"masukkan kartu penyegelnya sekarang, atau kita akan mati di tempat ini!,
saat satu persatu siswa lenyap misterius dan hanya memisahkan debu hitam, itsuki ikawasi dan teman temannya terjebak oleh siluman pemangsa manusia, situasi menjadi gila ketika sahabat mereka berbalik menyerang di bawah sihir hitam!
dipojokkan oleh amukan api dari raja siluman pemangsa manusia dan penyanderaan di atas kawah lava gunung valerius, itsuki terpaksa meledakkan rahasia terbesarnya: kebangkitan murni kekuatan 7 elemen.
berhasilkah mereka menyegel monster legendaris tersebut, ataukah ini awal dari perang dimensi yang jauh lebih besar? .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NABILA_08.p, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Misteri Air Hitam Dan Ritual Bukit Terlarang
Jema jeritan histeris itu lenyap di telan angin malan yang mendadak berembus kencang, meninggalkan keheningan di luar rumah Kaguya. Itsuki adalah orang pertama yang melesat keluar, di susul dengan Roy tangannya melekat kuat pada gagang pistol barunya.
Kaguya dan Hinata menyusul di belakang dengan kewaspadaan penuh. Namun, begitu sepasang mata mereka menyapu sekeliling jalanan, tidak ada apa-apa yang terjadi.
Lorong-lorong kota tampak tenang di bawah lampu jalan yang berkedip lambat. Tidak ada kekuatan Supranatural, tidak ada tanda-tanda kekerasan, dan tidak ada jejak dari teriakan orang minta tolong tadi. Hanya ada kesunyian janggal yang menusuk kulit, seolah-olah kota ini sedang menahan napasnya sebelum badai besar datang menghantam.
Ketidak pastian itu terjawab dengan cara yang paling mengerikan keesokan paginya. Ketika matahari baru saja terbit, sebuah bencana visual menyambut kota. Air dari segala penjuru kota dari air perumahan, kolam air mancur hingga sungai utama, seketika berubah warna menjadi keruh pekat dan dan mengeluarkan aroma kimia yang asing.
Kota tersebut secara mendadak telah terkena limbah misterius yang bersekala masif yang entah dari mana datangnya. Dampak dari kontaminasi ini lebih buruk dari pada pencemaran lingkungan.
Sikap orang-orang di sana berubah drastis dalam hitungan jam, penduduk yang biasanya saling menyapa dengan ramah kini berubah menjadi kaku, tatapan penuh dengan rasa curiga dan enggan menyapa orang lain.
Itsuki, Roy, Kaguya, dan Hinata yang menyadari kejanggalan ekstrem ini tentu saja tidak tinggal diam. Insting mereka yang telah menetralisir kekuatan ancaman supranatural segera terpicu. Mereka akhirnya menyelidiki kejadian ini selama berhari-hari tanpa kenal lelah.
Mereka memeriksa gorong-gorong kota, menyelusuri tangki air utama, hingga mengambil Sampel air tersebut untuk di uji secara mandiri. Namun, setelah berhari-hari mengorbankan waktu dan tenaga, mereka tetap tidak menemukan bukti yang jelas.
Cairan itu tidak memiliki struktur kimia biasa;zat tersebut seperti memiliki daya magis tersendiri yang mengelak dari logika sains, menyembunyikan dalang di balik semua ini dengan sangat rapi.
Rasa prestasi dan kelelahan mulai menggerogoti mereka, ketika sore itu mereka memutuskan untuk berjalan pulang kerumah. Namun, apa yang mereka temui di jalan menuju tempat mereka tinggal benar-benar menghancurkan akal sehat. Pada saat mereka pulang, terdapat seluruh orang malah bersikap sangat aneh, seluruh warga berjalan mondar-mandir di trotoar dengan gerakan yang tidak sinkron.
Pandangannya kosong, seperti kehilangan seluruh binar kehidupan di pupil matanya, kejadian mengerikan itu terjadi saat mereka meminum air yang terkontaminasi yang mengalir ke rumah-rumah mereka. Mereka semua telah menjadi cangkang kosong yang di kendalikan oleh tak saat mata.
Melihat situasi kota yang kian tidak terkendali, kepanikan mulai merayap di dalam dada mereka. Hinata yang sejak siang mengeluhkan rasa haus yang membakar tenggorokannya akibat kelelahan menyelidiki saluran air., tanpa sengaja meneguk sebuah air di botol yang ia temukan di meja posko darurat pinggir jalan.
Itsuki terlambat menyadarinya, dan pada saat itulah, petaka yang paling di takuti terjadi. Hinata pun mendadak berubah akibat meminum air tersebut, tubuh gadis itu memegang sesaat, sebelum akhirnya seluruh ototnya melemas dengan cara yang janggal.
Epresi wajahnya yang semula di penuhi ke khawatiran mendadak berubah menjadi rata, dan sepasang matanya seketika berubah menjadi kosong, persis seperti warga sipil lain nya di kota itu.
Dalam kondisi tergeletak dan bingung, Itsuki, Roy, dan Kaguya terpaksa menahan diri agar tidak memicu keributan massal di tempat umum, mereka menuntun Hinata dan pulang seperti biasa ke rumah, berpura-pura tidak terjadi hal buruk yang terjadi pada teman mereka.
Namun, kedamaian palsu di dalam rumah tidak bertahan lama, ketika malam mulai menjemput, suara kegaduhan yang mulai keras terdengar dari arah jalanan utama. Saat mereka mengintip dari balik jendela, pemandangan di luar benar-benar seperti neraka dunia.
Seluruh warga kota malah berkumpul di suatu area terbuka. Tanpa ada dialog atau alasan yang jelas, mereka mulai saling mukul memukul,mencakar dan saling menyerang satu sama lain dengan sangat kejam hingga malam hari. Geritan kesakitan dan benturan fisik menggema di seluruh kegelapan, menciptakan SIMPONI kekacauan yang tak masuk akal.
Kaguya, Itsuki, dan Roy yang menyadarinya segera menyusun rencana darurat. Mereka tidak bisa gegabah di tengah amukan massa yang kehilangan kesadaran. Mereka memilih bertindak diam-diam menyelidiki sikap temannya.
Hinata yang berubah drastis sejak sore hari, beserta gerakan para warga yang sepertinya di gerakan oleh satu kesadaran kolektif yang sama. Tepat di tengah malam, Hinata yang tadinya duduk diam di sudut kamar tiba-tiba bangkit dan berjalan keluar rumah dengan langkah yang sangat teratur, seolah-olah ia sedang menuruti sebuah panggilan gaib yang berbisik di kepalanya.
Ketiga remaja itu segera membuntuti Hinata dari belakang, bergerak layaknya bayangan di antara puing-puing kota yang kacau. Pengejaran itu membawa mereka mendaki ke arena yang lebih tinggi.
Hingga akhirnya saat mereka berkumpul di atap gedung bersama Itsuki hingga mendapatkan sudut pandang yang lebih jelas dan luas, sebuah pemandangan mengerikan terjadi di bawah sana.
Mereka melihat seluruh warga berbaris sangat rapi, membentuk satu jalur panjang yang sangat tertib di bawah cahaya bulan purnama. Termasuk hinata, mereka berjalan bersama dengan ritme langkah yang sama egoisnya.
Barisan manusia tanpa jiwa itu bergerak perlahan, berjalan meninggalkan perbatasan kota menuju sebuah bukit yang terkenal sangat angker di kalangan masyarakat setempat, dan juga sebuah tempat yang sejak dari dulu di hindari karena reputasi mistisnya yang mematikan.
Itsuki, Kaguya, dan Roy karena rasa penasaran dan di dorong dengan rasa tanggung jawab untuk menyelamatkan Hinata, akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti rombongan mistis tersebut untuk masuk kedalam hutan bukit, sadar bahwa mereka akan menghadapi puncak insiden dari supranatural ini.
Masing masing dari mereka mulai mempersiapkan kekuatan terbaik mereka dimana Roy mempersiapkan pistol berjimatnya, memastikan pasokan energi penyembuh pada mode sekunder ya telah terisi penuh, Kaguya siap mengobarkan api dalam jumlah besar dari kedua telapak tangannya untuk membakar kegelapan yang menekan waras mereka, dan Itsuki bersiap dengan elemen magma core Sovereign nya, membiarkan energi bumi yang menyala mengalir di sepanjang pembuluh darahnya.
Mereka terus mendaki menembus kabut tebal hingga akhirnya mereka menuju ke puncak bukit itu. Di sana di bawah langit malam yang pekat, mereka melihat pemandangan yang mengerikan yang mengguncang isi perut.
Di tengah tengah puncak bukit yang gundul, terdapat sumur yang sangat dalam menganga lebar layaknya mulut monster bawah tanah. Dimana seluruh warga sipil itu berbaris dan bergiliran meloncat masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut dengan tanpa ekspresi takut sedikitpun.
Dan di sana, udara di puncak bukit itu tercium bau bangkai yang sangat menyengat hidung, sebuah aroma pembusukan masif yang mengindikasikan bahwa sumur itu telah menjadi kuburan massal bagi mereka yang melompat terlebih dahulu.
Melihat pemandangan gila itu, Itsuki dan teman-temannya tidak bisa lagi tinggal diam, mereka sudah berusaha menyadarkan mereka dengan berteriak dan melepaskan riak energi buatan. Namun, teriakan mereka tidak dapat menembus kesadaran para warga yang telah terkunci rapat oleh kutukan air limbah.
Hingga akhirnya pandangan Itsuki menangkap sosok Hinata yang melangkah maju, kini telah berada tepat di tepi bibir sumur itu, bersiap untuk menjatuhkan dirinya ke dalam sumur yang berbau busuk.
Dan di saat Itsuki melihat hal krusial tersebut, jantungnya berasa berhenti berdetak. Ia melesat maju dengan kecepatan penuh yang di perkuat oleh hentakan elemen magma core Sovereign miliknya karena Hinata mau melompat ke dalam sumur itu. Dengan seluruh tenaga dan keputusan yang membakar dadanya, ia berteriak dengan suara menggelegar.
"Hinata sadarlah, kau mau mati apa?!".....
Teriakan Itsuki yang memecah keheningan, ternyata bukit memicu reaksi tak terduga dari sihir yang mengendalikan tempat itu, seketika seluruh warga sipil menghentikan langkah mereka ke arah sumur menoleh dengan serentak dengan gerakan leher yang patah-patah, lalu berbalik menyerang Itsuki, Kaguya, dan Roy dengan tatapan kosong yang di penuhi aura membunuh.
Pasukan orang yang kehilangan akal sehat itu merangsek maju bagaikan gelombang pasang,mencoba mencabik-cabik ketiga remaja Tersebut.
dimana waktu semakin mendesak dan hanya waktu hitungan detik bagi mereka untuk bertahan hidup agar tidak menyakiti warga yang tak bersalah, Roy mencoba melepaskan tembakan energi jimat untuk menahan laju warga, sedangkan Kaguya menciptakan api barikade guna memisahkan massa dari itsuki.
Namun, jumlah warga terlalu banyak dan agresif, tepat Itsuki tinggal selangkah lagi menjangkau tubuh temannya di tepi sumur, tiba-tiba Hinata di dorong oleh orang yang tidak terkendali di belakangnya yang ikut merangsek maju secara membabi buta.
Dorongan keras itu membuat Hinata kehilangan keseimbangan di tanah yang licin, tubuhnya terhuyung kebelakang melewati batas aman sumur, dan secara tragis tubuhnya meluncur jatuh ke bawah....
Bur!.....
(Bersambung).