"Lo pasti juga nggak mau terima perjodohan ini, kan?!"
"Mau."
Jawaban singkat pria itu sukses membuat mata Kara membelalak sempurna.
Hanya karena ingin menjadi pengangguran yang kaya raya, Lengkara Anasera nekat menerima perjodohan yang di buat oleh orang tuanya, tanpa mencari tahu terlebih dahulu siapa calon suaminya itu.
Sialnya, pria itu adalah Erlangga Bumi Maheswara, musuh bebuyutannya sejak kecil.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
Akankah Kara nekat membatalkan perjodohan ini? Atau ia justru bertahan demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengangguran yang kaya raya? Mengingat Erlangga adalah sosok pria tajir melintir yang selama ini ia cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rii_Risa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Setelah acara perjodohan selesai, para orang tua memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, meninggalkan Kara dan Erlangga yang masih duduk di tempatnya masing-masing.
Kara melipat tangannya di depan dada, lalu menatap Erlangga tajam. Sebaliknya, pria itu sama sekali tidak menoleh. Sejak orang tua mereka pergi, Erlangga sibuk dengan tabletnya dan mengabaikan keberadaan Kara.
"Lo pulang duluan aja, gue bisa pulang sendiri," ucap Kara akhirnya, mengingat orang tua mereka tadi menyuruhnya untuk pulang bersama.
Erlangga menghentikan gerakan tangannya, lalu mendongak. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Kara.
Kara tertegun, ia tak percaya jika sifat Erlangga masih sama seperti dulu.
"Ck... Lo pikir gue nggak bisa pulang sendiri apa?!" Kara mendengus kesal dan ikut bangkit dari kursinya.
Ia segera melangkah cepat keluar dari restoran, dan berniat untuk menelpon Anya, sahabatnya. Namun, saat ia menundukkan kepalanya, ia tersadar jika tasnya tidak ada.
Kara terdiam sejenak, lalu teringat kalau papanya tadi melarangnya membawa ponsel. Alasannya, agar fokus saat acara perjodohan, dan berakhir Kara menaruh tas itu di dalam mobil orang tuanya. Padahal, tas itu berisi dompet dan ponsel, barang yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Sial," umpat Kara.
Lalu, ia memutuskan untuk berjalan sampai ke tepi jalan raya. Angin malam berembus pelan dan membuat bulu kuduknya meremang.
Kara menoleh ke kanan dan ke kiri. Banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun taksi yang lewat. Akhirnya, mau tidak mau, ia harus berjalan melewati trotoar.
"Awas aja ya! Gue bakal ngadu semua kelakuan lo ke orang tua gue," gerutunya sambil menahan kesal.
Sepanjang jalan, Kara terus menggerutu sambil sesekali menghentakkan kakinya. Hingga suara klakson terdengar.
Tin... Tin...
Kara menoleh kebelakang. Sebuah mobil mewah berwarna hitam pekat berhenti tepat di belakangnya. Ia menyipitkan mata saat lampu depan mobil itu menyorotnya tajam. Tak lama kemudian, seorang pria dengan setelan jas hitam keluar.
"Erlangga?" gumam Kara.
Erlangga berjalan mendekat ke arah Kara.
"Masuk," ucapnya begitu sampai di depan wanita itu.
Kara langsung tertawa sinis. Ia melipat tangannya di depan dada, lalu mengangkat dagunya tinggi-tinggi. "Gue udah bilang kan, gue bisa pulang sendiri!"
Erlangga tersenyum miring, matanya menelisik penampilan Kara dari atas ke bawah, memperhatikan helaian rambut gadis itu yang sedikit berantakan tertiup angin. "Mau pulang jalan kaki?" tanyanya dengan nada mengejek.
Kara langsung mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. "Mau gue jalan kaki atau enggak, itu bukan urusan lo, Erlangga!" bentaknya tajam.
Erlangga mendengus pelan. Lalu mencondongkan badannya ke depan, tepat di samping telinga Kara. "Mau masuk sendiri atau gue seret?!"
Tubuh Kara seketika menegang. Kata-kata itu pernah Erlangga ucapkan sepuluh tahun silam, saat ia menyuruh Kara membersihkan toilet sebagai hukuman karena terlibat tawuran dengan adik kelas.
Tak ingin mengulang kejadian yang memalukan itu lagi, Kara akhirnya berjalan ke arah mobil. Ia sengaja menabrakkan pundaknya ke dada Erlangga.
Duk!
Erlangga hanya tersenyum miring, lalu mengikuti langkah Kara di belakangnya.
Sesampainya di dalam mobil, Erlangga segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Kara mengamati pemandangan dari luar jendela. Matanya tak melirik sedikit pun ke arah Erlangga. "Gue nggak ngerti, kenapa lo mau terima perjodohan ini."
Tiba-tiba ia menoleh, menatap Erlangga dari samping. "Lo pasti mau nyiksa gue tiap hari kan?!" tanyanya dengan tampang menyelidik.
Erlangga langsung menyeringai, ia membalas tatapan Kara dan berbisik pelan. "Lo kayaknya mau tau banget alasan gue menerima perjodohan ini?!"
Kara langsung tertawa keras untuk menutupi rasa kesalnya. "Ya iyalah, jelas-jelas lo benci banget sama gue. Aneh aja tiba-tiba sekarang lo mau nikahin gue."
Erlangga tak bergeming, ia kembali fokus ke depan, tanpa menoleh sedikitpun kearah Kara.
Sementara wanita itu, ia masih menatap sinis ke arah Erlangga.
"Erlangga!" panggil Kara pelan. "Bagaimana kalau kita nikah kontrak aja?"
Erlangga langsung terkekeh sinis. Ia menepikan mobilnya secara mendadak di pinggir jalan, lalu memutar tubuh sepenuhnya menghadap Kara. "Nikah kontrak?" tanyanya dengan alis terangkat.
Kara langsung menegakkan tubuhnya. Melihat Erlangga yang sudah serius seperti ini tentu saja membuat Kara takut. "Itu solusi terbaik, bukan?"
Erlangga mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan sehingga membuat Kara bisa mencium aroma parfum pemuda itu. "Kalau gue nggak mau, lo mau apa?" bisiknya tajam.
Kara menahan nafas sejenak saat pipinya terkena hembusan nafas Erlangga, lalu tanpa pikir panjang ia langsung mendorong dada pria itu dengan kasar. "Kalau lo nggak mau, ya udah, gue nggak maksa, kok."
Erlangga hanya tersenyum miring, lalu kembali menyalakan mesin mobilnya.
"Pernikahan itu bukan mainan. Dan gue nggak mau menuruti ide gila lo itu," ucap Erlangga dingin tanpa menoleh.
**
"Kenapa Mama sama Papa nggak bilang dari awal kalau orang yang mau dijodohin sama Kara itu Erlangga?!"
Kara langsung membanting pintu begitu sampai rumah, dadanya terlihat naik turun menahan amarah, sementara matanya menatap tajam kearah orang tuanya.
Sonya dan Lesmana yang sedang duduk santai sambil menonton televisi itu pun langsung menoleh. Mereka saling pandang terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari putri semata wayangnya itu.
"Bukannya tadi kamu sudah menerima perjodohan itu ya? Kenapa sekarang jadi marah-marah? Sini coba cerita sama Mama," ucap Sonya lembut.
Kara langsung melangkah ke arah orang tuanya, dan duduk di antara mereka berdua dengan wajah kesal serta tangan yang terlipat di dada.
"Sekarang, Mama sama Papa coba jelasin. Kenapa jadi Erlangga yang dijodohin sama Kara?!"
"Terus kamu maunya di jodohkan sama siapa? Om Ridwan?" tanya Lesmana santai, tanpa menoleh sedikitpun kearah Kara, matanya fokus ke arah televisi yang menampilkan pertandingan sepak bola.
Sonya langsung menepuk pelan paha suaminya itu dengan gemas, lalu kembali menatap putrinya.
"Memang dari awal, kita sudah sepakat untuk menjodohkan kalian berdua, Kara."
Kara langsung menghela nafasnya pelan. "Tapi kalian bisa ngomong dulu kan kalau orangnya itu Erlangga?Jadinya Kara bisa nolak."
"Bagaimana bisa mama sama papa ngomong?" jelas Sonya lembut. "Waktu Mama mau nyebutin namanya saja, kamu sudah bilang nggak masalah dijodohin sama siapapun, asalkan itu orang kaya."
Lesmana ikut menimpali tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi. "Katanya kamu ingin menjadi pengangguran yang kaya raya? Nah, Erlangga jawabannya."
"Tapi Kara tidak cinta sama Erlangga, pa," protes Kara.
Lesmana langsung mengalihkan pandangannya dari televisi ke arah Kara, lalu merangkul pundak putrinya itu. "Cinta itu nomor sekian, yang penting dapat suami kaya dulu, kamu bisa tuh porotin hartanya," jawab Lesmana enteng.
Kara langsung menautkan kedua alisnya. "Sejak kapan papa jadi matre gini? Perusahaan papa udah bangkrut?"
Lesmana langsung melepaskan tangannya dari pundak Kara. "Ngawur aja kamu!"
Sementara Sonya hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat tingkah suami dan anaknya itu.
"Papa ini malah ngajarin anaknya nggak bener," ucapnya sambil menatap tajam ke arah Lesmana. Lalu pandangannya beralih ke arah Kara. "Tidur nggih. Besok Erlangga akan kesini jemput kamu. Kalian akan fitting baju pengantin."
Mata Kara langsung membelalak sempurna. "Bukannya tunangan dulu ya ma? Ngapain sih fitting bajunya sekarang, nanti-nanti aja kan bisa."
Sonya langsung menggeleng pelan dengan senyum tenang di wajahnya. "Nggak bisa sayang. Rencananya setelah kalian tunangan minggu depan, tiga bulan setelahnya kalian akan langsung menikah."
"Ma... Nggak bisa ya nikahnya..." Kara ingin protes sekali lagi, namun ucapannya langsung di potong oleh papanya.
"Nggak bisa, Kara. Cepat tidur dan jangan banyak protes," ucap Lesmana dengan nada tegas.
Kara langsung mengerucutkan bibirnya, lalu menghentakkan kakinya kesal dan bangkit dari sofa. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia langsung berjalan menaiki tangga dengan bahu yang sedikit merosot.