Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penuh haru
Pagi itu, sinar matahari awal musim semi di kota berbiaskan warna merah muda keemasan, menembus jendela kaca kamar lantai dua. Tidak ada lagi teror, tidak ada suara bentakan, dan tidak ada ketakutan yang mencekam.
Di atas karpet berbulu lembut di sudut kamar, Bumi sedang berdiri tegak di depan cermin berbingkai kayu. Anak laki-laki berusia empat tahun itu mengenakan seragam TK barunya kemeja putih bersih berkain katun dengan rompi rajut biru dongker dan celana pendek senada. Dasii kupu-kupu kecil bertengger rapi di lehernya.
"Ibu! Lihat Bumi!" seru balita itu gembira, berputar-putar kecil hingga sepatu hitam kilapnya berdecit pelan. "Bumi udah kayak anak sekolah beneran, kan?"
Vivian yang baru selesai merapikan tas punggung bertema dinosaurus milik Bumi terpaku di ambang pintu. Dadanya mendadak bergemuruh oleh rasa haru yang luar biasa.
Ia teringat tahun-tahun kelam di desa pesisir saat ia harus menjahit pakaian bekas demi membungkus tubuh kecil Bumi dari dinginnya angin malam, saat ia menangis diam-diam di dapur karena khawatir tidak sanggup memberi anaknya pendidikan yang layak. Dan kini... anak yang dulu dilahirkannya dalam derita dan linangan air mata, berdiri dengan begitu tampan, sehat, dan ceria.
"Anak Ibu... ganteng banget," bisik Vivian parau. Matanya berkaca-kaca saat ia berlutut di hadapan Bumi, membetulkan posisi dasi kupu-kupu itu dengan jemarinya yang sedikit gemetar.
"Kok Ibu mau nangis?" tanya Bumi polos, menangkup kedua pipi ibunya dengan tangan kecilnya yang hangat. "Bumi kan mau tes masuk sekolah, Bu. Kata Ayah, jagoan nggak boleh bikin Ibu sedih."
Vivian tertawa kecil di antara lelehan air matanya. "Ibu nggak sedih, Sayang. Ibu cuma... terlalu bahagia."
Tak Tak..
Ketukan lembut di pintu membuat keduanya menoleh. Radhit berdiri di sana, mengenakan kemeja putih kasual yang digulung rapi hingga siku. Pria itu tampak memegang sebuah kamera DSLR klasik di tangannya. Matanya yang dulu dingin dan penuh keangkuhan, kini memancarkan kehangatan yang amat dalam saat menatap wanita dan anak di hadapannya.
"Sudah siap, Jagoan?" tanya Radhit lembut.
"Siap, Ayah!" jawab Bumi mantap seraya berlari kecil menghampiri Radhit dan merangkul erat kaki ayahnya.
Radhit membungkuk, mengangkat Bumi ke dalam dekapan dadanya yang bidang, lalu mengusap puncak kepala anaknya dengan penuh kasih sayang. Ia melirik Vivian yang sedang menghapus sisa air mata di pipinya.
"Kamu baik-baik saja, Vi?" tanya Radhit tulus, melangkah mendekat.
"Aku baik, Mas... Cuma terharu lihat Bumi," jawab Vivian pelan.
Radhit mengangguk paham. Tanpa disadari, matanya sendiri ikut berembun. "Terima kasih ya, Vi... Karena kamu bertahan dan menjaga Bumi dengan sangat baik, Kebetulan Mas hari ini punya kesempatan untuk mengantarkan anak kita di hari pertama tes sekolahnya."
Gedung TK Nusantara Utama pagi itu dipenuhi oleh riuh anak-anak dan para orang tua. Taman bermainnya yang luas berhias perosotan warna-warni dan lapangan rumput yang terawat.
Hari ini adalah ujian wawancara dan observasi kemampuan motorik bagi calon siswa baru. Di dalam ruang observasi yang berdinding kaca transparan, Bumi duduk di meja kecil bersama seorang psikolog anak. Sementara itu, Vivian dan Radhit memperhatikan dari luar ruangan melalui kaca satu arah.
Di dalam ruangan, Bumi terlihat sangat tenang. Ia berhasil menyusun balok-balok kayu dengan presisi, mengenali bentuk-bentuk geometris, dan berbicara dengan begitu santun saat diajak berinteraksi.
Hingga pada sesi terakhir, penguji menyodorkan selembar kertas putih dan krayon warna-warni. Penguji meminta Bumi menggambar hal yang paling membuat dirinya bahagia.
Dari luar kaca, Vivian mencengkeram jemarinya sendiri dengan cemas. Ia tahu Bumi adalah anak yang sangat peka terhadap dinamika orang tuanya.
Bumi mengambil krayon hitam untuk menggambar sebuah rumah panggung sederhana dengan atap segitiga. Lalu, ia mengambil krayon merah, biru, dan kuning untuk menggambar tiga figur manusia yang saling berpegangan tangan di halaman rumah tersebut.
Penguji tersenyum ramah dan bertanya pelan, "Bumi, bisa ceritakan ke Ibu Guru, ini gambar siapa saja?"
Bumi menunjuk figur paling kecil di tengah. "Ini Bumi..."
Lalu jari mungilnya berpindah ke figur wanita bergaun di sebelah kirinya. "Ini Ibu. Ibu yang selalu peluk Bumi kalau Bumi dingin..."
Terakhir, jarinya menunjuk figur pria jangkung di sebelah kanannya. Bumi tersenyum sangat lebar, matanya berbinar penuh kebanggaan.
"Dan yang paling tinggi ini... ini Ayah Radhit. Ayah yang udah pulang dari tempat jauh. Ayah jagoan Bumi yang peluk Bumi sama Ibu... Bumi sayang banget sama Ayah."
Melalui pengeras suara kecil yang terhubung ke luar ruangan, setiap kata dari bibir mungil Bumi terdengar begitu jernih di telinga Vivian dan Radhit.
DEG.
Dada Radhit serasa dihantam oleh keharuan yang tak tertahankan. Tangisnya pecah seketika. Pria yang berdiri tegap di hadapan ratusan relasi bisnisnya itu kini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat oleh tangis Isakan yang teramat dalam dan penuh rasa syukur.
Kata-kata anak polos itu... adalah pengakuan paling suci yang tak pernah Radhit sangsikan lagi. Seluruh rasa bersalah dan penyesalannya seolah terbasuh habis oleh kalimat 'Ayah jagoan Bumi'
Vivian yang berdiri di samping Radhit tak sanggup lagi menahan air matanya. Tangisnya meletup lembut. Melihat Radhit yang menangis tanpa rasa malu di depannya, Vivian memberanikan diri mengulurkan tangannya dan menyentuh lengan Radhit, memberinya kekuatan.
"Mas..." bisik Vivian serak, air matanya menetes membasahi pipinya. "Bumi benar-benar menerima kamu sebagai ayahnya."
Radhit menurunkan tangannya yang basah oleh air mata, lalu menatap Vivian dengan tatapan penuh keharuan yang teramat dalam. Tanpa ragu lagi, Radhit menggenggam jemari Vivian yang berada di lengannya sebuah cengkeraman lembut yang menyalurkan rasa terima kasih tanpa batas.
"Terima kasih, Vi... Terima kasih sudah melahirkan malaikat kecil ini ke dunia..." bisik Radhit dengan suara yang pecah oleh isak tangis. "Saya berjanji... demi sisa hidup saya, saya tidak akan pernah membuat kamu dan Bumi menangis karena kepedihan lagi."
Satu jam kemudian, penguji keluar ruangan membawa berkas penilaian dan memberikan stempel hijau besar di lembaran formulir Bumi: LULUS SELEKSI UJIAN UTAMA.
"Selamat Pak Radhit, Ibu Vivian! Ananda Bumi sangat cerdas, mandiri, dan memiliki kehangatan emosional yang luar biasa dari orang tuanya," puji penguji tersebut seraya menyerahkan seragam olahraga sekolah.
Bumi berlari keluar dari ruangan sambil membawa kertas gambarnya. "Ibu! Ayah! Bumi lulus!"
Radhit langsung berlutut dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Bumi melompat ke dalam pelukan Radhit. Pria itu mengangkat tubuh kecil anaknya ke udara, tertawa lepas di tengah lelehan air mata harunya, lalu mengecupi pipi dan dahi Bumi berulang-ulang hingga anak itu kegelian.
Vivian berdiri di samping mereka, tersenyum lebar di antara sisa air mata bahagianya. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir, ia merasakan kedamaian yang utuh. Potongan-potongan takdir yang dulu hancur berkeping-keping... kini perlahan kembali menyatu dalam tatanan yang begitu indah.
Sore harinya, mereka merayakan kelulusan tes Bumi dengan makan es krim di taman kota. Bumi tertidur pulas di pangkuan Vivian dalam perjalanan pulang di dalam mobil, kelelahan setelah seharian beraktivitas gembira.
Radhit mengemudikan mobil dengan sangat perlahan agar tidur anaknya tidak terganggu. Melalui kaca spion tengah, Radhit menatap wajah tenang Vivian yang sedang mengusap rambut Bumi.
"Vi..." panggil Radhit pelan.
Vivian mendongak, menatap mata Radhit di kaca spion. "Iya, Mas?"
"Terima kasih untuk hari ini," ujar Radhit tulus. "Melihat kamu dan Bumi tersenyum... adalah hadiah ulang tahun terbaik yang pernah saya punya."
Vivian tersentak kecil. Ulang tahun? Ia baru teringat bahwa hari ini adalah tanggal kelahiran Radhit.
Namun, sebelum Vivian sempat mengucapkan sepatah kata pun, ponsel kerja Radhit yang diletakkan di dashboard bergetar tanpa henti. Sebuah notifikasi pesan rahasia masuk dari kepala tim pengawal pribadinya:
"Pak Radhit, kami menemukan pergerakan mencurigakan. Clarissa baru saja mencairkan seluruh sisa dana simpanannya dan menyewa dua orang mantan napi dari luar kota. Mereka sedang mengintai rute perjalanan pulang Anda sekarang!"
Mata Radhit mendadak menyipit dingin di balik kemudi. Kebahagiaan sore itu seketika tertutup oleh ancaman bahaya yang kian mendekat!
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian