Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumus Fisika dan Secangkir Kopi
Kirana duduk dengan posisi tegap, jemarinya memegang pensil mekanik dengan stabil, mencatat rumus turunan kalkulus dengan sangat rapi dan terstruktur di buku tulisnya. Sementara di sebelahnya, Keenan Abimara duduk dengan gaya kasual yang kelewat santai. Satu kakinya bertumpu di atas lutut kaki yang lain, dan jemari kirinya sibuk memutar-mutar penggaris besi, menimbulkan bunyi ketukan berirama.
"Gue masih utang penjelasan, kan?" celetuk Keenan tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka. Dia meletakkan penggaris besinya lalu menopang dagu dengan satu tangan, menatap samping wajah Kirana yang masih fokus menulis.
Kirana tidak langsung menoleh. Dia menyelesaikan baris terakhir rumusnya, memberikan garis bawah ganda pada jawaban akhir, baru kemudian memutar tubuhnya menghadap Keenan. "Iya. Soal obrolan 'taruhan dua minggu' di kantin belakang itu."
Keenan menghela napas pendek, gurat penyesalan sempat melintas sekilas di wajah tampannya sebelum digantikan oleh senyum tulus. "Si Damar sama Raihan itu emang otaknya sering geser kalau habis makan kebanyakan micin, Kir. Kemarin itu, Raihan cuma asal nyeletuk karena dia taruhan seporsi sate padang kalau gue gak bakal kuat temenan sama cewek sepintar dan sependiam lo. Mereka pikir dunia kita beda jauh."
Keenan memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Kirana. "Tapi sumpah, gue langsung tolak hari itu juga. Gue bilang ke mereka kalau lo itu gak kaku, lo punya sisi riuh yang seru. sepertinya aja yang kebetulan dengar, cuma denger sepotong kata 'taruhan', lalu digoreng bareng buat bikin heboh mading."
Kirana mendengarkan dengan saksama. Ketenangan cara Keenan menjelaskan, tanpa ada nada emosi atau kebohongan, membuat sisa-sisa ragu di hatinya menguap sepenuhnya. Dia tersenyum tipis, sebuah senyuman lega yang membuat Keenan ikut mengembuskan napas lega.
"Oke, penjelasan diterima," ucap Kirana santai. "Lagian, hari ini anak-anak kelas gue sama Bu Endang udah ngasih benteng dukungan yang kuat banget. Jadi, gosip murahan itu gak mempan."
"Nah, gitu dong. Juara umum MIPA-2 emang gak boleh kalah sama trik mean girls," kekeh Keenan, cengiran bandelnya kembali seratus persen. Dia lalu menyodorkan sebuah cup kopi susu creamy yang sejak tadi dia beli dari kafe bawah tempat les. "Nih, minum dulu. Biar otak lo gak meledak ngerjain kalkulus."
Kirana menerima cup kopi itu, merasakan kehangatan yang menjalar di telapak tangannya. "Makasih. Btw, lo sendiri kenapa gak ngerjain tugas Matematika Murni lo? Malah ngelihatin gue dari tadi."
"Otak gue udah kelar ngerjain itu di kepala, Kir. Tinggal disalin aja nanti pas lima menit sebelum bel masuk besok pagi," jawab Keenan dengan nada sombong yang menyebalkan tapi sayangnya nyata karena dia memang genius.
Kirana terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepala. Sisi bebas Keenan ini selalu berhasil membuatnya kagum sekaligus terhibur. "Dasar rebel. Oh ya, emang di rumah lo gak dicariin kalau pulang les telat kayak gini? Nyokap lo gak nyariin?"
Mendengar pertanyaan tentang rumah, mata Keenan berbinar cerah. Dia menyandarkan punggungnya di kursi. "Rumah gue? Wah, rumah gue mah gak ada sejarahnya sepi atau kaku, Kir. Jam segini biasanya Ibu Karina lagi heboh masak di dapur sambil dengerin radio, terus Bokap—Ayah Abimara—pasti lagi main catur sama Kak Arkan di teras sambil taruhan siapa yang kalah harus anterin Keisha sekolah besok."
Keenan tertawa kecil mengingat rumahnya. "Bahkan kalau gue pulang telat karena nongkrong atau dihukum di sekolah, tanggapan Ibu cuma, 'Nan, pulangnya jangan malem-malem, ntar ayam gorengnya dihabisin Kak Arkan'. Santai banget."
Kirana terpaku mendengarkan cerita Keenan. Gelas kopi di tangannya mendadak terasa lebih berat. Cerita tentang rumah Keenan yang riuh, santai, penuh tawa, dan penuh kasih sayang yang kasual itu terdengar seperti sebuah dongeng negeri dongeng bagi Kirana. Sangat terbalik dengan rumahnya yang megah namun kaku, di mana setiap sudut diisi oleh ekspektasi tinggi Ayah Baskara dan tuntutan perfeksionis Ibu Saraswati. Di rumah Kirana, pulang telat lima menit tanpa alasan olimpiade berarti sidang meja makan selama satu jam.
Keenan yang memiliki insting tajam mendadak menangkap perubahan ekspresi di wajah Kirana. Tatapan mata gadis itu mendadak meredup, menatap kosong ke arah cup kopi.
"Kir? Lo... gak apa-apa?" tanya Keenan lembut, nada suaranya berubah penuh perhatian.
Kirana tersentak dari lamunannya, lalu buru-buru memasang senyum tipis untuk menutupi rasa sesak yang sempat mampir di dadanya. "Ah, gak apa-apa kok. Rumah lo... kedengarannya seru banget ya."
"Seru dan berisik banget lebih tepatnya," sahut Keenan, mencoba mencairkan suasana meskipun dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Kirana tentang rumahnya. Keenan memiringkan kepalanya, menatap Kirana lekat-lekat. "Kapan-kapan, lo harus main ke rumah gue, Kir. Biar lo tahu rasanya makan pancake buatan Ibu Karina yang manisnya ngalahin martabak semalam. Dan lo bisa kenalan sama Keisha, dia pasti seneng banget ketemu mentor belajar yang pinter kayak lo."
Kirana menatap Keenan, mendapati ketulusan yang melimpah di mata cowok itu. Ajakan bermain ke rumah Keenan terdengar sangat menyenangkan, sekaligus menakutkan karena dia tahu perizinan di rumahnya sangat rumit. Namun malam itu, di bawah pendar lampu tempat les, Kirana memilih untuk menyimpan ketakutan itu dulu.
"Boleh, kapan-kapan ya," jawab Kirana lembut.
"Oke, janji ya!" Keenan mengacungkan jari kelingkingnya dengan kerlingan jail.
Kirana tertawa kecil, menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Keenan untuk kesekian kalinya. Di ruang belajar mandiri yang sejuk itu, rumus Fisika dan Kalkulus yang rumit di atas meja seolah kehilangan tingkat kesulitannya. Keriuhan kecil yang dibangun Keenan di sela-sela obrolan mereka malam itu kembali berhasil menjadi penawar terbaik, menjaga senyuman Kirana tetap merekah sebelum dia harus kembali pulang menghadapi kesunyian di rumahnya.
Malam itu, aroma harum tumisan bumbu dapur memenuhi ruang makan kediaman keluarga Abimara. Ibu Karina sedang sibuk menata piring-piring di atas meja pantry, sementara Ayah Abimara dan Kak Arkan sedang asyik berdebat seru tentang strategi catur di sofa ruang tengah, ditemani Keisha yang sibuk mengunyah camilan.
Brak!
Pintu depan terbuka, menampilkan Keenan Abimara yang baru pulang dari tempat les dengan jaket denim yang disampirkan di satu bahu. Alih-alih langsung naik ke kamar, wajah cowok itu dipenuhi binar cerah yang tidak bisa disembunyikan. Dia melompat duduk di kursi bar pantry, tepat di hadapan ibunya.
"Bu! Ibu tahu gak?" cetus Keenan penuh semangat, membuka percakapan dengan nada riuh khas dirinya.
Ibu Karina menghentikan kegiatannya mengaduk sayur, lalu menatap anak tengahnya dengan senyum keibuan yang jenaka. "Tahu apa, Nan? Kamu habis dihukum Pak Bambang lagi hari ini?"
"Ih, Ibu mah pikirannya negatif terus sama anak gantengnya," gerutu Keenan sambil menyenggol lengan ibunya jail. "Ini soal partner olimpiade sains Keenan, namanya Kirana. Anak MIPA-2. Dia itu pintar banget, Bu, kemarin pas kuis Fisika aja nilai kita sama-sama sempurna. Dan... dia orangnya seru banget kalau diajak debat."
Mendengar nama perempuan disebut dengan binar mata yang begitu hidup dari putranya, Ibu Karina langsung meletakkan sodetnya. Wajahnya berseri-seri penuh minat. Kak Arkan yang mendengar dari ruang tengah bahkan langsung menoleh sambil tertawa. "Wah, Ibu! Keenan mulai sering sebut nama cewek nih. Kemarin pas pulang les juga senyum-senyum sendiri gara-gara urusan martabak!"
"Kak Arkan, diem deh!" tegor Keenan, wajah tampannya mendadak merona merah tipis karena digoda abangnya, memicu tawa renyah dari Ayah Abimara dan Keisha.
Ibu Karina mengusap rambut Keenan dengan sayang, ikut merasa bahagia melihat putranya seantusias ini. "Oh, jadi namanya Kirana? Ibu senang banget dengarnya. Kapan-kapan, ajak dia main ke rumah dong, Nan. Ibu pengen kenalan sama gadis pintar yang udah bikin anak rebel-nya Ibu ini jadi rajin belajar kelompok. Nanti Ibu buatin pancake madu yang paling enak."
Keenan langsung memamerkan cengiran bandel andalannya, matanya berbinar cerah. "Siap, Kanjeng Ratu! Kebetulan minggu ini kita butuh persiapan intensif buat semifinal. Besok di tempat les, Keenan bakal langsung todong dia buat main ke sini!"