NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG SANGKAR RUNTUH

Dentingan lencana komando tertinggi yang jatuh dan memantul di atas lantai marmer hitam terdengar begitu nyaring, memecah keheningan yang sempat mencekam seluruh koridor lantai atas kediaman Dharmawangsa. Suara logam itu beradu dengan deru badai petir yang menggelegar di luar jendela, seolah menandakan detik-detik runtuhnya sebuah dinasti kekuasaan yang selama bertahun-tahun dibangun oleh tangan besi seorang Letnan Jenderal Gibran Mahendra.

Ketua Dewan Pengawas Pertahanan menatap lencana yang tergeletak di lantai dengan napas tertahan. Para prajurit Polisi Militer yang mengacungkan senjatanya tampak ragu-ragu untuk menarik pelatuk. Tindakan Gibran melucuti atribut dan jabatannya sendiri di tempat secara terbuka adalah sebuah langkah radikal yang sama sekali tidak ada di dalam perkiraan protokol militer mana pun.

Gibran tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan di wajahnya. Kedua tangan kekarnya tetap mendekap erat tubuh Ziva yang masih bergetar hebat di dalam pelukannya. Pria itu menunduk sejenak, membenamkan wajahnya di dekat puncak kepala gadis itu, menghirup aroma vanila yang selama ini menjadi satu-satunya ketenangan di tengah dunianya yang keras.

"Gibran..." bisik Ziva sangat parau, air matanya tumpah semakin deras membasahi kemeja hitam yang dikenakan pria itu. "Kamu... apa yang baru saja kamu lakukan? Kamu membuang segalanya..."

Gibran tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeratkan dekapannya, seolah ingin menyatukan tubuh Ziva ke dalam tulangnya sendiri agar tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa merenggut gadis itu darinya lagi.

Di ujung koridor, Aris Mahendra mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih sepucat kapas. Amarah, rasa benci, dan ketidakpercayaan bergolak hebat di dalam dada pemuda itu. Ia melangkah maju, nyaris menembus barisan pengawal, namun ditahan oleh Bramantyo Adriana yang memegang erat lengan calon menantunya tersebut dengan wajah tegang.

"Sudah cukup, Aris," bisik Bramantyo dengan suara bergetar, matanya menatap tajam ke arah Gibran dan putrinya. "Jangan memperkeruh keadaan. Biarkan hukum dan dewan militer yang menyelesaikan ini."

Komandan Polisi Militer akhirnya melangkah maju, memberi hormat kaku kepada Gibran meskipun pangkat sang Jenderal secara resmi telah dilepas detik itu juga.

"Letnan Jenderal... ralat, saudara Gibran Mahendra," ucap komandan pengawal dengan nada kaku. "Anda telah menyerahkan wewenang dan melanggar kode etik militer tingkat berat. Berdasarkan surat perintah resmi, Anda harus ikut bersama kami ke Markas Pusat Polisi Militer untuk menjalani investigasi terbuka."

Gibran perlahan mengangkat wajahnya. Manik mata hitamnya menatap tajam komandan tersebut dengan wibawa yang tidak luntur sedikit pun, meski ia kini berdiri tanpa seragam kebesarannya.

"Saya akan pergi bersama kalian," jawab Gibran dengan suara rendah yang mutlak. "Tapi pastikan tidak ada satu pun dari kalian yang menyentuh Ziva. Jika ada rambutnya yang terluka sekecil apa pun, kalian tahu persis apa yang bisa saya lakukan bahkan dari balik jeruji besi."

Ancaman dingin itu membuat para prajurit merinding seketika. Gibran melepas pelukannya secara perlahan dari tubuh Ziva, menatap manik mata gadis itu lekat-lekat seolah ingin merekam setiap detail wajah yang paling ia cintai di dunia ini. Jemari hangat Gibran mengusap lembut pipi Ziva yang basah oleh air mata.

"Tunggu saya, Ziva," bisik Gibran tepat di daun telinga gadis itu dengan suara serak yang mematikan. "Saya akan kembali."

Sebelum Ziva sempat meraih tangan atau meneriakkan namanya, dua orang petugas Polisi Militer maju mengapit sisi kanan dan kiri Gibran, membimbing pria itu meninggalkan koridor lantai atas menuruni tangga utama di bawah sorot mata semua orang yang hadir.

Suasana di kediaman keluarga Adriana di kawasan Menteng terasa jauh lebih sunyi daripada malam badai yang baru saja berlalu. Dua hari telah lewat sejak malam kejatuhan Gibran Mahendra di Dharmawangsa. Berita mengenai penonaktifan mendadak sang Jenderal dan investigasi militer tertutup atas dugaan penyalahgunaan wewenang dan penyekapan mendominasi tajuk utama media nasional serta lingkaran internal pertahanan negara.

Di dalam kamar tidurnya yang luas dan bernuansa putih bersih, Ziva duduk termenung di dekat jendela kamar. Ia mengenakan piyama tidur tidur berwarna biru muda, menatap kosong ke arah kebun belakang rumah orang tuanya yang basah oleh sisa hujan pagi.

Fisik nya memang telah kembali ke rumah keluarganya. Tidak ada lagi jeruji besi, tidak ada lagi sistem pengunci elektronik, dan tidak ada lagi pengawal bersenjata yang mengawasi setiap langkahnya. Ayahnya, Bramantyo, telah mengerahkan seluruh jaringan diplomatik dan hukum untuk memastikan keamanan dan pemulihan psikologis Ziva. Aris pun sering datang berkunjung membawa bunga dan berbagai macam hadiah untuk menghiburnya, mencoba mengembalikan senyum di wajah gadis itu seperti sedia kala sebelum mimpi buruk di Dharmawangsa terjadi.

Namun, di balik kebebasan fisik yang kini ia miliki, jiwa Ziva terasa kosong. Hampa.

Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Gibran yang menatapnya dengan manik mata hitam penuh kepedihan saat diseret oleh Polisi Militer terus berputar tanpa henti di kepalanya. Kalimat terakhir pria itu—“Tunggu saya, Ziva. Saya akan kembali”terus menggema di dalam rongga dadanya, menjelma menjadi teror sekaligus candu yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja.

Tok, tok.

Pintu kamar diketuk pelan, lalu terbuka. Bramantyo Adriana melangkah masuk membawa secangkir teh hangat di atas piring kecil. Wajah diplomat senior itu tampak sedikit lebih tua dari terakhir kali Ziva melihatnya, garis-garis kelelahan tercetak jelas di sudut matanya.

Bramantyo meletakkan cangkir teh tersebut di atas meja nakas di samping tempat tidur, lalu duduk di tepi ranjang, menatap putrinya dengan pandangan penuh kasih sayang bercampur rasa bersalah.

"Ziva," panggil Bramantyo lembut. "Kamu belum menyentuh sarapanmu sejak tadi pagi. Apa ada sesuatu yang masih mengganggu pikiranmu, Nak? Aris tadi bilang dia ingin mengajakmu keluar sebentar untuk menghirup udara segar di mal kawasan Senayan. Kamu mau?"

Ziva perlahan menoleh menatap ayahnya. Bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dipaksakan. "Aku tidak apa-apa, Ayah. Hanya... masih merasa lelah. Aku belum ingin pergi ke mana-mana."

Bramantyo menghela napas panjang, meraih tangan mungil putrinya dan menggenggamnya erat. "Ayah mengerti, Ziva. Apa yang kamu alami di rumah Gibran adalah sebuah trauma yang berat. Tapi sekarang semuanya sudah berakhir. Gibran sedang menghadapi hukuman berat di pengadilan militer, dan dia tidak akan pernah bisa mengusik hidupmu lagi. Kamu sudah bebas."

Mendengar kata bebas yang diucapkan oleh ayahnya, dada Ziva justru terasa semakin sesak. Bebas. Ya, ia bebas dari sangkar emas Dharmawangsa. Tapi mengapa kebebasan ini terasa begitu menyiksa? Mengapa bayang-bayang sang Jenderal justru semakin lekat menempel di dalam ingatannya, menggantikan semua memori indah bersama Aris yang dulu ia dambakan?

"Ayah..." suara Ziva bergetar pelan. "Apa yang akan terjadi pada Gibran sekarang?"

Bramantyo terdiam sejenak. Sorot mata ayahnya mengeras mendengar nama pria itu disebut kembali di dalam rumah ini. "Gibran akan mendapatkan ganjarannya, Ziva. Tuduhan insubordinasi, penyalahgunaan wewenang militer, dan penyekapan warga sipil adalah pelanggaran tingkat tinggi. Dia akan mendekam di penjara militer untuk waktu yang sangat lama, dan kariernya tamat selamanya."

Ziva menundukkan kepalanya, air mata hangat tiba-tiba menetes begitu saja membasahi punggung tangan ayahnya. Ada rasa nyeri yang teramat sangat menusuk dadanya mendengar vonis mutlak tersebut. Pria itu telah membuang seluruh hidup, pangkat, dan masa depannya hanya dalam satu detik demi melindungi dirinya dari todongan senjata malam itu sebuah bentuk pengorbanan yang begitu gelap, salah, namun nyata adanya.

Malam hari kembali merayap turun menutupi langit ibu kota. Di dalam kamarnya yang sunyi, Ziva berdiri di dekat jendela kaca yang memantulkan bayangan dirinya sendiri di bawah temaram lampu tidur. Rumah keluarga Adriana sangat tenang; kedua orang tuanya sudah beristirahat di lantai bawah, sementara Aris telah pamit pulang sejak pukul sembilan malam tadi.

Ziva membuka sedikit jendela kamarnya, membiarkan angin malam berembus menyentuh kulit wajahnya. Ia memeluk kedua bahunya sendiri, merasa kedinginan meskipun cuaca di luar tidak sedang hujan.

Tiba-tiba, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.

Di luar gerbang depan rumah keluarganya, di balik rindangnya pohon ketapang besar yang berada di seberang jalan aspal yang sepi, sebuah mobil sedan hitam berjenis SUV tampak terparkir tanpa menyalakan lampu utama. Mobil itu tampak sangat familier bentuk bodi, plat nomor, hingga cara parkirnya mengingatkan Ziva pada kendaraan yang biasa digunakan oleh pengawal kediaman Dharmawangsa, atau bahkan... kendaraan pribadi Gibran.

Jantung Ziva berdegup kencang seketika. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Apakah itu hanya halusinasi akibat rasa bersalah dan kerinduannya yang terselubung? Ataukah seseorang benar-benar sedang mengawasinya dari kegelapan malam?

Ziva menempelkan kedua telapak tangannya pada kaca jendela, mencoba mempertajam pandangannya menembus kegelapan malam di seberang jalan. Di dalam remang-remang lampu jalanan kota Menteng yang kekuningan, sesosok figur pria bertubuh tegap berdiri di samping mobil hitam tersebut, mengenakan mantel panjang berwarna gelap dengan kerah yang dinaikkan menutupi sebagian wajahnya.

Pria itu tidak bergerak. Ia berdiri tegak, menatap lurus ke arah jendela kamar Ziva di lantai dua dengan sorot mata yang meskipun tidak terlihat jelas dari kejauhan, Ziva bisa merasakan betapa tajam dan mematikan tatapan itu.

Gibran...? batin Ziva berteriak tertahan, kedua kakinya terasa lemas seketika.

Bagaimana mungkin? Bukankah Gibran sedang ditahan di penjara militer? Bukankah kariernya telah tamat dan ia berada di bawah pengawasan ketat Polisi Militer?

Sebelum Ziva sempat berpikir lebih jauh atau meneriakkan nama pria itu, sosok di seberang jalan tersebut perlahan membalikkan badan, membuka pintu mobil, dan masuk ke dalam kendaraan. Dalam hitungan detik, mobil hitam itu meluncur pergi meninggalkan area perumahan tanpa menyalakan suara bising, seolah kehadirannya tadi malam hanyalah sebuah bayangan semu yang sengaja ditinggalkan untuk menguji kewarasan Ziva.

Ziva merosot jatuh bersimpuh di lantai kamar, menutup mulutnya dengan kedua tangan sementara isak tangis tertahan pecah di dalam rongga dadanya. Sangkar emas itu mungkin telah runtuh, dan pintunya kini terbuka lebar. Namun bayangan sang Jenderal tidak akan pernah benar-benar pergi meninggalkan hidupnya.

1
syora
alhamdulillah sunat datang Ariana smoga mnjdi ank yg soleh
intinya yadoa yg terbaik buat baby dan kluarga kecil girang dan ziva😍😍
syora
up lg dong thor
syora
ya allah semoga dilancarkan segala urusannya
agar kluarga kecil mereka bhgia
+1
lagi🌚
+1
akhir dari segala baku tembak
syora
semoga samawa till jannah ya gibran ziva
ya allah jd nggaksbr nunggu debay lahir
syora
alhamdulillah apapu awal hubungan klian
semoga kluarga kecil klian slalu bhgia,sehat
dan andai cobaan lg smoga klian bisa melaluinya bersama
dan sehat sllu si debay
+1
al kira ada +21
syora
alhamdulillah 🙏
ya allah semoga kedepannya kbhagiaan slalu menyertai. amiin
syora
semoga bisa langgeng
+1
lagi☻️
+1
roar☻️
+1
lagiiii☻️
+1
lagiiiiii🌚
+1
al baca sambil nahan nafas☻️
+1
dia hanya orang gagal yang haus kasih sayang☻️
+1
lagi🌚
+1
lagiiii🦖
+1
menanti +21🌚🌚🌚
+1
deg2an al 🦖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!