NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 - DARAH DAN BARA DI KARANG MERAH

Api dari bangkai MV Leviathan membakar langit malam di atas perairan Pulau Damar Barat, melukis garis-garis awan kelabu menjadi merah menyala bagai sayatan bara. Asap hitam pekat berbau belerang dan minyak diesel membubung tinggi, menyatu dengan kabut garam yang menghantam wajahku saat haluan kapal patroli siluman Trisula menghujam pasir karang dermaga tua.

KRRRSHHH.

Benturan lambung komposit kapal dengan bebatuan karang menghasilkan getaran rendah yang merambat hingga ke sol sepatu bot tempurku.

"Tim Alfa, amankan sayap barat tebing! Tim Bravo, sekat jalur mundur menuju celah air pasang!"

Suara Kapten Ronald berdesis cepat melalui interkom helm taktis.

Enam personel bersenjata serbu infanteri laut melompat turun dari sisi geladak, bergerak senyap di antara batu-batu karang yang licin. Senapan serbu laras pendek berperedam mereka menyapu semak belukar liar di kaki mercusuar kolonial yang menjulang kusam di puncak tebing karang.

Aku melangkah ke bibir geladak. Angin laut pasang menerbangkan ujung rambut hitamku yang lolos dari ikatan balaklava. Di bawah sana, deburan ombak memuntahkan buih-buih putih bercampur jelaga hitam ke atas pasir.

Sebelum kakiku melangkah menuruni tangga pendaratan amfibi, sebuah tangan besar berkulit kokoh melingkar di pinggangku dari belakang, menarik tubuhku merapat ke dada bidang yang terbungkus rompi antipeluru kevlar.

Aroma tembakau dingin, kayu cedar, dan panas tubuh maskulin yang pekat seketika mengepung inderaku.

Adrian Varell.

Tubuh kami menempel begitu rapat hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdentum berat dan tenang di balik lapisan pelindung balistik. Panas yang memancar dari dadanya kontras tajam dengan hawa beku angin laut yang menusuk tulang.

"Gavin Zhou adalah mantan instruktur penembak runduk unit pembunuh bayaran maritim, Nadia," bisik Adrian rendah tepat di sebelah daun telingaku. Napas hangatnya berhembus pelan, mengirimkan ketegangan tajam di antara deru ancaman peluru. "Begitu kakimu menginjak pasir karang itu, kamu bukan lagi direktur utama yang duduk di balik meja kaca. Satu milimeter kesalahan sudut langkah, peluru kaliber berat miliknya akan meremukkan bahumu."

Aku menolehkan kepala sedikit. Wajah kami berjarak kurang dari satu jengkal. Di balik temaram lampu inframerah dek kapal, mata hitam kelam Adrian berkilat tajam, mengunci manik mataku dengan intensitas yang terasa menekan.

Ketegangan di antara kami bukan sekadar tentang persekutuan darah dan saham triliunan rupiah; ada tarikan gravitasi gelap yang berbahaya, saling menguji siapa yang akan mendominasi dan siapa yang akan bertahan.

Bibirku melengkung membentuk senyuman tipis yang dingin. Jemariku yang terbungkus sarung tangan kulit taktis menyentuh rahang kokohnya yang kasar oleh bulu halus, lalu merosot pelan ke arah kerah rompi tempurnya.

"Kalau begitu, pastikan tanganmu tidak bergetar saat melindungiku dari belakang, Adrian," bisikku balik dengan suara yang begitu tenang namun sarat tantangan. "Karena jika saya jatuh di pulau ini, kamu kehilangan satu-satunya kunci untuk membakar seluruh dinasti Sembilan Teratai di Selat Malaka."

Sorot mata Adrian menggelap seketika. Cengkeraman tangannya di pinggangku mengencang tegas, menahan tubuhku merapat selama sepersekian detik yang menyesakkan napas sebelum melepaskannya.

"Saya tidak pernah membiarkan milik saya disentuh oleh tangan orang lain," desis Adrian serak, tatapannya menyapu wajahku sebelum ia melompat turun terlebih dahulu ke atas hamparan batu karang yang basah.

Kakiku menyusul menjejak bebatuan karang. Rasa dingin air laut merembes ke ujung celana taktisku, menyadarkanku kembali ke dalam realitas perburuan.

Di hadapan kami, jalur setapak sempit berbatu meliuk curam menuju bangunan mercusuar tua berlantai empat. Dinding batunya yang dibangun pada akhir abad kesembilan belas tampak retak di sana-sini, ditumbuhi lumut tebal dan akar pohon beringin liar. Tidak ada cahaya dari jendela-jendela sempitnya. Bangunan itu tampak bagai menara makam kuno yang bisu di tengah pekatnya kabut laut.

PFFT! PFFT!

Dua desisan peluru berperedam suara tiba-tiba merobek udara malam dari arah lantai dua mercusuar.

Seorang pengawal Varell di barisan depan tersentak ke samping saat bahu kirinya terkena serpihan batu karang yang meledak akibat hantaman proyektil berat.

"Kontak tembak di arah jam sebelas! Jendela sayap utara lantai dua!" seru Bastian dari balik bongkahan karang besar seraya membalas tembakan dengan senapan serbu teredamnya.

TAT-TAT-TAT!

Kilatan api memercik di celah dinding batu mercusuar saat peluru saling berbalas di udara malam. Suara benturan logam dengan batu kapur tua bergema tajam di antara desau ombak yang menderu liar.

"Dua penembak musuh di lantai dua, tiga di lantai dasar!" lapor Kapten Ronald melalui radio. "Mereka membentuk perimeter bertahan silang! Gavin Zhou kemungkinan berada di ruang lentera mercusuar di lantai teratas!"

Adrian menarik lenganku, membawaku berlindung di balik ceruk tebing batu granit yang kokoh. Tubuh pria itu memblokir sudut pandang dari arah jendela mercusuar, menjadikannya perisai hidup di depanku. Punggungku menempel pada dinding batu yang basah, sementara dadanya menekan tepat di hadapanku. Hawa panas dari tubuhnya mengurungku sepenuhnya di tengah desingan peluru yang menghujam bebatuan beberapa inci di atas kepala kami.

"Dua penembak di lantai dua mengunci jalur tangga masuk utama," bisik Adrian cepat, napasnya memburu di dahiku saat ia memeriksa sisa amunisi di pistol semi-otomatirnya. "Bastian dan Ronald bisa menekan lantai bawah dengan granat kejut, tapi seseorang harus memanjat tangga darurat eksternal di sisi tebing jurang untuk melumpuhkan penembak sayap utara."

"Tangga darurat itu sudah berkarat sejak puluhan tahun lalu," sahutku seraya melirik dinding tebing sebelah kiri yang langsung menghadap ke arah laut lepas yang menganga gelap di bawah sana. "Tangga itu tidak akan kuat menahan beban pria bertubuh besar sepertimu."

Adrian menatapku tajam. "Kamu tidak akan memanjat tebing itu sendirian, Nadia."

"Tubuhku jauh lebih ringan darimu, Adrian," balasku dingin, mencabut pistol berperedam dari sarung di paha kananku. "Dan saya tahu tata letak interior mercusuar ini dari denah lama keluarga saya. Pintu darurat di lantai dua terhubung langsung dengan lorong sempit di belakang punggung para penembak itu."

Mata Adrian bergetar menahan amarah dan kekhawatiran yang jarang sekali muncul di wajahnya yang sedingin batu. Jemarinya mencengkeram rahangku, menatapku lurus dengan pandangan yang menusuk tajam.

"Jika kamu terluka sedikit saja di tebing itu," bisik Adrian dengan nada yang begitu rendah dan tegas, "saya akan membakar seluruh pulau ini beserta Gavin Zhou tanpa menyisakan satu jengkal pun."

"Kalau begitu, beri saya perlindungan tembakan pengalih perhatian sekarang juga," balasku tanpa gentar, menepis tangannya perlahan seraya melangkah merunduk menuju ceruk tebing bagian luar.

Adrian mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Pria itu menekan tombol radio komandonya. "Seluruh unit! Tembakan penekan penuh ke arah jendela sayap utara dan pintu utama lantai dasar! Lempar granat asap fosfor ke teras depan dalam hitungan tiga! Tiga... dua... satu... BUKA TEMBAKAN!"

BOOOOM!

Dua tabung granat asap meledak di teras mercusuar, memuntahkan kabut putih tebal berbau menyengat yang membutakan garis pandang para penembak sindikat. Rentetan tembakan otomatis dari tim serbu Varell serentak menghujani jendela lantai dua, menghancurkan kusen kayu tua dan serpihan kaca hingga berhamburan ke udara.

Memanfaatkan kekacauan itu, aku melesat keluar dari ceruk karang.

Jari-jariku yang terbungkus sarung tangan kulit mencengkeram anak tangga besi tua yang menempel di dinding luar tebing karang. Logam berkarat itu dingin dan licin oleh lumut garam, berderit ngilu di bawah pijakan sepatuku. Di bawah kakiku, jurang karang terbentang menganga, dipenuhi ombak hitam pasang yang bergulung menghantam bebatuan tajam.

Aku tidak melihat ke bawah.

Pikiranku hanya terfokus pada satu hal: wajah Ryan Arkana yang memegang pisau di apartemen sepuluh tahun yang lalu, dan senyum dingin Gavin Zhou yang berdiri di ambang pintu menyaksikan kematianku.

Rasa takut terhadap ketinggian menguap habis, terbakar oleh bara dendam yang menuntut pelunasan.

Dengan gerakan tubuh yang terlatih dan terukur, aku memanjat anak demi anak tangga besi yang bergoyang ditiup angin laut. Dalam tempo empat puluh detik, tanganku berhasil meraih bibir ambang pintu darurat besi di lantai dua yang berkarat setengah terbuka.

Aku menarik tubuhku naik, menyelinap masuk ke dalam lorong sempit mercusuar yang gelap gulita.

Aroma mesiu pekat menusuk hidungku.

Melalui celah dinding bata yang jebol, aku melihat dua sosok pria berpakaian tempur hitam dengan lencana teratai ungu kecil di kerah leher mereka. Mereka sedang berlutut di dekat jendela, sibuk mengisi ulang magasin senapan serbu seraya mengumpat dalam dialek asing, tidak menyadari bahwa ancaman telah berdiri tepat lima langkah di belakang punggung mereka.

Aku melangkah maju tanpa suara di atas lantai kayu yang rapuh.

Pistol berperedam di tangan kananku terangkat sejajar pandangan mata.

PFFT! PFFT!

Dua letupan teredam berbunyi bagai desisan di kegelapan.

Dua tembakan tepat sasaran seketika melumpuhkan kedua penembak itu. Tubuh mereka tersentak kaku sebelum akhirnya ambruk menimpa kusen jendela tanpa sempat melepaskan satu teriakan pun. Senapan mereka terlepas, jatuh berdentang ke lantai kayu.

Jalur sayap utara telah bersih.

Dari bawah tangga utama, suara derap langkah sepatu bot berat terdengar menaiki tangga spiral kayu dengan cepat.

Sosok Adrian Varell muncul dari balik kepulan asap fosfor di bordes tangga, pistolnya terarah lurus ke lorong sebelum matanya menangkap sosokku yang berdiri tegak di samping dua musuh yang telah tumbang.

Napas Adrian sedikit memburu, ada butiran keringat dingin yang mengilap di pelipisnya. Begitu melihatku berdiri utuh tanpa luka, ketegangan di matanya mereda, berganti menjadi tatapan tajam yang tak terbaca.

Ia melangkah cepat menghampiriku, menarik tubuhku merapat ke dadanya dengan cengkeraman kokoh. Tangannya menyusup ke balik tengkukku, menahan kepalaku seraya menatap seluruh wajahku untuk memastikan tidak ada cedera.

"Kamu terlalu nekat, Nadia," bisik Adrian serak, suaranya sarat akan emosi tertahan.

"Saya masih berdiri di sini, Adrian," jawabku pelan, dadaku naik turun beradu dengan rompi pelindungnya.

Pria itu menatap mataku lekat-lekat, lalu dengan dorongan intensitas yang tak terbendung, wajahnya menunduk tajam. Bibirnya membungkam bibirku dalam tautan yang dalam, tegas, dan menuntut.

Sensasi dingin garam laut bercampur dengan napas hangat dan ketegangan murni di antara kami. Sentuhan itu tidak lagi sekadar tentang aliansi di atas kertas, melainkan penegasan kuasa dan ikatan gelap di tengah ambang bahaya yang mengepung menara tua ini.

Setelah beberapa detik yang menegangkan, Adrian melepaskan bibirku perlahan. Ibu jarinya menyeka sudut bibirku dengan sapuan lembut yang kontras dengan tatapan dinginnya.

"Tangga spiral menuju ruang lentera lantai empat terbuka," bisik Adrian rendah, suaranya kembali sedingin komando lapangan. "Gavin Zhou menunggu di atas sendirian. Dia memegang detonator kabel."

Aku mengatur napas yang sempat tersentak, menatap tangga spiral besi yang melingkar naik menembus langit-langit menuju puncak mercusuar.

"Mari kita selesaikan ini," sahutku datar.

Kami berdua melangkah mendaki tangga spiral sempit itu. Tim serbu Varell di bawah mengamankan lantai dasar, menyisakan keheningan mutlak saat kami mendekati pintu palka besi ruang lentera di lantai teratas.

KREEEKKK.

Pintu palka telah terbuka setengah.

Ruang lentera mercusuar itu berbentuk lingkaran dengan dinding kaca setinggi tiga meter yang memperlihatkan panorama laut lepas tiga ratus enam puluh derajat. Di tengah ruangan, sebuah lensa Fresnel raksasa peninggalan abad kolonial berdiri membisu, memantulkan bias cahaya merah dari kobaran api bangkai kapal kargo di kejauhan.

Di samping lensa kaca raksasa itu, berdiri seorang pria jangkung dengan mantel tempur panjang berwarna abu-abu gelap.

Gavin Zhou.

Wajahnya tirus dengan tulang pipi yang tinggi dan bekas luka sayatan vertikal di mata kirinya. Di tangan kirinya, sebuah detonator nirkabel dengan lampu indikator merah berkedip pelan. Di lantai di sekeliling kakinya, terpasang empat balok bahan peledak plastis berkekuatan tinggi yang kabel-kabel detonatornya terhubung langsung ke fondasi beton penyangga lentera mercusuar.

Begitu kami melangkah masuk, Gavin Zhou perlahan membalikkan tubuhnya. Matanya yang dingin menyapu sosok Adrian Varell, lalu beralih menatapku lurus.

"Putri Helena Arlena," suara Gavin mengalun rendah dengan aksen asing yang kental, nadanya datar tanpa emosi. "Saya kira orang suruhan saya di Jakarta—Ryan Arkana—cukup berguna untuk membereskan seorang gadis di ruang makan keluarganya. Rupanya saya salah menilai batas kemampuan keluarga Arkana."

Mendengar nama Ryan terucap dari bibir pria yang menjadi bayang-bayang kematianku, jemariku di pegangan pistol mengencang kuat.

"Ryan Arkana saat ini sedang meratapi nasibnya di klinik tertutup, menunggu giliran untuk digiring ke meja hijau," balasku dingin, melangkah maju dua tapak hingga berdiri sejajar dengan Adrian. "Dan kamu, Gavin... telah kehabisan pion untuk bersembunyi di balik perairan Selat Malaka."

Gavin Zhou tertawa pendek—suara tawa yang terdengar dingin dan parau.

"Kamu mengira menenggelamkan kapal kargo tua dan mengalahkan beberapa pengawal di pantai karang ini adalah akhir, Nona Arlena?" Gavin mengangkat detonator di tangan kirinya, jempolnya berada tepat di atas tombol merah. "Bahan peledak ini terhubung langsung dengan tangki penyimpanan darurat di bawah fondasi mercusuar. Satu tekanan saja, seluruh menara ini akan meledak menjadi puing yang menghujam dasar laut bersama kalian berdua."

Adrian tidak sedikit pun menunjukkan kepanikan. Pria itu menyandarkan bahunya santai ke tiang palka besi, menatap Gavin dengan ketenangan mutlak.

"Kamu tidak akan menekan tombol itu, Gavin," ucap Adrian datar.

Alis Gavin terangkat tipis. "Apa yang membuatmu begitu yakin, Tuan Varell? Kamu pikir saya takut mati bersama kalian?"

"Karena sindikat Sembilan Teratai tidak mengizinkan kegagalan yang sia-sia," sahut Adrian seraya melangkah maju satu tapak, membiarkan dirinya menjadi sasaran tanpa ragu. "Di dalam sakumu saat ini, ada sebuah perangkat terenkripsi berisi daftar seluruh rekening penampung dana suap pejabat dan perantara maritim di kawasan Asia Tenggara. Jika kamu meledakkan menara ini dan tubuhmu hancur di palung laut, dewan tetua di Singapura tidak akan pernah bisa mengakses kembali likuiditas bernilai puluhan miliar dolar yang terkunci di dalam data biometrikmu."

Pupil mata Gavin Zhou seketika menyempit tipis.

Untuk pertama kalinya, retakan muncul di balik ketenangan sang komandan. Rahasia dari sindikat Sembilan Teratai—bahwa kunci akses brankas digital mereka dipegang oleh garis keturunan keluarga Zhou—telah dibaca dengan tepat oleh pria di hadapannya.

"Dan yang lebih penting lagi, Gavin," suaraku memecah keheningan dengan nada dingin, "kamu terlalu sombong untuk mati di tangan seorang perempuan yang pernah kamu anggap sebagai sasaran mudah sepuluh tahun yang lalu."

Gavin menatapku dengan mata menyipit. "Sepuluh tahun yang lalu? Kita belum pernah bertemu sebelum malam ini, Nona Arlena."

"Di matamu, kita belum pernah bertemu," bisikku seraya menarik sebilah pisau komando bermata ganda dari sarung di pinggang kiriku—pisau yang model dan panjang bilahnya persis sama dengan pisau yang diserahkan Gavin kepada Ryan di malam kematianku di masa lalu. "Tapi di dalam ingatan saya... saya mengingat dengan jelas aroma cerutumu saat kamu berdiri di ambang pintu apartemen, menyaksikan suamiku menusukkan belati ini ke dada saya."

Mata kiri Gavin yang berparut luka bergetar hebat. Keterkejutan melintas di wajahnya saat mengenali rancangan pisau itu—senjata tempaan khusus yang hanya dimiliki lingkaran terdalam keluarganya.

Sebelum Gavin sempat menekan detonatornya, gerakan tubuhku melesat maju.

TRAAK!

Peluru dari pistol berperedam Adrian melesat sepersekian detik lebih cepat, menghantam telapak tangan kiri Gavin Zhou dengan presisi tinggi. Detonator nirkabel di tangannya hancur berkeping-keping, terlempar ke udara bersama ceceran darah.

"ARRRGHHH!" Gavin meraung, tubuhnya terhuyung mundur menabrak dinding kaca lensa Fresnel raksasa.

Namun pria itu adalah petarung berpengalaman. Meski tangan kirinya terluka parah, tangan kanannya secepat kilat mencabut sebilah belati baja hitam dari balik mantel panjangnya, mengayunkannya lurus ke arahku.

Aku tidak mundur.

Aku merendahkan tubuh di atas lantai marmer, membiarkan ujung belati Gavin menebas angin kosong di atasku. Pada saat yang sama, pisau bermata ganda di tanganku kuhujamkan ke paha kanannya dengan seluruh daya dorong tubuhku.

CRRRSSSHHH!

Bilah pisauku merobek otot kakinya, membuat Gavin kehilangan keseimbangan. Lutut kanannya seketika membentur lantai tanpa daya.

Sebelum pria itu sempat membalas, Adrian telah melangkah masuk ke dalam jarak serang, mencengkeram pergelangan tangan kanan Gavin yang memegang belati, lalu memuntirnya ke belakang dengan sentakan keras hingga sendinya terlepas dari posisinya.

KRAAAKKK!

Belati hitamnya terlepas, jatuh berdentang di samping kaki Adrian. Adrian menghantamkan serangannya tepat ke ulu hati Gavin, membuat pria itu terhempas telentang di bawah lensa mercusuar, terbatuk-batuk menahan sakit yang luar biasa.

Pertarungan jarak dekat di ruang lentera mercusuar selesai dalam hitungan detik.

Hening kembali merayap di puncak menara, hanya menyisakan suara napas berat Gavin Zhou yang terkulai tak berdaya dan deru angin malam yang menerobos kaca-kaca jendela yang retak.

Aku berdiri tegak di samping tubuh sang komandan Sembilan Teratai yang kini lumpuh di lantai. Kemeja taktisku ternoda sedikit percikan pertempuran, namun pandanganku tetap lurus dan dingin.

Adrian melangkah mendekati tubuh Gavin, merogoh saku dalam mantel pria itu, lalu menarik keluar sebuah kalung rantai titanium yang menggantungkan stik memori platinum berbentuk batangan tipis.

"Kunci akses digital sindikat Selat Malaka," gumam Adrian seraya melempar kalung tersebut ke tanganku.

Aku menangkapnya dengan mantap. Ini adalah pusat finansial dari sindikat yang bertanggung jawab atas kehancuran masa lalu keluargaku. Dengan data di dalam perangkat kecil ini, seluruh rekening rahasia, jaringan logistik gelap, dan nama-nama pihak yang melindungi sindikat Sembilan Teratai di tiga negara kini berada di bawah kendali kami.

Gavin Zhou mendongak dengan susah payah, menatap sosokku yang berdiri di atasnya dengan napas tersengal-sengal di ujung tenggorokan.

"Dewan tetua... tidak akan membiarkanmu lolos..." bisik Gavin parau. "Mereka akan memburumu..."

Aku berjongkok perlahan di hadapannya, menatap tepat ke manik matanya yang mulai meredup kehilangan tenaga.

"Sampaikan pada siapa pun yang menunggumu," bisikku sangat pelan tepat di hadapannya, "bahwa putri Helena Arlena telah mengambil kembali haknya... dan giliran para tetua di Singapura yang akan kuhadapi berikutnya."

Aku bangkit berdiri tanpa menoleh lagi ke arah sosoknya yang perlahan tak lagi bergerak di lantai marmer mercusuar.

Langkah kaki Adrian terdengar mendekat di belakangku. Pria itu menyampirkan mantel tempurnya ke pundakku yang dingin, merengkuh bahuku seraya menuntunku melangkah keluar menuju pintu palka.

Di luar dinding kaca mercusuar, fajar mulai menyingsing di ufuk timur Selat Sunda. Semburat cahaya keemasan pertama membelah kabut malam, menyinari permukaan laut yang tenang di atas bebatuan karang Pulau Damar Barat.

Babak Kedua dari peta perjalananku telah menumbangkan salah satu pilar kekuatan utama musuh.

Gavin Zhou telah dilumpuhkan di pulau karang terpencil, kapalnya tenggelam di palung laut, dan kunci akses kekayaan sindikat Sembilan Teratai telah jatuh ke tanganku.

Saat matahari pagi menyinari gedung-gedung pencakar langit ibu kota, para penguasa bayangan di kawasan ini akan segera menyadari kenyataan baru:

Nadia Arlena bukan lagi target yang bisa dipermainkan.

Ia telah melangkah mantap untuk mengambil alih kendali penuh atas kekuasaan yang seharusnya menjadi miliknya.

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!