Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Motor sport hitam itu berhenti perlahan di pelataran rumah kayu.
Rimba mematikan mesin, lalu memiringkan sedikit tubuhnya agar helm Dayang tidak terguncang keras.
Dengan lembut, ia menepuk pelan jemari Dayang yang masih melingkar erat di pinggangnya.
"Mbak Dayang. Mbak, sudah sampai di rumah," bisik Rimba halus.
Dayang tersentak pelan. Ia membuat matanya menyesuaikan dengan remang angin sore.
Begitu menyadari kepalanya bersandar pulas di punggung tegap Rimba dan tangannya memeluk pria itu begitu erat, Dayang langsung menarik dirinya mundur dengan tegakan tubuh kaku.
Pipi Dayang seketika membara merah padam. Ia buru-buru turun dari jok belakang dengan gerakan serba salah, merapikan rambut dan celemeknya yang sedikit kusut.
"M-maaf, aku ketiduran," gagap Dayang tanpa berani menatap langsung ke bola mata Rimba.
Namun, belum sempat Rimba membalas ucapan itu, langkah kaki berderap kencang terdengar dari arah gang samping.
Bayu muncul dengan wajah memerah dipenuhi luapan cemburu yang membakar dada sejak siang tadi.
Melihat Dayang baru saja terbangun dari tidur pulas di punggung 'Bima', pertahanan emosi pria lokal itu runtuh sepenuhnya.
"Kurang ajar kamu!" teriak Bayu gelap mata.
Tanpa peringatan, Bayu melayangkan pukulan mentah penuh amarah ke arah wajah Rimba.
Rimba yang peka refleks hendak mengelak, namun Dayang yang kaget justru menyela maju di antara mereka berdua untuk melerai.
BUUKK!
Pukulan keras Bayu yang lepas kendali tak sengaja mendarat telak di tulang pipi Dayang.
Sudut bibir dan pipi halus gadis itu seketika robek, mengucurkan darah segar.
Dayang terhuyung mundur menahan rasa sakit yang mendadak menyerang wajahnya.
"Dayang!" pekik Bayu tercekat, tangannya gemetar hebat menyadari pukulannya salah sasaran.
Melihat darah mengalir di wajah gadis yang mulai mencuri hatinya itu, akal sehat Rimba sirna dalam sekejap.
Aura dingin sang CEO Suryo Group berganti menjadi amarah liar yang mengerikan. Sorot matanya menajam bagai belati.
Rimba tidak tinggal diam. Dengan kecepatan dan teknik bertarung berkelas yang terlatih, ia melangkah maju.
Satu pukulan lurus yang keras dan presisi dilayangkan Rimba tepat menghantam rahang Bayu hingga pria itu tersungkur keras menghantam tanah pelataran.
Rimba menyambar kerah baju Bayu, hendak melayangkan pukulan kedua untuk meremukkan wajah orang yang berani melukai Dayang.
"Mas Bima, sudah!" jerit Dayang seraya menahan lengan tegap Rimba dengan sisa tenaganya, matanya menatap Rimba penuh permohonan di tengah perih luka di pipinya.
Pintu rumah kayu mendadak terdorong hebat. Bintang yang mendengar kegaduhan di pelataran bergegas keluar.
Namun, langkahnya seketika terhenti saat matanya menangkap tetesan darah segar yang mengalir membasahi pipi sang kakak.
"Mbak Dayang!" pekik Bintang panik.
Pandangan remaja itu beralih ke arah Bayu yang sedang tersungkur menahan sakit di tanah, lalu ke arah Rimba yang masih mengepalkan tangan dengan napas memburu.
Bintang melangkah lebar menghampiri Bayu, memasang badan di depan kakaknya dengan sorot mata menyala penuh amarah.
"Mas Bayu bener-bener kelewatan!" bentak Bintang, suaranya gemetar menahan murka.
"Mbak Dayang itu perempuan, dan Mas malah main pukul sampai berdarah gini?! Aku nggak peduli Mas ini keponakannya Pak RT, kalau Mas nggak pergi sekarang juga, Aku laporkan kejadian ini ke pengurus kampung sama warga sekalian biar Mas dipermalukan!"
Bayu yang merintih memegangi rahangnya yang berdenyut hebat akibat pukulan tajam Rimba, mendadak pucat.
Ia menatap Dayang dengan raut wajah penuh penyesalan dan ketakutan.
"D-Dayang, aku nggak sengaja, aku cuma—"
"Pergi, Bayu!" potong Dayang dengan suara dingin yang teramat menusuk, meski tangannya memegangi pipinya yang terus berdarah.
"Jangan pernah injakkan kaki kamu di rumahku lagi."
Melihat Bintang yang sudah bersiap memanggil warga dan Rimba yang menatapnya bagai predator siap menerkam, Bayu akhirnya terbirit-birit bangkit.
Tanpa memedulikan sepedanya yang tergeletak, ia berlari kencang meninggalkan pelataran rumah.
Suasana pelataran kembali hening, hanya tersisa deru napas Rimba yang perlahan melambat.
Sang CEO memutar tubuhnya menghampiri Dayang, menyapu pandangannya pada luka robek di pipi halus gadis itu.
Rasa bersalah dan dorongan protektif menggejolak hebat di dadanya.
"Bintang, ambilkan kotak obat dan air hangat sekarang," perintah Rimba dengan nada tegas yang tak bantah, secara alami mengambil alih kendali.
"I-iya, Mas Bima! Bentar!" Bintang langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Rimba melangkah mendekati Dayang, meraih lembut kedua bahu gadis itu untuk menuntunnya duduk di kursi teras.
Jemari Rimba yang panjang terangkat perlahan, mengusap lelehan darah di dekat leher Dayang dengan sangat hati-hati.
"Maafkan saya, Mbak.Gara-gara membela saya, Mbak Dayang jadi kena pukul," bisik Rimba, suaranya berubah menjadi teramat lembut dan sarat akan penyesalan.
Dayang mendongak, menatap lekat bola mata Rimba yang memancarkan perhatian begitu tulus.
Perih di pipinya seolah terobati oleh kehangatan jemari pria penyamar di hadapannya.
Bintang bergegas keluar membawa kotak P3K tua berbahan seng beserta mangkuk berisi air hangat dan kapas.
Remaja itu meletakkannya di atas meja kayu teras dengan tangan gemetar.
"Biar aku saja yang obati, Mas Bima," sahut Bintang panik.
"Biar Mas saja, Bintang. Kamu tolong ambilkan kain bersih untuk mengeringkannya nanti," potong Rimba lembut namun penuh wibawa yang tak tertahankan.
Bintang mengangguk patuh dan langsung melangkah kembali ke dalam rumah.
Rimba berlutut di depan kursi tempat Dayang duduk, membuat posisi wajah mereka sejajar.
Dengan gerakan ekstra pelan, sang CEO mencelupkan kapas ke dalam air hangat lalu memerasnya.
Tangan kirinya yang tegap perlahan menopang tengkuk dan rahang kanan Dayang, menyangganya agar kepala gadis itu tetap stabil.
"Agak perih sedikit ya, Mbak. Tahan sebentar," bisik Rimba dengan nada suara teramat halus.
Begitu usapan kapas basah menempel di sudut pipi yang robek, Dayang meringis pelan, matanya terpejam menahan rasa panas yang menyengat.
Tanpa sadar, jemari Dayang meremas erat bagian pinggir kemeja pudar yang dikenakan Rimba.
"Ssshh. iya, pintarnya. Tahan ya," bisik Rimba lagi.
Tanpa sadar kata-kata penenang yang biasa ia gunakan lenyap, berganti helaan napas hangat yang berembus di ceruk leher Dayang untuk mengurangi rasa perih.
Rimba dengan sangat telaten mengusap sisa-sisa darah yang mengering di kulit mulus Dayang.
Tatapannya begitu fokus, sarat akan rasa bersalah dan dorongan protektif yang meluap-luap.
Di mata Rimba saat ini, gadis di hadapannya bukan lagi musuh bisnis yang tangguh, melainkan seorang wanita tulus yang terluka hanya karena membelanya.
Dayang perlahan membuka matanya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat betapa dalamnya binar kecemasan di bola mata 'Bima'.
Tidak ada raut pura-pura atau kepalsuan di sana. Sentuhan jemari pria itu di rahangnya terasa begitu hangat, berbanding terbalik dengan kesan kuli kasar yang baru sehari ia kenal.
"Kenapa Mas Bima bisa sekhawatir ini sama saya?" gumam Dayang pelan, suaranya hampir tenggelam oleh desiran angin sore.
"Saya ini cuma pedagang ikan pasar, bukan siapa-siapanya Mas Bima."
Rimba menghentikan gerakan jemarinya yang sedang menempelkan kain kasa berbalur obat merah.
Matanya terkunci pada manik mata bening Dayang.
"Mbak Dayang mungkin menganggap diri Mbak cuma pedagang ikan," jawab Rimba rendah dan mantap.
"Tapi buat saya, Mbak adalah orang pertama yang sudi mengulurkan tangan saat saya berada di titik terendah. Saya tidak akan membiarkan siapa pun melukai Mbak, termasuk si Bayu itu."
Jantung Dayang berdegup amat kencang mendengar penuturan itu.
Kehangatan menyeruak di seluruh dadanya, meluluhkan sisa-sisa ketegangan dan rasa perih di pipinya.
Belum sempat obat merah di pipi Dayang mengering sepenuhnya, derak langkah kaki yang terburu-buru kembali terdengar dari arah gerbang depan.
Pak RT datang dengan wajah pucat dan penuh rasa penyesalan, didampingi oleh dua orang warga setempat.
Pria paruh baya itu bergegas melangkah ke teras, matanya membelalak kaget saat melihat plester kasa menyumpal pipi halus Dayang.
"Aduh, Nduk Dayang! Ya Allah." seru Pak RT dengan suara gemetar, menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Bapak benar-benar minta maaf. Bapak baru saja dengar cerita dari Bintang dan warga yang melihat Bayu lari ketakutan."
Pak RT menghela napas berat, raut mukanya sarat akan rasa malu atas kelakuan keponakannya itu.
"Bapak atas nama keluarga besar minta maaf yang sebesar-besarnya atas perbuatan Bayu yang sudah kelewatan dan main tangan begini. Anak itu benar-benar makin ngelunjak dan bikin malu! Nanti malam Bapak sendiri yang akan menyeret Bayu ke sini buat minta maaf langsung sama kamu dan Nak Bima."
Dayang menarik napas panjang. Rasa perih di pipinya masih terasa, namun ia berusaha menguasai emosinya agar situasi di kampung tidak makin memanas.
"Sudahlah, Pak RT," sahut Dayang dengan nada tenang namun tegas.
"Saya tidak mau memperpanjang masalah ini ke jalur warga, asal Mas Bayu tidak pernah lagi mengganggu saya atau Mas Bima. Kalau sampai dia datang dan buat ulah lagi, saya sendiri yang akan laporkan dia ke kantor polisi."
Pak RT mengangguk-angguk cepat, lega sekaligus segan melihat ketegasan sang srikandi pasar.
"Iya, Nduk. Bapak jamin Bayu ndak bakal berani mendekat lagi. Sekali lagi Bapak minta maaf ya, Nduk Dayang, Nak Bima."
Rimba yang berdiri tegap di samping kursi Dayang hanya mengangguk dingin tanpa bersuara.
Tatapan mata sang CEO yang tajam dan sarat intimidasi cukup untuk membuat Pak RT paham bahwa 'kuli baru' di rumah Dayang itu bukan orang yang bisa diremehkan.
Setelah Pak RT dan warga berpamitan pulang, suasana teras kembali hening.
Senja perlahan turun, membawa warna keemasan yang menyapu pelataran rumah kayu.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂