dekat hingga Alya bisa mencium samar aroma antiseptik yang bercampur sesuatu yang lebih hangat, kayu cendana mungkin, atau sesuatu yang lebih personal dari sekadar wewangian biasa. Tangannya terulur, bukan untuk berjabat, melainkan untuk meluruskan kerah seragam Alya yang sejak tadi terlipat sebelah tanpa pernah dia sadari sendiri. Gerakan yang begitu cepat dan begitu wajar hingga Alya nyaris tidak sempat bereaksi sebelum jemari itu sudah menjauh lagi, meninggalkan sensasi hangat samar di kulit lehernya yang menetap jauh lebih lama daripada seharusnya untuk sentuhan sesingkat itu.

Sedetik sebelum benar-benar melangkah mundur, ibu jarinya sempat menyentuh rahang Alya, ringan, hampir seperti mengoreksi posisi kepala yang tidak perlu dikoreksi sama sekali. Alya bisa merasakan detak jantungnya sendiri berdegup lebih keras daripada yang bisa dijelaskan oleh sekadar rasa canggung biasa.

"Kerah Kamu," katanya, sebagai satu-satunya penjelasan yang diberikan, seolah kalimat itu cukup untuk membenarkan sebuah tindakan yang, bagi siapa pun yang cukup memperhatikan, jelas sudah melampaui batas wajar yang biasa dilakukan seorang atasan kepada bawahan barunya.

Alya hanya mengangguk. Tidak mampu mengeluarkan kata-kata yang tepat, dan baru bisa bernapas normal lagi setelah pintu ruangan itu benar-benar tertutup rapat di belakang punggungnya.

Sebelum kembali ke ruang rawat, Alya mampir dulu ke bagian administrasi untuk mengambil salinan surat keputusan mutasinya, mengikuti prosedur yang memang selalu dia patuhi meski kali ini terasa aneh melakukannya untuk sebuah keputusan yang bahkan belum sempat dia setujui secara sadar.

Pak Yusuf, staf administrasi yang sudah bekerja di sana lebih lama daripada kebanyakan dokter residen, menyambutnya dengan gaya bicara yang selalu sama. Pendek, formal, dan seperti membaca dari naskah yang sudah dihafal luar kepala selama bertahun-tahun.

"Nomor pegawai," katanya, tanpa basa-basi, matanya sudah terpaku ke layar komputer sebelum Alya sempat duduk sepenuhnya.

Alya menyebutkan nomornya, dan Pak Yusuf mengetik cepat, lalu berhenti sejenak. Alisnya sedikit terangkat menatap layar sebelum berkomentar, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Alya. "Aneh. Timestamp-nya jam sebelas lewat empat puluh malam. Biasanya surat begini baru diproses paginya, setelah rapat internal." Dia mengetuk-ngetuk mejanya sebentar, kebiasaan yang tampaknya sudah lama menempel setiap kali menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan alur kerja standar yang dia pegang teguh. "Nggak masalah, sih. Cuma nggak biasa."

"Insidennya sendiri baru terjadi jam sebelas siang, Pak," Alya berkata pelan, lebih untuk dirinya sendiri daripada untuk Pak Yusuf, yang sudah kembali sibuk mencetak lembar berikutnya seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan lebih jauh olehnya.

"Ya sudah, berarti cepat prosesnya," jawabnya singkat, menyerahkan map berisi surat keputusan itu tanpa menaikkan pandangan lagi, karena baginya, secepat apa pun sebuah keputusan diproses, selama tanda tangan dan stempelnya lengkap, itu bukan lagi urusannya untuk dipertanyakan.

Tapi bagi Alya, yang berjalan kembali menyusuri lorong sambil memeluk map itu di dadanya, angka jam sebelas lewat empat puluh malam terus terngiang, karena itu berarti seseorang sudah menyiapkan seluruh keputusan itu bahkan sebelum dia sendiri sempat pulang ke kosnya malam itu, sebelum dia sempat menyiram pot mint kecil di jendela kamarnya seperti biasa, sebelum dia sempat tidur dengan pikiran bahwa hari itu hanyalah hari kerja biasa yang kebetulan berakhir dengan satu insiden yang berhasil dia tangani dengan baik.

Suster Ratna menemukannya di ruang ganti menjelang akhir shift, wajahnya campuran antara bangga dan sesuatu yang lebih sulit dibaca, seperti orang yang ingin ikut senang tapi tidak sepenuhnya berhasil meyakinkan dirinya sendiri untuk melakukannya dengan tulus. "Aku denger kamu udah ambil surat keputusannya," katanya, sambil membantu Alya melipat jas kerjanya yang sedikit kusut di bagian lengan. "Gimana rasanya, jadi anak emas dr. Raze secepat itu?"

"Aku juga nggak ngerti kenapa secepat ini, Bu," Alya menjawab jujur, tangannya berhenti sebentar di atas kain seragamnya sendiri, memikirkan angka jam sebelas lewat empat puluh malam yang masih terus berputar di kepalanya sejak tadi.

"Yang penting kamu kerja bagus, sisanya biar jadi urusan orang lain buat dipikirin," Ratna berkata, meski nada suaranya sendiri menyisakan sesuatu yang tidak selesai, seperti kalimat yang sengaja digantung agar pendengarnya sendiri yang menyimpulkan sisanya. Dia menepuk bahu Alya sekali lagi, lebih pelan dari biasanya, lalu berjalan keluar ruangan sambil menggumamkan sesuatu tentang jadwal shift esok hari yang harus segera dia cek.

Alya berdiri sendirian di antara deretan loker yang berderit setiap kali dibuka terlalu cepat. Memandangi map di tangannya, memikirkan satu kemungkinan yang, sekeras apa pun dia coba tepis, terus kembali menetap di kepalanya. Bahwa keputusan tentang hidupnya barangkali sudah dibuat jauh sebelum dia sendiri sempat tahu ada keputusan yang perlu dibuat sama sekali, dan bahwa jarak antara

"kebetulan" dan "direncanakan" ternyata jauh lebih tipis daripada yang pernah dia bayangkan sebelumnya.

Dia menyelipkan map itu ke dalam tasnya, dan saat melakukannya, matanya menangkap kilau kecil cincin di jari manisnya. Cincin sederhana yang dipilih Bayu setelah tiga toko dan dua jam perdebatan main-main tentang model mana yang paling "Alya banget".

Benda yang selama ini terasa seperti jangkar paling nyata di tengah hari-hari kerja yang penuh keringat dan alarm monitor. Dia memutar cincin itu pelan dengan ibu jari, kebiasaan kecil yang muncul setiap kali pikirannya terlalu penuh untuk ditata sendiri. Untuk sesaat dia membiarkan dirinya percaya bahwa apa pun yang sedang terjadi di balik meja kayu gelap lantai dua puluh dua itu, jangkar ini akan tetap ada di tempatnya, tidak peduli seberapa cepat kertas-kertas lain bergerak tanpa sepengetahuannya.

Dia tidak tahu, saat mengunci lokernya malam itu, bahwa jangkar yang sama sedang diam-diam dipelajari oleh seseorang yang tidak pernah terbiasa membiarkan sesuatu tetap berada di tempat yang bukan dia tentukan sendiri.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈

Kadang pintu yang tampak terbuka karena keberuntungan sebenarnya sudah lama menunggu untuk dibukakan seseorang. Dan yang paling sulit dimaafkan bukanlah tangan yang membukanya, melainkan betapa lama kita percaya itu adalah pilihan kita sendiri.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!