• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Pilihan di Ujung Tanduk
Malam harinya pukul 22.00 WIB, suasana kamar Eca terasa sangat sunyi namun dipenuhi oleh ketegangan yang pekat. Lembaran laporan evaluasi yayasan milik Angkasa sudah selesai dia rapikan dan tercetak rapi di atas meja belajar, namun Eca sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Dia duduk di tepi kasur sambil menatap kosong ke arah layar ponselnya yang menampilkan pesan ancaman tadi sore.
Pikirannya buntu. Rahasianya kini tidak hanya berada di tangan Angkasa dan Reno, tapi juga di tangan sosok misterius dari masa lalu yang siap menghancurkan sisa-sisa kehidupan tenangnya kapan saja. Jika foto wajah aslinya tanpa kacamata disebar di mading sekolah, maka seluruh trauma perundungan, makian, dan pengucilan yang membuatnya pindah dari SMA Wijaya akan kembali terulang dalam skala yang jauh lebih besar di SMA Taruna Bangsa.
Di tengah kepanikannya yang memuncak, ponsel Eca kembali berdenting nyaring, menampilkan sebuah panggilan masuk dari kontak yang baru saja dia simpan siang tadi: Reno Aliansyah.
Eca ragu-grau sejenak sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo, Kak Reno..." cicit Eca dengan suara yang terdengar sangat lelah dan rapuh.
"Sa? Suara lo kenapa? Lo nggak apa-apa?" tanya Reno di seberang telepon, nada suaranya mendadak berubah menjadi penuh kekhawatiran saat mendengar getaran tak biasa dari vokal Eca.
Eca menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan tangisnya yang hampir pecah karena tekanan mental yang terlalu bertubi-tubi hari ini. "Kak... tawaran kerja sama lo waktu di koridor siang tadi... apa masih berlaku?" tanya Eca langsung pada intinya, membuang semua gengsinya. Dia menyadari bahwa dia tidak bisa menghadapi ancaman dari masa lalunya sendirian tanpa bantuan dari salah satu penguasa sekolah.
Hening sejenak di seberang sana sebelum Reno menjawab dengan nada suara yang kembali berubah menjadi berat dan serius. "Masih, Alesya. Selalu berlaku buat lo. Ada masalah apa? Angkasa macam-macam lagi sama lo setelah pulang sekolah?"
"Bukan Angkasa, Kak. Ada orang lain... orang dari sekolah lama gue. Dia tahu gue menyamar di sini, dan dia punya foto wajah asli gue pas lagi lepas kacamata tadi sore," tutur Eca jujur dengan tubuh yang kembali bergetar. "Dia ngancem bakal nyebarin foto itu besok pagi di sekolah."
Mendengar hal itu, Reno mendesik tajam di seberang sana, tampaknya ikut terkejut dengan fakta baru tersebut. "Sial. Dengar, Sa. Lo jangan panik dulu. Besok pagi, datang lebih awal sebelum jam tujuh. Jangan langsung ke ruang OSIS atau nemuin Angkasa. Temuin gue di ruang redaksi majalah dinding di lantai tiga. Gue bakal mastiin anak-anak fraksi pengawas gue buat jaga area mading bawah dari pagi buta, jadi kalau ada orang asing yang mau pasang foto lo, mereka bisa langsung ditangkap."
Reno memberikan jeda beberapa detik sebelum menambahkan kalimatnya dengan nada yang sangat intens. "Tapi ingat kesepakatan kita, Alesya. Setelah gue beresin masalah foto ini besok pagi... lo harus serahkan draf laporan rahasia internal milik Angkasa yang ada di laptopnya ke tangan gue. Deal?"
Eca memandangi tumpukan berkas yayasan milik Angkasa yang ada di mejanya. Dia tahu, mengkhianati Angkasa sama saja dengan menantang maut dan bersiap menghadapi kemarahan pekat dari sang Ketua OSIS yang bisa mencabut beasiswanya kapan saja. Namun, membiarkan foto aslinya tersebar berarti menghancurkan seluruh hidupnya detik ini juga. Eca berada di ujung tanduk, terjepit di antara ancaman masa lalu, perlindungan posesif Angkasa yang menjerat, dan tawaran penyelamatan dari Reno yang sarat akan pamrih politik sekolah.
Eca memejamkan matanya rapat-rapat, mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, lalu mengembuskan napas terakhirnya malam itu dengan sebuah keputusan mutlak.
"Deal, Kak Reno. Besok pagi gue bakal temuin lo di lantai tiga."