Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Keanu tertegun, pandangannya beralih pada Bunga yang sedang menyandarkan kepala di dadanya dengan tubuh gemetar. Kerutan di dahi Keanu makin dalam, dipenuhi rasa heran dan ketidakpercayaan yang membuncah atas penjelasan sang ayah kandung.
"Tapi, Pah..." Keanu menelan ludahnya yang terasa pahit dan kering, tenggorokannya tercekat. Ia menggelengkan kepala cepat. "Aku dan Bunga baru saja honeymoon beberapa hari... Mana mungkin langsung tumbuh menjadi janin di dalam rahimnya?"
Tuan Alexander asli menghela napas panjang. Wajahnya yang tirus memancarkan aura keseriusan yang teramat sangat, tanpa ada sedikit pun keraguan di matanya.
"Mereka itu lebih tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Keanu," potong Alexander dengan suara tegas namun bergetar menahan keriupan takdir yang mengerikan. "Sekte pemuja Dewa Dedun itu memiliki ritual dan penglihatan mereka sendiri. Bagi mereka, begitu darah keturunan Alexander telah menyatu dengan pasangannya, wanita yang telah berhubungan badan dengannya diyakini sudah menumbuhkan bibit kehidupan di dalam rahimnya. Dan mereka percaya, di dalam rahimnya Bunga saat ini, janin itu telah mulai tumbuh."
Alexander melangkah satu pijakan lebih dekat, memegang kedua bahu Keanu dengan erat.
"Setelah Alexandro tahu kau dan Bunga sudah saling menyatu, kegiatan persembahan mereka langsung dipercepat untuk mencapai keabadian," lanjut Alexander, matanya menatap tajam ke dalam bola mata putranya. "Darah dari wanita yang sudah teraliri darah keturunan Alexander... mau tidak mau, dialah yang akan dijadikan tumbal terakhir mereka. Dan itu sangat mengerikan, Keanu. Jika Bunga sampai berhasil dijadikan tumbal, maka selamanya jiwanya akan menjadi budak iblis yang mengatasnamakan Dewa Dedun!"
Deg!
Kata-kata itu menghantam benak Bunga bagaikan petir di siang bolong. Bunga terkejut tak percaya, matanya membelalak lebar dengan air mata yang menetes makin deras. Seluruh tubuhnya berguncang hebat akibat rasa takut yang luar biasa. Namun, di tengah kepanikan yang membakar jiwanya, Bunga memejamkan mata rapat-rapat. Jemarinya meremas kuat kemeja Keanu, sementara di dalam hatinya, ia terus-menerus merapalkan doa dan ayat-ayat suci Al-Qur'an, memohon perlindungan dari Sang Maha Kuasa agar terhindar dari marabahaya ilmu hitam yang biadab tersebut.
Keanu merengkuh Bunga semakin erat, menyembunyikan wajah istrinya di dadanya seraya membakar tekad dalam diri. "Aku tidak akan biarkan hal itu terjadi, Pah. Tidak akan pernah."
Sementara itu, di tempat terpisah...
Di dalam ruangan megah berornamen serba hitam dan emas di kediaman utamanya, Alexandro, Tuan Alexander gadungan sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia menyesap anggur merah dari cawan kristal dengan senyuman licik yang menghiasi bibirnya.
Napasnya menggebu penuh gairah kegelapan. Ia sudah tidak sabar menunggu hari esok, malam puncak jamuan pesta yang berkedok pertemuan para kolega bisnis elit dan anggota Cleopatra Holding.
Sebenarnya, Alexandro yang amat licik itu sudah mengendus dan mencium semua rencana pergerakan dari Keanu beserta komplotannya yang berniat menyerangnya besok. Ia merasa di atas angin, yakin bahwa seluruh langkah Keanu berada di dalam genggamannya. Namun, apa yang tidak pernah ia sangsikan adalah keberadaan Tuan Alexander yang asli.
Alexandro sama sekali tidak tahu bahwa pergerakan Keanu yang sebenarnya telah dicegah dan diarahkan ulang oleh Tuan Alexander asli yang berhasil bebas. Bahkan hingga detik ini, Alexandro masih buta akan kenyataan bahwa Tuan Alexander yang asli dan Clarissa telah kabur dari kurungan bawah tanah.
Dalam pikirannya yang penuh kesombongan, Alexandro mengira Alexander dan Clarissa sudah membusuk dan mati di dalam sel tahanan bawah tanah yang memang sengaja tidak diberikan makan dan minum selama berhari-hari. Ia membayangkan, pada saat acara persembahan besok berlangsung, dua manusia yang ia sekap di bawah tanah itu telah berubah menjadi mayat tak bernyawa, tanpa menyadari bahwa bahaya mematikan justru sedang mengintip dari balik bayang-bayang untuk menghancurkan takhta iblisnya.
Keesokan malamnya, kediaman utama keluarga Alexander tampak begitu megah dan berkilau oleh cahaya lampu kristal. Mobil-mobil mewah berturut-turut memasuki halaman luas, mengantarkan para tamu elit yang mengenakan pakaian formal terbaik. Namun, di balik kemewahan pesta jamuan tahunan Cleopatra Holding itu, tersimpan atmosfir dingin yang mencekam.
Di dalam ruangan pribadi sebelum memasuki ballroom utama, Keanu berdiri di depan cermin, merapikan jas hitamnya dengan raut wajah setenang air. Di sampingnya, Bunga mengenakan gaun anggun berwarna putih gading. Meski hatinya dipenuhi desir ketakutan, pegangan tangannya pada Keanu terasa begitu kokoh. Di dalam dadanya Bunga, untaian doa dan ayat-ayat perlindungan terus mengalir tanpa henti.
"Ssshh... tenang, Sayang," bisik Keanu lembut, membalikkan tubuh Bunga lalu mengecup kening istrinya lama. "Kita tidak sendiri malam ini. Papah, Jordan, Adrian, dan semua pasukan sudah berada di posisinya masing-masing."
Bunga mendongak, lalu mengangguk mantap. Jemarinya bergerak membentuk isyarat cepat:
“Aku percaya padamu, Kak Keanu. Kita pasti bisa melewati ini.”
Saat pintu ruangan terbuka, Alexandro, Tuan Alexander gadungan melangkah masuk dengan senyuman lebar yang sangat ramah. Pria itu tampak begitu gagah dalam balutan setelan jas formal, sama sekali tidak menyiratkan wujud monster yang ada di balik topengnya.
"Ah, pasangan terfavorit malam ini!" sapa Alexandro penuh kehangatan, menghampiri Keanu dan menepuk bahunya santai. "Kalian berdua tampak sangat serasi. Bunga, kau terlihat semakin bersinar malam ini... sungguh aura seorang calon ibu yang sempurna."
Deg!
Keanu merasakan kemarahan yang mendidih di dalam dadanya mendengar sindiran terselubung itu. Namun, mengingatkan dirinya akan peringatan sang ayah asli, Keanu memaksakan sebuah senyum tipis dan menunduk hormat.
"Terima kasih, Papah. Ini semua karena dukungan dan perhatian Papah pada kami," balas Keanu dengan nada suara yang tenang dan terkontrol sempurna.
Alexandro terkekeh puas. Di dalam hatinya, ia tertawa geli melihat ketenangan Keanu. Ia yakin betul Keanu dan Bunga hanya sedang berpura-pura patuh sambil menunggu momen untuk menyerang dengan bukti-bukti yang dikumpulkan Jordan. Alexandro merasa di atas angin, ia sudah menyiapkan jebakan mematikan di dalam ballroom untuk membantai seluruh komplotan Keanu begitu ritual puncak dimulai.
"Ayo, para tamu penting sudah menunggu," ajak Alexandro seraya mengisyaratkan mereka untuk berjalan lebih dulu. "Malam ini akan menjadi malam yang sangat bersejarah bagi keluarga kita."
Beberapa saat kemudian, ballroom utama telah dipenuhi oleh puluhan petinggi bisnis dan anggota rahasia sekte Cleopatra Holding. Suasana riuh rendah oleh dentingan gelas anggur dan alunan musik klasik.
Alexandro melangkah naik ke atas panggung utama, memegang mikrofon dengan gaya penuh wibawa. Keanu dan Bunga berdiri di samping panggung, sementara Jordan dan Adrian tampak menyebar di antara para tamu.
"Selamat malam, Hadirin yang terhormat," suara Alexandro menggema di seluruh ruangan, disambut tepuk tangan riuh. "Malam ini, selain merayakan pencapaian bisnis kita, saya juga ingin mengumumkan transisi kekuasaan besar. Seluruh aset dan kepemimpinan Cleopatra Holding akan saya serahkan kepada putra tunggal saya, Keanu, dan istrinya, Bunga."
Para tamu bersorak, namun di balik layar besar di belakang panggung, simbol-simbol kuno bercorak mistis mulai menyala redup secara otomatis, tanda bahwa mekanisme ritual pemujaan Dewa Dedun telah diaktifkan secara diam-diam.
Alexandro menatap Keanu dan Bunga dengan sorot mata yang mendadak berubah dingin dan pekat. "Mari naik ke atas panggung, Anak-anakku... sambutlah takdir abadi kalian."
Namun, sebelum Keanu dan Bunga melangkah naik, tiba-tiba seluruh lampu ballroom padam total!
Gemericik kepanikan seketika melanda para tamu. Suara bisik-bisik ketakutan terdengar di seluruh sudut ruangan.
BLLARRR!
Lampu sorot utama di pintu masuk ballroom mendadak menyala terang, mengarah tepat ke sosok pria berjanggut tebal yang berdiri tegap mengenakan jas hitam milik keluarga Sanjaya. Di sampingnya, Clarissa berdiri dengan wajah penuh ketegasan, didampingi oleh puluhan aparat kepolisian bersenjata lengkap.
"Tunggu dulu, Alexandro!" gema suara pria tua itu membelah kesunyian ruangan, terdengar sangat berwibawa dan penuh dendam yang tertahan belasan tahun.
Mata Alexandro membelalak sempurna. Cawan kristal di tangannya terlepas dan hancur berkeping-keping di atas lantai. Wajahnya seketika pucat pasi bagaikan mayat.
"T...tidak mungkin..." bisik Alexandro dengan suara bergetar hebat. "Kau... kau sudah mati di sel tahanan!"
"Kau mengira aku sudah membusuk bersama Clarissa di neraka bawah tanahmu, bukan?" Tuan Alexander asli melangkah maju perlahan, rantai di tangannya sudah tak ada lagi, digantikan oleh aura kepemimpinan yang sesungguhnya. "Lima belas tahun kau mencuri identitasku, membantai orang-orang tak berdosa, dan merusak hidup anak dan menantuku atas nama iblis Dewa Dedun... Malam ini, iblis itu datang untuk mencabut takhta palsumu!"
Seluruh tamu di dalam ballroom gempar melihat dua wajah yang identik berdiri berhadapan. Keanu langsung menarik Bunga ke balik tubuhnya, menatap Alexandro dengan tatapan tajam sarat kemenangan.
"Permainanmu selesai, Paman Alexandro," tegas Keanu dengan suara dingin yang menggema di seluruh ruangan.
Bersambung...