NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Solusi yang Dibungkus Air Mata

Aira terdiam lama. Lalu bilang, “Saya tidak menerima pesan baru. Dan saya tidak akan buka pintu. Kamu… urus timmu. Jangan sampai mereka benar-benar hancur karena saya.”

“Mereka tidak akan hancur. Saya akan cari cara.” Raka menegakkan tubuh. “Setiap dua jam. Janji tetap berlaku.”

“Janji.”

Telepon dimatikan. Raka memasukkan ponsel, lalu berjalan kembali ke arah mekanik yang masih menunggu arahan. Wajahnya sudah kembali ke mode pebalap—dingin, fokus, siap bekerja.

Tapi di belakang mata, satu kalimat Pak Dhiren masih bergema, Perempuan bisa menunggu. Kontrak tidak.

Raka mengusap tangan yang masih kotor ke overall. “Perempuan ini tidak bisa menunggu,” gumamnya pada diri sendiri. “Dan saya juga tidak akan membuatnya menunggu sendirian.”

Di dalam ruang meeting yang ditinggalkan, Pak Dhiren sudah menekan nomor sponsor global.

“Dia menolak,” katanya datar. “Siapkan opsi kedua. Kalau Raka tidak berubah pikiran dalam dua puluh empat jam, kita pindahkan slot itu. Dan mulai evaluasi ulang kontrak domestik.”

Di rumah sakit, bau antiseptik dan kopi sachet memenuhi ruang tunggu ICU ketika Keenan tiba. Dia masih memakai jaket yang sama sejak tadi pagi, tas medis belum sempat diletakkan. Ayahnya sudah distabilkan, kata dokter jaga, tapi belum keluar dari zona kritis. Monitor di balik kaca masih berbunyi dengan ritme yang terlalu pelan untuk membuat siapa pun tenang.

Ibunya sudah menunggu di kursi plastik sejak dini hari. Wajahnya bengkak, mata merah, tangan memegang tas kecil yang isinya hanya obat-obatan rutin dan dompet. Begitu melihat Keenan, wanita itu berdiri dan langsung memeluknya erat.

“Kamu datang,” suaranya serak. “Dokter bilang ayahmu lebih stabil sejak tadi siang. Tapi mereka masih belum berani pastikan.”

Keenan membalas pelukan itu sebentar, lalu melepaskan dengan lembut. “Saya sudah bicara dengan dokter yang menangani. Kita tunggu hasil lab malam ini. Kalau kondisinya membaik, ayah bisa dipindah ke ruang perawatan biasa besok atau lusa.”

Ibunya mengangguk, lalu menarik Keenan duduk di kursi sebelahnya. Jari-jari wanita itu gemetar saat memegang tangan anaknya. “Keenan… ada yang perlu Ibu bicarakan. Sebelum ayahmu sadar sepenuhnya.”

Keenan sudah menduga nada itu. Nada yang sama dipakai setiap kali keluarga membicarakan masa depan rumah sakit atau utang peralatan yang belum lunas.

“Ibu,” katanya pelan, “kalau ini soal uang operasional lagi, saya bisa cari cara. Saya masih punya sisa dari praktik—”

“Bukan hanya soal uang.” Ibunya menarik napas dalam, seolah mengumpulkan nyali. “Sponsor utama rumah sakit… Nyonya Lestari… dia datang tadi pagi. Dia tahu kondisi ayahmu. Dia tahu kita hampir tidak mampu mempertahankan beberapa unit. Dan dia… menawarkan bantuan penuh. Pelunasan utang alat. Perpanjangan kontrak sponsor untuk tiga tahun. Bahkan bantuan untuk operasi ayahmu yang kemungkinan besar dibutuhkan.”

Keenan menatap ibunya. “Dengan syarat?”

Ibunya menunduk. “Dengan syarat kamu menikahi anaknya. Gadis itu… Livia. Umurnya cocok. Pendidikannya bagus. Dia sudah lama mengagumimu, kata Nyonya Lestari. Dan keluarga mereka tidak meminta mahar. Mereka hanya ingin ikatan resmi.”

Keheningan yang mengisi ruang tunggu terasa lebih dingin dari AC di atas kepala mereka. Keenan melepaskan tangan ibunya dengan pelan. “Tidak.”

“Keenan—”

“Tidak,” ulangnya, lebih tegas. “Saya tidak akan menikah karena rumah sakit butuh uang. Atau karena ayah butuh biaya operasi. Saya akan cari cara lain. Saya bisa jual sebagian saham kecil yang saya punya. Saya bisa pinjam ke rekan. Saya bisa ambil shift tambahan di mana saja. Tapi bukan dengan cara itu.”

Ibunya menutup mulut dengan tangan, bahu mulai bergetar. “Kamu tidak mengerti. Ayahmu sudah terlalu lemah. Kalau sponsor ini cabut, rumah sakit bisa tutup dalam enam bulan. Semua pasien yang bergantung pada kita… perawat yang sudah bekerja bertahun-tahun… dan ayahmu. Operasinya tidak murah, Keenan. Kita tidak punya cadangan.”

“Saya akan temukan cadangan.”

“Dari mana?” Suara ibunya naik, campur putus asa. “Kamu sudah menghabiskan terlalu banyak waktu di luar. Kamu menghilang berhari-hari untuk urusan yang bahkan tidak mau kamu ceritakan. Sekarang, saat keluarga benar-benar butuh, kamu bilang tidak begitu saja?”

Keenan menatap kaca ICU di mana sosok ayahnya terbaring diam di antara selang dan monitor. “Saya menolak karena saya tidak mencintai Livia. Saya bahkan hampir tidak mengenalnya. Menikah hanya demi uang dan nama baik rumah sakit akan membuat saya membenci diri sendiri setiap hari. Dan akhirnya saya akan membenci rumah sakit itu juga.”

Ibunya mulai menangis. Bukan isak yang keras, melainkan air mata yang mengalir diam-diam, seolah sudah ditahan terlalu lama. “Kamu susah diatur sejak dulu. Ayah selalu bilang kamu terlalu keras kepala. Terlalu memilih-milih. Sekarang lihat. Ayah terbaring di dalam, rumah sakit hampir jatuh, dan kamu masih memikirkan perasaanmu sendiri.”

Keenan terdiam. Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang dia duga. Dia tidak membela diri. Hanya duduk di kursi plastik yang keras, membiarkan ibunya menangis di sampingnya.

Beberapa perawat lewat, menunduk sopan, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan. Ruang tunggu ICU bukan tempat yang asing dengan air mata, tapi kali ini air mata itu ditujukan padanya.

Setelah lama, ibunya berbicara lagi dengan suara pecah. “Nyonya Lestari memberi waktu sampai besok malam. Kalau kamu tetap menolak, mereka akan menarik semua dukungan. Termasuk yang sudah dijanjikan untuk operasi ayahmu.”

Keenan mengangguk pelan. “Saya tetap menolak. Saya akan bicara dengan Nyonya Lestari sendiri kalau perlu. Dan saya akan pastikan ayah tetap dapat operasi. Dengan cara lain.”

“Cara lain itu apa?” Ibunya menatapnya dengan mata merah. “Kamu pikir dunia ini berputar sesuai kemauanmu? Kamu pikir bisa menolak segalanya dan tetap selamat?”

Keenan tidak menjawab. Dia hanya memegang tangan ibunya lagi, lebih erat. “Ibu istirahat. Saya jaga di sini malam ini. Besok saya urus semuanya.”

Ibunya menarik tangannya, berdiri, dan berjalan menuju kursi di sudut yang lebih gelap. Di sana dia duduk membungkuk, bahu bergetar lagi. Kali ini tanpa suara.

Keenan tetap di kursinya, menatap kaca ICU. Bayangan ayahnya tidak bergerak. Monitor terus berbunyi stabil, seolah mengejek semua kekacauan di luar.

Dia mengeluarkan ponsel. Ada pesan dari Reza. "Aira aman. Tidak ada kontak baru. Saya kembali ke lokasi malam ini."

Dan pesan dari Raka. "Saya tolak tawaran luar negeri. Tim marah. Tapi saya tidak pergi."

Keenan menatap layar lama. Kemudian mengetik pesan singkat ke nomor Aira. "Ayah saya masih kritis. Ibu menawarkan perjodohan demi biaya rumah sakit dan operasi. Saya menolak. Kalau kamu butuh sesuatu, telepon. Jangan sendirian terlalu lama."

Pesan terkirim. Dia tidak menunggu balasan. Hanya memasukkan ponsel, lalu berdiri dan berjalan mendekati kaca ICU.

Di balik refleksi lampu neon, wajahnya sendiri terlihat lelah dan asing. Dokter yang biasa memegang pisau bedah dengan stabil sekarang tidak tahu harus memegang apa untuk menahan hidup ayahnya selain menolak tawaran yang dibungkus air mata ibu.

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!