Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Mereka akan mulai mengumpulkan informasi tentang rutinitas dan kelemahan emosional dari Lyly, Tata, dan Melly mulai besok pagi.
Di rumah mewah Nisa, hari beranjak siang dan Jarot sedang bersantai di ruang keluarga menonton acara gosip di televisi.
Lyly berjalan turun dari lantai dua dengan pakaian rapi dan membawa sebuah tas kerja mahalnya.
"Jarot, aku harus pergi ke kantor sebentar siang ini untuk menandatangani beberapa dokumen penting yang tidak bisa dikirim lewat email," izin Lyly dengan nada sopan layaknya bawahan melapor pada atasan.
Jarot mematikan televisinya dan langsung berdiri dari sofa.
"Berapa lama kamu akan berada di sana?" tanya Jarot bersiap menemani majikannya itu.
"Hanya sekitar dua jam. Lagipula kantorku kan ada di gedung utama yang sistem keamanannya berlapis," jawab Lyly meyakinkan keamanannya.
"Mbak Melly, awasi CCTV jalanan di sepanjang rute menuju kantor Mbak Lyly," perintah Jarot setengah berteriak ke arah lantai dua.
"Siap komandan!" sahut Melly dari dalam kamarnya dengan sangat antusias.
Jarot dan Lyly pun berjalan keluar menuju garasi dan menaiki mobil SUV hitam mereka.
Brummm.
Perjalanan menuju gedung perkantoran berjalan sangat lancar dan aman tanpa ada tanda-tanda mobil mencurigakan yang mengikuti dari belakang.
Sesampainya di lobi gedung pencakar langit itu, Lyly turun dan berjalan masuk dengan sangat elegan.
Jarot berjalan mengawalnya dari belakang dengan jarak sekitar dua meter untuk memberikan ruang privat pada bosnya.
Banyak karyawan yang menunduk hormat menyapa Lyly saat mereka berjalan melewati lorong kantor.
Namun pandangan para karyawan itu lebih banyak tertuju pada sosok asing berpakaian murah yang mengekor di belakang direktur cantik mereka.
"Masuklah dan tunggu di sofa ruanganku, aku akan menyelesaikan tanda tangan ini dengan cepat," ucap Lyly membuka pintu ruang kerja pribadinya.
Ruang kerja Lyly sangat luas dan mewah, dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke pemandangan kota.
Jarot duduk di atas sofa kulit empuk dan memejamkan mata menikmati hembusan dingin AC sentral ruangan.
Tak. Tak. Srek.
Lyly sibuk menandatangani setumpuk dokumen kertas di mejanya dengan sangat cepat dan fokus.
Dua jam berlalu tanpa terasa, dan pekerjaan Lyly akhirnya selesai.
"Selesai juga, ayo kita pulang sekarang Jarot," ajak Lyly membereskan mejanya lalu berjalan menuju pintu keluar.
Cklek.
Namun saat Lyly membuka pintu ruangannya, seorang petugas kebersihan berseragam biru tiba-tiba menabraknya dari arah luar.
Brak.
"Ah, maaf Bu Direktur! Saya tidak sengaja!" seru petugas itu buru-buru menunduk mengambil alat pelnya yang jatuh.
Sret.
Tanpa Lyly sadari, tangan kiri petugas itu menyelinap cepat menyuntikkan sebuah jarum kecil ke lengan atas Lyly di balik blazernya.
"Aduh!" ringis Lyly pelan merasakan seperti ada gigitan semut yang agak tajam di lengannya.
"Ada apa Mbak Lyly?" tanya Jarot langsung melangkah mendekat dari belakang dengan firasat buruk.
"Tidak apa-apa, mungkin cuma tersenggol gagang pelnya tadi," jawab Lyly mengusap lengannya.
Petugas kebersihan itu membungkuk hormat berkali-kali lalu segera berlari menjauh menyusuri lorong dengan sangat tergesa-gesa.
Mata Jarot langsung menyipit tajam menatap punggung petugas kebersihan yang berlari itu.
Langkah lari orang itu terlalu ringan dan seimbang untuk ukuran seorang petugas kebersihan biasa.
"Mbak Lyly, kamu merasa pusing atau mual?" tanya Jarot langsung memegang kedua bahu Lyly dengan raut wajah sangat serius.
Lyly mengernyitkan dahi merasa heran dengan pertanyaan tiba-tiba dari pengawalnya itu.
"Tidak, aku merasa baik-baik saja kok. Memangnya kenapa?" tanya Lyly bingung.
Tiba-tiba, pandangan mata Lyly mulai berputar dan lantai di bawahnya terasa bergelombang.
Dunia di sekelilingnya mendadak berputar cepat dan pandangannya mengabur menjadi gelap gulita.
Bruk.
Tubuh Lyly langsung lemas dan kehilangan kesadaran seketika sebelum jatuh menghantam lantai lorong.
Jarot dengan cepat menangkap tubuh majikannya itu sebelum kepalanya membentur lantai marmer yang keras.
"Sialan, racun bius kelas militer," umpat Jarot menggeram marah melihat sebuah titik merah kecil di lengan Lyly.
Jarot langsung menggendong tubuh Lyly ala pengantin dan berlari menuju lift khusus direktur dengan kecepatan penuh.
"Mbak Melly, segera retas sistem CCTV gedung kantor ini sekarang juga! Ada yang menyuntik kakakmu pakai racun bius!" perintah Jarot melalui alat komunikasinya dengan nada memburu.
Di rumah, Melly langsung panik setengah mati dan jari-jarinya menari liar di atas keyboard komputer.
"Siapa yang berani menyusup ke gedung keamanan tinggi itu, Jarot?!" teriak Melly dari earpiece Jarot.
"Seseorang yang sangat profesional dan tahu jadwal kegiatan kakakmu," jawab Jarot masuk ke dalam lift dan menekan tombol garasi bawah tanah.
Pikiran Jarot bekerja dengan sangat cepat menganalisis metode serangan musuh yang berubah drastis ini.
Sindikat Tengkorak Hitam ternyata tidak mau menunggu lama dan langsung menggunakan taktik perang kotor untuk menculik target mereka.
"Bertahanlah Mbak Lyly, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh sehelai pun rambutmu," bisik Jarot menatap wajah pucat Lyly dalam gendongannya.
Luka pertama telah ditorehkan di pihak mereka, dan kemarahan sang penguasa bawah tanah kini benar-benar telah mencapai puncaknya.
Tidak akan ada lagi belas kasihan atau peringatan ringan untuk musuh-musuhnya setelah kejadian ini.
Malam pembalasan dendam yang sesungguhnya akan segera dimulai di kota ini.