NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: tamat
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34 - epilog

Matahari pagi yang tertutup awan mendung membiaskan cahaya temaram di pekarangan belakang rumah kolonial. Udara terasa dingin dan lembap, bercampur bau tanah basah serta aroma menyengat dari akar-akar pohon beringin tua yang berusia lebih dari satu abad.

Cindy melangkah perlahan menuju pangkal pohon raksasa itu, menuntun jemari mungil Helena yang menggenggam erat tangannya. Di tangan kirinya, Cindy memegang sebuah pisau lipat kecil bersarung kulit alat sederhana yang ia ambil dari laci dapur untuk memotong jarinya sendiri nanti.

Piko berjalan beriringan di sisi kiri mereka. Langkah kaki gaib Harimau Putih Raksasa itu tidak menimbulkan suara sama sekali, namun pendaran aura peraknya membuat tanah di sekitar pohon beringin tampak terang secara magis.

"Di sebelah mana, Piko?" tanya Cindy, suaranya pelan namun mantap. Langkah kakinya terhenti tepat di depan jalinan akar gantung yang menancap kokoh ke dalam tanah hitam.

Piko memajukan kepalanya, menunduk hingga hidung peraknya menyentuh sela-sela dua akar besar yang melengkung membentuk ceruk alami.

*“Di sini, Nyonya,”* sahut suara gaib Piko di dalam benak Cindy. *“Di bawah tumpukan daun jati kering dan tanah hitam ini. Mbah Broto menanamnya setinggi dua jengkal dari permukaan.”*

Cindy berlutut di tanah yang dingin tanpa ragu. Ia menepis daun-daun kering dan mulai meraba tanah hitam yang gembur dengan jemarinya. Helena ikut bersimpuh di samping ibunya, mengamati setiap gerakan Cindy dengan mata biru malamnya yang memancarkan pendaran keemasan redup.

"Helena takut gak, sayang?" bisik Cindy, melirik sebentar ke arah putrinya.

Helena menggeleng cepat. jemari kecilnya justru ikut membantu Cindy menyisihkan tanah-tanah basah. "Nggak, Bunda. Helena bisa rasakan... di dalam sini ada hangat-hangatnya, seperti pelukan Papa kalau lagi nina-bobokan Helena."

Cindy tersenyum tipis, matanya mengembun oleh haru. "Itu karena ada doa Kakek Buyutmu di dalam sini."

Setelah menggali tanah sedalam beberapa puluh sentimeter menggunakan jemari mereka sendiri, jemari Cindy mendadak menyentuh sebuah benda keras bertekstur kasar yang terbungkus kain mori putih yang sudah melapuk dimakan zaman.

"Dapat..." napas Cindy tercekat.

Dengan sangat hati-hati, Cindy mengangkat bungkusan kain mori tua itu dari dalam tanah. Begitu terangkat ke permukaan, kain mori yang melapuk itu meluruh menjadi debu, menyingkapkan sebuah benda di dalamnya: **sebuah keris kecil bersarung kayu cendana tua** dengan ukiran kepala naga Jawa yang sangat halus. Meski puluhan tahun terkubur di dalam tanah, kayu cendana itu masih mengeluarkan wewangian harum alami yang samar-samar.

*“Tarik bilahnya sedikit, Nyonya,”* instruksi Piko, bersiap di samping mereka. *“Goreskan sedikit darahmu pada besi keris itu, lalu minta Helena menggenggam hulu kerisnya bersamamu.”*

Cindy menarik sarung kayu cendana tersebut. *Srek...* Bilah keris luk tiga yang tampak kelam dengan pamor meteorit keperakan menyeruak keluar. Tanpa ragu sedikit pun, Cindy membuka sarung pisau lipat dapur yang ia bawa.

"Bunda mau diapain jarinya?" tanya Helena kaget saat melihat Cindy mengarahkan pisau kecil itu ke ibu jari kirinya.

"Cuma digores sedikit, sayang. Buat bangunkan penjaga Kakek," jawab Cindy lembut. Dengan menahan napas, Cindy menggoreskan ujung pisau ke ibu jarinya hingga setetes darah merah segar menetas, menetes tepat di atas pamor keris tua tersebut.

*WUSSSSSHHH!*

Seketika itu juga, begitu darah segar Cindy menyentuh besi keris, getaran kuat berdesir dari dalam bilah pusaka itu. Bau wangi kayu cendana mendadak menguat sepuluh kali lipat, mengalahkan bau belerang dan tanah basah.

"Helena, pegang gagang keris ini bareng Bunda," ucap Cindy, suaranya gemetar menahan getaran energi gaib yang mulai menjalar ke lengannya.

Helena menuruti perintah ibunya tanpa ragu. Jemari mungilnya menempel di atas jemari Cindy yang menggenggam hulu keris kayu cendana tersebut.

Begitu sentuhan kulit Helena menyatu dengan genggaman Cindy, pendaran cahaya biru keemasan yang teramat terang meledak keluar dari tubuh kecil Helena. Cahaya itu menyatu dengan tetesan darah merah Cindy di atas bilah keris, menciptakan berkas sinar perak-keemasan yang langsung menembus ke dalam tanah pekarangan rumah kolonial.

*BUMMMMMMMMM!*

Seluruh tanah di pekarangan belakang rumah berguncang hebat laksana diguncang gempa lokal. Akar-akar pohon beringin tua bergetar, dan dari dalam rongga tanah yang mereka gali, keluar sebuah suara bisikan gaib yang berat, dalam, dan penuh keagungan, suara leluhur Mbah Broto yang bersatu dengan roh penjaga tanah Jawa.

*“Siklus telah genap... Darah suci keturunanku telah memanggil. Segel Pangilon diputus dari bumi Jawa!”*

*PRANGGGGGGGG!*

Di udara hampa di atas pekarangan rumah, terdengar suara laksana kaca raksasa yang retak dan hancur berkeping-keping. Itu adalah suara putusnya rantai pasokan energi gaib yang menghubungkan tanah manusia dengan inti kekuatan Sang Penguasa Pangilon.

Jauh di dalam rahim kegelapan Dimensi Pangilon...

Sang Penguasa Pangilon bertubuh raksasa yang sedang mendesak Damian dengan pedang laharnya mendadak melolong pilu. *“UAGHHH! APA INI?! IKLIM BUMI... ENERGI TANAH JAWA DIPUTUS?!”*

Tubuh raksasa sang penguasa mendadak menyusut drastis, lahar di zirahnya membeku seketika karena pasokan kekuatan gaibnya dari dunia manusia terputus total akibat bangkitnya pusaka Mbah Broto.

Damian yang tubuhnya sudah dipenuhi luka bakar dan darah hitam, berdiri dengan sepasang mata biru murni yang berkilat tajam. Ia merasakan getaran darah Cindy dan aura suci Helena yang memutus pertahanan musuhnya dari jauh.

Seringai iblis yang teramat dingin kembali terukir di wajah aristokrat Damian.

"Istri dan putri saya telah memutus napasmu, mahluk busuk," desis Damian, suaranya menggelegar membelah keheningan dimensi yang runtuh.

Dengan satu kepakan sayap hitam Murni miliknya, Damian melesat maju dengan kecepatan cahaya, mengayunkan pedang bara apinya tepat ke arah leher Sang Penguasa Pangilon yang kini telah melemah.

*CRASSSSHHHHHH!*

Bilah pedang bara api Damian membelah leher Sang Penguasa Pangilon dalam satu tebasan horizontal yang mutlak. Seketika itu juga, raungan melengking yang memekakkan telinga bergema, menggetarkan seisi rahim dimensi yang mulai runtuh berkeping-keping.

*“TIDAKKKK! IBLIS KEPARATTT!”*

Darah hitam pekat berbau belerang menyembur deras dari leher raksasa itu sebelum akhirnya raga besarnya melebur menjadi tumpukan abu vulkanik yang melayang hampa. Dimensi Pangilon yang selama ribuan tahun menjadi neraka terlarang kini hancur, terhisap masuk ke dalam pusaran ruang kosong yang melenyapkannya untuk selama-lamanya.

Sementara itu, di pekarangan belakang rumah kolonial tua di Yogyakarta...

*Wussshhhh!*

Seketika setelah pecahan kaca gaib gaib itu pecah di udara, angin kencang berbau belerang mendadak melenyap, digantikan oleh embusan angin sore yang hangat dan beraroma harum kayu cendana yang menenangkan. Tanah pekarangan yang sempat berguncang kembali tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Cindy terduduk lemas di atas tanah basah, napasnya tersengal-sengal. Tangan kirinya yang tergores masih memegang keris kecil milik Kakeknya, sementara tangan kanannya merengkuh tubuh mungil Helena yang bersandar di dadanya.

"Bunda... badainya sudah hilang," bisik Helena pelan, matanya menatap langit di atas pohon beringin yang kini berubah menjadi biru cerah berawan putih.

Cindy mendongak, matanya berkaca-kaca. "Piko... berhasil? Apa Damian..."

*ROARRR...*

Piko menggeram rendah dengan nada yang teramat lembut. Harimau putih itu melangkah mendekat, merendahkan kepalanya di samping Cindy.

*“Rantai Pangilon sudah hancur seutuhnya, Nyonya,”* suara gaib Piko mengalun hangat di benak Cindy. *“Sang Penguasa telah musnah. Tidak ada lagi yang menahan Tuan Agung Damian di alam sana.”*

Belum sempat Cindy mencerna ucapan sang khodam, sebuah pusaran angin es yang teramat familiar mendadak berputar di tengah pekarangan, tepat beberapa meter di depan mereka.

*WUSH!*

Kepulan asap hitam pekat menyeruak, dan dari baliknya, sesosok tubuh jangkung melangkah keluar dengan bersusah payah.

Damian.

Pria itu berdiri dengan raga yang compang-camping. Setelan jas aristokratnya robek di sana-sini, tanduk di kepalanya telah menyusut kembali, dan sayap hitam raksasanya terkulai lemas di punggungnya. Namun, di genggaman tangan kanannya, Damian memegang dua potong tanduk emas milik Sang Penguasa Pangilon yang telah patah piala kemenangan dari perang abadi yang baru saja ia selesaikan.

"Damian!" jerit Cindy.

Tanpa peduli pada daster bahagian bawahnya yang kotor oleh tanah, Cindy langsung bangkit berdiri dan berlari menghambur ke arah suaminya. Helena ikut berlari kecil di belakang ibunya.

*Bruk!*

Damian menyambut tubuh Cindy dengan sisa kekuatannya, merengkuh pinggang istrinya erat-erat hingga mereka berdua hampir terjatuh ke rumput. Pedang dan tanduk emas di tangannya dilenyapkan begitu saja ke dalam bayangan demi bisa memeluk wanita manusianya seutuhnya.

"Saya pulang, *mijn liefde*..." bisik Damian dengan suara yang teramat parau, dalam, dan bergetar hebat. Wajah porselennya yang pucat menempel di leher Cindy, menghirup dalam-dalam aroma wangi tubuh istrinya yang telah ia rindukan selama seminggu di neraka Pangilon.

Cindy menangis sejadi-jadinya, melingkarkan kedua lengannya di tengkuk Damian, mengabaikan darah hitam yang masih menempel di kulit dan pakaian suaminya. "Kamu jahat! Kamu bilang cuma sebentar... Kamu bohong lagi, Damian!"

Damian terkekeh rendah, sebuah tawa tanpa napas yang diiringi lelehan air mata gaib di pipinya. "Maafkan saya... Musuh kali ini cukup keras kepala. Namun, berkat bantuanmu dan putri kita... saya bisa menyelesaikan semuanya lebih cepat."

"Papa!"

Sebuah raga mungil menghambur memeluk kaki Damian. Helena mendongak dengan mata biru malamnya yang berbinar-binar gembira. "Papa! Helena dan Bunda tadi bangunkan penjaga Kakek Buyut! Helena bantu Papa, kan?"

Damian berlutut di atas satu kakinya, menurunkan Cindy pelan-pelan lalu merengkuh Helena ke dalam pelukan hangat-dinginnya. Ia mengecup dahi dan kedua pipi gembil putrinya bertubi-tubi.

"Ya, *mijn liefde* kecil," ujar Damian lembut, menatap putri cantiknya dengan rasa bangga yang luar biasa. "Kamu dan Bunda adalah pahlawan Papa. Tanpa kalian, Papa mungkin masih terjebak di sana."

Damian lalu menatap Cindy yang berdiri di samping mereka, mengusap air mata di pipi istrinya dengan ibu jari dinginnya.

"Tidak akan ada lagi persembahan, tidak akan ada lagi ancaman dimensi, dan tidak akan ada lagi yang bisa mengganggu keluarga kita," janji Damian tegas, menatap mata cokelat terang Cindy dengan pendaran cinta abadi yang tak tergoyahkan. "Perang kita sudah selesai, Cindy. Sepenuhnya selesai."

Cindy tersenyum di balik sisa tangisnya, memegang jemari dingin Damian yang mengusap pipinya. Ia mengangguk pelan, menyatukan keningnya dengan kening Damian di bawah naungan pohon beringin tua yang kini terasa begitu teduh dan damai.

"Selamat datang di rumah, suamiku..." bisik Cindy penuh kehangatan, mengunci takdir mereka dalam kedamaian sejati yang tak akan pernah terancam lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!